NovelToon NovelToon
GALAREA

GALAREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Melasepti__

Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saling Menghangatkan

"Perasaan gue enggak enak, Kak."

Langkah Gala terhenti sejenak, sebelum ia kembali melanjutkannya. "Kenapa?"

Rea menggeleng pelan, sambil menempelkan pipinya di pipi Gala. Memeluk erat leher Gala, membiarkan kemeja cowok itu tetap berada di atas kepala mereka.

"Kayak ada yang mengganjal di hati gue."

"Semua baik-baik aja." Hanya itu yang dapat Gala ucapkan, karena ia tidak tahu apa maksud dari perasaan Rea tadi.

"Gue takut, Kak." Rea beralih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gala, memejamkan mata.

"Enggak usah takut, ada gue."

Tak lama, mereka sampai di pekarangan rumah Saka. Gala segera menurunkan Rea, menatap gadis itu dengan lekat.

Jelas sekali matanya yang memerah, bukti jika ia baru saja menangis.

Gala memegang tangan Rea, untuk kemudian mengusap rambut gadis itu dan memeluknya singkat.

Tidak ada kata apapun, namun dekapan itu seolah mengisyaratkan jika Rea harus tetap tenang selama masih ada dia di sisinya.

Gala menarik gadis itu untuk masuk ke dalam rumah.

"Loh, kalian kehujanan." Tampak wanita berperut buncit itu, menghampiri anak dan menantunya dengan khawatir.

"Bu, boleh minta tolong ambilin handuk?"

Revin segera mengangguk dan mengambil handuk di kamar Gala.

Gala melepas kaosnya, menyisakan celana yang dipakai cowok itu.

"Kalian kok bisa hujan-hujanan? Mobilnya kemana?"

Gala menerima handuk yang Revin berikan, lalu menyampirkannya di pundak Rea.

"Mandi dulu, gantian," ucap Gala seraya mengusap puncak kepala Rea.

Rea mengangguk dan berlalu ke kamar mandi setelah berpamitan pada Revin.

"Mobilnya mogok, jadi jalan kaki ke sini." Gala menerima handuk yang lain untuk dipakainya.

Revin mengangguk, seraya mengusap rambut Gala yang basah.

"Rea kenapa?" tanya Revin yang sempat menyadari raut muka Rea yang berbeda.

"Enggak apa-apa, cuma lagi sensitif aja, mungkin," jawab Gala dengan sedikit ragu.

"Hamil?" tanya Saka yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.

Raut wajah Gala berubah datar. Tetapi saat mengingat sesuatu, raut wajahnya kembali berubah.

"Bu, kalau melakukan itu sekali, memang bisa hamil?" tanya Gala dengan raut polos sekaligus khawatir.

Saka yang melihatnya, sontak menjitak kepala putra sulungnya.

"Yang namanya pertemuan, entah sekali atau berkali-kali, kalau sudah sampai penyatuan antara sel sperma dan sel telur, ya tentu bisa lah!"

Gala menelan ludah, mungkinkah? Tiba-tiba, ia teringat moment sehari setelah acara empat bulanan calon adiknya.

Gala mengusap kasar wajahnya, merasa gusar. Jika memang benar Rea hamil, apa perempuan itu akan menerimanya.

Dia bahkan baru masuk kuliah beberapa bulan, apa harus mengambil cuti secepat ini.

Gala meruntuki kebodohannya, seharusnya ia tidak melakukan ini. Ia seharusnya bisa menahan nafsunya, dan memikirkan masa depan Rea.

Walau bagaimanapun, Rea juga pasti memiliki mimpi untuk masa depannya.

Lulus kuliah dengan predikat kelulusan terbaik, meraih cita-citanya, barulah mereka akan memiliki anak.

Namun, kenapa ia bisa kelepasan dan membuat semua rancangan masa depannya berantakan seperti ini.

Saka yang menyadari raut gusar dari putra sulungnya, pun berdecak kesal.

Gala seperti seorang yang baru saja melakukan kesalahan dengan berzina, padahal yang dihamili itu istrinya sendiri.

"Ck, kenapa sih, Bang?"

Bukan menjawab pertanyaan sang ayah, Gala justru berlalu begitu saja, membuat Saka melongo dan mendelik sebal.

Revin yang berada di sebelah sang suami, pun terkekeh dan menepuk lengannya.

"Sabar, Papa," katanya.

Saka menghela nafas, merangkul pundak istrinya dan mengusap perut buncit wanita itu.

"Kamu, kalau sudah lahir jangan kayak Abang kamu, ya? Harus nurut apa kata Papa, enggak boleh nakal."

"Abang enggak nakal, Pa," timpal Revin sedikit kesal dengan ucapan suaminya yang seperti menjelekkan Gala.

Saka tersenyum pedih, istrinya itu memang selalu membela Gala, walaupun Gala selalu bertingkah menyebalkan di hadapannya.

"Iya-iya, Abang enggak nakal. Yang nakal itu Ibu, karena selalu bikin Papa pengin di kamar terus," kata Saka sebelum membopong tubuh Revin, yang sontak membuat wanita itu terkejut dan memekik kesal.

"Saka!"

***

Selesai mandi, kini Gala dan Rea tengah bergelung dalam selimut tebal di kamar Gala.

"Dingin?" tanya Gala saat melihat Rea tampak menggigil dalam selimut yang membungkus tubuhnya hingga menyisakan wajah.

Rea mengangguk, bibirnya yang bergetar mengeluarkan desisan pelan, tanda jika ia benar-benar kedinginan.

"Sini," titah Gala sembari menarik Rea ke dalam dekapan hangatnya, memeluknya erat dan memberikan sedikit kehangatan.

"Pusing enggak kepalanya?" Tangan Gala bergerak mengusap kepala dan punggung Rea dengan lembut.

"Sedikit," jawab Rea sembari terpejam, menikmati kehangatan yang Gala berikan.

"Bang," panggil Revin dari balik pintu kamar, sambil mengetuknya beberapa kali.

Gala menoleh. "Masuk aja, Bu! Enggak dikunci." Sedikit tidak sopan memang, namun ia tidak tega jika harus melepas pelukannya.

Tak lama pintu terbuka, Revin berjalan mendekat dengan membawa dua gelas teh hangat dan diletakkan di atas nakas.

"Dingin, ya? Minum dulu teh hangatnya," ucap Revin seraya mengusap kepala menantunya dengan sayang.

Rea membuka matanya dan tersenyum tipis. Sedikit tidak enak, namun ia benar-benar tidak bisa melepas pelukan Gala saat ini, ia masih butuh kehangatan.

"Mau minum dulu?"

Rea mengangguki pertanyaan Gala, kemudian mengambil posisi duduk bersandar.

Ia menerima uluran teh hangat dari tangan Gala. Namun, karena kedinginan, tangannya sedikit bergetar dan lemas, alhasil minuman itu tumpah mengenai baju Gala.

"Maaf," cicit Rea dengan kepala menunduk.

Gala menghela nafas, sedikit panas ia rasakan di area perutnya. Beruntung sudah sedikit dingin, sehingga tidak sampai membuat kulitnya melepuh.

"Enggak apa-apa, itu minum aja, di bantu Ibu, ya?"

Revin segera meraih teh hangat yang lain, untuk kemudian membantu Rea meminumnya dengan memegangi gelas itu.

Gala sendiri, memilih bangkit untuk mengganti pakaiannya. Melepas kaosnya yang basah, kemudian mengambil kaos hitam di dalam lemari.

Belum sempat ia memakai kembali pakaiannya, suara seseorang lebih dulu menghentikannya.

"Bu!"

Mereka menoleh ke arah Saka yang memasuki kamar dengan ponsel di tangannya. Wajah pria itu tampak pias, terlebih saat tatapannya tertuju pada Rea.

"Ada apa?" tanya Revin yang menjadi objek pemanggilan Saka tadi.

Saka terdiam sejenak, sebelum menjawab, "Althan kecelakaan."

Deg

"Ayah kecelakaan?" tanya Rea dengan mata yang memburam seketika.

Gala segera berlari menghampiri istrinya, dan memeluknya erat. Tak peduli jika ia telanjang dada, yang penting sekarang hanyalah bagaimana cara untuk membuat Rea tetap tenang.

Tidak menangis, namun tatapannya kosong ke arah Saka.

"Ayah kecelakaan, Pa?" tanya Rea lagi, masih dengan tatapan kosongnya, namun tak urung air mata mulai meluncur dari pelupuk matanya.

Gala terus memeluknya, mengusap kepalanya, menenangkannya.

"Kita ke rumah sakit sekarang."

.

.

To be continue ...

1
Ossa Mulya
suka banget ceritanya... dan bikin penasaran
Ossa Mulya
lanjuuuutt Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!