Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa yang terjadi
Tiba waktu terasa begitu cepat hingga akhirnya bel pulang berbunyi.
Nayla kemudian meletakkan pensil tumpul di atas meja, lalu menompang dagu dengan kedua tangannya, menatapku lurus-lurus dengan binar jenaka yang sulit diabadikan.
"Pokoknya besok harus sudah jadi, ya! Awas kalau kamu nggak mau kasih tau aku," ancam Nayla main-main sebelum bel pulang sekolah akhirnya berdering nyaring, memutus obrolan kami.
Sepanjang jalan pulang, isi kepalaku masih dipenuhi bait-bait puisi yang belum sempat ku selesaikan di sekolah. tapi aku bisa selesaikan di rumah karena di buat PR. Namun, begitu melangkah masuk ke dalam rumah, aroma sup bayam dan ayam goreng langsung menyambut ku di depan pintu, seketika membuyarkan lamunanku tentang Nayla dan PR puisi itu.
Di dapur, suasana terasa begitu hangat dan sibuk. Kakak dan ibu sedang menyiapkan makanan di atas meja makan yang tidak terlalu besar. kakak tampak sibuk menata piring dan sendok, sementara ibu baru saja mematikan kompor setelah menuangkan sayur sup yang mengumpulkan uap panas ke dalam mangkuk besar.
"Sini, langsung taruh tasmu dan cuci tangan," panggil Ibu hangat, menyadari kehadiranku di ambang pintu dapur. Senyumnya yang ramah seketika melunturkan sisa-sisa penat dari perjalanan pulang sekolah tadi.
Kakak menoleh sambil membawa kerupuk, lalu menyenggol lenganku pelan saat aku meletakkan tas.
"Tumben pulang sekolah mukanya ditekuk gitu? Kebanyakan mikirin rumus, ya?" sambil tertawa kecil.
"Bukan rumus, Kak. Lagi mikirin bait puisi," jawabku jujur sembari akan mencuci tangan.
Ibu yang sedang meletakkan mangkuk sup bayam di tengah meja langsung tersenyum penuh arti.
"Wah, puisi tentang apa?"
tanya Ibu, dengan nada ingin tau.
"Tentang keseharian ku, jadi tugas PR dari sekolah," ujarku dengan senyum tipis
Tepat setelah pertanyaan itu terlontar terdengar suara batuk yang kukenal dari arah ruang tengah. Bapak berjalan perlahan keluar dari ruang tengah menuju dapur. Wajahnya yang biasa tampak lelah setelah pulang berjualan kini terlihat sedikit lebih segar, seolah aroma masakan ibu telah berhasil memanggilnya dari istirahat Siang.
Bapak menarik kursi kayu yang berdecit pelan, lalu duduk. Sebelum memulai makan, mataku tidak sengaja menangkap ekspresi wajah kakak terlihat sangat datar saat memindahkan tahu, ayam goreng ke piring saji.
Pancaran matanya begitu datar sangat kontras dengan wajah muramnya yang kulihat tadi pagi sebelum aku berangkat sekolah. Kakak tidak lagi memikirkan sebuah kejadian hinaan tadi pagi saat belanja, tapi masih murung sedikit. sebuah peristiwa yang sampai saat ini masih misterius dan sama sekali tidak ku ketahui penyebab maupun pelakunya.
Suasana ruang makan yang sederhana itu seketika dipenuhi suara denting sendok yang beradu dengan piring. Uap hangat dari sup bayam mengepul di antara kami, membawa rasa nyaman yang selalu berhasil membuatku melupakan kerumitan tugas sekolah setidaknya untuk sementara waktu.
Uap hangat dari sup bayam mengepul di antara kami, membawa rasa nyaman yang selalu berhasil membuatku melupakan kerumitan tugas sekolah setidaknya untuk sementara waktu.
Pancaran matanya begitu datar sangat kontras dengan wajah muramnya yang kulihat tadi pagi sebelum aku berangkat sekolah. Kakak tidak lagi memikirkan sebuah kejadian hinaan tadi pagi saat belanja, tapi masih murung sedikit. sebuah peristiwa yang sampai saat ini masih misterius dan sama sekali tidak ku ketahui penyebab maupun pelakunya.
Suasana ruang makan yang sederhana itu seketika dipenuhi suara denting sendok yang beradu dengan piring. Uap hangat dari sup bayam mengepul di antara kami, membawa rasa nyaman yang selalu berhasil membuatku melupakan kerumitan tugas sekolah setidaknya untuk sementara waktu.
Uap hangat dari sup bayam mengepul di antara kami, membawa rasa nyaman yang selalu berhasil membuatku melupakan kerumitan tugas sekolah setidaknya untuk sementara waktu. lanjutkan ceritanya yang panjang
Namun, keheningan di meja makan ini terasa berbeda dari biasanya. Rasa nyaman yang dibawa oleh sup bayam buatan Ibu seolah tertahan oleh kabut tak kasat mata yang bersumber dari ujung meja tempat Kakak duduk bergeming. Ia hanya mengaduk-aduk nasinya dengan ujung sendok, membuat lingkaran-lingkaran kecil yang tak kunjung menyuapkan makanan itu ke mulutnya.
Tatapannya kosong, tertuju pada dinding semen tanpa cat di belakangku, seolah-olah ada sebuah proyektor tak terlihat yang sedang memutar kembali rekaman kejadian menyakitkan di tukang sayur keliling tadi pagi.
Aku berbatuk kecil, mencoba memecah kekakuan yang mulai membuat dadaku terasa sesak.
"Kak, supnya keburu dingin. Ibu bilang tadi sengaja dibanyakin bawang putihnya biar Kakak suka," ujarku, berusaha menyuntikkan nada ceria yang terdengar senatural mungkin.
Kakak tersentak sedikit.
Fokus matanya kembali, lalu ia menatapku dengan senyum tipis yang dipaksakan jenis senyuman yang justru membuat orang yang melihatnya merasa semakin sedih.
"Eh, iya. Ini mau dimakan kok," jawabnya lirih, suaranya parau seperti orang yang menahan tangis seharian saat aku pergi sekolah. Ia menyendok kuah sup, meniupnya perlahan, lalu menelannya tanpa ekspresi.
Keingintahuanku sudah berada di ubun-ubun. Sejak pulang sekolah dan mendengar cerita sekilas dari ibu tentang Kakak yang pulang dari pasar dengan mata sembap dan belanjaan yang langsung diletakan, pikiranku tidak bisa tenang.
Siapa yang berani menghina Kakak? Kakak adalah orang paling sabar di lingkungan ini. Ia tidak pernah mencari musuh, selalu bertutur kata halus, dan menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Mengapa ada orang yang tega melemparkan kata-kata nista hingga membuatnya tampak seperti raga tanpa jiwa seperti ini?
Setelah menyuap beberapa sendok sup dengan pelan, Kakak meletakkan sendoknya kembali ke mangkuk. Ia tersenyum tipis, berterima kasih, lalu beranjak membawa mangkuknya yang baru terisi separuh ke tempat cuci piring.
Keheningan siang itu terasa begitu berat, hanya diiringi suara denting sendok yang beradu dengan keramik.
Selesai makan siang, Bapak segera bersiap untuk pergi bekerja. Beliau sempat mengusap puncak kepala Kakak yang sedang berdiri membelakangi meja makan, memberikan dukungan tanpa kata yang biasa beliau lakukan. Setelah berpamitan dengan suara berat yang menenangkan, pintu depan tertutup, meninggalkan rumah dalam ritme kesehariannya yang biasa, namun dengan atmosfer yang jauh berbeda.
Kakak kemudian memilih masuk ke dalam kamar, yang tertutup olah gorden.
Sementara itu, aku dan Ibu kini berada di dapur. Ibu mulai sibuk menyalakan kompor kembali, menyiapkan bahan-bahan untuk masakan jualan besok pagi. Suara minyak yang berdesis dan aroma bumbu yang mulai ditumis memenuhi ruangan, namun pikiran kami berdua jelas tidak ada pada masakan itu.
Aku mendekati Ibu yang sedang mengiris bawang merah dengan gerakan yang lebih cepat dari biasanya, sebuah tanda kalau beliau sedang memendam dongkol yang luar biasa.
"Bu," bisikku setengah berdesis, takut suaraku menembus dinding kamar Kakak. "Sebenarnya tadi pagi di tukang sayur ada kejadian apa? Siapa yang bikin Kakak sampai seperti itu?"
Ibu menghentikan pisau di tangannya. Beliau menghela napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca menahan amarah sekaligus rasa iba. Ibu meletakkan pisau, lalu berbalik menghadap ku sepenuhnya, siap membagikan kebenaran yang sejak tadi membuat hatiku sesak.
pokoknya harus Sampek ending