Menjalani kehidupan yang cukup sulit akibat terlilit hutang-hutang ayahnya membuat Diva terkadang ingin merasakan bagaimana enaknya menjadi orang kaya. Namun siapa sangka, suatu kejadian yang menimpanya membuat jiwa Diva terjebak dalam raga orang lain, sehingga gadis itu menyadari bahwa tidak semua orang yang terlahir kaya bisa menikmati hidupnya. Semua manusia pasti tercipta dengan sifat dan ujian yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
Setelah membalas ungkapan cinta dari Elio, Diva merasa canggung bila berduaan saja dengan pria itu. Bahkan saat berada di meja makan Diva lebih banyak diam karena canggung. Namun, sesekali Diva mencuri pandang pada Elio. "Tuan Elio memang sangat tampan, pantas saja Calista sampai mengamuk bila ada perempuan lain yang mencoba mendekatinya." Batin Diva.
"Mulai hari ini Jangan lagi memasak cumi dalam bentuk apapun!." Di sela sarapan, Elio berpesan pada para pelayan yang stay melayani mereka di meja makan.
"Baik tuan."
Diva tertegun, sendok berisi makanan yang hendak disuap ke dalam mulutnya pun seketika terhenti di udara. Diva menatap Elio.
"Bukankah cumi adalah salah satu makanan favorit mas?."
"Aku menjadikan cumi sebagai makanan favorit karena istriku juga memfavoritkan nya, tapi kalau sekarang kamu tak lagi memfavoritkan cumi maka aku pun demikian." Jawab Elio.
Suasana tenang di meja makan lenyap setelah kedatangan Erin. Entah apa maksud dan tujuannya datang, padahal ini hari Minggu, dan ia pun tahu betul bahwa Elio enggan membahas pekerjaan dihari libur seperti ini.
Diva menatap rantang yang dibawa oleh Erin. Pastinya rantang tersebut berisi makanan, tidak mungkin berisi mainan.
"Maaf jika kedatanganku mengganggu waktu libur kamu, Elio." Jika tidak sedang berada di kantor ataupun sedang jam kerja, Erin tidak menggunakan embel-embel tuan di depan nama Elio. "Aku tahu Calista selalu sibuk dengan urusannya sendiri dan pastinya tidak akan sempat memasak untukmu, makanya saat ada waktu luang aku sengaja memasak makanan kesukaan kamu dan mengantarkannya sendiri ke sini." lanjut Erin sambil melirik sekilas pada Diva. Wanita itu tersenyum dalam hati, seolah sudah dapat menebak apa yang akan terjadi sebentar lagi. Namun hingga beberapa saat berlalu, Diva sama sekali tidak menunjukkan reaksi seperti yang diharapkan oleh Erin. Jangankan marah apalagi sampai mengamuk, Diva justru mengulas senyum manisnya dan mempersilahkan Erin untuk ikut sarapan bersama dengan mereka.
"Silahkan duduk, nona Erin! Nona Erin pasti sangat kerepotan memasak makanan kesukaan suami saya dan mengantarkannya langsung sehingga tak sempat untuk sarapan sebelum datang ke sini."
Jangankan Erin, Elio pun terkejut dengan reaksi istrinya itu.
"Mas mau mencicipi masakan nona Erin?." Diva beralih memandang Elio.
"Tidak. Mas sudah kenyang, sayang."
"Kalau mas tidak mencicipi nya, semua makanan ini pasti akan mubazir, mas." Diva memasang wajah sedih.
"Biar tidak mubazir, berikan saja kepada para pelayan, sayang! Kebetulan, mereka pasti belum sempat sarapan." Kata Elio tanpa maksud apa-apa.
"Kamu benar mas, daripada mubazir lebih baik di berikan saja pada para pelayan. Lagipula, nona Erin sudah capek-capek memasak kasihan bila makanannya di buang." Diva tersenyum dalam hati. Wanita itu sangat puas melihat wajah Erin memerah menahan kesal.
"Bi, makanan ini pasti enak karena di masak khusus oleh nona Erin. Silahkan di nikmati bersama yang lain dibelakang!." Diva menyodorkan rantang berisi masakan Erin kepada pelayan.
"Terima kasih banyak nyonya."
"Jangan berterima kasih pada saya, bi, berterima kasihlah pada nona Erin yang sudah susah payah memasak semua itu!." Ucapan Diva bagaikan suara ledekan yang mampu membuat dar-ah Erin mendidih akibat geram. Akan tetapi, Erin berusaha untuk tetap bersikap manis karena saat ini Elio masih betah duduk di kursinya.
Pelayan justru diam saja, seolah mulutnya berat untuk sekedar mengucapkan terima kasih pada wanita ular yang kini bergabung di meja makan bersama majikannya itu.
"Ohiya Elio, aku sampai lupa, bagaimana kalau kita lanjut membahas project kemarin!." Sungguh pandai Erin mencuri kesempatan untuk bisa berduaan dengan Elio, tanpa peduli dengan keberadaan mommy-nya Elhan di sana.
"Bukankah kamu tahu kalau aku paling tidak suka membahas pekerjaan di saat hari libur seperti sekarang ini, Erin." Tegas Elio dan hal itu membuat wajah Erin berubah pias.
"Maaf."
"Dasar wanita tak punya malu. Dia pasti sengaja melakukannya, sengaja memancing emosi Calista hingga akhirnya marah dan mungkin sampai mengusirnya dari sini, dengan begitu Elio pasti akan memihaknya. Kalau sudah seperti itu, Elio pasti akan menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang." Batin Diva yang dapat menebak akal bulus Erin. Hal serupa sudah sering terjadi sebelumnya, dan Diva mengetahuinya dari tulisan tangan Calista yang tercatat di buku diary milik wanita itu.
"Daddy ...." Seruan Elhan yang sejak tadi hanya diam saja di kursinya, mampu mengalihkan perhatian Elio dan Diva serta Erin yang juga ikut-ikutan menatap pada bocah itu.
"Iya nak."
"Bukankah semalam Daddy janji mau mengantarkan Elhan untuk membeli tas baru. atau jangan-jangan Daddy sudah lupa?."
"Tentu saja Daddy ingat sayang. Lagipula, mana mungkin Daddy melupakan sesuatu yang berhubungan dengan anak gantengnya Daddy, hm."
Elhan mengembangkan senyum senang mendengarnya.
"Kita perginya berdua saja ya Dad, biar mommy bisa beristirahat saja di rumah!."
Jujur, Diva memang tak ingin kemana-mana hari ini sehingga mendengar ucapan Elhan membuat wanita itu lega.
"Baiklah." Sebenarnya Elio ingin mengajak serta istrinya namun karena apa yang dikatakan putranya ada benarnya, Elio lantas mengurungkan niatnya untuk mengajak serta sang istri.
"Jika mommy kamu tidak bisa, aunty bisa kok menemani kalian."Dengan mengukir senyum terbaiknya, Erin langsung menawarkan diri untuk menemani.
"Tidak perlu, Aunty! Elhan akan pergi berdua saja dengan Daddy." Elhan langsung menolak mentah-mentah tawaran Erin dan hal itu membuat Erin kembali merasa geram hingga ingin sekali rasanya mencubit bibir bocah itu.
"Setelah aku berhasil mendapatkan Elio, maka orang pertama yang akan aku singkirkan adalah bocah menjengkelkan ini." Batin Erin seraya memasang senyum palsunya saat menatap putranya Elio tersebut.
*
Di sebuah pusat perbelanjaan ternama di kota itu, di sinilah Elio dan sang putra berada sekarang. Ditengah langkah menuju salah satu toko yang menyediakan koleksi tas sekolah anak, tiba-tiba Elhan melontarkan pertanyaan yang begitu mengejutkan bagi Elio.
"Daddy sayang nggak sama mommy?."
Elio langsung menolehkan pandangan pada sang putra yang kini berjalan berdampingan dengannya.
"Tentu saja Daddy sayang sama mommy. Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu, nak?." Anak seusia Elhan tidak akan bertanya demikian, kecuali bila ada seseorang yang mengatakannya dengan sengaja, begitu pikir Elio. "Kalau Daddy tidak cinta dan sayang sama mommy, mana mungkin kamu bisa terlahir ke dunia ini, sayang."
"Sebenarnya Elhan juga tidak percaya dengan omongan aunty Erin."
Elio mengepalkan kedua tangannya yang berada di sisi tubuh ketika mendengar pengakuan secara tidak langsung dari mulut putranya. Rupanya diam-diam Erin menyampaikan hal buruk kepada putranya.
"Jangan pernah dengarkan hal buruk apapun yang dikatakan oleh Aunty Erin, karena semua itu tidak benar!."
"Baik, dad." Elhan lega. Ternyata omongan teman sekaligus sekretaris Daddy-nya itu tidaklah benar.
Elio jadi bertanya-tanya, selama ini apa saja sebenarnya yang dikatakan Erin pada putranya tentang hubungannya dengan sang istri?
Real ya pelakor banyak gak sadar diri dan gak tau posisi...🤣🤣🤣🤣