Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satoru Ke Washington
Alethea kembali ke hotel bersama dengan Satoru. Keduanya lebih memilih untuk jalan kaki meskipun musim dingin di New York. Entah memang semesta sedang mendukung mereka tapi New York cerah hari ini.
"Kamu kapan kembali ke Washington?" tanya Satoru.
"Besok kami sudah kembali. Kamu? Apa masih di New York?" balas Alethea.
"Yup. Aku mulai keliling New York untuk sementara waktu. Biasa, promosi." Satoru mengangkat wajahnya. "Aku senang hari ini tidak turun salju."
"Aku juga. Jangan kamu ajak aku makan malam, Satoru. Aku sangat kenyang ini! Sudah brunch, makan siang ditambah minum teh sore. Apakah kamu hendak membuat aku gendut?" kekeh Alethea.
"Tidak juga. Aku hanya senang bisa bersama denganmu. Dan bukankah seorang wanita jika sedang senang pasti makan terus apalagi yang enak," gumam Satoru.
"Iya tapi bukan porsi banyak, Satoru!" protes Alethea.
"Lho apa kamu tidak suka dengan makanan tadi?" tanya Satoru dengan wajah polos.
Alethea menghela napas panjang. "Bukannya aku tidak suka ... Aku suka makanannya enak-enak. Tapi terlalu banyak. Serius, aku tidak sanggup makan malam ini!"
"Bagaimana kalau kita makan salad? Itu kan sayur. Jadi tidak mengenyangkan tapi bikin segar badan." Satoru menarik lembut tangan Alethea. "Aku tahu sebuah restaurant yang isinya jualan salad dan sayur saja."
"Satoru!" protes Alethea. "Aku sungguh kenyang ...."
"Hanya sayur kok," eyel Satoru.
Alethea menggelengkan kepalanya. "Ampun deh kamu tuh!"
Satoru tertawa.
***
Alethea tiba di kamar hotel menjelang pukul sepuluh malam dan Jennifer sudah menunggu dengan gelas anggur di tangan. Alethea tersenyum ke arah bossnya.
"Bagus ya Thea! Kamu sudah membuat aku manyun sendirian sementara kamu malah berkencan dengan Satoru Shinoda!" omel Jennifer yang sedikit mabuk.
"Kami hanya mengobrol biasa," jawab Alethea santai.
"Dengan bergandengan tangan? Thea, jangan bohong padaku! Kalian ada apa-apanya kan? Katakan padaku!" protes Jennifer.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Alethea sambil melepaskan jaketnya.
"Kalian begitu asyik berdua sampai-sampai tidak melihat aku yang cantik ini berada satu restoran! Aku ada di sana!" Jennifer menatap tajam ke arah Alethea.
"Gommennasai kalau aku tidak tahu. Kami hanya mengobrol macam-macam kok."
"Itu kencan! Kencan! Dating! D A T I N G!" balas Jennifer dengan wajah judes.
Alethea tertawa kecil. "Good night Jenny."
"Kamu hutang penjelasan, Thea! Kamu hutang penjelasan!" Jennifer hanya manyun saat mendengar suara pintu kamar tertutup. "Kenapa tidak bilang kalau kalian sudah kenal. Tunggu ... Mungkinkah ...."
Jennifer membalikkan badannya ke arah pintu kamar Alethea. "Otakku terlalu kreatif. Tidak mungkin kan mereka bertemu di Cedliff? Jika bertemu di Cedliff ... berarti ...."
Wanita itu menghabiskan anggurnya. "Aku kebanyakan minum ini jadi otakku kacau."
Jennifer lalu berjalan sedikit doyong menuju kamar tidurnya. Dia tahu harus bisa bangun pagi esok karena pesawat mereka akan berangkat jam dua belas siang.
***
Satoru tetap melakukan safari promosi lukisannya di New York sementara Alethea kembali ke Washington DC. Meskipun begitu, Satoru selalu menghubungi Alethea setiap hari meskipun hanya ngobrol sebentar dan mengirimkan pesan.
"Aku sudah selesai acara promosinya?" tanya Satoru ke asistennya.
"Sudah Mr Shinoda. Jadwal Anda selanjutnya, dua Minggu lagi ke Dubai. Anda ada jadwal libur sekitar sepuluh hari. Bagaimana?" jawab asistennya.
"Bagus. Aku ada waktu libur lumayan." Satoru pun berdiri. "Bonus kamu akan masuk Minggu ini."
Asistennya langsung membungkuk hormat. "Domo Arigato Sensei."
"Pekerjaan kamu bagus. Kita mendapatkan banyak uang dari penjualan lukisan berkat negosiasi kamu. Good job, Shima." Satoru menepuk bahu pria Jepang itu.
Shima dulu adalah anak buah Yakuza Takara Bianchi. Dia masih junior saat masuk menjadi anggota Yakuza. Saat Satoru semakin punya pamor, dia membutuhkan asisten yang mampu berbahasa Inggris dengan fasih. Shima salah satu yang dipercaya Kenta dan Satoru tidak keberatan dengan pria yang sebaya dengannya.
Shima tidak mengecewakan Satoru dan sudah lima tahun ini dia bekerja dengan pelukis itu. Pengetahuan Shima tentang dunia seni karena dia sarjana seni dari sebuah kampus di Osaka. Shima juga seorang negosiator yang cerdas. Tak heran, Satoru mendapatkan banyak keuntungan berkat Shima.
Selain Shima, Satoru juga memiliki bagian keuangan yang dipegang oleh wanita berkulit hitam mirip penyanyi Aretha Franklin, bernama Tyche, dari kantor akutansi Neville. Dia yang mengatur semua keuangan Satoru dari penjualan lukisan.
"Kamu akan kembali ke Tokyo?" tanya Satoru ke Shima.
"Haik. Jujur aku rindu takoyaki khas Jepang. Di sini, kurang," kekeh Shima.
"Tyche?" Satoru menoleh ke wanita yang sedang membuat laporan keuangan ke Thorin Neville.
"Aku kan Tyche from The Bronx. Jadi, aku tetap tinggal di sini. Satoru, aku sudah memasukkan semua uang ke rekening Anda. Gaji saya dan Shima juga sudah masuk. Laporan ke Mr Neville juga sudah," jawab Tyche sambil laporan.
Satoru menerima notifikasi dari ponselnya dan laporan kertas Tyche. "Oke. Kerja bagus semuanya. Shima, hati-hati pulang ke Tokyo. Tyche, selamat bersenang-senang di rumah."
***
Satoru tiba di Washington dan segera menuju museum tempat Alethea bekerja. Satoru bisa melihat bagaimana cantiknya museum itu. Pria itu pun berkeliling hingga Catherine melihatnya. Wanita itu tampak terkejut dan tangannya melakukan bahasa isyarat.
"Ah selamat siang. Aku Satoru Shinoda," senyum Satoru juga menggunakan bahasa isyarat.
Catherine terkejut. "Bagaimana bisa Anda menggunakan bahasa isyarat?"
"Sepupuku ada yang tuna rungu dan selalu ingin tahu berkomunikasi dengan bahasa isyarat jadi ya ...."
"Satoru?"
Satoru melihat ke arah belakang Catherine yang menengok arah mata Satoru.
"Hai. Aku datang kemari untuk berlibur dan menemui kamu," senyum Satoru.
Catherine melihat bergantian. "Kalian pacaran?"
***
Yuhuuu up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia