Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
Malam beranjak larut di Markas Besar Wilayah Utara. Angin salju meraung di luar jendela kayu, tetapi di dalam ruang kerja pribadi Xiu Ying, pendar lilin dan aroma teh melati menciptakan keheningan yang penuh perhitungan.
Xiu Ying duduk di balik meja kayu cendana, menatap peta perlintasan dari utara menuju ibu kota. Di sampingnya, Zhen Yu berdiri tegap. Jaringan intelijen Jaringan Bayangan Mistik baru saja membawa laporan pergerakan Komandan Meng dan seluruh prajurit pembunuh bayaran terbaik milik Pangeran Ke-4 yang meluncur ke utara.
"Pangeran Ke-4 sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya," ujar Xiu Ying, jemari lentiknya menunjuk celah sempit di Lembah Naga Es. "Dia mengerahkan seluruh sisa prajurit rahasianya hanya untuk memastikan kita tidak pernah kembali ke ibu kota dalam keadaan bernapas."
Zhen Yu melangkah mendekat, melingkarkan lengan kokohnya di bahu Xiu Ying dari belakang. Suara beratnya bergema seksi dan hangat di dekat telinga sang istri. "Serigala yang terdesak akan mengandalkan cakar terakhirnya, Istriku. Dia berpikir kita akan bersembunyi di Kota Perbatasan."
Xiu Ying memiringkan kepalanya, menyunggingkan senyum miring yang memikat. "Lalu mengapa tidak kita beri dia panggung yang sangat dia inginkan? Kita buat skenario kepulangan palsu. Rombongan kereta utama akan berangkat besok pagi melewati Lembah Naga Es dengan pengawalan yang tampak longgar."
Zhen Yu terkekeh rendah, mengusap lembut pipi mulus istrinya. "Rombongan kereta sebagai umpan... sementara prajurit bayangan kita menunggu di atas tebing es?"
"Tentu saja," balas Xiu Ying, matanya berkilat penuh dominasi. "Dan aku sudah menyiapkan racun Kabut Salju Lumpuh buatan terbaruku. Begitu mereka masuk ke celah lembah, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa melangkah keluar."
Zhen Yu menunduk, mengepalkan jemari hangatnya di jemari Xiu Ying. "Komandan Meng harus ditangkap hidup-hidup. Dialah kuncinya. Dengan kesaksian dan cap stempel kediaman Putra Mahkota di tangannya, kita akan mengunci leher Pangeran Ke-4 di depan Ayahanda Kaisar."
Keesokan harinya, saat fajar menyingsing samar di balik awan salju.
Sebuah rombongan kereta kencana bermotif Istana Ke-7 terlihat melaju pelan membelah badai es menuju ibu kota. Di depan dan belakang kereta, hanya ada dua puluh pengawal berbaju besi yang berbaris canggung—memberikan kesan seolah-olah Istana Ke-7 lengah dan tidak siap menghadapi serangan.
Di puncak tebing Lembah Naga Es, Komandan Meng mengintai dari balik semak-semak beku bersama seratus prajurit pembunuh bayaran berpakaian hitam. Matanya berkilat penuh kesenangan liar saat melihat rombongan kereta tersebut memasuki celah lembah yang sempit.
"Lihat pria idiot dan wanita itu!" bisik Komandan Meng kejam pada wakilnya. "Mereka benar-benar berpikir bisa pulang dengan selamat hanya mengandalkan dua puluh pengawal konyol!"
"Komandan, apakah kita langsung serang?" tanya sang wakil sambil menggenggam gancu dan pedang beracunnya.
Komandan Meng mencabut pedangnya. "Ingat perintah Putra Mahkota! Habisi Pangeran Ke-7 dan seluruh pengawalnya tanpa sisa! Tapi biarkan Xiu Ying tetap bernapas! Kepung lembah sekarang!"
"SERANG!"
SRRK!
Seratus pembunuh bayaran melompat turun dari atas tebing es, mendarat keras mengurung rombongan kereta kencana di tengah celah lembah. Salju berhamburan ke udara saat pedang-pedang terhunus berkilat di bawah sinar matahari pagi.
Komandan Meng melangkah penuh kemenangan, menunjuk kereta kencana dengan pedangnya. "Pangeran Ke-7! Keluar kau! Hari ini adalah hari terakhirmu melihat matahari!"
Namun, tidak ada jeritan ketakutan dari dalam kereta. Dua puluh pengawal yang mengapit kereta bahkan tidak mencabut pedang mereka—mereka hanya menyunggingkan senyum dingin yang aneh.
"Mengapa kalian diam saja?!" bentak Komandan Meng mendadak cemas. "Serang kereta itu!"
Sebelum prajurit pembunuh itu sempat melangkah satu inci pun, Xiu Ying melangkah keluar dari dalam kereta kencana. Ia dibalut jubah bulu serigala putih, berdiri anggun di atas pijakan kereta tanpa ada raut panik sedikit pun di wajah cantiknya.
"Komandan Meng..." buka Xiu Ying, suaranya jernih dan tenang menggema di dinding-dinding es lembah. "Sungguh perjalanan yang sangat jauh hanya untuk menyerahkan nyawamu dan seluruh sisa prajurit Putra Mahkota di tempat terpencil ini."
Komandan Meng terbelalak kaget. "K-Kau... bagaimana kau bisa sejelas itu mengenaliku?!"
Xiu Ying terkekeh pelan, melambaikan tangan lentiknya. "Karena sejak kau melangkah keluar dari pintu gerbang ibu kota, setiap langkahmu sudah berada di dalam telapak tangan kami."
Tiba-tiba, dari puncak tebing es di sekeliling lembah, ratusan panah perak mengepung dari atas. Puluhan sosok berbusana serba hitam dengan topeng perak muncul bagaikan prajurit dari kegelapan.
"J-Jaringan Bayangan Mistik?!" teriak para pembunuh bayaran panik, menyatukan punggung mereka dalam ketakutan yang teramat sangat.
Dari balik bayangan pohon pinus tebal di ujung lembah, Zhen Yu melangkah keluar. Pria itu tidak lagi memakai jubah birunya, melainkan zirah hitam berukir naga perak. Wajah tampannya terbuka tanpa topeng, memancarkan wibawa pembunuh yang luar biasa dingin.
"A-Apa?!" Komandan Meng melotot hampir melompat keluar dari kelopak matanya. "P-Pangeran Ke-7... Kau?!"
Zhen Yu berhenti tepat beberapa langkah di depan Komandan Meng, menyilangkan tangannya di dada dengan tatapan merendahkan.
"Apakah Pangeran Ke-4 tidak memberitahumu, Komandan Meng?" buka Zhen Yu, suaranya berat, dalam, dan menggetarkan selaput telinga. "Bahwa pria idiot yang ingin kalian bunuh ini... adalah Penguasa Jaringan Bayangan yang menguasai seluruh nyawa di kekaisaran ini?"
"T-Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" jerit Komandan Meng histeris, kakinya gemetaran hebat hingga pedangnya hampir terlepas. "K-Kau berpura-pura bodoh selama ini?!"
Xiu Ying mengangkat sebuah botol giok kecil dari tangannya, lalu melemparkannya ke atas batu. PRANG!
Cairan bening di dalamnya pecah, seketika menyebar menjadi kabut tipis tak berbau yang terbawa angin dingin ke seluruh celah lembah.
"A-Apa ini?!" teriak salah satu pembunuh bayaran saat lututnya mendadak lemas. "Tanganku... tanganku tidak bisa digerakkan!"
"Kaki saya membeku! Saya tidak bisa berdiri!"
Hanya dalam hitungan lima detik, seratus prajurit pembunuh bayaran pilihan Putra Mahkota roboh secara beruntun di atas salju, memegangi dada dan persendian mereka yang kaku sepenuhnya akibat racun Kabut Salju Lumpuh buatan Xiu Ying.
Komandan Meng tersungkur di atas salju, matanya membelalak horor saat menyadari seluruh kekuatannya lumpuh total.
Zhen Yu melangkah mendekat, menekan dada Komandan Meng dengan ujung sepatunya hingga sang komandan merintih kesakitan.
"Kau..." desis Zhen Yu dingin, menatap Komandan Meng bagaikan menatap serangga kecil. "Kau adalah utusan terakhir Pangeran Ke-4. Dan kesaksianmu hari ini akan menjadi paku terakhir di peti mati junjunganmu."
"A-Ampun... Ampunkan hamba, Yang Mulia..." cicit Komandan Meng terengah-engah, air mata ketakutan membasahi wajahnya yang pucat. "H-Hamba hanya menjalankan perintah... Hamba punya surat perintah resmi dari Putra Mahkota!"
Zhen Yu merogoh bagian dalam jubah Komandan Meng, menarik keluar sebuah gulungan kain sutra berstempel lilin merah khas Kediaman Putra Mahkota yang berisi perintah pembunuhan dan penculikan Xiu Ying.
Zhen Yu menyunggingkan senyum miring yang mematikan. "Bukti yang sangat sempurna."
Zhen Yu melirik Komandan Cang yang berdiri di sampingnya. "Ikat dia rapat-rapat dengan rantai penekan energi. Pastikan dia tidak bisa bunuh diri sebelum berdiri di depan meja Kaisar."
"Baik, Yang Mulia!" jawab Komandan Cang tegas, memapah Komandan Meng yang sudah tak berdaya.
Zhen Yu menoleh menatap para pembunuh bayaran lain yang tergeletak lumpuh di salju. "Sisa prajuritnya... selesaikan tanpa sisa."
Jeritan histeris singkat pecah dan seketika sirna di dalam celah Lembah Naga Es saat prajurit bayangan mengeksekusi sisa-sisa musuh.
Xiu Ying melangkah turun dari kereta kencana, mendekati suaminya. Angin salju menyapu lembut jubah serigala putihnya.
Zhen Yu membalikkan badan, membuang aura dingin pembunuhnya seketika saat menatap Xiu Ying. Pria gagah itu meraih kedua tangan hangat istrinya, merengkuh pinggang ramping Xiu Ying dan menariknya rapat ke dalam pelukannya.
"Skenario milikmu berjalan sangat sempurna, Istriku," bisik Zhen Yu lembut, menyapukan bibirnya di dahi mulus Xiu Ying.
Xiu Ying menyandarkan kepalanya di dada bidang Zhen Yu, menyunggingkan senyum manis yang memikat. "Seluruh prajurit rahasia Putra Mahkota telah habis, dan kita memegang bukti otentik serta saksi kunci kejahatannya."
Zhen Yu menatap jalanan yang membentang menuju ibu kota, matanya berkilat tajam dipenuhi pendar dominasi murni.
"Saatnya kita kembali ke ibu kota, Putri Dermawan Agungku..." bisik Zhen Yu parau di dekat telinga Xiu Ying. "Saatnya menurunkan Pangeran Ke-4 dari posisinya dan mengambil alih panggung tertinggi kekaisaran."
Xiu Ying mendongak, mengangguk tegas dengan Binar kepercayaan mutlak pada suaminya. Pasangan penguasa itu melangkah kembali ke dalam kereta kencana, siap meluncur menuju ibu kota untuk mengakhiri perseteruan dan merebut takhta kekaisaran secara sah.
(Bersambung)
no drama drama selir menyelir ..., 👊
gini2 terus jadi gua skip🙏