Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Jemputan Yang Terlambat.
Ruang seni di KIYOON International Arts School terletak di sisi timur gedung utama—berdinding kaca buram dengan cahaya alami yang jatuh lembut ke lantai kayu berwarna terang. Aroma cat air dan kertas baru bercampur samar di udara, menciptakan suasana yang berbeda dari ruang kelas lainnya. Di sepanjang dinding, kanvas-kanvas kosong berjajar rapi, seolah menunggu untuk diisi dengan warna dan cerita.
Anak-anak masuk satu per satu, kemudian mengambil tempat di meja panjang yang telah disusun melingkar. Tata ruang itu sendiri sudah memberikan kesan bahwa hari ini tidak ada satu titik yang menjadi pusat perhatian.
Jun-seok memilih kursi di sisi tengah tasnya ia letakkan dengan rapi di bawah meja, lalu matanya menyapu seluruh ruangan dengan ekspresi datar khas wajah seorang anak yang lebih suka mengamati keadaan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk terlibat.
Beberapa anak mulai membuka tempat pensil dan mengeluarkan perlengkapan masing-masing. Suara kursi yang bergeser dan percakapan kecil terdengar bersahutan, mengisi ruang yang sebelumnya hanya dipenuhi suara langkah kaki.
Tidak lama kemudian, Jung Hae-in masuk.
Hari itu, ia mengenakan blus putih gading berlengan panjang, dipadukan dengan rok hitam selutut berpotongan bersih dan heels rendah. Ujung lengan blusnya digulung rapi hingga sedikit di bawah siku rambutnya diikat rendah, menyisakan beberapa helai rambut tipis di dekat pelipis.
Tidak ada noda cat di pakaiannya, ia juga tidak menggunakan aksesori mencolok bahkan aroma parfumnya pun nyaris tidak tercium. Hari ini dia datang seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu ruang tersebut, melainkan membiarkan dirinya menjadi bagian darinya.
Hae-in tidak langsung berbicara dia berjalan perlahan mengitari meja, sesekali menunduk untuk memeriksa perlengkapan yang telah disiapkan. Ia memastikan setiap anak memiliki kertas, pensil, dan cat air sebelum akhirnya berhenti di dekat rak alat lukis.
Tatapannya berkeliling sekali lagi memastikan semua sudah siap. Barulah Hae-in berjalan menuju sisi jendela, cahaya pagi yang masuk melalui kaca buram jatuh lembut di wajahnya, menerangi sebagian sisi wajahnya sementara sisi lainnya tetap berada dalam bayangan tipis.
Ia mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya membuka suara.
“Hari ini kita tidak akan menggambar apa pun yang kalian hafal,” ucapnya akhirnya. Suaranya tenang, tidak terlalu keras, tetapi cukup jelas untuk membuat percakapan kecil di antara anak-anak perlahan berhenti.
Beberapa anak saling pandang, termasuk Jun-seok yang langsung mengangkat wajahnya sedikit. Alisnya terangkat tipis, seolah sedang mencoba memahami ke mana arah pelajaran hari itu.
Hae-in memperhatikan reaksi mereka, lalu tersenyum kecil.
“Tidak ada rumah, tidak ada gunung, tidak ada matahari di sudut kanan. Dan tidak ada jawaban benar atau salah,” lanjutnya, kali ini tanpa senyum.
Yul mengangkat tangan setengah ragu, seolah mewakili pertanyaan yang sejak tadi tertahan di benak beberapa murid lainnya.
“Kalau begitu... kita harus menggambar apa, Saem-nim?” tanyanya sopan membuat Hae-in menoleh ke arahnya tatapannya terarah dan penuh perhatian, tetapi sama sekali tidak menghakimi.
“Kalian akan menggambar sesuatu yang kalian lihat bukan dengan mata, melainkan dengan perasaan,” katanya.
Ruangan seketika menjadi sunyi, seluruh murid tampak berusaha mencerna ucapan guru mereka. Min-kyu mengernyitkan dahi, sementara Seon-woo bersandar sedikit ke belakang dengan ekspresi bingung. Sedangkan Jun-seok tanpa disadari siapa pun justru duduk lebih tegak, tatapannya kini tertuju penuh kepada Hae-in.
“Tapi, Saem-nim, bagaimana cara kita melihat dengan perasaan?” tanya salah seorang murid perempuan yang duduk di sebelah kanannya.
Hae-in tidak langsung menjawab dia memilih membiarkan pertanyaan itu menggantung selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
“Dengarkan ucapan saya... pejamkan mata kalian,” lanjut nya kemudian.
Anak-anak menurut beberapa dari mereka menutup mata rapat-rapat, sementara yang lain sempat mengintip melalui celah kelopak mata sebelum akhirnya benar-benar terpejam.
“Tarik napas. Ingat satu hal yang kalian lihat pagi ini, sesuatu yang mungkin tidak penting, tetapi entah kenapa tertinggal di kepala kalian,” lanjut Hae-in.
Beberapa detik berlalu ruang kelas itu mendadak terasa jauh lebih hening, tidak ada lagi percakapan kecil ataupun suara kursi yang bergeser. Hanya terdengar hembusan napas anak-anak yang perlahan mulai teratur, bercampur dengan dengung lembut pendingin ruangan.
Hae-in berdiri diam di depan mereka namun tidak menganggu atau memberikan petunjuk tambahan, ia hanya diam membiarkan masing-masing anak menemukan sesuatu yang hanya mereka sendiri yang tahu.
“Sekarang, buka mata kalian dan gambar itu.” Hae-in melangkah mundur, memberi ruang sepenuhnya kepada anak-anak.
Satu per satu, mata mereka terbuka. Beberapa anak langsung tersenyum kecil, seolah sesuatu yang sebelumnya samar di dalam kepala mereka tiba-tiba menemukan bentuk. Yang lain masih tampak berpikir, menatap kosong ke atas meja sebelum akhirnya meraih pensil masing-masing.
Tak lama kemudian, suara ujung pensil mulai terdengar di atas permukaan kertas ada yang bergerak cepat, seolah takut gambaran dalam kepalanya menghilang. Ada pula yang menarik garis dengan ragu, kemudian menghapusnya dan mencoba kembali.
Cat air mulai dibuka, kuas dicelupkan perlahan ke dalam air sebelum menyentuh warna-warna yang tersedia. Hae-in hanya berjalan perlahan dari satu meja ke meja lainnya, sesekali berhenti di belakang seorang murid dan mengamati hasil gambar mereka tanpa menyentuh ataupun mengubah sedikit pun apa yang telah mereka buat.
Ia membiarkan anak-anak itu menemukan jawabannya sendiri, dan ketika dia berhenti cukup lama di belakang Jun-seok dia melihat di atas kertas itu, tidak ada bentuk yang langsung dikenali. Hanya garis-garis tipis, warna biru yang tidak rata, dan satu titik hitam kecil di sudut kiri bawah.
Namun cara anak itu mengisi ruang tidak terburu-buru, tidak berlebihan, membuat Hae-in diam lebih lama dari yang ia sadari.
Ia tidak bertanya ataupun memberi komentar yang dia lakukan hanya mengangguk pelan, seolah pada dirinya sendiri, lalu melangkah pergi. Waktu berlalu tanpa terasa. Ketika bel tanda akhir kelas berbunyi, beberapa anak tampak terkejut.
“Saem-nim,” panggil Seon-woo.
Hae-in menoleh kepadanya.
“Kelasnya sudah selesai? Kenapa? Aku bahkan belum selesai,” ucapnya kesal.
“Kenapa jam bergerak cepat saat kita serius?” timpal salah seorang anak lainnya.
Hae-in tersenyum tipis mendengar keluhan mereka.
“Kalau kalian lupa waktu,” katanya, “berarti kita melakukan sesuatu dengan benar.” Ia kemudian meminta mereka menuliskan satu kalimat di balik kertas gambar, bukan penjelasan mengenai apa yang mereka gambar, tetapi tentang perasaan yang muncul ketika mereka mengingat sesuatu yang tadi mereka lihat.
Anak-anak mulai berkemas, suara kursi yang bergeser dan resleting tas yang ditutup perlahan memenuhi ruangan sebelum akhirnya satu per satu murid meninggalkan meja mereka. Ruang seni yang beberapa saat lalu dipenuhi suara pensil dan percakapan kecil kembali tenang.
Jun-seok menatap kertas gambarnya sejenak. Ia membaca kembali kalimat yang baru saja ditulisnya di bagian belakang kertas, kemudian memasukkannya dengan hati-hati ke dalam map. Setelah memastikan tidak ada yang terlipat, ia memasukkan map tersebut ke dalam tas.
Saat berjalan menuju pintu, langkahnya melambat Hae-in berdiri di dekat pintu, memperhatikan murid-murid yang keluar satu per satu.
“Terima kasih sudah menggambar dengan jujur. Sampai jumpa di kelas-kelas lainnya. Saya harap lain kali saya bisa melihat sesuatu yang lebih indah dari hari ini,” ucapnya kepada seluruh murid dengan nada yang sama, tanpa membeda-bedakan siapa pun.
Jun-seok berhenti sepersekian detik kemudian menundukkan kepala dengan sopan.
“Terima kasih, Saem-nim,” jawabnya.
“Terima kasih juga,” balas Hae-in sambil mengangguk kecil.
Jun-seok pun melangkah keluar meninggalkan Hae-in yang masih berdiri di tempatnya hingga sosok anak laki-laki itu menghilang di balik pintu. Setelah itu, ia mengembuskan napas perlahan dan kembali memandang ruang seni yang kini kosong.
Beberapa lembar kertas masih tertinggal di atas meja, warna-warna cat air yang belum sempat dikembalikan berjajar di samping kuas-kuas kecil yang basah.
⊹ ──༺𝐁𝐘𝐍𝐊༻── ⊹
Sore itu, lantai kreatif ORIONA mulai melambat karena ide-ide yang sejak pagi diperas perlahan mencapai titik jenuh yang sehat. Lampu-lampu meja menyala satu per satu, menyisakan cahaya hangat di antara bayang-bayang layar monitor yang masih menampilkan berbagai rancangan pekerjaan.
Nala berdiri di depan papan kaca ruang diskusi kecil, spidol hitam masih berada di tangannya. Beberapa poin besar tertulis rapi di permukaan papa—alur Creative Retreat, pembagian sesi, serta catatan kecil bertanda recovery time yang ia lingkari dua kali.
Tatapannya berhenti cukup lama pada bagian tersebut.
“Kita perlu jeda yang benar-benar jeda,” ucapnya, lebih kepada dirinya sendiri. Jeonggin, yang sejak tadi duduk bersandar di kursi dengan tablet di pangkuannya, mengangkat kepala.
“Kalau jadwalnya terlalu padat, tujuan awalnya gagal,” katanya. “Tim akan patuh, tetapi pulang dengan kepala yang sama penuhnya.”
Kalimat itu membuat Nala mengangguk pelan.
“Aku setuju.” Ia menghapus satu sesi sore, kemudian menggantinya dengan satu baris pendek: unscheduled reflection.
Ujung spidol kembali bergerak beberapa kali sebelum akhirnya berhenti. Hening sejenak menyertai perubahan kecil itu—hening yang nyaman, bukan canggung. Hanya terdengar samar suara aktivitas dari luar ruangan, bercampur dengan dengung pendingin udara yang konstan.
Jeonggin kemudian berdiri kemudian mendekat ke papan kaca dengan langkah tenang, lalu berhenti tepat di samping Nala. Pandangannya ikut menyusuri jadwal yang baru saja diubah.
“Kalau begitu, aku sarankan satu fasilitator saja jadi bukan sebagai mentor, maupun atasan tapi orang yang cukup netral untuk memancing, bukan mengarahkan,” katanya.
Nala menoleh kepadanya.
“Kamu?” tanyanya cepat, seolah sudah menangkap maksud di balik nada bicaranya.
Jeonggin tersenyum singkat.
“Kalau kamu izinkan.” Ia tidak menyebut kemampuan maupun pengalaman nya untuk berusaha meyakinkan Nala dengan berbagai alasan. Ia hanya menawarkan ketersediaannya, sesederhana itu.
Nala terdiam beberapa saat tatapannya kembali beralih kepada papan kaca di hadapan mereka. Ia membaca ulang jadwal yang baru saja disusunnya, mempertimbangkan pembagian sesi, kebutuhan tim, serta orang yang paling tepat untuk mendampingi mereka selama kegiatan berlangsung.
“Baiklah...” ucap Nala akhirnya. “Lagi pula, ini idemu sejak awal.”
Jeonggin hanya mengangguk. Keputusan itu terasa ringan—terlalu ringan untuk sesuatu yang seharusnya dipikirkan panjang.
Namun, Nala tidak mempertanyakannya karena bagaimanapun, mereka sudah saling mempercayai satu sama lain. Setelah beberapa lama berdiskusi, akhirnya mereka keluar dari ruang diskusi secara bersamaan.
Di koridor, beberapa staf menyapa Nala dengan hormat, sementara kepada Jeonggin mereka menyapa dengan keakraban yang sama. Tidak ada tatapan yang tertahan, tidak ada pula bisik-bisik di antara mereka karena semuanya memang tampak... normal seperti dua rekan kerja yang sudah terlalu lama saling mengenal.
“Sudah jam makan malam. Kamu pulang sekarang?” ujar Jeonggin setelah melirik jam tangannya.
Nala menghela napas kecil, ia bahkan baru menyadari bahwa waktu sudah bergerak sejauh itu.
“Masih ada dua berkas yang harus aku cek, Oppa. Kamu makan saja duluan. Aku nanti saja,” jawab Nala.
Jeonggin justru menggeleng.
“Aku juga kalau begitu. Aku ambilkan makanan untukmu?” tawarnya.
Nala sempat membuka mulut hendak menolak, tetapi urung. Tatapannya beralih kepada tumpukan berkas di meja, lalu kembali kepada Jeonggin setelah mempertimbangkan sejenak, ia akhirnya mengangguk kecil.
“Tolong... terima kasih,” jawabnya tanpa rasa sungkan.
Tidak ada rasa tidak enak yang berlebihan di antara mereka semuanya terasa seperti kebiasaan kecil yang terbentuk begitu saja setelah bertahun-tahun saling mengenal, tanpa pernah membutuhkan kesepakatan.
Jeonggin pun pergi meninggalkan ruangan.
Beberapa waktu kemudian, ia kembali dengan membawa satu kotak sup dan satu kotak nasi berukuran kecil. Ia meletakkannya di meja Nala dengan hati-hati, tepat di samping laptop yang masih terbuka.
“Kamu sering lupa makan kalau terlalu fokus,” katanya ringan.
Nala menghentikan gerakan tangannya di atas papan ketik, pandangannya turun kepada makanan yang baru saja diletakkan di hadapannya. Ia menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat wajah.
“Kamu terlalu perhatian untuk seorang rekan kerja,” ujarnya setengah bercanda. Jeonggin tertawa pelan, bukan tawa lepas, melainkan hembusan singkat yang disertai senyum tipis.
“Sudah kenal selama ini, mana mungkin aku harus pura-pura tidak tahu kebiasaanmu?” tanyanya.
Nala hanya menggeleng kecil, lalu menarik kotak sup itu lebih dekat kepadanya.
“Baiklah. Terima kasih, Oppa.”
“Hmm,” ucapnya sembari melangkah untuk kembali ke ruangannya sendiri. Namun, baru beberapa langkah, Jeonggin berhenti sejenak. Ia kemudian berbalik dan kembali menatap Nala. “Kamu tahu, aku terlalu terbiasa mengurus semuanya sendiri.”
Kalimat itu jatuh dengan lembut, tanpa nada mengeluh. Namun, entah mengapa, terdengar seperti sesuatu yang sudah lama menjadi bagian dari dirinya.
“Itu sebabnya Oppa harus menikah... Aku sarankan,” jawab Nala bercanda membuat tawa kecil keluar dari bibirnya, ia sama sekali tidak menganggap percakapan itu serius.
Tetapi Jeonggin justru menatap Nala sedikit lebih lama. Tatapannya tenang, sementara senyum tipis perlahan muncul di wajahnya.
“Aku pasti akan menikah. Hanya saja, aku sedang menunggu wanita yang aku suka... Aku akan mendapatkannya,” katanya pelan.
Nala yang semula hendak mengambil sendok kembali berhenti. Ia menoleh kepada Jeonggin dengan ekspresi sedikit terkejut.
“Owoo... Oppa punya orang yang Oppa suka? Siapa?” tanyanya penasaran.
Jeonggin hanya tersenyum kecil terlihat sedikit malu-malu.
“Nanti kalau saatnya tiba, kamu akan tahu.” Ia kemudian melirik makanan di hadapan Nala. “Oh, ya. Lanjutkan makanmu. Pelan-pelan, jangan sampai tersedak.”
Tanpa menunggu jawaban, Jeonggin mengambil botol air mineral yang masih tersegel lalu membuka tutupnya, kemudian meletakkannya di samping Nala.
“Terima kasih,” kata Nala.
Jeonggin terkekeh pelan.
“Menyenangkan sekali melihatmu makan lahap seperti itu,” katanya.
Namun, Nala tidak menjawab dia hanya kembali menunduk dan makan perlahan, sesekali meniup permukaan sup yang masih mengepulkan uap tipis. Sementara itu, Jeonggin berbalik dan kembali ke ruangannya yang berada di seberang ruangan Nala.
Percakapan singkat itu pun berlalu begitu saja, setidaknya, bagi Nala, tidak ada sesuatu yang perlu dipikirkan lebih jauh.
⊹ ──༺𝐁𝐘𝐍𝐊༻── ⊹
Sore itu merambat perlahan menuju malam. Langit di atas kompleks sekolah mulai kehilangan semburat jingganya, berganti biru pucat yang dingin. Lampu-lampu koridor satu per satu menyala, memantulkan cahaya kekuningan di lantai marmer yang kini nyaris kosong.
Suara tawa anak-anak telah lama menghilang, digantikan oleh keheningan yang bersih sejenis diam yang hanya dimiliki bangunan pendidikan setelah jam belajar usai. Jun-seok duduk di bangku panjang dekat lobi utama tas ranselnya tertata rapi di samping kaki, punggungnya tegak, kedua tangan terlipat di pangkuan. Wajahnya tenang, nyaris terlalu tenang untuk anak seusianya.
Tak jauh darinya, Hae-in baru saja selesai memeriksa hasil pelajaran para murid yang pulang terlambat. Wanita itu berdiri dengan punggung bersandar ringan pada pilar, lalu kembali memeriksa jam tangannya untuk kesekian kalinya.
Lobi semakin sepi sesekali terdengar langkah kaki salah seorang staf yang melintas di koridor, kemudian kembali lenyap ditelan keheningan.
“Sepertinya sopirmu sedikit terlambat,” ucap Hae-in pelan.
Jun-seok menoleh kepadanya, kemudian mengangguk kecil.
“Tidak apa-apa, Seonsaengnim. Ayah dan Ibu juga biasanya pulang malam. Katanya sopir akan datang terlambat karena jalanan macet,” jawab Jun-seok sopan, terlalu tertata untuk anak seusianya.
Hae-in mengangguk pelan, ada jeda singkat yang membuat nya menoleh ke arah pintu kaca lobi yang memperlihatkan halaman sekolah semakin gelap, lalu kembali memandang anak laki-laki di hadapannya.
“Kalau begitu...” Hae-in berhenti sejenak, seolah mempertimbangkan tawarannya terlebih dahulu. “Bagaimana kalau saya yang mengantarmu pulang? Rumahmu pasti tidak terlalu jauh. Di mana?”
Ia mengatakannya dengan hati-hati, sekadar menawarkan bantuan kepada seorang murid yang masih menunggu jemputan ketika sebagian besar siswa telah pulang.
Jun-seok mengangkat kepala tatapannya jernih dan mantap. Tidak ada keraguan sedikit pun di sana.
“Tidak boleh,” jawabnya langsung.
Mendengar itu, Hae-in terdiam sesaat bukan tersinggung, melainkan sedikit terkejut oleh ketegasan anak tersebut.
“Tidak boleh?” ulangnya lembut.
Jun-seok mengangguk sekali lagi.
“Mommy bilang aku tidak boleh pulang dengan siapa pun. Kecuali Mommy, Daddy, atau sopir kami.”
Nada suaranya tetap sama, tidak terdengar seperti sedang menolak Hae-in secara pribadi, apalagi mencurigainya. Ia hanya sedang menyampaikan sebuah aturan yang sudah tertanam begitu kuat dalam dirinya.
Bagi Jun-seok, itu bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan karena baginya itu hanya sebuah aturan yang telah ia terima sebagai bagian dari hidupnya.
Hae-in menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu dalam cara anak itu berbicara seolah-olah ia tahu bahwa dunia tidak selalu aman dan memilih untuk patuh bukan karena takut, melainkan karena percaya.
“Begitu, ya,” gumam Hae-in akhirnya.
Ia tidak memaksa, tidak mendebat, tidak pula mencari celah untuk meyakinkannya. Hae-in justru melangkah mendekat, lalu duduk di bangku yang sama dengan tetap menjaga jarak sopan. Sikapnya berubah bukan lagi seseorang yang sedang menawarkan bantuan, melainkan seorang guru yang memilih menemani muridnya menunggu.
“Kalau begitu, saya akan menunggu bersamamu sampai sopirmu datang,” katanya tenang. Jun-seok menoleh ada kilatan kecil di matanya, matanya sedikit berbinar lega.
“Terima kasih, Seonsaengnim.” Jun-seok menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk penghormatan.
Mereka kembali diam.
Di luar, angin menggerakkan dedaunan, menciptakan suara halus yang terdengar samar melalui pintu kaca. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, sementara bayangan pepohonan bergerak perlahan di atas halaman yang semakin gelap. Jam dinding di lobi berdetak teratur.
Waktu seakan berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi dua manusia dengan jarak usia yang jauh, tetapi sama-sama memahami arti menunggu.
Hae-in melirik Jun-seok dari sudut mata.
“Biasanya anak seusiamu akan merasa bosan kalau harus menunggu selama ini,” katanya kemudian.
Jun-seok menoleh kepadanya, lalu menggeleng kecil.
“Aku sudah terbiasa,” jawabnya.
“Terbiasa menunggu?” tanya Hae-in hati-hati.
“Terbiasa pulang malam karena Mommy dan Daddy sibuk. Tetapi mereka selalu datang, jadi aku tidak pernah merasa ditinggalkan.” Jun-seok berhenti sebentar, kemudian melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya. “Lagipula, kata Daddy, menunggu itu bentuk kesadaran dan kontrol diri. Kalau aku bisa sabar menunggu, berarti aku berhasil.”
Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan keyakinan penuh tanpa keraguan, tanpa luka yang sengaja dipamerkan.
Hae-in terdiam dia menarik napas perlahan, kemudian mengembuskannya pelan. Ada sesuatu yang terasa hangat sekaligus berat dalam ucapan anak itu. Bukan karena kalimatnya terdengar istimewa, melainkan karena Jun-seok mengucapkannya seperti sesuatu yang benar-benar telah ia pahami dan jalani.
Hae-in tidak menyangka seorang anak berusia sepuluh tahun dapat berbicara tentang kesadaran dan kontrol diri dengan begitu lugas.
Untuk beberapa saat, ia kembali menatap anak laki-laki di sampingnya. Entah mengapa, ada sesuatu dalam cara Jun-seok berbicara yang terasa begitu familiar.
Bukan dari kata-katanya, melainkan dari ketenangan ketika menyampaikan sesuatu yang ia yakini—ketenangan yang membuat Hae-in tanpa sadar kembali teringat pada seseorang yang pernah dikenalnya jauh sebelum kehidupan mereka menjadi seperti sekarang.
“Berarti mereka sangat menepati janji?” tanyanya, yang membuat Jun-seok mengangguk.
“Mommy tidak pernah berbohong dan dia bilang aku tidak boleh berbohong sekalipun untuk kebaikan,” katanya.
Hae-in terdiam sejenak tatapannya masih tertuju pada anak laki-laki di sampingnya. Entah mengapa, percakapan sederhana itu perlahan membuat rasa ingin tahunya tumbuh.
“Kenapa tidak? Kalau untuk kebaikan, memang apa salahnya?” pancingnya.
Nada suaranya tetap ringan, seolah hanya sedang mengajak seorang murid berbicara. Namun, jauh di dalam pikirannya, ia mulai tertarik pada anak ini atau setidaknya pada cara orang tua anak tersebut mendidiknya.
Jun-seok berpikir sebentar sebelum menjawab.
“Mommy bilang kalau berbohong itu perbuatan jelek. Karena Seok anak baik, Seok tidak boleh berbohong. Mommy bilang moral itu seperti keripik panjang yang rapuh. Kalau retak sedikit, patahnya tinggal menunggu waktu.” Jun-seok berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan keyakinan yang sama. “Dan karena itu, Seonsaengnim, sebisa mungkin Seok tidak akan pernah berbohong.”
Hae-in tertegun karena lagi dan lagi, anak itu berhasil membuatnya terdiam hanya dengan jawaban yang begitu sederhana. Ia tidak menyangka seorang anak berusia sepuluh tahun dapat memahami sebuah prinsip dengan cara yang begitu konkret.
Pada akhirnya, Hae-in tersenyum tipis karena untuk pertama kalinya sore itu, senyum tersebut tidak tampak seperti senyum seorang guru yang sedang menjaga sikap profesional. Senyum itu lebih sederhana, lebih hangat; senyum seseorang yang benar-benar menghargai jawaban seorang anak.
“Itu benar... Mommy-mu benar,” jawabnya.
Jun-seok mengangguk dengan wajah yang tampak sedikit bangga.
Beberapa menit kemudian, suara mesin mobil terdengar mendekat dari arah gerbang. Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan lobi. Jun-seok segera berdiri. Ia merapikan tali tas di bahunya, memastikan semuanya tertata sebelum melangkah.
“Itu sopir kami,” katanya sembari berdiri cepat. Hae-in ikut bangkit.
“Baik. Hati-hati di jalan,” ucapnya.
Jun-seok menundukkan kepala dengan sopan.
“Terima kasih sudah menemani.”
Setelah itu, ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Langkahnya kecil, tetapi tegap dan teratur, seperti anak yang sejak lama terbiasa memahami aturan tanpa perlu terus-menerus diingatkan.
Hae-in tetap berdiri di tempatnya tatapannya mengikuti Jun-seok hingga anak itu mencapai mobil. Sang sopir segera turun dan membukakan pintu belakang untuknya. Jun-seok mengucapkan sesuatu singkat sebelum masuk ke dalam mobil dengan tertib.
Pintu mobil kemudian tertutup.
Sedan hitam itu perlahan meninggalkan area lobi, membawa Jun-seok menjauh dari halaman sekolah yang semakin gelap. Hae-in masih berdiri di sana pandangannya mengikuti mobil tersebut hingga akhirnya menghilang di balik gerbang.
Untuk sesaat, pikirannya tidak berada di sekolah, tidak pula pada jadwal mengajar esok hari. Melainkan pada satu hal sederhana yang baru ia pahami sore itu.
Ada anak-anak yang tumbuh dengan cepat bukan karena dunia memaksa mereka menjadi dewasa, melainkan karena sejak kecil mereka diajarkan untuk percaya, memahami batas, dan belajar menunggu dengan caranya sendiri.
“Orang tuanya mendidiknya dengan sempurna...” gumam Hae-in pelan.
Matanya kembali menatap ke arah Jun-seok yang kini telah berada di dalam mobil. Dari kejauhan, ia masih dapat melihat anak itu berbicara singkat dengan sopir sebelum kendaraan tersebut akhirnya bergerak meninggalkan halaman sekolah.