NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

‎Langit sudah sepenuhnya gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, membiaskan cahaya lembut ke dalam kamar yang sederhana itu.

‎‎Anindya baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit lembap, tergerai jatuh menutupi bahu. Ia mengenakan kaos katun polos dan celana panjang yang nyaman. Di tangannya, sisir bergerak pelan menata sisa kelembapan di ujung rambut.

‎‎Tiba-tiba suara mesin mobil terdengar mendekat, lalu berhenti tepat di depan rumahnya.

‎‎Anindya menghentikan gerakannya. Jantungnya kembali berdegup tak menentu. Ia meletakkan sisir di tepi meja rias, melangkah keluar kamar, dan membuka pintu depan perlahan.

‎‎Di sana, di bawah cahaya lampu jalan yang remang, Reynand baru saja menutup pintu mobil. Ia berdiri tegak, namun ada sesuatu yang berbeda, bukan lagi sikap tegas seorang CEO, melainkan kelelahan yang tak sempat ia sembunyikan.

‎‎Anindya melangkah keluar, berdiri di ambang pintu, suaranya pelan namun cemas.

‎‎"Pak Reynand..."

‎‎Reynand menoleh, tatapannya melembut seketika melihat wanita itu. Ia melangkah mendekat melewati pintu pagar yang masih terbuka, menaiki beberapa anak tangga kecil di depan rumah itu.

‎‎"Belum istirahat?" tanyanya rendah.

‎‎Anindya menunduk sejenak, meremas ujung kaosnya dengan gugup.

‎‎"Bagaimana... bagaimana rapat sore ini, Pak?" suaranya bergetar pelan. "Saya... saya minta maaf. Semua ini gara-gara saya. Kalau saja saya tidak ada di sana..."

‎‎Ia menarik napas panjang, meneguhkan hatinya yang terasa perih.

‎‎"Saya akan mengajukan surat pengunduran diri besok pagi. Saya tidak ingin menjadi penghalang. Saya tidak ingin Bapak kehilangan segalanya hanya karena saya..."

‎‎Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya tiba-tiba ditarik masuk ke dalam pelukan yang kuat, hangat, dan tak terduga.

‎‎Anindya terpaku. Matanya membelalak. Tangan yang tadi meremas ujung bajunya kini melayang di udara, tak tahu harus diletakkan di mana.

‎‎Reynand memeluknya erat, dagunya bertumpu lembut di bahu wanita itu, napasnya terasa hangat di kulit leher Anindya. Kedua lengannya melingkar memeluk punggungnya seakan tak ingin melepaskan lagi.

‎‎"Jangan..." bisiknya parau tepat di telinga Anindya. "Jangan pernah mengucapkan hal itu lagi."

‎‎Anindya terpaku di tempatnya, tubuhnya masih kaku karena terkejut. Jantungnya berdegup kencang, seakan hendak melompat keluar dari dada.

‎"P-Pak..." suaranya tercekat, matanya membelalak tak percaya. "Apa... apa yang Bapak lakukan?"

‎‎Reynand perlahan melepaskan pelukannya, namun tak menjauh. Kedua tangannya masih bertahan di bahu wanita itu, menatapnya lekat-lekat.

‎‎Keheningan tercipta di antara mereka, hanya terdengar napas mereka yang sedikit memburu.

‎‎Lalu Reynand menghela napas panjang, seakan melepaskan beban yang telah dipikulnya terlalu lama.

‎‎"Aku menyukaimu, Anindya."

‎‎Kalimat itu terucap pelan, namun begitu jelas, begitu tegas, tak ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

‎‎Mata Anindya melebar seketika. Napasnya tertahan di kerongkongan. Ia ingin berkata sesuatu, bertanya, memastikan, menanyakan apakah telinganya tidak salah mendengar, namun belum sempat sepatah kata pun terucap, bibirnya tiba-tiba disentuh lembut.

‎‎Reynand menciumnya.

‎‎Bukan dengan nafsu, bukan dengan tergesa-gesa. Lembut, pelan, penuh kerinduan yang telah dipendamnya begitu lama. Ciuman itu menyampaikan segalanya, rasa takut kehilangan, dan perasaan yang tak mampu lagi ia sembunyikan di balik sikap profesionalnya.

‎‎Anindya tersentak, seakan tersadar dari mimpi yang memabukkan. Kedua tangannya menempel di dada Reynand, lalu mendorong pelan namun tegas, menjauhkan tubuh pria itu darinya.

‎‎"Tidak..." suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca, menatapnya tak percaya sekaligus menolak. "Ini tidak benar, Pak."

‎‎Langkahnya mundur selangkah, menjaga jarak yang terasa begitu mendesak.

‎‎"Bapak sudah menikah. Bapak suami orang," ucapnya tegas, meski suaranya pecah di akhir kalimat. "Bagaimana bisa... bagaimana bisa Bapak berkata seperti itu? Bagaimana bisa Bapak melakukan ini?"

‎‎Wajahnya memerah, bukan karena rona bahagia, melainkan karena rasa bersalah yang menyergap seketika. Ia tak sanggup menatap mata itu lebih lama lagi. Ia berbalik cepat, menahan isak tangis yang hendak meledak, dan siap melangkah masuk menuju pintu depan.

‎‎Namun baru saja kakinya maju satu langkah, sebuah gerakan cepat menyusulnya, memeluknya dari belakang.

‎‎"Jangan pergi..." suaranya berbisik parau tepat di samping telinga Anindya, napasnya hangat namun bergetar. "Tolong... jangan lari dariku."

‎‎Anindya menegang, tubuhnya kaku di dalam pelukan itu. Ia mencoba melepaskan diri, namun genggaman itu tak tergoyahkan.

‎‎"Biarkan saya pergi, Pak..." suaranya lirih, air mata mulai menetes di punggung tangan pria itu. "Ini salah. Semua ini salah. Bapak punya istri... punya keluarga... saya tidak pantas menjadi alasan semuanya hancur."

‎‎Reynand mengeratkan pelukannya, menempelkan pipinya ke bahu Anindya, seakan ingin menyalurkan segala kepedihannya yang tertahan.

‎‎"Aku tahu..." suaranya terdengar berat, penuh kepedihan. "Aku tahu aku salah. Aku tahu aku seharusnya tidak merasakan ini. Tapi perasaanku padamu... tidak bisa aku paksakan untuk hilang begitu saja."

‎‎Ia memejamkan mata, menahan gejolak yang mengamuk di dadanya.

‎‎"Menikah... memang aku menikah. Tapi hatiku tidak pernah benar-benar ada di sana. Dan bertemu denganmu... menyadarkanku satu hal. Menyembunyikan perasaan ini justru jauh lebih kejam, padamu, padaku, dan pada Gisella."

‎‎Anindya terdiam, berjuang antara akal sehat dan perasaan yang tak sanggup ia pungkiri. Tubuhnya perlahan melemas, namun ia tak berbalik. Ia tak berani menatapnya, takut sekali jika ia sendiri akan menyerah pada keinginan untuk tetap di sana.

‎‎Reynand perlahan melepaskan pelukannya. Kedua tangannya bertahan di bahu Anindya, memutar tubuh wanita itu perlahan hingga mereka saling berhadapan.

‎‎Cahaya lampu jalan yang remang menyinari wajah mereka yang sama-sama basah oleh keringat dan air mata. Ia menatapnya, menatap mata yang selalu teduh, bibir yang selalu tersenyum sopan, wajah yang tak pernah lepas dari pikirannya. Menatapnya begitu lama, seakan ingin membaca setiap sudut hatinya yang tersembunyi.

‎‎Keheningan menyelimuti mereka, hanya terdengar napas yang memburu.

‎‎"Katakan, Anindya..."

‎‎Ia berhenti sejenak, menelan ludah, takut mendengar jawaban yang akan datang.

‎‎"Apakah kamu... memiliki perasaan yang sama juga denganku?"

‎‎Anindya terpaku. Jantungnya seakan berhenti berdetak, matanya membelalak. Ia menatap pria itu, pria yang dihormatinya, yang dikaguminya, yang tanpa sadar telah mengisi setiap ruang di hatinya. Bibirnya bergetar, kata-kata itu tertahan di kerongkongan, berat sekaligus membebaskan.

‎‎"Pak..." suaranya lirih, air mata menetes kembali membasahi pipinya. "Bagaimana bisa... bagaimana bisa saya berani mengatakannya? Bapak atasan saya. Bapak suami orang... Saya tidak pantas..."

‎‎"Jangan bicara soal pantas atau tidak pantas," potong Reynand lembut namun tegas, jari telunjuknya menyentuh pelan dagu wanita itu, mengangkatnya perlahan agar menatap matanya. "Cukup jawab saja. Apakah kau juga merasakannya?"

‎‎Anindya menatapnya lekat, melihat ketulusan yang tak bisa disembunyikan di manik mata itu.

‎‎"Pak, saya..."

‎‎Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, di balik kerimbunan pohon di pinggir jalan, sebuah mobil berwarna hitam terparkir diam sejak tadi. Lampunya mati, hanya bayangan tubuh yang terlihat samar di balik kaca yang sedikit gelap.

‎‎Di dalamnya, Rangga duduk terpaku. Matanya tak lepas dari sosok wanita dan pria yang berdiri di sana.

‎‎Tangan kanannya mengepal erat di atas setir. Sendi-sendinya memutih karena menahan amarah yang meluap-luap.

‎‎Bugh!

‎‎Pukulan itu menghantam setir keras, suaranya tertahan di dalam mobil yang sunyi. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, matanya menyala penuh kemarahan sekaligus kepedihan yang tertahan.

‎‎Selama ini ia mendampingi Anindya merawat ibunya, berada di sisi wanita itu saat ia terluka. Dan kini... melihatnya jatuh ke pelukan pria yang sudah terikat janji pada wanita lain... rasanya seakan ada yang mencabik dadanya.

‎‎"Kenapa..." desisnya pelan, suaranya bergetar. "Kenapa harus dia, Anindya? Pria yang bahkan belum bebas... yang bisa menghancurkanmu kapan saja..."

‎‎Ia menarik napas panjang, menekan semua amarahnya ke dalam, merapikan wajahnya hingga tampak tenang. Lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan menenteng kantong makanan di tangannya.

‎‎"Nindya!"

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
erai kan gak harus kedua belah pihak setuju
〈⎳ FT. Zira
ancamanya aja yg gak efisien🤧
〈⎳ FT. Zira
sebutannya tetep pelakor ya walau mereka saling suka dan terjebak keadaan.. mulut netizen kan emng paling bener🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
Rey sih gak bakal mundur nin
Bunda HB
bu lady yg trhormat ank mu tdr dgn pria lain yg bernama Gavin .di namakan istri gatal...makanya di cerai sama suami nya 😅😅
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣 lady Gaga 🤭🤣✌️
total 1 replies
Fay
Kutunggu lanjutannya thor biar semangat ku kasi vote deh💪💪
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 🙏😘
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
ehh... gak bisa komen.. lagi revisi katanya🤧🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
dirimu punya hak apa nglarang, suami bukan/Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira
anakmu yg nyosor duluan loh nyonyaaa
〈⎳ FT. Zira
sengaja banget ngasih terapi jantung yak🤧
🍓ADIRA🍓
Ayooo cari tau Rey... 🧐
🍓ADIRA🍓
sepertinya si binik sama kekasih gelapnya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
yg salah y statusnya Reynand 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
MBOK YA JANGAN LANGSUNG PLAK TOH BUK 😎 TANYA DULU BAEK-BAEK GTU LOH 😠
🍓ADIRA🍓
iya iya yg lgi lope lope dah /Heart/🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Terbawa perasaan sesaat??? plis deh ya buk 😎 Reynand itu bukan anak 17 tahun lagi loh 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
maap sya klarifikasi y nyonya... anakmu itu loh yg demen ambil kesempatan dalam kesempitan dluan 😂😂😂🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk calon besan tak boleh galak^ loh NyoMar 😂😂😂
kymlove...
beresin dulu aja ray hubungan mu sama gisella... cari taulah tentang gisella biar kamu tau keburukkan gisella, jadi jika beneran cerai km punya alasan yg kuat. untuk menggugat... biar semua tidak menyalahkan anindya jadi pihak ketiga terus...
kymlove...
hadeh.... udah ketebak pasti bakalan nyalahin nindya.... tapi ibuuuu..... kalau nindya pergi siapa. yang bakalan nanggung pengobatan mu!!!! mbok ya tolong jangan cuma lihat jeleknya aja!!! emang anak ibuuu jg mau terjebak sm. suami orang!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!