NovelToon NovelToon
SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dide_Lara

Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*

lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.

Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.

*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELUKAN AYAH YANG TIDAK PERNAH DIRASAKAN

Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Tuan Ajimo dan Naya.

Kalimat itu terus berputar di kepala Vanka sepanjang perjalanan. Mobil hitam yang dikendarainya membelah jalanan sepi menuju gudang tua di ujung kota, jauh dari hiruk pikuk dan keramaian.

Sementara itu, di dalam gudang tua yang lembap dan berbau oli itu, Hans sedang menikmati kejahatannya sendiri. Ia menyandera Tuan Ajimo dan Naya.

Lampu neon yang berkedip-kedip membuat bayangan wajah Hans terlihat semakin kejam.

"Mudah saja, Kakak ipar," bisik Hans tepat di samping wajah Tuan Ajimo. Napasnya yang berbau rokok menyengat. "Aku akan membebaskanmu. Putrimu juga akan hidup bebas dan tenang. Asal kau berikan seluruh saham perusahaan itu atas namaku. Semua. Tanpa sisa."

Tuan Ajimo yang kedua tangannya terikat erat di kursi kayu lapuk itu, menatap Hans dengan tatapan penuh muak. Darah menetes dari sudut bibirnya akibat pukulan sebelumnya.

"Jangan pernah berharap, Hans!" bentak Tuan Ajimo, lalu meludahi wajah Hans. "Cuh! Lebih baik aku mati daripada menyerahkan aset perusahaan peninggalan istriku ke tangan sampah sepertimu!"

Hans terdiam. Wajahnya yang diludahi memerah padam menahan amarah.

PLAKK!

Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Tuan Ajimo. Kepala pria tua itu sampai tersentak ke samping.

"Kau memang serakah, Ajimo! Kau yang membuang anakmu sendiri 25 tahun lalu demi harta, sekarang kau sok suci!" Hans tertawa sinis. "Baiklah, aku beri kau kesempatan terakhir untuk bernegosiasi."

Ia tidak lagi menatap Tuan Ajimo. Langkahnya yang berat beralih menuju Naya yang masih terikat di kursi sebelah.

Naya. Gadis yang telah ia buang 25 tahun lalu, kini tumbuh menjadi wanita yang begitu berani.

"Kujadikan putrimu budakku, atau aku akan membunuh putrimu di depan matamu," ancam Hans. Ia mengeluarkan sebilah pisau runcing yang berkilat dan mendekatkannya tepat beberapa inci di depan perut Naya.

Namun, yang dilihat Hans bukanlah wajah ketakutan. Naya tetap mengangkat wajahnya tegak. Matanya menyala, penuh dengan bara kebencian yang telah ia pendam selama puluhan tahun.

"Lebih baik aku mati daripada harus mengikuti perintahmu, Hans!" desis Naya dengan suara bergetar menahan sakit, tapi tegas.

PLAKK!

Hans kembali menampar wajah Naya dengan sangat keras. Tamparan itu membuat wajah Naya jatuh miring, pipinya langsung memar membiru.

"Kau anjing kecil yang benar-benar sudah berani melawan aku, ya!"

Hans mencengkeram dan mencubit wajah Naya dengan kasar menggunakan tangannya yang besar.

Naya tidak menangis. Dengan sisa tenaga dan keberanian terakhirnya, ia meludahi wajah Hans untuk ketiga kalinya.

"Cuh! Aku bukan anjing yang bisa kau kendalikan lagi, Hans!" Naya justru tertawa. Tawa yang menantang maut. "Ha-ha-ha!"

Tuan Ajimo yang melihat keberanian putrinya itu merasa dadanya sesak. Rasa bangga bercampur penyesalan yang luar biasa menusuk jantungnya. Ia menyesali perbuatannya 25 tahun lalu yang telah membuang Naya karena dianggap aib.

Tawa Naya membuat Hans kehilangan akal sehat. Tangannya yang memegang pisau runcing itu mulai gemetar karena emosi. Ia mendekatkan ujung pisau itu semakin dekat, hampir menyentuh kulit perut Naya.

Tepat pada saat itulah, suara deru mobil terdengar dari luar gudang.

"Bajingan! Bagaimana mereka tahu aku membawa kalian ke sini!" umpat Hans panik. Amarahnya meluap.

Dengan kasar, ia memotong tali yang mengikat tangan Naya ke belakang kursi, lalu menarik tubuh Naya berdiri dan meletakkan pisau itu tepat di leher Naya. Ia menjadikan Naya tameng hidup.

Pintu gudang didobrak.

Vanka dan tim gabungan CIA turun dari mobil dengan gerakan yang sangat cepat. Pistol sudah di tangan, moncongnya langsung mengarah tepat kepada Hans.

"Letakkan pisau itu, Hans! Kau sudah terkepung!" teriak Vanka.

Hans bersembunyi di belakang tubuh Naya. Pisau yang dingin itu menempel di leher putih Naya.

"Letakkan pistol kalian! Kalau tidak, aku gorok lehernya sekarang juga! Mundur!"

Situasi menjadi sangat tegang. Keringat dingin mengalir di pelipis Vanka.

Saat itu, Naya yang berada dalam dekapan Hans, memberi isyarat kecil dengan menggelengkan kepalanya pelan ke arah Vanka dan tim CIA. Isyarat yang artinya: jangan turuti ancamannya.

Dalam sepersekian detik, dengan kekuatan yang tidak pernah ia sadari ia miliki, Naya menyikut pinggang Hans dengan sangat kuat. Sikutan itu tepat mengenai rusuknya.

"AKHH!" Hans mengerang kesakitan, lengannya yang memegang tubuh Naya mengendur seketika.

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Naya langsung melepaskan diri dan berlari ke arah Vanka.

Hans yang panik, berusaha kabur ke pintu belakang gudang.

DOR!

Tim CIA dengan sigap menembak kakinya. Peluru itu bersarang di betisnya.

Hans tersungkur, berteriak kesakitan. Dalam hitungan detik, kedua tangannya sudah diborgol ke belakang.

Vanka tidak peduli lagi dengan Hans. Ia langsung menghampiri Naya dengan napas terengah-engah.

"Naya, kamu tidak apa-apa?" tanyanya cemas, kedua tangannya memegang bahu Naya, memeriksa wajahnya yang memar.

Naya mengangguk pelan, meski pipinya terasa nyeri dan panas. "Aku tidak apa-apa, Vanka."

"Wajahmu memar. Pasti ini ulah bajingan itu," geram Vanka, emosinya tertahan melihat luka di wajah wanita yang ia cintai.

Tuan Ajimo yang sudah dibebaskan ikatannya oleh salah satu anggota CIA, tersenyum haru melihat pemandangan itu. Melihat seorang pemuda yang begitu tulus mengkhawatirkan putrinya.

Ia melangkah pelan menghampiri Vanka dan Naya, lalu tiba-tiba memeluk keduanya dengan sangat erat. Pelukan seorang ayah yang baru menemukan kembali putrinya.

Naya sempat diam mematung, kaget. Tubuhnya yang kaku perlahan melunak.

"Aku sangat bangga padamu, Putriku. Maafkan Ayah atas kehilafan Ayah dulu," ujar Tuan Ajimo seraya menangis. Air mata seorang pria tua yang selama 25 tahun memendam rasa bersalah itu akhirnya tumpah tak terbendung.

Naya membalas pelukan Tuan Ajimo. Senyum tulus mengembang di bibirnya yang memar.

"Aku sudah memaafkanmu, Ayah," bisik Naya lirih.

Panggilan "Ayah" itu membuat Tuan Ajimo semakin terisak. Ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Untuk pertama kalinya setelah 25 tahun, ia mendengar putrinya sendiri memanggilnya Ayah.

Sebuah keluarga baru pun terbentuk di dalam gudang tua yang pengap itu.

Sementara itu, di tempat yang jauh berbeda.

Mely sedang mempersiapkan tayangan eksklusifnya di sebuah studio televisi yang megah. Wajahnya ceria dengan riasan tebal yang menempel. Ia sudah membayangkan rating acaranya akan meledak malam ini.

Acara telah dimulai. Layar pertama menampilkan berita tentang politik. Semua terlihat normal.

Namun, saat berita kedua akan muncul, tiba-tiba layar studio berubah.

Sebuah video muncul. Video yang menampilkan Tuan Ajimo yang ternyata masih hidup. Ruangan studio yang tadinya riuh, mendadak menjadi senyap dan terkejut.

Terdengar suara rekaman percakapan antara Mely dan Hans yang tertayang jelas di televisi dan menyebar ke seluruh kota. Rekaman persekongkolan mereka.

Manajer Mely berteriak panik dari belakang panggung memberi perintah untuk mematikan rekaman tersebut, namun tidak bisa. Siaran itu sudah diretas oleh Vanka dari apartemennya. Vanka duduk santai di atas sofa yang lembut seraya menikmati potongan piza, menonton kepanikan itu dari layar laptopnya.

Wajah Mely memerah, campuran antara marah dan malu yang luar biasa. Ia berlari menuju belakang studio. Semua staf dan tim kreatif membicarakannya dengan tatapan menghakimi.

Dengan tangan gemetar, ia segera mengambil benda pipih dari dalam tasnya dan menghubungi Hans, namun tidak dijawab. Tentu saja tidak akan dijawab, karena Hans saat itu sedang dalam perjalanan menuju kantor CIA untuk dimintai keterangan.

Malam itu menjadi malam yang sangat panjang bagi mereka. Hans tertidur di dalam jeruji besi dengan memakai baju tahanan oranye. Mely tidak bisa memejamkan matanya akibat gelisah yang luar biasa, karena keterlibatannya dengan Hans sudah menyebar dengan sangat cepat.

Sedangkan di sebuah apartemen sederhana, sebuah keluarga baru sedang duduk bersama. Mereka tertawa, merayakan hari kemenangan mereka yang sesungguhnya. Sampai akhirnya mereka lelah dan pergi merehatkan tubuhnya masing-masing.

Fajar mulai datang, mengintip dari sela-sela jendela di setiap sudut yang menyinari apartemen. Terdengar irama alat dapur yang sudah dimainkan oleh Vanka, serta Alex yang membantu menyiapkan sarapan pagi. Satu per satu mereka keluar dari kamarnya. Naya, Puri, Tuan Ajimo, dan Pengacara Frans.

Mereka duduk mengelilingi meja makan dengan piring porselen yang sudah berisi capcai dengan isian laut yang mengepul hangat, seraya menunggu acara berita besar yang akan tayang di stasiun televisi.

Bersambung.

1
Alvian
penasaran bener sampe begadang🤣
Nurull Sef Az: hehe gak habis habis ya ka🤭 masalahnya🙏🙏
total 1 replies
laranya
keren thor
laranya
ya lagian vanka buat parno🤣🤣
laranya
ka revisi lagi ada beberapa kata pengulangan, semangat ka
Rosdianah 🌷
revisi kak, pelayan ku.
Nurull Sef Az: oke ka makasih
ya ka
total 1 replies
Nurull Sef Az
plotwis banget
muhammad fikriaz
suka sama alur ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!