Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sambungan telepon terputus, meninggalkan Naya dalam keheningan yang mendadak terasa sedingin lemari es. Ponsel di tangannya meluncur pelan ke atas meja kerja. Telinganya berdengung.
Orang tua Kafka dan Nessa. Tuan dan Nyonya Besar Adiraja. Konglomerat yang namanya sering menghiasi rubrik bisnis majalah bergengsi, akan terbang dari London dan mendarat di Jakarta besok malam hanya untuk menemuinya.
Naya menatap cincin berlian di jari manisnya dengan perasaan campur aduk. Cahaya yang memantul dari batu mulia itu kini tidak lagi terlihat seperti pelindung, melainkan seperti alarm tanda bahaya yang berkedip-kedip. Naya adalah wanita dari keluarga menengah, bekerja sebagai staf kantoran biasa, dan usianya empat tahun lebih tua dari Kafka. Terlebih lagi, ia baru saja gagal menikah dengan cara yang sangat memalukan.
Di mata keluarga konglomerat, profil Naya adalah mimpi buruk bagi masa depan putra mahkota mereka.
Sisa jam kerja hari itu dihabiskan Naya dalam keadaan linglung. Ia bahkan salah mengirim email dua kali hingga ditegur oleh atasannya. Tepat pukul lima sore, Naya buru-buru merapikan mejanya dan bergegas turun ke lobi.
Begitu ia melangkah keluar dari pintu putar kaca, SUV hitam mengilap itu sudah menepi di tempat biasa. Kaca jendelanya perlahan turun, menampilkan wajah Kafka yang mengenakan kacamata hitam, menatapnya dengan senyum tipis yang memabukkan.
Namun, senyum Kafka perlahan memudar saat Naya membuka pintu dan masuk ke kursi penumpang dengan raut wajah sepucat kertas.
"Ada apa?" tanya Kafka seketika. Nada suaranya berubah tajam, insting protektifnya langsung menyala. Matanya menyapu sekeliling lobi, mencari sosok pria tua yang kemarin menggoda Naya. "Pria itu mengganggumu lagi? Atau ada orang lain?"
Naya menggeleng lemah. Ia memasang sabuk pengamannya dengan tangan gemetar. "Bukan orang kantor, Kaf. Tapi... orang tuamu."
Kafka menautkan alisnya. Pria itu melepaskan kacamata hitamnya, lalu menumpukan sebelah lengannya di atas setir, memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Naya. "Orang tuaku? Maksudmu Papa dan Mama?"
"Nessa... Nessa nggak sengaja masukin ibumu ke Close Friend Instagram, dan ibumu lihat foto cincin ini," Naya menelan ludah, menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata legam pria itu. "Mereka majuin jadwal penerbangan. Besok malam mereka sampai di Jakarta, Kaf. Mereka mau ketemu aku."
Hening sejenak. Naya mengira Kafka akan terkejut, panik, atau setidaknya menghela napas panjang merutuki kecerobohan kakaknya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Terdengar suara kekehan pelan yang bergetar dari dada Kafka. Pria itu tertawa.
Naya mendongak dengan cepat, menatap Kafka dengan tatapan tidak percaya. "Kamu ketawa?! Kaf, ini gawat! Ibumu pasti marah besar! Anak laki-laki satu-satunya, pewaris perusahaan, tiba-tiba ngelamar perempuan yang umurnya lebih tua dan baru aja batal nikah! Gimana kalau mereka misahin kita? Gimana kalau mereka nyuruh aku pergi?"
Napas Naya memburu, kepanikan benar-benar mengambil alih kewarasannya. Namun sebelum ia bisa merangkai skenario terburuk lainnya, tangan besar Kafka terulur. Pria itu menangkup rahang Naya, ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi wanita itu, seketika menghentikan rentetan kepanikan Naya.
"Bernapaslah, Kak Naya," bisik Kafka dengan suara bariton yang begitu tenang dan dalam, seolah ia adalah sauh yang mengikat Naya agar tidak terbawa badai. "Lihat mataku."
Naya menurut, menatap sepasang mata kelam yang memancarkan keyakinan absolut tersebut.
"Kau pikir aku membeli cincin itu tanpa memperhitungkan reaksi keluargaku?" Kafka memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya menyusuri wajah Naya dengan penuh pemujaan. "Aku sudah menunggu selama tiga tahun. Aku merencanakan kepulanganku dengan sangat matang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun—bahkan kedua orang tuaku sendiri—untuk merusak apa yang sudah menjadi milikku."
"Tapi mereka orang tuamu, Kaf..." bisik Naya lemah. "Mereka pasti punya ekspektasi tinggi buat calon istrimu. Perempuan yang sepadan, dari keluarga terpandang..."
"Satu-satunya ekspektasi yang harus kupenuhi dalam hidupku adalah kebahagiaanku sendiri," potong Kafka mutlak. Pria itu mencondongkan tubuhnya, mengecup kening Naya cukup lama, menyalurkan rasa aman yang luar biasa pekat. "Dan kebahagiaanku ada padamu. Jika Mama dan Papa datang untuk memberikan restu, aku akan menyambut mereka. Tapi jika mereka datang untuk mengujimu, maka mereka harus berhadapan denganku lebih dulu."
Kafka menarik diri, menatap bibir Naya sekilas sebelum memutar kunci kontak. "Kita pulang sekarang. Jangan biarkan hal ini merusak suasana hatimu, Sayang. Malam ini adalah jadwal kita memesan martabak manis kesukaanmu."
Sepanjang perjalanan pulang, Naya tidak bisa berhenti memikirkan ucapan Kafka. Pria itu tidak memberikannya ruang untuk meragukan hubungan ini. Di balik usianya yang baru dua puluh dua tahun, Kafka memiliki mental baja yang tidak bisa digoyahkan oleh apa pun.
Setibanya di rumah, suasana ruang keluarga sudah menyerupai kapal pecah yang sedang dibersihkan secara histeris. Nessa, dengan rambut diikat tinggi dan sebuah kemoceng di tangan, sedang memberi instruksi pada dua orang asisten rumah tangga paruh waktu yang entah dari mana ia sewa.
"Bi Inah, tolong lap pajangan guci di sudut itu sampai mengkilap ya! Terus karpetnya di-vacuum dua kali! Nyonya Besar itu matanya lebih tajam dari mikroskop, ada debu sebutir aja dia bisa ceramah tiga jam!" omel Nessa sambil mondar-mandir panik.
Begitu melihat Kafka dan Naya masuk, Nessa langsung berlari menghampiri mereka.
"Kaf! Lo udah dikasih tahu Naya kan?!" Nessa mengguncang lengan adiknya. "Mama sama Papa bakal mendarat besok malam! Dan Mama bilang dia nggak mau ke hotel, dia mau langsung ke rumah ini buat ngelihat calon istri lo! Gila, gue bisa serangan jantung mendadak!"
Kafka melepaskan jasnya dengan santai, menyerahkannya pada Naya, lalu melonggarkan dasinya. Pria itu sama sekali tidak terpengaruh oleh kepanikan kakaknya.
"Baguslah kalau mereka mau ke sini. Aku tidak perlu repot-repot menyewa ruang private di restoran," jawab Kafka santai. Ia berjalan menuju dapur, menuangkan air dingin ke dalam gelas. "Kakak tidak perlu berlebihan membersihkan rumah."
"Lo gampang ngomong gitu karena lo anak emasnya!" sungut Nessa, mengusap wajahnya frustrasi. Ia kemudian menatap Naya dengan pandangan penuh rasa kasihan. "Nay, lo mending siapin mental baja dari sekarang. Nyokap gue itu orangnya elegan, sopan, tapi kata-katanya bisa lebih pedas dari sambal geprek level sepuluh. Kalau dia nanya yang aneh-aneh, lo senyum aja, jangan dilawan."
Naya menelan ludah, mengangguk kaku. Sisa hari itu dihabiskan Naya dengan membantu Nessa merapikan rumah, meskipun pikirannya terus melayang pada pertemuan besok malam.
Malam harinya, di dalam kamar yang sama seperti semalam, Naya berbaring menyamping membelakangi Kafka. Cahaya lampu tidur yang temaram menciptakan bayangan di dinding. Naya belum bisa memejamkan mata. Otaknya terus berputar memikirkan pakaian apa yang harus ia kenakan besok, dan jawaban apa yang harus ia siapkan jika ibu Kafka mempertanyakan latar belakangnya.
Sebuah lengan kokoh tiba-tiba melingkar di pinggangnya, menarik tubuhnya ke belakang hingga punggung Naya menempel sempurna pada dada bidang Kafka yang telanjang.
Hawa panas langsung merambat ke kulit Naya. Kafka menyusupkan wajahnya di perpotongan leher Naya, menghirup aroma sabun mandi dari kulit wanita itu dengan helaan napas panjang.
"Otot punggungmu menegang, Kak," gumam Kafka dengan suara serak khas orang yang nyaris tertidur. Tangan besarnya bergerak perlahan, memijat lembut pinggang Naya. "Kau masih memikirkan kedatangan Mama besok?"
"Susah buat nggak mikirin itu, Kaf," bisik Naya jujur. Ia membalikkan tubuhnya perlahan hingga berhadapan dengan Kafka. Di tengah keremangan, mata legam pria itu memantulkan secercah cahaya, menatapnya dengan penuh perhatian. "Aku takut aku bakal bikin kamu malu di depan keluargamu."
Kafka menghentikan gerakan tangannya. Pria itu menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Naya.
"Dengar, Kak Naya," ucap Kafka serius, suaranya mengalun sangat rendah. "Mama dan Papa mungkin keras, tapi mereka bukan orang jahat. Mereka membangun perusahaan dari nol, mereka tahu bagaimana menilai seseorang bukan dari materi, melainkan dari karakternya."
Kafka merengkuh pinggang Naya lebih erat, memangkas jarak hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Tampillah apa adanya besok. Jangan berpura-pura menjadi orang lain. Jadilah Naya yang selama ini kukenal. Naya yang sabar, mandiri, dan menawan," Kafka berbisik, lalu mengecup bibir Naya sekilas. "Dan jika... seandainya mereka mengatakan sesuatu yang menyakitimu, kau tidak perlu menjawabnya. Bersembunyilah di belakangku. Biarkan aku yang menjadi tamengmu. Mengerti?"
Tatapan Kafka begitu melindungi, begitu berkuasa, hingga Naya merasa semua ketakutannya perlahan meleleh. Wanita itu mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di dada Kafka, mendengarkan detak jantung pria itu yang menjadi lagu pengantar tidur paling menenangkan.
Keesokan harinya, Naya mengambil cuti setengah hari. Ia menghabiskan sore harinya dengan membantu Nessa menyiapkan hidangan makan malam spesial. Meskipun Kafka bilang tidak perlu, Naya tetap ingin menyajikan yang terbaik. Ia mengenakan gaun midi berlengan pendek berwarna dusty pink yang sederhana namun sangat elegan, rambutnya dibiarkan tergerai natural dengan riasan wajah yang ringan.
Pukul tujuh malam tepat, suara deru mesin mobil mewah terdengar memasuki garasi rumah.
Jantung Naya seolah berhenti berdetak. Ia berdiri kaku di ruang tengah bersama Nessa yang terus meremas ujung bajunya. Kafka, yang mengenakan kemeja linen berwarna putih bersih yang dipadukan dengan celana chinos, berdiri di sebelah Naya. Pria itu dengan tenang meraih tangan Naya dan menggenggamnya erat, memberikan kekuatan.
Pintu depan terbuka.
Seorang pria paruh baya dengan postur tinggi dan rahang tegas—versi lebih tua dari Kafka—melangkah masuk lebih dulu. Beliau adalah Tuan Adiraja. Di belakangnya, melangkah seorang wanita yang luar biasa elegan. Nyonya Besar Adiraja. Wanita itu mengenakan setelan desainer bermotif monokrom, tas Hermès di lipatan sikunya, dan rambut yang disanggul modern dengan sangat rapi. Usia tidak mampu memudarkan kecantikan dan aura intimidasinya.
"Mama! Papa!" Nessa langsung berlari menyambut mereka, mencium tangan dan memeluk kedua orang tuanya.
"Pelan-pelan, Nessa. Penampilanmu berantakan sekali," tegur sang ibu dengan nada yang halus namun sarat akan kritik, merapikan sedikit kerah baju putrinya.
Mata tajam Nyonya Adiraja kemudian beralih ke arah ruang tengah. Tatapannya langsung mengunci sosok putra bungsunya, lalu bergeser ke arah wanita yang berdiri di sebelah Kafka.
Udara di dalam ruangan itu terasa membeku. Naya menelan ludah dengan susah payah, memaksakan sebuah senyum sopan.
Kafka tidak melepaskan genggaman tangannya. Pria itu justru menarik Naya melangkah maju menghampiri kedua orang tuanya.
"Selamat malam, Ma, Pa. Selamat datang di Jakarta," sapa Kafka tenang. Pria itu mengulurkan tangannya, dan anehnya, ia mencium punggung tangan ibunya dengan penuh hormat. "Mama dan Papa masih ingat Naya? Sahabat Kak Nessa. Dan sekarang..." Kafka mengangkat tautan tangan mereka, memamerkan cincin di jari Naya tanpa ragu sedikit pun. "...wanita yang sudah kupilih menjadi istriku."
Tuan Adiraja hanya menautkan alisnya, menatap Kafka dan Naya dengan pandangan menilai yang sulit dibaca.
Sementara itu, Nyonya Adiraja tidak mengatakan apa pun selama beberapa saat. Matanya yang tajam menyapu penampilan Naya dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu turun menatap cincin berlian Cartier yang melingkar di jari manis wanita itu.
Suasana begitu tegang hingga Naya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri.
Nyonya Adiraja perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Naya. Alih-alih marah atau tersenyum palsu, wanita paruh baya itu melontarkan sebuah kalimat yang membuat seluruh darah di tubuh Naya seolah membeku seketika.
"Jadi ini wanita yang membuat putraku mengancam akan menghancurkan perusahaannya sendiri jika aku berani mencampuri urusan asmaranya?" ucap Nyonya Adiraja. Suaranya mengalun sangat dingin, elegan, dan menusuk langsung ke ulu hati.