NovelToon NovelToon
Tawanan Pangeran Siren

Tawanan Pangeran Siren

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Beda Dunia / Fantasi
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.

Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.

Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawa Selir Sang Pangeran

Keheningan di Ruang Tahta Teluk Bayangan terasa begitu berat, seolah-olah udara dingin di dalam samudra ini telah membeku menjadi balok es raksasa. Ratusan pasang mata milik prajurit dan bangsawan Siren tertuju padaku dengan tatapan lapar yang tak disembunyikan. Namun, fokus utamaku sepenuhnya terkunci pada sosok yang kini berdiri tepat di hadapanku, Pangeran Nataniel.

Jari tangannya yang dingin bagai batu es masih menyangga daguku. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat betapa tidak adilnya alam semesta menciptakan sosok iblis laut ini. Wajahnya dipahat dengan ketampanan yang teramat sempurna, rahangnya yang tegas, hidung mancungnya yang tajam, hingga iris mata keemasannya yang memancarkan aura dominasi mutlak.

Nataniel memiringkan kepalanya sedikit, menatapku seolah aku hanyalah seekor serangga aneh yang baru saja terdampar di karpet mewahnya.

("Bunda... tolongin anakmu!") jeritku histeris di dalam hati. ("Ini iblis ganteng banget tapi auranya bikin mau pingsan di tempat! Jarinya dingin banget kayak abis direndam air es batu lima jam! Jangan patuk mukaku, please... aku masih mau hidup!")

Meski dadaku bergemuruh oleh rasa takut yang membakar seluruh saraf, topeng akting bertahan hidupku terpasang sangat ketat. Aku menyunggingkan senyuman paling manis, paling lugu, dan paling memuja yang bisa kubentuk. Mataku kubuat berbinar-binar penuh dengan kekaguman buatan.

"Suatu kehormatan yang teramat sangat bagi hamba yang hina ini, Paduka Pangeran Nataniel yang Agung..." suaraku bergetar lembut, diwarnai aksen pasrah yang dirancang khusus untuk meluluhkan ego raksasanya. "Bahkan sentuhan jemari Paduka saja terasa begitu dingin dan menenangkan, bagaikan embun surga yang menyentuh kulit hamba."

("Bohong banget! Dinginnya bikin merinding sampai ke tulang sumsum, woiiiii...! Ini kalau jarinya geser dikit lagi bisa-bisa tenggorokanku robek kena kukunya yang tajam itu! Mana baju bikini perak ini makin bikin merinding karena angin istana tembus ke kulit!")

Nataniel menyipitkan matanya. Seringai tipis yang sarat akan keangkuhan terukir di bibirnya yang kemerahan. Ia akhirnya melepaskan cengkeraman jarinya dari daguku, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada tegapnya yang bertelanjang.

Saat ia menyilangkan tangan, gerakan itu otomatis memamerkan lekuk otot dada dan perut enam kotaknya yang terpapar bebas. Cahaya dari koral kristal di langit-langit istana memantul di atas kulit eksotisnya yang basah, menciptakan pendaran kilau alami yang teramat memikat.

("Aduh... mata tolong dikondisikan!") pekiku dalam hati sambil menelan ludah secara samar. ("Di tengah situasi hidup dan mati begini, kenapa mataku malah refleks melirik ke dada bidangnya yang berkilauan itu?! Ya Tuhan, roti sobeknya simetris banget bagaikan pahatan patung Yunani! Fokus, Alessia, fokus! Dia itu monster pemakan daging manusia, bukan model majalah pria dewasa!")

"Kau sungguh pandai bersilat lidah, Manusia," suara Nataniel terdengar berat dan dalam, menggema halus di sepanjang pilar-pilar karang ruang tahta. "Bangsamu terkenal sebagai makhluk lemah yang penuh dengan tipu daya dan kepalsuan, makhluk serakah yang penuh kemunafikan. Kulihat kau pun tidak ada bedanya. Tubuhmu kecil, rapuh, tanpa bersisik pelindung, dan sama sekali tidak memiliki keindahan seperti bangsa Siren."

Nataniel melangkah mundur satu langkah, menatapku dari atas hingga ke bawah dengan pandangan merendahkan yang teramat jelas.

"Lihatlah dirimu," lanjut Nataniel dengan nada dingin yang menusuk. "Dua kaki manusiamu yang licin itu terlihat sangat aneh dan menggelikan. Tanpa sirip yang anggun, kau hanyalah bangkai hanyut yang kebetulan memiliki napas. Bagaimana mungkin makhluk sehina ini berani menawarkan hiburan di hadapan tahtaku?"

*Glek.* Aku menahan napas. Hinaan itu terlontar begitu lancar dari mulut tampannya. Rasa panas sempat membakar dadaku, tapi aku tahu betul bahwa membalas hinaan sang penguasa samudra sama saja dengan memesan tiket kilat menuju perut hiu.

("Sabar... sabar... tahan emosi, Alessia,") batinku menenangkan diri. ("Dia cuma iblis sombong yang kurang piknik! Kaki manusiaku dibilang aneh dan menggelikan?! Halo! Kaki mulus ini kalau di daratan bisa bikin cowok-cowok antri mau ngajak kencan, tahu! Dasar duyung jantan tak tahu diri! Awas kamu ya, kalau aku berhasil selamat, bakal aku sumpahin siripmu kena kail pancing")

"Paduka yang Maha Bijaksana benar adanya..." jawabku dengan nada penuh kepasrahan, memperdalam tekukan lututku di atas karpet. "Kaum manusia memanglah makhluk yang sangat lemah dan tak ada artinya jika dibandingkan dengan keagungan bangsa Siren yang perkasa. Kehadiran hamba di sini hanyalah bagaikan debu di bawah telapak kaki Paduka."

Belum sempat Nataniel membalas ucapan manisku, melengking suara tawa parau yang sangat nyaring dari arah sisi kanan tahta.

"Khakhakha! Dengarlah bualan serangga kecil itu, Paduka!"

Dua sosok wanita melangkah maju dari balik pilar karang berhias mutiara. Mereka adalah para selir Pangeran Nataniel. Wujud mereka memang jauh lebih terawat dibanding dua Siren penjara yang memandikanku tadi, kulit mereka dilapisi sisik-sisik berwarna keemasan dan ungu berkilau, rambut panjang mereka dihiasi mahkota dari cangkang kerang langka, dan wajah mereka dipoles riasan berwarna gelap yang eksotis.

Namun, kecantikan mereka tetaplah kecantikan spesies monster. Rahang mereka agak memanjang dengan sudut bibir yang menyisakan celah taring tajam, serta iris mata vertikal yang tampak liar.

"Lihatlah betapa menyedihkannya wujud manusia itu, Paduka Nataniel," ujar selir berambut keemasan seraya tertawa melengking parau, suara yang mirip dengan gesekan batu karang kasar. "Kulitnya begitu tipis tanpa sisik! Sekali goresan kuku kita saja, pasti langsung terkelupas hancur!"

Selir kedua berambut ungu menyahut seraya melirikku dengan jijik. "Pakaian bikini perak itu bahkan terlihat sangat longgar di tubuh mungilnya yang rata! Apa Paduka benar-benar ingin mendengarkan cerita dari serangga yang baunya amis oleh darah manusia ini? Lebih baik serahkan dia pada kami untuk dijadikan hidangan pembuka malam ini!"

Suara tawa melengking dari kedua selir itu membahana di seluruh ruangan, memicu gelak tawa mengejek dari para prajurit Siren yang berjaga. Mereka menatapku seolah-olah aku adalah lelucon hidup yang siap disembelih.

Aku tetap mempertahankan senyum bodohku yang polos di wajah, berpura-pura tidak terpengaruh oleh tawa parau mereka yang merusak gendang telinga.

("Hiiii... suaranya kayak kaleng rombeng digerus di jalanan!") cibirku dalam hati, menahan diri agar tidak menutup telinga. ("Muka boleh lah dipoles mahkota mutiara, tapi pas ketawa taring kuningnya kelihatan semua! Percaya diri banget ngetawain orang, padahal kecantikan kalian kalau dibandingin sama aku bagaikan bumi dan langit! Aku ini cantik alami tanpa sisik gatal ya, Nyonya-nyonya Iblis!")

Meskipun dalam hati aku sibuk mengkritik penampilan para selir itu, secara lahiriah aku justru makin menundukkan kepala dengan raut wajah ketakutan yang dibuat-buat, membiarkan tubuhku gemetar halus untuk memuaskan kesombongan mereka.

Nataniel memutar tubuhnya, melirik kedua selirnya dengan tatapan dingin yang seketika menghentikan gelak tawa parau di ruangan itu. Ruang tahta kembali hening dalam sekejap. Tidak ada satu pun Siren yang berani bersuara di bawah tatapan tajam sang pangeran.

"Cukup," potong Nataniel singkat namun penuh penekanan. Ia kembali berjalan mendekatiku, melangkah pelan memutari tubuhku yang masih berlutut di atas lantai karpet. Setiap langkah kakinya menimbulkan ketegangan tersendiri bagi sarafku.

"Kalian tidak perlu mengajari apa yang harus kulakukan terhadap tahananku," ujar Nataniel pada para selirnya tanpa berpaling padaku. Lalu, iris mata keemasannya kembali terkunci pada wajahku. "Manusia... kau bilang kau siap memberikan apa pun untuk menyenangkan hatiku malam ini. Dan kau berjanji akan membawakan cerita yang belum pernah didengar oleh bangsa samudra."

Nataniel membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara kami hanya tersisa beberapa inci. Aku bisa mencium aroma udara laut yang segar bercampur wangi magis yang sangat pekat dari tubuhnya.

"Malam ini, di hadapan seluruh istanaku, kau akan memulai ceritamu," bisik Nataniel dengan nada mengancam yang sangat jelas. "Jika ceritamu membosankan, atau jika aku menangkap satu saja kebohongan yang tidak masuk akal dari mulut manismu itu... aku sendiri yang akan melemparmu ke dalam jurang koral untuk dikunyah hidup-hidup oleh para prajuritku."

Jantungku berdegup kencang serasa mau melompat keluar dari rongga dada. Ancaman kematian itu sangat nyata. Namun, di tengah kepungan ratusan monster yang haus darah ini, inilah satu-satunya panggung survival milikku.

Aku menatap tepat ke dalam mata keemasan Nataniel, mengibaskan rambut cokelatku yang terurai, dan menyunggingkan senyuman paling memikat yang kupunyai.

"Perintah Paduka adalah sabda bagi hamba," balasku dengan suara mantap dan penuh percaya diri. "Dengarkanlah... sebuah kisah legendaris dari daratan, tentang cinta, pengkhianatan, dan keajaiban yang akan membuat malam Paduka takkan pernah lagi sama..."

Ujian dongeng 1001 Malam versi Alessia resmi dimulai.

⭐⭐⭐⭐⭐

Hai kiravers, Gimana kelanjutan Bab 4 ini? Bikin gemes banget kan interaksi Alessia pas nahan emosi di depan Nataniel dan para selirnya! Apakah dongeng pertama Alessia bakal sanggup bikin sang Pangeran Siren terpukau?

Yuk, jangan lupa klik LIKE, simpan novel ini ke rak bukumu, dan VOTE cerita ini sekarang juga ya! Lanjut baca bab berikutnya!

1
Helmy Faldy Alaydrus
ini si alesia makan apa thor
Pena kira: ikan lele kak😄
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍👍
Pena kira: 🙏 terimakasih kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ada akademi vokal di dunia siren yak😄
Pena kira: mau join kak😄
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ttp kek bocil😄
Pena kira: xixixixi
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
cobain dulu lah kabur
Pena kira: kesian kang ikan lele Dumbo nya kak kalo ditinggal kabur
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
lawak lawak
Pena kira: 🤣🤣🤣 terimakasih kk
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍👍
Pena kira: terimakasih kk
total 1 replies
Pena kira
tapi gantengnya nggak ngotak kak😭
Best
seramnye..
Pena kira: tapi gantengnya nggak ngotak kak 😭
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ikut mual njirrr🤢
Pena kira: minum antimo kak..aman😅
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍 lanjut thor
Pena kira: asiap kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍
Pena kira: makasih kakak
total 1 replies
Best
hadir Thor..
Pena kira: thanks a lot kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
gila kuat banget mental si alessia
Pena kira: sempat hidup generasi sandwich kak 😂
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
bagus lho tapi masih sepi. semangat thor bagus cerita nya..next👍
Best: "Baby or Babi." judul novel terbaru aku. Romansa yang di taburi juga dengan humor dan fantasi. Yuk mampir
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!