Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.
Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.
"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."
Lili kira bercanda.
Besoknya lamaran beneran datang.
Kontrak setahun 500 juta.
Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.
Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 - FADIL MINTA MAAF
Keesokan paginya, tepat pukul sembilan, KantorLintas Nusa Lantai 3 mulai ramai. Suara keyboard terdengar dari berbagai meja, sementara beberapa karyawan sibuk membawa berkas menuju ruang administrasi.
AC masih menunjukkan angka 16 derajat. Aku duduk di meja kecil dekat kipas angin tua, mengenakan blazer hitam milik Mama Damian yang sedikit kebesaran di bagian bahu.
Di atas meja terdapat map hitam kontrak 500 juta yang sudah lunas dan sertifikat asli Ruko Putih Blok B No.5 atas nama Damian Aditya Pratama. Sertifikat tahun 2021 itu akhirnya ditemukan di bawah ubin yang tertutup tikar pandan di Rumah Biru. Rupanya Mama Damian benar-benar lupa membawanya ketika pindah ke Jakarta.
Aku masih merasa lega setiap kali melihat dokumen tersebut. Setidaknya, sekarang tidak ada lagi keraguan mengenai siapa pemilik sebenarnya.
Damian keluar dari ruang kaca dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Dia meletakkan sebotol air mineral di samping tanganku.
"Kamu sudah sarapan?"
"Belum. Nanti saja."
Dia menggeleng sambil meletakkan kotak makanan di dekatku.
"Jangan menunggu sampai sakit baru mau makan."
Aku tersenyum kecil. Perhatian sederhana seperti itu selalu membuatku merasa diperhatikan, bahkan ketika Damian sedang sibuk mengurus perusahaan.
Belum sempat aku membuka kotak makanan, terdengar bunyi lift.
Ting!
Aku menoleh dan melihat Fadil keluar sendirian.
Tidak ada Bu Lastri dengan tas hitamnya. Tidak ada Pengacara Hendro dengan map cokelat yang kemarin dibawanya. Pagi ini Fadil hanya mengenakan kemeja kotak-kotak yang kusut. Di tangannya masih ada map biru yang ujungnya sudah lecek.
Dia berhenti di depan resepsionis dan berbicara pelan kepada satpam.
"Saya boleh bertemu Damian?"
Damian yang mendengar namanya langsung mengangguk dan mempersilakannya duduk di kursi tamu dekat mejaku.
Fadil berjalan mendekat dengan langkah ragu. Wajahnya terlihat berbeda dibandingkan kemarin. Tidak ada lagi sikap menantang atau suara keras yang membuat seluruh karyawan menoleh.
Dia meletakkan map biru di atas meja, kemudian menundukkan kepala.
"Damian, Lili, aku datang untuk minta maaf."
Aku memperhatikan tangannya yang saling menggenggam. Sepertinya dia sudah memikirkan perkataan itu sejak berangkat dari rumah.
"Aku sadar kemarin sudah membuat masalah besar. Aku juga salah karena mengaku sebagai pemilik Ruko Putih, padahal aku tidak punya bukti kepemilikan yang sah."
Damian menarik kursi dan duduk di hadapannya.
"Jelaskan semuanya. Saya ingin tahu bagaimana kamu bisa sampai membawa dokumen itu ke sini."
Fadil mengusap wajahnya sebelum mulai bercerita. Menurut pengakuannya, Pengacara Hendro yang membuatkan map biru tersebut. Hendro mengatakan bahwa ruko itu merupakan hak Bu Lastri sejak 2019 dan menyuruh Fadil datang ke kantor untuk mengurus pengambilalihannya.
Fadil dijanjikan sejumlah uang apabila berhasil.
"Aku sedang terdesak, Damian. Kredit motor Beat karbuku sudah menunggak tiga bulan. Bu Lastri terus menagih dan bilang ruko itu memang hak mereka. Waktu Hendro menawarkan bantuan, aku langsung percaya."
Dia menarik napas panjang.
"Aku tidak tahu kalau sertifikat aslinya masih ada di Rumah Biru. Aku kira dokumen itu memang dipegang Bu Lastri."
Aku ikut bertanya karena masih penasaran.
"Terus, sekarang Pengacara Hendro ada di mana?"
Fadil menggeleng.
"Nomornya sudah tidak aktif sejak tadi pagi. Bu Lastri juga marah besar karena baru tahu uang yang dia berikan kepada Hendro ternyata tidak dipakai sebagaimana mestinya."
Aku dan Damian saling berpandangan. Ternyata Bu Lastri juga menjadi korban penipuan.
Namun, hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa Fadil tetap harus bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.
Damian mengambil sertifikat asli dari atas meja, kemudian meletakkannya di samping map biru.
"Fadil, lihat baik-baik. Ruko Putih Blok B No.5 ini milik saya. Saya membelinya tahun 2021 dan sertifikatnya atas nama saya sendiri. Mama saya lupa membawa dokumen ini ketika pindah ke Jakarta. Itulah sebabnya sertifikatnya tertinggal di Rumah Biru."
Fadil mengangguk pelan.
"Saya tidak pernah mengambil hak siapa pun," lanjut Damian. "Tapi kamu juga harus mengerti bahwa membawa dokumen yang tidak benar untuk menguasai properti orang lain bukan masalah kecil."
"Iya. Aku salah."
Damian kemudian membuka map hitam yang berisi kontrak 500 juta. Pada halaman terakhir masih terlihat tulisan tanganku menggunakan pulpen biru dengan tutup yang entah hilang ke mana.
Kontrak Lili x Damian.
Seumur Hidup.
Gaji: Rumah Biru, Bando Biru, Sup Buntut.
Aku spontan tersenyum melihat tulisan itu.
"Lili dulu juga pernah hidup susah," kata Damian sambil memperlihatkan halaman tersebut kepada Fadil. "Kosnya pernah menunggak 2,1 juta. Dia harus memikirkan UKT empat juta dan pernah ditolak di Kafe Arwana meja 4. Saya tahu dia pernah berada dalam keadaan yang sulit."
Aku menunduk ketika Damian menceritakan masa laluku.
"Tapi dia tidak mengambil hak orang lain untuk menyelesaikan masalahnya. Dia memilih bertahan dan mencari jalan keluar."
Entah kenapa, perkataan itu membuat dadaku terasa hangat. Selama ini aku tidak pernah menganggap perjuanganku sebagai sesuatu yang istimewa. Aku hanya berusaha melewati hari demi hari, meskipun terkadang harus menangis karena tidak tahu bagaimana membayar kebutuhan berikutnya.
Namun, Damian mengingat semuanya. Dia tidak malu menceritakan masa laluku di depan orang lain.
Fadil mengusap matanya.
"Kalau aku masih diberi kesempatan, aku mau memperbaiki semuanya."
Damian menutup map hitam tersebut, kemudian menatapnya dengan serius.
"Besok datang lagi ke sini pukul sembilan pagi."
Fadil terlihat bingung.
"Untuk apa?"
"Gudang Lintas Nusa sedang membutuhkan karyawan. Kalau kamu benar-benar ingin memperbaiki keadaan, saya bisa memberikan kesempatan bekerja di sana."
Fadil mengangkat wajahnya.
"Kerja di gudang?"
Damian mengangguk.
"Gajinya cukup untuk membantu membayar kredit motor kamu. Kalau pekerjaanmu bagus dan kamu bisa dipercaya, kamu juga boleh tinggal sementara di Ruko Putih Blok B No.5 tanpa membayar kos sampai keadaanmu membaik."
Fadil terdiam cukup lama sebelum akhirnya bertanya.
"Kenapa kamu masih mau membantu aku setelah kejadian kemarin?"
"Karena saya tidak ingin kamu terus melakukan kesalahan yang sama. Tapi kesempatan ini bukan berarti perbuatanmu saya anggap benar. Kamu tetap harus bertanggung jawab."
Fadil mengangguk berkali-kali.
"Terima kasih, Damian. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan ini."
"Besok datang dengan lamaran kerja. Jangan bawa map biru palsu lagi. Bawa diri kamu yang asli."
Fadil tertawa kecil meskipun matanya masih berkaca-kaca.
Sebelum masuk lift, dia sempat menoleh kepadaku.
"Lili, aku juga minta maaf. Gara-gara aku, kamu dan Damian jadi repot."
Aku tersenyum.
"Sudahlah, Dil. Yang penting sekarang kamu mau memperbaiki semuanya. Jangan sampai karena ingin cepat keluar dari kesulitan, kamu justru membuat masalah yang lebih besar."
Fadil mengangguk sebelum pintu lift tertutup.
Setelah dia pergi, suasana Lantai 3 kembali tenang. Aku mengembuskan napas panjang sambil melihat sertifikat asli yang masih tergeletak di atas meja.
Damian berdiri di sampingku dan merapikan rambut yang jatuh menutupi pipiku.
"Aku bangga sama kamu, Lili."
"Kenapa?"
"Karena kamu tidak membiarkan masalah kemarin membuat kamu membenci semua orang."
Aku menggenggam tangannya sebentar.
"Aku cuma tidak mau orang lain merasakan kesulitan yang pernah aku rasakan."
Damian tersenyum, kemudian mengecup keningku sebelum kembali masuk ke ruang kaca.
Aku membuka kotak makanan yang sejak tadi belum sempat kusentuh. Sup buntut kesukaanku masih hangat. Sambil menyuapkan sesendok sup, aku kembali melihat tiga benda di atas meja.
Map hitam, sertifikat asli, dan map biru palsu.
Ketiganya menjadi pengingat bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Terkadang kita hampir kehilangan sesuatu yang berharga karena kesalahan orang lain, tetapi bukan berarti kita harus membalasnya dengan cara yang sama.
Aku pernah menjadi perempuan yang tidak punya apa-apa. Sekarang pun aku masih belajar memahami banyak hal.
Namun, satu hal yang tidak ingin kuubah adalah caraku menghargai perjuangan sendiri dan orang lain.
Di Lantai 3 yang dingin itu, aku akhirnya merasa benar-benar lega. Rumah Biru tetap menjadi tempat kami pulang, Damian tetap berada di sampingku, dan masa lalu yang pernah membuatku menangis kini menjadi alasan untuk terus melangkah.
Aku tersenyum kecil.
Ternyata, bahagia bukan selalu tentang memiliki segalanya, tetapi tentang tidak kehilangan hati meskipun kehidupan pernah membuat kita jatuh berkali-kali.