Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.
Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menantu Mertua
Ting! Tong!
Suara bel rumah terdengar. Kekhawatiran Nadira semakin menjadi-jadi. Dia harus berpura-pura santai sebelum orang tuanya mengetahui apa yang terjadi di dalam kamar.
Nadira segera menyelimuti Rayzan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Tidak lupa, dia membersihkan darah di sekitar bibir Rayzan menggunakan selembar tisu. Bahkan noda darah yang ada di lantai pun dihilangkan oleh Nadira demi mengamankan dirinya sendiri.
Wanita itu berlari ke luar kamar, lalu menutup pintunya. Rasa khawatir semakin memenuhi pikirannya ketika dia mulai mendekati pintu depan.
Ceklek!
Nadira mengernyitkan kening saat melihat tamu yang sama sekali tidak dia duga. Saat hendak berbicara, tiba-tiba tamu tersebut menampar wajahnya.
Plak!
Meidra dengan ringan mengangkat tangannya setelah menampar Nadira. Tatapannya begitu tajam kepada wanita itu.
"Apa maksud semua ini?" tanya Meidra. "Kamu dan Rayzan—"
Nadira hanya tersenyum simpul. Kedua wanita itu memang memiliki masalah sejak menempuh pendidikan bersama di salah satu universitas. Bahkan, mereka pernah bersaing untuk menjadi menantu dari keluarga yang sama.
"Kamu lihat sekarang. Aku sudah jadi menantu Ayah dan Umi. Sementara kamu?"
"Kamu jahat, Nadira! Kenapa kamu melakukan semua ini? Kamu mau balas dendam?"
"Iya ... Aku mau balas dendam sama kamu. Jangan kamu pikir aku sudah lupa dengan kejadian itu."
Tiba-tiba saja Meidra terkekeh geli.
"Aku mengerti sekarang kenapa kamu merebut Rayzan. Daulat sudah tahu seperti apa kamu sebenarnya?"
Plak!
"Itu balasan karena kamu sudah berani menampar aku!" ucap Nadira.
Plak!
Lagi dan lagi Nadira menampar wajah Meidra.
"Dan itu untuk sakit hatiku yang selama ini aku pendam."
Meidra mengusap wajahnya yang baru saja ditampar oleh wanita di hadapannya.
"Oke ... Mungkin Rayzan nggak tahu. Tapi kamu jangan senang dulu. Aku akan memastikan Rayzan juga menceraikan kamu."
"Aku mau diceraikan. Tapi aku nggak mau masa lalu itu dibuka lagi," batin Nadira.
"Kenapa kamu diam? Takut?" Meidra menaikkan sebelah alisnya. "Siap-siap saja. Umur pernikahan kalian nggak akan lama. Dan kamu akan menjadi janda di usia muda."
Gadis itu langsung berlalu pergi. Meidra tidak akan membiarkan hidup Nadira tenang. Sebisa mungkin, dia akan membuat wanita itu terus mendapatkan masalah. Sejak dulu, Meidra memang merasa iri dengan pencapaian Nadira.
Nadira ketakutan dengan masalah yang pernah dia hadapi. Hanya Meidra yang mengetahui kejadian tersebut karena saat kuliah mereka sempat tinggal bersama.
"Kalau Rayzan tahu, aku sama sekali nggak peduli. Tapi Daulat ... Dia pasti senang karena nggak jadi menikah denganku. Karena aku sebenarnya—"
Tok! Tok! Tok!
Kembali terdengar suara ketukan pintu. Nadira semakin emosi. Dengan satu tarikan, pintu langsung terbuka.
"Kamu mau apa lagi?!"
"Nadira ... Kamu kenapa?" tanya Eros ketika mendapatkan bentakan dari putrinya sendiri.
"Eummm ... Papa, ini. Aku—"
"Kamu bertengkar lagi sama Rayzan?" tanya Merry.
"Atau kamu mengusir Rayzan dari rumah ini?" tanya Eros.
"Nggak, Ma, Pa ... Rayzan ada di dalam kok. Dia lagi tidur di kamar."
"Kami nggak percaya. Bilang sama Papa sekarang, apa lagi yang kamu permasalahkan sama dia?"
Nadira mengembuskan napas perlahan.
"Mama sama Papa nggak lihat? Itu mobil Rayzan. Tadi dia jemput Nadira di kantor. Dia lagi tidur. Katanya mau mengambil mobil Nadira, tapi malah ketiduran."
Mereka semua saling memandang.
"Cieee ... Sudah mulai ada rasa, nih," goda Sultan. "Satu mobil ... Pasti sayang-sayangan. Atau mesra-mesraan di dalam mobil. Terus melakukan—"
"Sultan! Kamu bisa diam nggak, sih!" ketus Nadira.
"Hahaha ... Semoga Sultan cepat dapat keponakan dari Bang Rayzan dan Kak Nadira."
"Aamiin..." sambung kedua orang tua mereka.
Sultan lebih dulu masuk ke dalam rumah, sementara Merry dan Eros masih berdiri di depan pintu sambil memandangi putri mereka.
"Kenapa?" tanya Nadira kebingungan.
"Sayang ... Kami berharap banget supaya kamu bisa berbaikan dengan Rayzan. Tolong terima dia demi kami."
Nadira berdecak kesal. "Mama sama Papa jangan mikir terlalu jauh. Di antara kami berdua nggak akan ada yang namanya anak."
"Kalaupun nanti ada bayi di rumah ini, ya itu bayinya Sultan sama istrinya nanti. Bukan bayi kami," lanjut Nadira.
Nadira pun berlalu pergi begitu saja. Merry dan Eros hanya bisa menggelengkan kepala secara bersamaan melihat sikap anak perempuan mereka.
[] [] []
Indah sedang membereskan rumah, sementara Resya baru saja pulang dari luar. Dia bingung harus melakukan apa, terlebih saat ini mereka hanya tinggal berdua di rumah.
"Assalamualaikum, Umi."
"Waalaikumsalam..."
"Eummm ... Umi lagi ngapain?"
"Kamu nggak lihat ini lagi beres-beres rumah?" tanya Indah tanpa menoleh ke arah menantunya.
Indah tetap membersihkan berbagai barang yang ada di atas meja televisi.
"U-Umi sudah makan?" tanya Resya mulai gugup.
"Belum."
"Kalau begitu, aku mau masak dulu supaya kita bisa makan siang bareng."
"Hmmm..."
Resya merasa sedih. Terlihat jelas bahwa mertuanya masih belum menerima kehadirannya di rumah itu. Walaupun begitu, Resya sama sekali tidak mempermasalahkannya. Dia sadar dengan sikap yang ditunjukkan Indah kepadanya.
"Aku permisi, Umi. Aku ganti baju dulu, habis itu baru masak."
Indah hanya diam. Dia memperhatikan wanita itu berlalu pergi.
"Aku nggak membenci kamu. Kalau aku berbaik hati secepat itu, mungkin kamu akan menyepelekan aku dan suamiku," gumam Indah.
[] [] []
Hampir setengah jam berlalu. Indah telah selesai membereskan semuanya. Karena merasa bosan dan tidak ada kegiatan lain, dia memutuskan untuk masuk ke dapur.
"Eh, Umi."
"Kamu lagi masak apa?"
"Eummm ... Ini, Umi. Kita makan daging ayam dengan sayur kol."
"Ada tambahan lain? Atau kamu mau dibantu?" tanya Indah, mencoba menawarkan diri.
"Nggak usah, Umi. Sebentar lagi juga sudah selesai," jawab Resya. "Umi kan baru saja beres-beres rumah. Mending Umi istirahat. Nanti kalau masakannya sudah selesai, aku kabari Umi."
Bukannya pergi, Indah malah semakin mendekati wanita itu.
"Kenapa kamu tega menghancurkan hidup Nadira?"
Resya terdiam.
"Karena ulah kamu, anak lelaki aku juga harus menanggung semuanya."
"Ma-maksud Umi apa?"
"Tanpa aku jelaskan, seharusnya kamu tahu," ucap wanita berhijab itu.
"Umi ... Aku sama Daulat sudah berteman lama. Sebenarnya kami nggak pacaran."
"Hah? Terus kenapa kalian bisa menikah?"
"Mas Daulat tiba-tiba mengajak ku berkenalan lebih dalam, dua bulan sebelum dia dan Nadira menikah. Aku tau kenapa Mas Daulat membatalkan pernikahan itu. Tapi aku nggak punya kuasa untuk memberitahu Umi sekarang."
Resya menghela napas.
"Aku nggak mau ikut campur, Umi. Kalau Umi penasaran, Umi bisa tanyakan langsung sama Mas Daulat. Biar Mas Daulat yang menjawab semua pertanyaan tentang alasan di balik batalnya pernikahan mereka."
Indah mengembuskan napas.
"Atau jangan-jangan benar dugaanku. Kalian memang sudah tidur bersama, kan?"
"Astaghfirullah, Umi."
"Oh, sebentar ... Kamu yang menjebak Daulat supaya kalian bisa menikah?"
Sakit rasanya dituduh seperti itu oleh mertua sendiri. Saat ini, Resya kebingungan karena tidak ada siapa pun yang bisa menolongnya di rumah itu.
"Kamu nggak usah sedih, nggak ada orang lain di rumah ini. Kamu bisa memperlihatkan sifat asli kamu," sambung Indah. "Asal kamu tahu saja ... Aku merasa gagal menjadi seorang ibu. Anak lelaki ku sudah mempermalukan aku."
"Maaf, Umi. Aku ke kamar dulu."
Resya segera mematikan kompor. Dia tidak mau terus mendengarkan tuduhan yang hanya akan membuatnya semakin kesal. Lebih baik menghindari pertengkaran daripada meladeninya hingga masalah menjadi semakin besar.
"Berarti ada yang nggak beres dengan hubungan Nadira dan Daulat," ucap Indah.