NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelahiran Penerus Tahta dan Senja yang Abadi

Bulan kesembilan hadir membawa ketenangan yang megah namun sarat akan kecemasan terselubung di dalam mansion utama Perkasa Group. Setiap sudut rumah mewah yang kini berkonsep minimalis Italia itu berada dalam pengawasan ketat. Tim medis privat yang terdiri dari dokter spesialis kandungan terbaik di Jakarta serta perawat senior telah disiapkan 24 jam di sayap timur mansion, bersiap menyambut detik-detik kelahiran sang penerus dinasti.

Pagi itu, udara Jakarta terasa begitu sejuk usai disiram hujan deras sepanjang malam. Di dalam master suite yang luas, aku berdiri di dekat jendela tinggi, memandangi hamparan taman belakang yang hijau. Gaun tidur berbahan sutra lembut berwarna putih gading membalut tubuhku, memperlihatkan perutku yang kini sudah membesar sempurna.

Langkah kaki tegap Raymond terdengar mendekat. Pria 35 tahun itu baru saja menyelesaikan sesi konferensi video singkat dengan jajaran direksi Perkasa Nusantara Investama di ruang kerjanya. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku, memancarkan aura dominan yang mengintimidasi namun seketika melunak begitu matanya menatap sosokku.

Raymond melangkah mengikis jarak di antara kami, menyusupkan kedua tangannya yang besar dan hangat melingkari perutku dari belakang. Ia menundukkan kepala, menyapukan bibirnya di perpotongan leher dan bahuku, menyebarkan kehangatan yang membius.

"Dewan komisaris baru saja mengesahkan laporan keuangan kuartal ketiga, Clarissa," bisik Raymond parau di dekat telingaku. Suara baritonnya yang berat bergema halus. "Semua proyek di Halmahera berjalan tanpa hambatan. Tidak ada satu pun celah yang tersisa."

Aku menyunggingkan senyuman tipis, bersandar rapat pada dada bidangnya yang tegap dan hangat. Jemari tanganku mengusap pergelangan tangannya yang kekar. "Kamu memastikan seluruh arena aman sebelum anak kita lahir, Raymond?"

"Aku memastikan seluruh duniaku aman untukmu dan anak kita," ralat Raymond rendah namun sarat akan ketegasan mutlak. Tangannya mengusap perutku dengan sentuhan penuh kepemilikan. "Mulai hari ini, kamu tidak boleh lagi menyentuh berkas investasi apa pun sampai kondisi fisikmu pulih total."

"Apakah Executive Chairperson harus mematuhi perintah itu?" tanyaku halus dengan sudut bibir terangkat, memutar tubuhku perlahan di dalam pelukannya.

Raymond menyunggingkan senyuman dingin yang sangat tampan. Manik mata hazel-nya mengunci pandanganku dengan intensitas yang tak pernah padam. "Executive Chairperson boleh memerintah seluruh isi perusahaan... tapi di dalam ruangan ini, kamu adalah istriku yang harus kupatuhi keselamatannya."

Pria itu menundukkan kepalanya, menyatukan bibir kami dalam sebuah ciuman hangat yang dalam. Ciuman itu sarat akan kelembutan yang jarang diperlihatkannya pada dunia luar sebuah sisi dari sang taipan yang hanya diperuntukkan bagi pendengaranku dan kehidupanku.

Namun, tepat saat ciuman itu menghebat, sebuah rasa mulas yang tajam dan cengkeraman kontraksi yang hebat mendadak mencengkeram bagian bawah perutku.

"Ngh..." ringisanku meluncur pelan, jemariku meremas erat kain kemeja hitam Raymond.

Gerakan Raymond seketika berhenti. Iris hazel-nya menyempit pekat, menangkap perubahan raut wajahku yang mendadak pucat.

"Clarissa?" suara bass Raymond mendadak bergetar tipis—sebuah getaran kepanikan yang untuk pertama kalinya kulihat sepanjang hidupnya yang dingin dan penuh perhitungan.

"Raymond... sepertinya... waktunya sudah tiba," bisikku parau, menahan napas saat kontraksi berikutnya datang menghantam.

Satu jam kemudian, ruang medis privat di sayap timur mansion berubah menjadi area persalinan yang sarat akan ketegangan tinggi. Tiga dokter spesialis dan dua perawat bergerak dengan presisi tinggi di bawah pendar lampu medis yang terang.

Di luar ruangan, Pak Herman dan tim pengawal pribadi menjaga ketat seluruh lorong mansion, memastikan tidak ada satu pun gangguan yang sanggup menembus barikade privat ini.

Di samping tempat tidur medis, Raymond tidak beranjak satu senti pun. Sang taipan tambang yang biasa mengendalikan transaksi triliunan rupiah di papan bursa itu kini berdiri tegak, membiarkan jemari tanganku meremas erat telapak tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Kemeja hitamnya sudah kusut dan basah oleh keringat, namun matanya tak pernah lepas menatap wajahku.

"Tahan napas sedikit lagi, Nona Clarissa... dorong perlahan!" instruksi dokter kepala dengan nada mantap.

Rasa sakit yang luar biasa menjalar menghantam seluruh syaraf tubuhku. Peluh dingin membasahi dahi dan helai-helai rambut hitamku. Namun di tengah gejolak rasa sakit itu, tatapan mata hazel Raymond yang memancarkan pendar kekuatan mutlak menjadi satu-satunya pegangan yang menjagaku tetap bertahan.

"Kamu bisa, Clarissa," bisik Raymond parau di depan wajahku, bibirnya menekan lembut dahiku yang basah oleh keringat. Suaranya yang biasa dingin kini bergetar hebat oleh rasa cinta dan kecemasan yang mendalam. "Lihat aku... bernapas bersamaku. Kamu adalah wanita terkuat yang kukenal."

Aku menatap lurus ke dalam matanya, menghirup napas dalam-dalam, dan mengumpulkan seluruh sisa tenaga yang kumiliki di dalam tubuhku untuk satu dorongan terakhir.

"Arghh!"

Oeeekkk! Oeeekkk!

Tangisan bayi yang nyaring dan jernih seketika memecah keheningan ruang medis, bergema indah memotong ketegangan yang membeku.

Suara tangisan itu bagaikan dentang lonceng kemenangan paling megah yang pernah kudengar. Seluruh rasa sakit yang mencekam seketika luntur, tergantikan oleh gelombang keharuan yang luar biasa pekat merayapi dadaku.

"Selamat, Tuan Perkasa, Nona Clarissa... bayi laki-laki, sehat sempurna!" seru dokter kepala seraya merawat bayi kecil yang mungil itu sebelum membalutnya dengan kain lembut berwarna putih gading.

Aku terkulai lemas di atas bantal, napasku terengah-engah penuh kepuasan.

Raymond membungkukkan tubuhnya, menyapukan bibirnya di pipi dan bibirku berulang kali dengan rasa syukur yang mendalam. Untuk pertama kalinya, kulihat ada genangan air mata tipis di sudut mata hazel sang taipan dingin sebuah pendar emosi yang begitu manusiawi dan hangat.

"Terima kasih... terima kasih, Clarissa," bisik Raymond parau, jemarinya yang gemetar mengusap helai rambutku yang menempel di dahi.

Perawat perlahan meletakkan bayi mungil itu di atas dadaku. Tangisan bayi itu seketika meredup begitu kulitnya menyentuh kulitku. Bayi laki-laki itu memiliki helai rambut hitam tebal dan garis rahang tegas yang sangat mirip dengan Raymond, namun matanya saat terbuka perlahan memperlihatkan bentuk iris jernih milikku.

Raymond berlutut di samping tempat tidur, menyusupkan jemarinya yang besar ke dalam genggaman tangan kecil sang bayi. Bayi mungil itu secara refleks meremas ibu jari Raymond dengan cengkeraman kecil yang kuat.

"Siapa nama yang akan kita berikan padanya, Raymond?" tanyaku pelan, suaraku jernih menatap suami dan anakku.

Raymond mengangkat pandangannya dari sang bayi, menatapku dengan pendar kepemilikan dan kejayaan yang abadi.

"Alexander Perkasa," ujar Raymond tegas dan rendah—sebuah nama yang memancarkan wibawa sang penakluk. "Alexander... penerus tunggal dari kekaisaran yang kita bangun di atas puing-puing masa lalu."

Satu bulan kemudian.

Pesta penyambutan kelahiran Alexander digelar secara sangat privat di pulau pribadi kawasan Kepulauan Seribu. Tidak ada perayaan mewah yang mengundang media atau kerumunan pejabat bisnis; hanya ada keheningan pantai pasir putih, deru ombak laut yang tenang, dan pendar senja keemasan yang menyelimuti seluruh pulau.

Di pelataran vila kayu jati yang menghadap langsung ke arah Samudra Hindia, aku berdiri anggun mengenakan gaun malam sutra berwarna biru laut yang melambai indah ditiup angin sore. Rambut hitamku disanggul anggun, memamerkan kalung The Tear of Serpent dan cincin pernikahan platina murni di jari manisku. Di dalam pelukanku, Alexander tertidur lelap dalam balutan kain sutra putih.

Raymond melangkah menghampiri kami dari dalam vila. Pria itu tampak begitu menawan dengan kemeja linen putih yang terbuka di kerahnya dan celana santai berwarna abu-abu.

Ia berdiri di sisiku, merangkul pinggangku dengan ketat, menahan tubuh kami tetap menyatu di bawah pendar matahari terbenam yang perlahan merayap turun ke garis horizon lautan.

"Bagaimana keadaan di Jakarta, Raymond?" tanyaku pelan, memandangi wajah kecil Alexander yang tenang di pelukanku.

"Pak Herman melaporkan bahwa Siska baru saja menjual sisa sisa perhiasan terakhirnya untuk membayar pengacara di Jakarta Selatan," sahut Raymond datar tanpa ada rasa iba sedikit pun. "Sementara Julian Vance resmi dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan Niaga Singapura kemarin sore."

Aku menyunggingkan senyuman dingin yang terukir sempurna. Bayang-bayang masa lalu telah sepenuhnya musnah. Ibu yang dahulu membuang Ayah demi kemewahan kini membusuk di dalam keheningan penyesalannya sendiri, sementara Julian yang mencoba merampas warisan Ayah telah hancur tanpa sisa.

Papan catur itu kini telah disimpan selamanya.

Raymond menundukkan kepalanya, mengusap kepala mungil Alexander dengan lembut, lalu menyusupkan jemarinya di antara jemari tanganku yang dihiasi berlian canary yellow.

"Kita telah melewati semuanya, Clarissa," bisik Raymond parau di dekat telingaku. Suara bass-nya yang berat menyatu harmonis dengan gemuruh ombak pantai. "Dari dendam seorang anak, skandal di depan media, perang di bursa saham... hingga kelahiran penerus ini."

Aku memutar pandanganku, menatap lurus ke dalam iris mata hazel-nya yang berkilau emas diterpa pendar senja.

"Dan tidak ada satu orang pun yang sanggup meruntuhkan apa yang sudah kita satukan, Raymond," balasku mantap dan penuh kepastian.

Raymond menyunggingkan senyuman dominannya yang teramat tampan. Pria itu menundukkan kepala, mengikis habis jarak di antara kami, dan menyatukan bibir kami dalam sebuah ciuman abadi di bawah langit senja Kepulauan Seribu.

Di atas tanah pulau privat yang terisolasi dari dunia, di antara desiran angin laut dan napas halus sang penerus dinasti di dalam pelukan kami, takdir terlarang yang lahir dari pusaran dendam ini telah resmi berubah menjadi kekaisaran abadi yang berdiri kokoh, tak tergoyahkan, dan tak tertandingi selamanya.

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!