NovelToon NovelToon
Mengandung Benih CEO Kejam

Mengandung Benih CEO Kejam

Status: tamat
Genre:Nikahkontrak / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Romansa Modern / Masokisme / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Obsesi / CEO / Hamil di luar nikah / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:53.1M
Nilai: 4.6
Nama Author: Meylani Putri Putti

kunjungi ig author meylani_lindak untuk melihat karya-karya author lainnya.


Dirinya selalu dianggap pembawa sial, hingga di kucilkan di panti asuhan.
Bertahun-tahun mendambakan hidup bersama dengan ayahnya, Suatu hari keinginan Mayang tersebut akhirnya terkabul.

Tak pernah di sangka, Setelah 18 tahun kini Mayang di jemput di panti asuhan dan di bawa kerumah keluarganya.

Ternyata kehadiran Mayang hanya untuk jadi barang gadaian sebagai jaminan dari pinjaman sang ayah kepada seorang CEO yang kejam.

Hingga suatu hari kehormatan Mayang terenggut dan ia harus mengandung benih dari pria yang ia benci.

Bagaimana kisah Mayang selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meylani Putri Putti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Menyangka

Perusahaan Adiaksa Group tengah dilanda krisis ekonomi dahsyat akibat musibah kebakaran hebat yang meratakan pabrik sepatu utama mereka.

Kerugian ditaksir mencapai satu triliun rupiah, sebab Adiaksa harus menanggung ganti rugi atas kerusakan permukiman warga di sekitar area pabrik. Malang tak dapat ditolak, pihak asuransi hanya mampu mengover tiga puluh persen dari total nilai kerugian.

Adiaksa memutar otak demi menyelamatkan sisa-sisa kejayaannya. Setelah memohon bantuan ke berbagai relasi bisnis dan berujung penolakan, hanya satu orang yang memberi penawaran: Tuan Andre. Pria berusia 28 tahun itu merupakan pengusaha muda yang amat sukses, namun terkenal dingin, tak berbelas kasih, dan arogan.

Tak ada pilihan lain. Demi napas perusahaannya, Adiaksa menyampingkan gengsi dan mendatangi pria tersebut.

Dengan tangan gemetar, Adiaksa menyodorkan lembar proposal di hadapan Andre. "Bagaimana, Tuan? Apakah Anda bersedia membantu saya?"

Andre terkekeh sinis. "Lima ratus miliar rupiah? Bukan nominal yang sedikit, Tuan Adiaksa."

"Saya mohon, Tuan. Dalam waktu tiga tahun, saya berjanji akan mengembalikan uang itu utuh tanpa kurang sepeser pun," iba Adiaksa memelas.

Andre menyunggingkan senyum tipis yang penuh misteri. "Baiklah. Saya bisa meminjamkan dana segar lima ratus miliar, dengan syarat Anda menyerahkan jaminan yang nilainya setara dengan uang itu."

Adiaksa tersentak bingung. "Hah?! Tapi... apa yang nilainya setara dengan lima ratus miliar?" Seluruh aset rumah dan tanah miliknya sudah habis diagunkan ke bank.

Andre menaikkan bahunya santai. "Pikirkan sendiri. Bawa barang jaminan itu dalam waktu seminggu."

Adiaksa pulang membawa kembali proposalnya dengan benak yang sarat beban. Sesampainya di rumah, ia langsung berdiskusi dengan Adelia.

"Bagaimana ini, Mami? Aset apa lagi yang kita miliki yang setara dengan lima ratus miliar?" keluh Adiaksa frustrasi.

Adelia turut berpikir keras, hingga sebuah ide liar terlintas di kepalanya. "Aku tahu, Papi! Hal apa yang nilainya melebihi uang lima ratus miliar!"

"Apa itu, Mami?"

"Bagaimana kalau kita jadikan Mayang sebagai jaminannya?" cetus Adelia tanpa beban.

Adiaksa melotot. "Apa kau gila?! Bagaimana mungkin aku menggadaikan anak gadisku sendiri?!"

"Papi, pikirkan lagi! Apa yang lebih berharga dari nyawa dan kehidupan seorang manusia? Aku yakin Tuan Andre tidak akan keberatan!" desak Adelia.

Adiaksa mengembuskan napas berat, lalu menjambak rambutnya sendiri secara frustrasi. Ia membungkuk, menatap lantai dengan napas yang memburu kasar. Rasa gelisah menggerogoti jiwanya—perusahaannya di ujung kebangkrutan, dan seluruh harta mereka terancam disita bank jika pinjaman ini batal.

"Ayo lah, Papi... Kita cuma 'menggadaikan' Mayang sebentar. Setelah perusahaan beroperasi normal dan kita punya uang, kita tebus dia kembali," bujuk Adelia pantang menyerah.

Berhari-hari Adiaksa bergelut dengan nuraninya. Hingga ketika tenggat waktu tersisa empat hari, rasa putus asa akhirnya mengalahkan nuraninya. Ia memutuskan untuk menjemput Mayang dari panti.

(Flashback Off)

Malam itu, hidangan makan malam telah tersaji di meja. Adelia bersama kedua anaknya, Raga dan Rasti, sudah duduk rapi mendampingi Adiaksa.

"Loh, Mayang mana? Kenapa tidak ikut makan malam?" tanya Adiaksa heran.

Ketiganya hanya mengedikkan bahu, menunjukkan gestur acuh tak acuh.

"Bi, panggilkan Mayang di kamarnya. Suruh dia turun untuk makan malam," perintah Adiaksa pada asisten rumah tangga.

"Baik, Tuan."

Saat ART melangkah pergi, Adelia berbisik tajam pada suaminya, "Papi harus bicara pada Mayang secepatnya. Waktu kita makin mepet. Besok Papi harus mempertemukan mereka.

Adiaksa hanya mengangguk patuh dengan wajah mendung.

Tak lama, Mayang melangkah turun dari kamarnya. Penampilan gadis cantik berusia delapan belas tahun itu seketika mencuri perhatian seluruh anggota keluarga di meja makan.

"Mayang, ayo makan dulu, Nak," panggil Adiaksa lembut seraya menarikkan kursi untuk putrinya.

Mayang duduk di samping Adiaksa. Dengan telaten, Adiaksa menyendokkan nasi beserta lauk-pauk ke piring Mayang—sebuah perlakuan manis yang membuat Mayang merasa heran sekaligus tersanjung.

"Makan yang banyak ya," ujar Adiaksa sambil menyodorkan piring tersebut.

Di seberang meja, Raga dan Rasti saling melempar lirikan mencibir.

Mayang menikmati makan malamnya dengan tenang. Berbeda dengan Adiaksa yang tampak gelisah dan tak berselera. Di tengah keheningan, Adelia sengaja menyenggol kaki Adiaksa di bawah meja, melemparkan kode keras agar suaminya segera angkat bicara.

"Papi, katakan sekarang. Kita tidak punya waktu lagi," bisik Adelia mendesak.

Adiaksa ragu. Ia meraba paras Mayang yang begitu polos dan tanpa dosa, lalu menelan ludahnya yang terasa pahit.

Kenapa harus Mayang? Kasihan anak ini... Selama ini dia tidak pernah merasakan kemewahan hasil kerjaku, tinggal di panti, dan uang yang kukirimkan pun hanya cukup untuk makan sederhana, batin Adiaksa menjerit.

Tendangan di kaki Adiaksa terasa makin keras. Adelia menatapnya penuh ancaman.

Dengan berat hati dan lidah yang terasa kelu, Adiaksa akhirnya memberanikan diri. "Mayang... besok ikut Ayah ke kantor ya? Ayah ingin mengenalkanmu pada seseorang."

Jantung Adiaksa bergemuruh hebat menantikan respons sang putri.

"Ehm, iya, Yah," jawab Mayang singkat, mengangguk polos.

"Baguslah. Setelah ini, langsung istirahat ya," pungkas Adiaksa. Adelia tersenyum puas di sudut meja.

Selesai makan malam, Adiaksa menuntun Mayang menuju kamarnya. Sebelum berpisah di ambang pintu, Adiaksa merangkul tubuh mungil putrinya, memeluknya erat, lalu mengecup keningnya berkali-kali.

Hati Mayang mendadak hangat dan mengharu biru. Sejak kecil, ia tidak pernah merasakan pelukan atau kasih sayang hangat dari sang ayah.

"Rest yang cukup ya, Nak. Besok kamu harus tampil cantik," bisik Adiaksa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Iya, Yah," sahut Mayang dengan senyum merekah bahagia. Air mata haru menetes di pipinya—ia merasa akhirnya diterima sebagai seorang anak.

Namun, begitu pintu kamar Mayang tertutup, pertahanan Adiaksa runtuh. Air matanya menetes makin deras. Makin dewasa, paras Mayang benar-benar menjiplak almarhumah Rani, wanita yang pernah amat dicintainya.

Adiaksa berjalan cepat menuju balkon lantai dua, meluapkan penyesalan dan kesedihan yang membuncah. Ia menangis terisak dalam dilema yang menyiksa: ia harus mengorbankan darah dagingnya demi menyelamatkan kelangsungan hidup keluarga dan perusahaannya.

Keesokan paginya, Mayang berdandan sangat anggun. Ia mengenakan perpaduan rok span, kemeja rapi, dan blazer yang elegan. Di dalam benak polosnya, Mayang menduga sang ayah akan memberinya sebuah posisi atau pekerjaan di perusahaan.

Di meja makan, Adiaksa menunggu dengan wajah pucat dan gelisah. Berseberangan dengannya, Adelia bersama Raga dan Rasti justru tampak berseri-seri; mereka membayangkan akhir dari krisis keuangan yang selama ini membayangi.

Langkah kaki Mayang terdengar mendekat. Gadis itu turun dengan senyum terpancar mulus. Adiaksa sempat terpana menatap putrinya—terlihat begitu dewasa dan sangat mirip dengan Rani saat pertama kali mereka bertemu dulu.

Rasa bersalah makin menghimpit dadanya, hingga Adiaksa hampir tak sanggup menatap mata Mayang. Namun, janji bertemu Tuan Andre pagi ini sudah terkunci. Telat atau membatalkannya berarti menutup rapat-rapat pintu bantuan untuk selamanya.

"Selamat pagi, Yah," sapa Mayang riang.

"Selamat pagi, Nak. Ayo sarapan singkat, setelah itu kita berangkat," balas Adiaksa dengan suara parau dan kepala tertunduk.

Selesai sarapan, mereka langsung meluncur menuju gedung perkantoran milik Andre. Sesuai reputasinya, Andre adalah pria yang sangat disiplin. Setelah mengonfirmasi kedatangan melalui sekretaris, Adiaksa dan Mayang langsung dipersilakan masuk ke ruang CEO.

Pintu jati tebal itu terbuka, menampilkan ruangan megah dengan seorang pria bertubuh tegap, berparas tampan, namun beraura dingin sedang duduk di balik meja kerjanya.

"Selamat pagi, Tuan Andre," sapa Adiaksa canggung.

"Selamat pagi, Tuan Adiaksa."

Adiaksa dan Mayang menduduki kursi di hadapan meja kerja tersebut. Tatapan tajam Andre langsung tertuju pada mereka berdua, mengintimidasi.

"Bagaimana? Apakah Anda sudah membawa barang jaminan yang nilainya setara dengan lima ratus miliar?" tanya Andre tanpa basa-basi.

"Sudah, Tuan."

Andre menyipitkan mata, mengamati Adiaksa dari atas ke bawah, namun tak menemukan tas atau dokumen berharga apa pun di sana.

"Hm, mana barangnya?" tanya Andre seraya bersandar santai pada kursi kebesarannya.

Adiaksa menelan ludahnya belepotan, lalu menunjuk pelan ke arah sampingnya. "Ini... putri saya. Saya menggadaikannya untuk sementara waktu, karena saya tidak memiliki aset lain yang nilainya setara dengan lima ratus miliar."

Bagaikan tersambar petir di siang bolong!

Dunia Mayang rasanya runtuh seketika saat kalimat itu lolos dari mulut ayah kandungnya sendiri. Matanya membelalak lebar, memerah menahan kebas dan ketidakpercayaan yang luar biasa pada sosok di sampingnya.

Bahkan Andre sendiri sempat tertegun sejenak di kursinya—sama sekali tidak menyangka bahwa seorang ayah tega menggadaikan putri kandungnya sendiri demi uang pinjaman lima ratus miliar.

1
nuraeinieni
luar biasa
Febby fadila
kenapa nggak pakai cabe sekalian Resti ayo hajar sampai tuntas
Febby fadila
ya dimaklum lah sus orang baru ketemu JD kangenx fuulll🤣🤣
Febby fadila
🤣🤣🤣🤣🤣 makax klw mau Main tu lihat t4 juga sean
Febby fadila
Andre kek nggak dapat jatah dari istri aja 🤣🤣🤣 ngupingin penganten baru Mulu 🤣🤣🤣 usil banget
Febby fadila
Andre niii jahil emang 🤣🤣
Febby fadila
bagus juga Mayang ini biar Andre nggak bisa jajan diluar
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya🙏.

Kaka, Jika ada waktu luang, boleh coba baca karya ku yang berjudul "PARTING SMILE" ya, siapa tau Kaka suka.

Berkisah tentang penyanyi religi yang terjerat pernikahan kontrak dan cinta masa lalunya yang sangat rumit. Ditambah dia tipe yang gengsian dan menyebalkan, hiih dah lah.

Insyaallah seru ka... xixi
di tunggu ya ☺️🙏
total 1 replies
Febby fadila
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 Hesti yg polos Mayang yang coplas 🤣🤣🤣
Febby fadila
🤣🤣🤣🤣 dengarin tu Bu guru lagi kasih materi Hesti sisianya kamu pratekin sendiri
Febby fadila
kepo aku sama ide Mayang
Febby fadila
hmmm kan bisa nyuruh pak kyai langsung datang untuk membantumu Sean, tp biarlah biar kamu nggak jomblo lagi
Febby fadila
Ais ni orang kampung masih pake adat jaman purba aja
Febby fadila
bukan Sean aja yg kaget dan shock akupun sama mendengar adikx Hesti ada 8 orang
Febby fadila
jiaahhh Sean ketemu calon istri ya 🤣🤣
Febby fadila
ini si Adelia kapan dia yg dapat karma knp harus anak²x siii, buat Adelia kecelakaan gitu trus lumpuh dan nggak bisa bicara
Febby fadila
mas Andre klw mau nyosor tu lihat t4 juga kali kan kasihan sama saudara kamu sean
Febby fadila
raga dia sdah sering mengusumsi narkoba, karma buat keluarga adelia
Febby fadila
cinta boleh Resti tp bodoh jangan itu uang sisa dari dari jajanx selingkuhan suamimu
Febby fadila
mantap makin seruuuu aja nii
Febby fadila
😭😭😭😭😭 ikut sedih aku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!