NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Intrik di Balik Tahanan dan Misteri Dokumen Hitam

BAB 33: Intrik di Balik Tahanan dan Misteri Dokumen Hitam

Sisa gelap malam yang dicekam sabotase perlahan memudar, berganti selimut fajar berwarna abu-abu keperakan di atas Mako Batalyon.

Meskipun kobaran api di Gudang Logistik Sektor B berhasil dipadamkan sepenuhnya oleh regu pemadam markas dan insiden penyusupan ke kediaman dinas Danyon telah diredam, ketegangan di dalam kompleks militer tersebut justru merambat semakin pekat.

Pukul 05.30 WITA, ruang tahanan Provost Batalyon dijaga ekstra ketat oleh empat prajurit bersenjata lengkap dengan bayonet terpasang. Di dalam sel bertekanan udara dingin dan minim cahaya, pria penyusup bertubuh besar itu terikat kuat pada kursi besi.

Wajahnya penuh lebam, namun matanya masih memancarkan tatapan liar penuh kebencian.

Pintu besi sel berderit terbuka.

Langkah kaki mantap menggelegar di atas ubin semen. Mayor Aris melangkah masuk.

Ia telah berganti pakaian menggunakan seragam PDL bersih yang rapi, namun garis rahangnya yang rapat serta pandangan matanya yang tajam menembus kegelapan seolah memancarkan aura komando yang siap melahap siapa saja yang berani mengusik kedamaian markasnya.

Di belakang Aris, Kapten Galih berjalan seraya membawa sebuah map dokumen tebal berwarna cokelat tua.

"Bagaimana kondisi pemeriksaan awal, Galih?" tanya Aris dingin tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari si tahanan.

"Lapor Danyon," jawab Galih tegas. "ya aaaDari identifikasi sidik jari dan verifikasi tim Intelijen Mako, tersangka bernama Herman, mantan anggota desertir yang kini menjadi kepala eksekutor lapangan untuk sindikat perdagangan gelap dan penyelundupan senjata di Sektor Utara. Dan yang lebih mengejutkan... kami menemukan sebuah flashdisk terkunci serta beberapa lembar dokumen bersandi di dalam kantong jaketnya."

Aris menarik sebuah kursi kayu, lalu duduk tepat di hadapan Herman. Jarak wajah mereka hanya beberapa puluh sentimeter.

"Siapa yang memberi petunjuk peta denah kediaman saya dan kode akses jalur belakang Gudang B?" suara Aris meluncur pelan, namun mengandung tekanan psikologis yang sangat berat.

"Seseorang di dalam markas ini membantu tindakanmu. Katakan namanya."

Herman justru meludah ke lantai, lalu tertawa parau yang mengerikan.

"Kau pikir kau sudah menang, Mayor? Kebakaran gudang dan penyusupan malam tadi cuma pengalihan isu! Kau memang berhasil menyelamatkan istri manjamu yang ber-kacamata itu, tapi kau tidak akan pernah bisa menyelamatkan Batalyon ini dari kehancuran dari dalam!"

TAK!

Kapten Galih memukul meja besi dengan tangannya, namun Aris mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan agar Pasi Ops-nya tetap tenang. Aris tidak terpancing sedikit pun.

"Kau membocorkan banyak hal dengan ucapanmu sendiri, Herman," ujar Aris tenang, mengukir senyum tipis yang amat dingin.

"Kau menyebut 'pengalihan isu'. Itu artinya, sasaran utama kalian bukan Gudang Logistik B, dan bukan pula sekadar mencelakai istri saya. Sasaran kalian yang sebenarnya adalah menyusupkan dokumen atau mengambil sesuatu dari Ruang Olah Data Markas saat seluruh perhatian fokus pada kebakaran."

Raut wajah Herman seketika berubah pucat. Mata liarnya membelalak kaget. Ia tidak menyangka bahwa analisis berpikir cepat sang Danyon mampu membedah strategi tersembunyi kelompoknya hanya dari satu kalimat acak.

"Galih!" perintah Aris seraya berdiri tegap. "Isolasi penuh orang ini. Jangan izinkan siapa pun mendekati sel tahanan tanpa izin tertulis dari saya pribadi. Kita bergerak ke Ruang Olah Data Intelijen sekarang!"

"Siap, Danyon!"

Sementara itu, di kediaman dinas Danyon, suasana pagi terasa begitu hening dan penuh kehati-hatian. Beberapa anggota Persit senior yang dipimpin Ibu Dwi datang berkunjung untuk memastikan kondisi Mayang.

Mayang duduk di sofa ruang tamu dengan gaun rumahan yang rapi. Meskipun wajahnya masih agak pucat dan memar tipis membekas di pergelangan tangannya akibat cengkeraman penyusup semalam, Mayang berusaha tampil tegar di hadapan para anggotanya.

Kacamata berbingkai tipis yang melingkar di wajahnya mempertegas aura ketahanan jiwanya.

"Ya Tuhan, Bu Aris... kami benar-benar syok mendengar berita tadi malam," ujar Bu Dwi dengan raut khawatir yang mendalam seraya memegang tangan Mayang.

"Penyusup itu benar-benar nekad memasuki rumah dinas Danyon! Bagaimana keadaan Ibu sekarang? Perlu kami dampingi ke Rumah Sakit Batalyon?"

Mayang tersenyum lembut, memberikan rasa tenang kepada ibu-ibu Persit yang hadir.

"Terima kasih banyak atas perhatian dan doa dari Ibu-Ibu sekalian. Saya baik-baik saja. Pak Danyon bertindak sangat cepat dan tepat waktu semalam. Yang terpenting sekarang, kita tidak boleh memperkeruh suasana dengan menyebarkan rumor yang meresahkan warga asrama."

"Tapi Bu," sela Bu Ratna cemas, "apakah situasi markas benar-benar sudah aman? Bagaimana kalau ada penyusup lain?"

"Asrama kita dilindungi oleh prajurit-prajurit terbaik," jawab Mayang dengan intonasi mantap dan penuh keyakinan pada suaminya.

"Pak Danyon dan seluruh perwira sedang bekerja keras memperketat pengamanan. Tugas kita sebagai pengurus Persit adalah menjaga moral para istri prajurit agar tetap tenang dan fokus mendukung suami masing-masing di lapangan."

Kepemimpinan dan ketenangan jiwa Mayang kembali memancar sempurna.

Di tengah ancaman dan bahaya yang baru saja hampir merenggut nyawanya, ia memilih menjadi tempat bersandar dan sumber kekuatan bagi seluruh anggota organisasi yang dipimpinnya.

Kembali ke Ruang Olah Data dan Komando Batalyon, Aris bersama Pasi Intel Letnan Dian dan Pasi Ops Kapten Galih sedang meretas isi dokumen di dalam flashdisk yang disita dari tangan tersangka Herman.

Di atas meja rapat yang luas, beberapa lembar cetakan peta kawasan markas terbentang. Layar monitor memancarkan deretan kode enkripsi yang berhasil dibuka oleh tim siber markas.

"Lapor Danyon!" ujar Letnan Dian seraya menunjuk ke arah layar monitor.

"Isi dokumen ini sangat berbahaya! Ini adalah daftar transaksi ilegal pengalihan pasokan amunisi dan bahan bakar yang terjadi selama enam bulan terakhir di sektor perbatasan. Dan yang lebih gila lagi... dokumen ini mencantumkan tanda tangan verifikasi palsu atas nama Komandan Batalyon!"

Mata Aris memicing tajam. "Mereka sengaja membuat dokumen palsu ini untuk memfitnah kepemimpinan saya jika sewaktu-waktu aksi penyelundupan mereka terendus oleh Mabes!"

"Tepat sekali, Danyon," tambah Galih.

"Tujuan mereka melakukan sabotase semalam adalah untuk memasukkan flashdisk berisi dokumen rahasia palsu ini ke dalam komputer utama Olah Data, sehingga saat Tim Penilai Mabes datang lusa, Batalyon kita akan terjerat kasus penggelapan alutsista skala besar!"

Plot kejahatan yang melingkupi Batalyon kini terkuak secara benderang.

Ini bukan sekadar aksi kriminal biasa, melainkan konspirasi tingkat tinggi yang dirancang untuk menjatuhkan karir militer Mayor Aris sekaligus menghancurkan reputasi satuan Batalyon.

Aris mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka merencanakan jebakan ini dengan sangat rapi... Namun mereka melakukan satu kesalahan terbesar, mencoba menyakiti istri saya."

Aris berbalik menatap kedua perwira kepercayaannya dengan pandangan mata yang siap bertempur.

"Galih, Dian! Kita ikuti permainan mereka. Jangan hapus dokumen di server, tapi buat perangkap digital (honey pot). Siapa pun orang di dalam markas ini yang mencoba mengaktifkan atau mengirimkan dokumen tersebut ke luar saat inspeksi Mabes nanti, dialah pengkhianat sebenarnya yang akan kita ringkus!"

"Siap, Danyon!" jawab kedua perwira itu serentak dengan semangat membara.

Hari semakin siang ketika Aris melangkah kembali ke rumah dinas untuk melihat kondisi istrinya.

Langkah kakinya yang tadinya cepat dan tegas mendadak melambat begitu menyusuri koridor depan rumah. Rasa bersalah dan kasih sayang yang mendalam menyelimuti dadanya setiap kali mengingat betapa terancamnya Mayang tadi malam.

Saat Aris membuka pintu rumah, ia mendapati Mayang sedang berdiri di dekat jendela ruang tengah, merapikan tirai kayu yang sempat rusak.

"Mayang..." panggil Aris dengan suara baritonnya yang kini terdengar sangat lembut dan sarat emosi.

Mayang berbalik. Melihat suaminya berdiri di sana, senyuman hangat langsung terukir indah di wajah cantiknya. Tanpa ragu, Mayang melangkah mendekat dan menyambut Aris.

Aris merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan yang hangat, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Mayang dan mendaratkan ciuman dalam di puncak kepalanya.

"Maafkan saya, Istriku... Saya membuatmu terseret dalam pusaran bahaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab dinas saya," bisik Aris penuh penyesalan di telinga Mayang.

Mayang menggeleng pelan di dada Aris, lalu mendongak menatap lurus ke dalam mata suaminya. Tangannya terulur mengusap pipi Aris dengan penuh cinta.

"Jangan pernah minta maaf untuk hal yang bukan kesalahan Mas Aris," ujar Mayang lembut namun sangat tegas.

"Mayang adalah istri Mas Aris seorang Komandan Batalyon. Mayang sudah mengikat janji untuk mendampingi Mas Aris dalam suka maupun duka, dalam damai maupun di tengah bahaya. Kita akan hadapi musuh dan konspirasi apa pun bersama-sama, Mas."

Aris menatap manik mata istrinya yang jernih. Di balik kelembutan paras dan kecantikan kacamatanya, Mayang memiliki jiwa baja yang tak tergoyahkan. Keberanian sang istri menjadi bahan bakar terbesar bagi Aris untuk menuntaskan konspirasi jahat ini hingga ke akar-akarnya.

Di tengah ancaman inspeksi Mabes dan misteri pengkhianat dalam markas yang belum terungkap, ikatan jiwa antara sang Mayor dan Ibu Komandan justru kian menyala kokoh menjadi benteng pertahanan terkuat yang tak akan pernah bisa ditembus oleh musuh mana pun.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍👍🤣
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!