Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Hadiah Sistem
Yuda awalnya ingin menjelajahi fitur sistem lebih dalam, tapi paket yang harus di antar hari ini masih banyak.
Jadi dia fokus antar paket terlebih dahulu.
Namun dia sudah mengerti dan paham beberapa tentang sistem.
Misalnya untuk mengaktifkan sepenuhnya fitur sistem, dia harus menyelesaikan tugas awal dan juga akan diberi hadiah pemula.
Tanpa menunda lagi, ia bergegas cepat mengirim paket yang tersisa.
Mulai dari mengantar paket ke pinggiran Tangerang Selatan sampai komplek perumahan elite, ia secepat kilat menyerahkan paket.
Waktu berlalu, dan beberapa jam kemudian...
Matahari yang bersinar terang perlahan turun berganti malam.
Setelah menyelesaikan semua paketnya, Yuda dengan gerakan cepat melaporkan tugasnya.
Manajer dan rekan kerjanya melihat kecepatan pengirimannya sempat bingung, tapi sebelum mereka bertanya apa yang membuatnya begitu bersemangat mengantar paket.
Yuda sudah terlebih dahulu pergi kembali ke Kostnya tanpa memberi mereka kesempatan bertanya.
Rekan-rekannya saling pandang, "Ada apa dengan Yuda hari ini?"
Wajah mereka menunjukkan kebingungan.
"Entah, apa ada tamu di kos nya?"
"Biar ku tebak, dilihat dari ekspresi tak sabar dan gembiranya Yuda, pasti dia di tunggu sama ceweknya."
"Apa?! Sial, apakah dia akhirnya mendapatkan cewek?"
"Apa yang kau kagetkan? Bukankah wajar, Yuda tuh kan tampan, masih muda, pasti banyak cewek yang meliriknya."
"Benar juga, tapi kenapa aku tidak di kejar cewek? Padahal aku sama tampannya dengan Yuda."
"...."
"...."
"...."
Semua orang di tempat menatap salah satu rekannya tanpa berkata-kata.
"Dengan mukamu yang begitu kau bilang sama? Bercermin sana, hahahaha."
Tawa riuh digudang express meledak menertawakan orang narsis.
...----------------...
Kembali ke Wisma Nugrah.
Di dalam kamar, Yuda menatap layar transparan di depannya.
Pandangannya beralih ke misi melunasi cicilan yang masih berlangsung dan hitungan mundur berjalan.
"16 jam lagi." Gumamnya.
Di hitung kurangnya cicilan 4 bulan berarti 4 kali lagi, dan setoran bulanan 900 ribu.
Yuda mengelus dagunya, "900 Ribu kali 4, totalnya 3.6 juta. Tabungan yang terkumpul 2 juta, kurang 1.6 juta lagi. Dimana aku bisa mendapatkan uang itu dalam waktu 16 jam?"
Minjam teman? Tidak mungkin, dia tidak punya teman yang bisa di andalkan.
Saudara? Apalagi, mereka sudah punya tanggungan hidup masing-masing untuk keluarganya sendiri.
Beberapa saat kemudian dia hanya dapat satu cara mendapatkan uang 1,6 juta.
Yaitu meminjam ke orang tuanya.
Sebenarnya saat Yuda memikirkan pinjam uang ke ortu, ia merasa malu.
Biasanya dialah yang ngasih uang sesekali perbulan, sekarang ia ingin minjam.
Entah apa yang akan dipikirkan orang tuanya tiba-tiba ingin minjam uang.
Tapi apalah daya, tidak ada waktu lagi dan hanya ortunya lah satu-satunya orang yang bisa meminjamkan uang 1.6 juta kepadanya sekarang.
Setelah ragu sejenak, Yuda menarik nafas dalam-dalam menenangkan dirinya lalu mengambil HP Poco x7 pro nya.
Langsung nelpon ibunya.
Tak lama kemudian, teleponnya tersambung.
"Halo Yud, ada apa? Tumben sekali anak sulung ibu nelpon, biasanya nelpon sekali doang tiap bulan." Suara wanita dari balik HP terdengar.
Mendengar suara ibunya, ia sedikit gugup, "Ehem, bu, bukankah aku nelpon sekali sebulan karena sibuk dan kelelahan kerja... Jadi-"
Sebelum dia selesai bicara, langsung di sela ibunya dulu.
"Tidak usah banyak alasan, apa kamu pikir ibu tidak tahu sifat anak ibu sendiri? Cepat beritahu, ada apa? Kau tak mungkin melakukan kejahatan lalu minta bantuan ibu kan? Tidak mungkin..."
"...." Yuda terdiam.
"Bukanlah bu, bagaimana mungkin, anak sulung ibu ini yang tampan, penyayang, berbakti, baik hati bisa melakukan kejahatan."
"Bagus, jadi? Kamu belum menjawab pertanyaan ibu, kenapa kamu nelpon?"
Yuda menggaruk kepalanya, kata-kata yang sudah ia siapkan dengan matang tadi jadi lupa karena omelan ibunya.
Akhirnya dia angkat bicara, "Ini bukan masalah besar.... Sebenarnya aku ingin pinjam uang 1.6 juta."
Tanpa sadar nada bicaranya terdengar kaku dan cepat, lalu terjadi keheningan di teleponnya, ibunya terdiam.
Hening.
Yuda sudah menahan nafasnya saking gugupnya sekarang, apalagi ini pertama kalinya dia pinjam uang ke ibunya, dan sekarang ibunya malah diam.
Pikiran negatif seketika memenuhi pikirannya.
Beberapa detik kemudian...
Suara ibunya akhirnya terdengar seperti malaikat.
Jantung Yuda yang sudah berdebar kencang kayak mau copot akhirnya menghela nafas lega.
"Ku kira ada masalah apa, cuman pinjam uang? Kenapa kamu berbelit-belit begitu, 1.6 juta kan? Nanti aku suruh bapakmu transfer."
"Kebetulan dia mau ngantar baju jadi ke bosnya."
Yuda akhirnya bisa menghela nafas lega, tapi dia sedikit bingung.
Kenapa ibunya tidak bertnya buat apa uangnya, jadi ia tak kuasa menahan diri untuk bertanya. "Apa ibu tidak bertanya buat apa aku pinjam uang itu?"
"Tidak, ibu percaya padamu, selama itu bukan buat sesuatu yang merugikan." Nada suara ibunya lembut dan penuh kasih.
"Terima kasih bu... Aku.."
"Kenapa kamu terlalu kebanyakan emosional. Oh ya bagaimana pencarian menantu buat ibu, apa kamu sudah dapat pacar?"
Perkataan awal ibunya membuatnya terharu, tapi kalimat selanjutnya membuat dia tersedak.
Raut wajahnya juga berubah cepat jadi kayak nahan sembelit. "Uhuk, bu kenapa tiba-tiba bahas menantu? Bukankah sudahku bilang kalau aku belum terlalu memikirkan pernikahan?"
Di balik telepon, Ibunya langsung menegur keras ketika mendengar jawabannya, "Belum memikirkannya? Pantas saja kamu menjomblo terus, umurmu sudah 21 tahun lebih, teman sebaya mu aja sudah ada yang nikah."
"Bahkan ada yang punya anak, ibu sudah pengen gendong cucu juga, apa kamu tidak kasihan sama ibu hah?!"
"Tapi-"
"Tidak ada tapi, bentar lagi festival hari kemerdekaan tiba. Kamu harus pulang tahun ini, dan bawa pacarmu, "kebetulan sepupumu Keno juga akan nikah tanggal 15 bulan ini"."
Yuda terkejut ketika mendengar sepupunya akan nikah, lalu akhirnya tersadar, 'Pantas saja ibu bahas menantu, ternyata karena sepupuku, sialan kau Keno.'
Keno adalah sepupunya, anak dari bibi nya dari keluarga ibu.
Umurnya 2 tahun lebih muda darinya, dan Yuda sering menjahilinya saat masih kecil.
Hubungan keduanya sangat dekat dan ia sudah menganggap Keno sebagai adiknya sendiri.
Tapi meski begitu, memikirkan ibunya yang tiba-tiba bahas menantu, dia menyimpan dendam ini.
"Yuda, kenapa kau diam, apa kamu tidak mendengarkan ibu? Kalau kamu tidak pulang bulan ini, jangan pernah kembali selamanya." Suara ibunya terdengar kesal, dan ia tahu dan tak bisa membantahnya karena takut durhaka.
Ia hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Iya bu iya, nanti aku.... Aku akan membawa pulang pacar tenang aja."
Di sisi ibunya, dia mengangguk puas dengan jawaban putranya.
Lalu keduanya berbincang sebentar sebelum akhirnya menutup telepon.
Yuda berbaring lemas terlentang di kasurnya, percakapan dengan ibunya barusan sangat menguras mentalnya.
"Pacar kah? Siapa? Apa aku sewa pacar? Tapi itu sama aja bohong, sudahlah ku pikirkan itu nanti."
"Sekarang tinggal nunggu bapak transfer, lalu menunggu kejutan hadiah dari sistem. Aku tidak sabar." Dia mengangkat sudut mulutnya.
Setelah sekian lama, akhirnya notif hpnya berdering, dan tertulis uang masuk sebesar 2 juta ke rekeningnya.
Menatap jumlah yang dikirim, Yuda menggelengkan kepalanya merasa sedikit tidak berdaya. "Bukankah aku bilangnya cuman 1.6 juta, yah, meski mulut ibu kadang pedas, tapi tetap saja dia tidak pelit."
Kemudian dia mengetik dan mengirimkan pesan pada ibunya berisi Terimakasih dan seterusnya.
Setelah berterimakasih dan bertukar pesan sebentar, dia segara membuka aplikasi cicilan adika untuk melunasi cicilan motornya.
Sesudah melunasinya, suara mekanis Kembali muncul di benaknya.
[Ding! Misi pelunasan cicilan motor selesai]
[Selamat Tuan Rumah, sekarang fitur sistem sudah terbuka.]
[Hadiah: Paket Hadiah Pemula sudah masuk ke inventory sistem. Silahkan di cek]
Sebelum ia sempat bergembira, notif sistem masih lanjut terdengar.
[Ding! Karena Tuan Rumah sudah mengaktifkan sepenuhnya sistem, fitur pasif aktif.]
[Anda akan mendapatkan uang 1 juta perhari, dan akan di setorkan ke rekening Tuan Rumah tiap tengah malam.]
[Ding! Pertama kali mengaktifkan sistem, 1 juta pertama akan langsung di setorkan ke rekening Tuan Rumah dalam waktu 1x24 jam]
(Catatan: uang itu hasil sah setelah pajak, dan berasal dari sumber terpercaya. jadi Tuan Rumah bisa tenang.)
Rentetan notif sistem membuat Yuda sangat terkejut.
Dia membuka mulutnya lebar-lebar saking terkejutnya dengan kemurahan hati sistem.
Bab Berakhir.