NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 — RASYID MEMILIH DIAM

Perjalanan pulang dari gedung PT Nathan Karya menuju kompleks Pesantren Al-Faruqi terasa seperti melintasi lorong waktu yang sunyi dan menyiksa. Di sepanjang jalan, gerimis makin lebat membasahi kaca depan mobil Aurel. Wiper mobil berdecit teratur, memotong pandangannya yang buram bukan hanya oleh sisa air hujan, melainkan juga oleh air mata kekecewaan yang enggan berhenti menetas.

Pikiran Aurel berputar keras pada tatapan menghindar ayahnya. Sikap Hamdan Nathan yang menolak bicara jujur seolah mengonfirmasi ketakutan terbesarnya: bahwa seluruh hidupnya, termasuk pernikahannya dengan Rasyid, hanyalah komoditas pelunasan transaksi emosional masa lalu yang dirancang tanpa persetujuannya.

Ketika roda mobilnya berdecit berhenti di halaman samping kediaman Faruqi, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.

Aurel mematikan mesin mobil, menarik napas dalam-dalam untuk menata raut wajahnya, lalu melangkah keluar memegang tas bahunya. Langkah kakinya terasa berat saat menaiki tangga teras yang basah.

Saat Aurel membuka pintu kayu depan, suasana rumah tampak begitu tenang. Namun, ia tidak menemukan rumah itu kosong.

Di ruang keluarga lantai dasar, Rasyid sudah duduk di sana. Pria itu mengenakan baju koko katun warna abu-abu muda dan celana kain hitam. Ia duduk tegap di sofa, tidak sedang membaca kitab atau memeriksa lembar jawaban santri seperti biasanya. Jemarinya saling bertaut kaku di atas pangkuan, dan matanya lurus menatap pintu masuk—seolah ia memang telah berdiri menjaga waktu, menunggu kepulangan istrinya dari pertempuran emosi di luar sana.

Aurel menghentikan langkahnya di ambang ruang tengah. Rambutnya sedikit basah oleh titik-titik gerimis, dan matanya sembap memerah.

Mata mereka berdua saling mengunci di udara.

Rasyid berdiri perlahan. Tidak ada kemarahan di wajahnya, tidak ada pula sikap defensif. Yang terpancar dari raut wajah pria itu hanyalah ketenangan yang begitu jernih, bercampur dengan pendar empati yang amat dalam.

"Ayahmu tidak menjelaskan?" tanya Rasyid pelan. Suaranya rendah dan lembut, memecah keheningan ruangan.

Aurel menggelengkan kepalanya pelan. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan pahitnya kekecewaan.

"Enggak," jawab Aurel serak. Ia melangkah dua tindak mendekati meja tengah, melempar tasnya ke atas sofa. "Ayah cuma bilang kalau kalian udah kenal puluhan tahun dan pernah punya usaha bareng. Selebihnya... Ayah main rahasia-rahasiaan, sama persis kayak kamu."

Aurel menatap suaminya lurus-lurus, mencoba menembus ketenangan Rasyid yang selama ini selalu menjadi misteri baginya.

"Kamu tahu lebih banyak daripada aku, kan?" desak Aurel.

Rasyid tidak menyangkal. Pria itu tidak mencoba mengalihkan pembicaraan atau berpura-pura tidak paham. Ia menatap mata cokelat terang milik Aurel dengan kejujuran penuh.

"Ya," pukas Rasyid jujur. "Aku tahu."

"Kenapa kamu tidak memberitahuku?!" sergah Aurel, suaranya naik satu oktav. Emosi yang sempat ia tekan di dalam mobil mendadak membumbung kembali. "Kenapa dari awal kita nikah, dari malam pertama di kamar ini, kamu nggak pernah cerita kalau pernikahan kita ini lahir dari ikatan janji dua belas tahun lalu?! Kenapa kamu biarin aku kayak orang bodoh yang mikir perjodohan ini cuma ide impulsif Ayah?!"

Rasyid menarik napas panjang, membiarkan kemarahan Aurel bergema di dalam ruangan sebelum ia membalasnya dengan intonasi tenang yang amat terjaga.

"Karena aku tidak ingin rahasia keluargaku membuatmu semakin membenci pernikahan ini," ujar Rasyid mantap.

Aurel terdiam di tempatnya. Kata-kata itu menghantam dadanya dengan getaran yang tak terduga.

"Maksudmu apa?" bisik Aurel ragu.

Rasyid melangkah satu tindak lebih dekat, berdiri di seberang meja kecil di antara mereka.

"Waktu pertama kali Bah Abdul memberitahuku soal amanah janji perjodohan ini," tutur Rasyid dengan mata yang teduh, "aku tahu betul siapa kamu. Aku tahu kamu adalah perempuan kota yang mandiri, berpendidikan tinggi, berpikiran bebas, dan terbiasa menentukan jalan hidupmu sendiri. Aku tahu pernikahan terselubung amanah ini akan terasa seperti penjara bagimu."

Rasyid jeda sejenak, tatapannya tak teralihkan sedikit pun dari wajah Aurel.

"Jika sejak awal aku datang padamu membawa beban janji masa lalu orang tua kita, kamu tidak akan pernah melihat pernikahan ini sebagai sebuah ikatan suci, Aurel. Kamu hanya akan melihatnya sebagai beban utang yang dipaksakan di atas pundakmu. Dan aku... tidak ingin kamu makin membenci keadaaan ini."

Aurel meremas jemari tangannya sendiri. Kata-kata Rasyid masuk akal, namun ada satu hal mendasar yang masih menggerogoti rasa percayanya.

"Tapi tetap aja..." Aurel mendongak, matanya menatap Rasyid dengan pendar luka yang mendalam. "Artinya kamu nikahin aku cuma karena patuh sama amanah itu, kan? Kamu bertahan sama aku selama beberapa bulan ini cuma karena formalitas menjaga janji orang tua kita?"

Rasyid menatap Aurel dalam-dalam. Sebuah gelengan kepala yang amat perlahan meluncur darinya.

"Aku juga tidak menikahimu karena janji keluarga, Aurel," tegas Rasyid.

Aurel menahan napasnya. "Lalu?"

"Karena setelah bertemu denganmu, aku memilih untuk tetap menikah," jawab Rasyid tanpa ragu sedikit pun.

Jawaban itu terucap begitu jujur dan jernih hingga membuat Aurel terkejut di tempatnya membeku. Dadanya mendadak berdesir hebat.

"Maksudmu... gimana?" tanya Aurel pelan, kebingungan menguasai nadanya.

"Di hari pertama kita bertemu secara resmi sebelum akad," kenang Rasyid seraya tersenyum tipis yang amat hangat, "aku melihat seorang wanita yang jujur dengan kemarahannya. Kamu tidak berpura-pura menjadi santun hanya untuk menyenangkan orang tuamu. Kamu menatap mataku dan menunjukkan ketidaksukaanmu dengan berani."

Rasyid melangkah mengitari meja, berhenti hanya sejengkal di hadapan Aurel.

"Aku bisa saja menolak amanah Bah Abdul saat itu jika aku merasa kita tidak akan pernah sejalan," lanjut Rasyid. "Tetapi setelah mengenal karaktermu, setelah melihat betapa gigihnya kamu menjaga prinsip hidupmu... aku tidak lagi memikirkan janji dua belas tahun lalu itu. Aku membuat keputusan sendiri sebagai seorang pria: aku memilih untuk melanjutkan pernikahan ini bersamamu."

Aurel menatap suaminya dengan pandangan tak percaya. "Padahal kamu tahu aku seperti apa?"

"Aku tahu," jawab Rasyid tenang.

"Aku kekanak-kanakan, gengsian, nggak bisa masak, nggak ngerti agama setinggi kamu, dan suka membangkang!" sergah Aurel, menyebutkan seluruh kekurangan yang selama ini membuatnya merasa tidak cocok di lingkungan pesantren. "Dan kamu tetap mau?"

Rasyid mengulas senyum tipis—senyuman paling tulus dan menenangkan yang pernah Aurel lihat dari bibir pria itu.

"Aku tidak mencari perempuan sempurna, Aurel," bisik Rasyid halus.

Aurel tertegun, matanya berkaca-kaca menatap garis wajah tegap suaminya. "Lalu?"

"Seseorang yang mau belajar bersama," jawab Rasyid rendah. "Seseorang yang bersedia berjalan di sampingku, saling menguatkan saat salah satu ragu, dan tumbuh menjadi versi diri kita yang lebih baik di hadapan Allah."

Aurel tidak menjawab. Bibirnya terkunci rapat.

Entah mengapa, kalimat sederhana yang diucapkan Rasyid dengan ketenangan tanpa kepalsuan itu terasa jauh lebih berat, jauh lebih menghunjam ke dalam sanubari, daripada semua nasihat agama atau teguran keras yang pernah ia dengar dari ayahnya selama bertahun-tahun.

Di dalam ruangan yang hening itu, Aurel menyadari satu hal yang meruntuhkan sebagian dinding prasangkanya: Rasyid tidak pernah menjadikan rahasia atau janji masa lalu sebagai alat untuk mengendalikannya. Justru di balik diamnya pria itu, Rasyid selalu memberinya ruang untuk memilih dan bernapas.

Aurel menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan sekumpulan air mata yang baru menetes jatuh ke atas kain karpet, sementara Rasyid tetap berdiri di sampingnya dengan kesabaran yang tak bertepi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!