Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.
Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pasar Timur Kota Awan Merah biasanya sangat ramai oleh transaksi jual beli herbal. Namun pagi ini, suasana pasar terasa sangat mencekam dan dipenuhi ketegangan.
Puluhan penjaga berseragam lambang Keluarga Zhao berdiri mengelilingi lapak-lapak pedagang. Han Sen berjalan dengan angkuh menyusuri deretan pedagang yang menunduk ketakutan.
"Mulai hari ini, Keluarga Zhao memborong seluruh Rumput Darah dan Daun Pengumpul Qi di kota ini." pengumuman Han Sen menggema dengan keras.
"Siapa pun yang berani menjual dua jenis herbal itu kepada pihak luar akan berhadapan dengan pedang kami." ancamnya sambil tersenyum sinis.
Para pedagang hanya bisa menelan ludah dengan susah payah tanpa berani memprotes. Mereka tahu bahwa langkah ini adalah bentuk monopoli pasar yang sangat kotor dan semena-mena.
"Patriark Zhao Tian benar-benar jenius." batin Han Sen dengan perasaan puas. "Dengan memutus pasokan bahan dasar, anak bernama Yang Zhen itu tidak akan bisa meracik obat untuk kultivasinya."
Di sudut jalan yang tidak jauh dari pasar, tiga remaja sedang mengamati kejadian tersebut secara diam-diam. Wang Hao menggigit kukunya dengan wajah pucat dan keringat dingin sebesar biji jagung.
"Habislah kita, Zhen." bisik Wang Hao dengan nada putus asa. "Harga Rumput Darah sudah naik lima kali lipat dalam semalam."
"Jika terus begini, kita bahkan tidak akan mampu membeli sehelai daun pun untuk latihan bulan depan." keluhnya panjang lebar.
Su Lin yang berdiri di sebelah Yang Zhen mengerutkan keningnya melihat arogansi Keluarga Zhao. Gadis berambut hitam panjang itu menoleh ke arah Yang Zhen yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.
"Keluarga Zhao benar-benar menggunakan kekayaan mereka untuk menekanmu." ucap Su Lin dengan nada serius. "Aku bisa meminta ayahku untuk mengirimkan persediaan herbal keluarga Su kepadamu secara rahasia."
Yang Zhen tiba-tiba tertawa terbahak-bahak mendengar tawaran bantuan dari gadis jenius itu.
"Nona Su, apakah kau sedang mencoba menjadi pahlawan yang sedang mencoba menyelamatkan pangeran tampan ini?" goda Yang Zhen sambil mengedipkan sebelah matanya.
Wajah Su Lin seketika merona merah mendengar godaan yang sangat tidak tahu malu itu di tempat umum.
"Aku hanya tidak ingin melihat guru bela diriku mati konyol karena kekurangan nutrisi, hmmmp!" bantah Su Lin kesal sambil membuang muka.
"Hahaha, tenang saja cantik." Yang Zhen kembali melontarkan panggilan usil yang membuat Su Lin nyaris memukul dadanya.
"Keluarga Zhao bukannya sedang menekan kita, mereka justru sedang membagikan uang secara cuma-cuma kepadaku." ucap Yang Zhen dengan senyum menyeringai.
Wang Hao dan Su Lin saling berpandangan dengan tatapan penuh kebingungan. Mereka benar-benar tidak bisa mengikuti jalan pikiran pemuda yang selalu bersikap santai di tengah krisis ini.
"Ikuti aku ke Asosiasi Alkemis sekarang." ajak Yang Zhen sambil mulai berjalan santai menjauhi kerumunan pasar. "Kita akan membuat keajaiban hari ini."
Sesampainya di gedung megah Asosiasi Alkemis, Yang Zhen berjalan lurus menuju ruang kerja Presiden Gu di lantai dua. Ia sama sekali tidak mempedulikan tatapan membunuh dari Lu Feng yang berdiri di sudut lorong.
"Bocah tengik itu, beraninya dia bertingkah sombong setelah apa yang dilakukannya padaku kemarin." batin Lu Feng penuh dendam. "Tunggu saja sampai rencanaku dan Patriark Zhao menghancurkanmu perlahan."
Cklek.
Yang Zhen membuka pintu ruangan Presiden Gu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Presiden Gu yang sedang membaca gulungan perkamen langsung mendongak dan tersenyum ramah menyambut kedatangannya.
"Ah, Tuan Muda Yang Zhen, silakan duduk." sambut Presiden Gu sambil mempersilakan Yang Zhen duduk di kursi tamu.
Su Lin dan Wang Hao yang mengekor di belakang Yang Zhen merasa canggung dan hanya berdiri di dekat pintu masuk.
"Pak Tua, aku butuh bantuanmu untuk membeli sesuatu dalam jumlah yang sangat besar hari ini." ucap Yang Zhen tanpa basa-basi.
"Sesuatu apa itu, Tuan Muda?" tanya Presiden Gu penasaran. "Apakah Anda membutuhkan herbal langka untuk menembus kultivasi?"
"Tidak, aku ingin Asosiasi Alkemis memborong semua Rumput Akar Ungu yang ada di seluruh pelosok Kota Awan Merah." jawab Yang Zhen santai.
Presiden Gu tersentak kaget hingga menjatuhkan gulungan perkamen di tangannya. Bahkan Su Lin pun mengerutkan keningnya mendengar permintaan yang sangat tidak masuk akal itu.
"Rumput Akar Ungu?" ulang Presiden Gu dengan nada tidak percaya. "Tapi Tuan Muda, itu adalah tanaman gulma liar yang memiliki racun penekan Qi."
"Tidak ada alkemis waras yang menggunakan rumput itu karena harganya sangat murah dan merusak meridian." tambah Presiden Gu mencoba mengingatkan.
Yang Zhen tersenyum penuh teka-teki dan menyandarkan punggungnya di kursi dengan sangat nyaman.
"Kau memang seorang Alkemis Bintang Tiga, Pak Tua." puji Yang Zhen dengan nada yang terdengar seperti ejekan halus. "Tapi kau hanya membaca kulit luar dari buku resep peninggalan leluhurmu."
Presiden Gu tidak merasa tersinggung sedikit pun mendengar ucapan arogan itu. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke depan dengan mata berbinar penasaran.
Ia tahu pemuda di depannya ini memiliki pengetahuan dewa yang melampaui zaman saat ini.
"Tolong beri pencerahan pada lelaki tua yang bodoh ini, Tuan Muda." mohon Presiden Gu dengan sangat hormat.
Yang Zhen mengulurkan tangan kanannya ke atas meja kayu di antara mereka berdua.
"Keluarkan satu batang Rumput Akar Ungu dan letakkan di sini." perintah Yang Zhen singkat.
Presiden Gu buru-buru mengambil sebatang rumput berwarna ungu gelap dari laci penyimpanannya dan meletakkannya di atas meja. Rumput itu mengeluarkan bau anyir yang sedikit menyengat hidung.
Yang Zhen memusatkan pikirannya dan memanggil kekuatan elemen air dari dalam Dantiannya.
Syuut.
Lapisan air yang sangat tipis dan jernih membungkus Rumput Akar Ungu tersebut secara perlahan. Yang Zhen menekan jarinya ke bawah dan memaksa racun hitam keluar dari dalam serat-serat rumput itu.
Tetesan cairan hitam berbau busuk merembes keluar dan langsung menguap di udara akibat tekanan Qi. Hanya dalam hitungan detik, Rumput Akar Ungu yang tadinya kotor kini berubah menjadi tanaman kristal yang memancarkan aura menyegarkan.
Aroma wangi yang sangat murni seketika memenuhi seluruh penjuru ruangan.
"Ini mustahil..." gumam Presiden Gu dengan suara gemetar menahan takjub.
"Rumput Akar Ungu memang beracun jika diekstrak menggunakan panas api secara langsung." jelas Yang Zhen dengan nada santai seperti guru yang mengajari murid TK.
"Tapi jika racunnya dinetralisir menggunakan embun elemen air sebelum dipanaskan, rumput ini berubah menjadi bahan utama Pil Pengumpul Qi yang efeknya seratus kali lebih kuat dari Rumput Darah." sambung Yang Zhen.
Mata Presiden Gu terbelalak lebar hingga nyaris copot dari kelopaknya karena takjub. Su Lin yang sedari tadi diam ikut terkejut melihat transformasi benda mati yang sangat luar biasa itu.
"Pengetahuannya tentang elemen dan herbal benar-benar berada di luar jangkauan logika manusia biasa." batin Su Lin penuh kekaguman. "Siapa sebenarnya orang ini?"
Wang Hao hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ia sama sekali tidak paham tentang teori alkimia yang rumit.
"Pak Tua, keluarga Zhao sedang membakar uang mereka untuk memborong Rumput Darah yang harganya selangit." ucap Yang Zhen memecah keheningan. "Aku ingin kau menyuruh orang-orangmu memborong semua Rumput Akar Ungu yang harganya setara dengan kotoran kuda itu sekarang juga."
"Kita akan meracik Pil Pengumpul Qi versi baru dan menjualnya dengan harga sedikit di bawah harga pasar Rumput Darah yang sudah dinaikkan itu." lanjut Yang Zhen dengan senyum rubahnya yang khas.
Presiden Gu langsung memahami maksud dari rencana bisnis yang sangat jenius dan mematikan ini. Ia menepuk pahanya sendiri dengan sangat keras.
"Dengan begitu, tidak ada satu pun kultivator di kota ini yang sudi membeli herbal murahan dari Keluarga Zhao." Presiden Gu menyambung kalimat Yang Zhen dengan penuh semangat.
"Benar sekali." Yang Zhen menjentikkan jarinya ke udara. "Keluarga Zhao akan menumpuk rumput busuk di gudang mereka sementara kita berenang di atas lautan uang emas."
Presiden Gu tertawa terbahak-bahak, merasa sangat beruntung bisa berada di pihak pemuda ajaib ini. Ia telah membayangkan kehancuran ekonomi keluarga bangsawan yang selalu meremehkan asosiasinya.
"Saya akan mengerahkan seluruh agen asosiasi sekarang juga untuk menyapu bersih pasar, Tuan Muda!" seru Presiden Gu sambil berdiri dari kursinya.
Yang Zhen ikut berdiri dan menepuk bahu Wang Hao yang masih kebingungan mencerna percakapan tadi.
"Bersiaplah menjadi orang kaya baru, Hao." ucap Yang Zhen sambil mengedipkan mata pada sahabatnya.
Wang Hao tidak tahu bagaimana prosesnya, tapi mendengar kata kaya membuat senyum lebarnya langsung merekah dari telinga ke telinga.
"Dan kau, Nona Su." Yang Zhen menoleh ke arah gadis berwajah dingin itu. "Setelah kita mendapatkan banyak uang, bersiaplah untuk ikut denganku ke suatu tempat yang sangat berbahaya."
Su Lin menatap mata Yang Zhen dengan pandangan menantang yang tidak mau kalah.
"Ke mana pun kau pergi, aku tidak akan pernah menjadi beban bagimu." jawab Su Lin dengan nada angkuh yang sengaja dibuat-buat.
"Kita lihat saja nanti." Yang Zhen tersenyum tipis dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Bidak catur emas telah digerakkan ke tengah papan. Patriark Zhao Tian sebentar lagi akan menyadari betapa bodohnya strategi monopoli yang sedang ia banggakan itu.