NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Tap tap tap.

Langkah kaki Bayu dan Anya terdengar pelan menyusuri gang sempit menuju rumah tua itu.

Matahari siang terasa cukup menyengat menembus dedaunan pohon mangga di pinggir jalan.

"Kamu yakin tidak mau istirahat dulu di kasur, Bayu?" tanya Anya sambil memegang gagang payungnya.

"Tubuhmu baru saja pulih dari syok energi yang tidak masuk akal di halaman semalam."

Bayu menggelengkan kepalanya pelan lalu merogoh kunci rumah dari saku celananya.

"Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan lagi sekarang, Nona Detektif," jawab Bayu sambil tersenyum tipis.

"Semakin cepat kita menemukan petunjuk peninggalan ayahku, semakin cepat juga urusan ini selesai."

Kriet.

Pintu kayu usang itu terbuka menampilkan ruang tamu yang masih berantakan sisa kejadian semalam.

Bayu melangkah masuk dan langsung menyalakan lampu ruang tengah yang agak redup.

"Baiklah, mari kita mulai pencarian harta karunnya," ucap Anya dengan nada bersemangat yang sengaja dibuat-buat.

Gadis berkacamata itu meletakkan tasnya di atas meja dan mulai memeriksa tumpukan koran lama.

Bayu berjalan menuju lemari kayu besar peninggalan kakeknya yang berada di sudut ruangan.

Ia membuka laci bagian bawah yang berbau kapur barus cukup menyengat.

Srek srek.

Suara tumpukan kertas yang digeser terdengar memenuhi ruangan yang sunyi itu.

"Apa kamu yakin ayahmu menyembunyikan sesuatu yang penting di rumah sejelek ini?" tanya Anya dari arah sofa.

"Bukankah orang dewasa biasanya menyimpan barang berharga di brankas bank yang aman?"

Bayu menghentikan gerakannya sejenak lalu menatap foto keluarganya yang terpajang di dinding.

"Ayahku bukan orang kantoran yang suka pergi ke bank, Anya," jawab Bayu dengan nada sedikit sendu.

"Dia lebih percaya pada tempat persembunyian buatannya sendiri daripada sistem keamanan modern buatan pemerintah."

Bayu mendekati dinding dan menurunkan bingkai foto kayu yang sudah berdebu tebal itu.

Ia membalik bingkai tersebut dan memperhatikan bagian penutup belakangnya yang terbuat dari tripleks tipis.

"Ada yang aneh dengan paku kecil di sudut bingkai ini," gumam Bayu sambil meraba permukaannya.

"Paku yang sebelah sini terlihat lebih baru dan bersih dibandingkan tiga sudut lainnya."

Bayu segera mengambil obeng pipih dari laci meja dan mencongkel paku tersebut secara perlahan.

Trak.

Tripleks penutup itu terbuka dan menjatuhkan sebuah amplop cokelat kecil ke atas lantai ubin.

Anya langsung berlari menghampiri Bayu dengan mata berbinar penuh rasa penasaran.

"Wah, instingmu lumayan tajam juga untuk ukuran pemuda pengangguran, Bayu," puji Anya sambil memungut amplop itu.

"Biar aku saja yang membukanya, tanganmu masih gemetar begitu menahan sakit."

Bayu hanya diam membiarkan gadis itu merobek ujung amplop cokelat dengan sangat hati-hati.

Dari dalam amplop, Anya mengeluarkan sebuah kunci loker stasiun kereta api tua dan selembar nota usang.

"Ini kunci loker Stasiun Kota Barat bernomor 404," baca Anya dari tulisan yang terukir di besi kunci tersebut.

"Dan nota ini berisi alamat sebuah gudang tua di pinggiran distrik industri utara."

Bayu mengambil nota itu dan membaca nama PT Kobra Mandiri yang tercetak sangat samar di bagian kop atasnya.

"Gudang ini pasti markas rahasia atau tempat penyimpanan dokumen asli milik geng Leo," tebak Bayu dengan penuh keyakinan.

"Ayahku pasti sedang menyelidiki tempat ini secara diam-diam sebelum kecelakaan di jalan tol itu terjadi."

Kruyuk.

Suara perut Bayu kembali berbunyi memecah suasana tegang yang baru saja terbangun di ruangan itu.

Anya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya melihat wajah Bayu yang langsung memerah menahan malu.

"Penyelidikan kita tunda dulu sampai perut manjamu itu berhenti bernyanyi," goda Anya sambil berjalan menuju area dapur.

"Untung aku tadi sempat mampir beli telur ayam LunaraMode kesukaanku sebelum menjemputmu di puskesmas."

"Aku akan merebusnya sebentar, nutrisi telur ini sangat bagus untuk memulihkan ototmu yang masih kaku."

Bayu duduk di kursi kayu sambil menghela napas pasrah melihat kelakuan teman barunya yang sangat santai ini.

"Terserah kamu saja, asalkan cepat matang dan bisa dimakan aku tidak akan banyak protes," jawab Bayu mengalah.

Sambil menunggu Anya merebus telur di dapur, Bayu memusatkan pikirannya sejenak untuk memanggil sistem.

"Tampilkan status." batin Bayu.

[Sistem Batu Waktu aktif.]

[Energi Waktu: 3/10]

[Proses pemulihan berjalan normal. Pengguna disarankan menghindari pertarungan skala besar hari ini.]

"Energinya pulih sangat lambat, hanya bertambah satu poin sejak dari rumah sakit tadi pagi," batin Bayu menganalisis di dalam kepalanya.

"Aku harus sangat menghemat penggunaannya jika nanti kita terpaksa menyusup ke gudang geng Cobra."

Wusss.

Tiba-tiba embusan angin yang sangat dingin berhembus kencang masuk dari celah jendela depan yang terbuka.

Bulu kuduk Bayu seketika meremang merasakan firasat buruk yang mendadak muncul mencengkeram tengkuknya.

Tlap.

Sebuah pisau belati lempar melesat tajam dari luar jendela dan menancap keras di dinding kayu tepat di sebelah kepala Bayu.

Bayu terlonjak kaget dari kursinya hingga jatuh terduduk di lantai dengan napas yang memburu cepat.

Pisau belati hitam legam itu menancapkan secarik kertas putih bernoda merah ke dinding.

"Bayu, ada suara gebrakan apa itu di depan?" teriak Anya dari arah dapur sambil membawa mangkuk berisi telur rebus.

Langkah gadis itu terhenti mendadak saat melihat Bayu duduk di lantai dan sebuah senjata tajam menancap di dinding rumah.

"Jangan mendekat ke arah jendela, Anya." peringat Bayu dengan suara pelan namun sangat tegas menyuruhnya sembunyi.

Bayu merangkak perlahan merapat ke dinding dan mencabut belati tersebut dengan susah payah.

Ia membuka lipatan kertas yang tertusuk di ujung pisau dan membaca pesannya dengan mata menyipit.

"Waktumu sudah habis, bersiaplah menyusul orang tuamu malam ini. Tertanda, Sang Penghapus Jejak."

Bayu membacakan isi surat ancaman itu dengan suara bergetar menahan amarah yang kembali mendidih.

"Sang Penghapus Jejak? Siapa lagi orang gila yang memakai nama sandi kampungan seperti itu?" komentar Anya bingung sekaligus cemas.

Anya meletakkan mangkuk di atas meja dan merunduk mendekat ke arah Bayu dengan raut wajah tegang.

"Sistem kemarin sempat memberi tahu tentang keberadaan relik lain selain milikku," gumam Bayu pelan teringat pada notifikasi di rumah sakit.

"Aku yakin orang yang melempar pisau ini dari jarak jauh bukanlah anak buah Leo yang lamban dan bodoh."

Bayu mengintip tajam keluar jendela yang hanya menampilkan jalanan gang kampung yang sangat sepi.

"Dia pasti pengguna relik kuno lain yang disewa secara khusus oleh bos besar PT Kobra Mandiri untuk membunuhku."

[Peringatan: Resonansi relik tidak dikenal terdeteksi memudar di radius lima ratus meter.]

[Kategori energi: Manipulasi Spasial Tingkat Lanjut.]

Layar biru sistem muncul memberikan konfirmasi yang membuat dada Bayu terasa sesak membayangkan kekuatan musuhnya.

"Manipulasi spasial, pantas saja pisau ini bisa menembus masuk tanpa ada suara langkah kaki di luar," batin Bayu menyimpulkan taktik musuh.

Anya memperhatikan perubahan raut wajah Bayu yang menjadi jauh lebih pucat dari sebelumnya.

"Apa rencanamu sekarang, Bayu? Kita tidak mungkin diam saja menunggu pembunuh bayaran itu datang ke sini nanti malam," kata Anya mendesak.

Bayu menghela napas panjang menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu liar memikirkan bahaya ini.

"Kita yang akan bergerak lebih dulu ke alamat gudang industri itu sekarang juga," putus Bayu dengan nada berani dan final.

"Lebih baik kita menyerang sarang mereka duluan daripada pasrah menunggu dibantai di rumah yang tidak aman ini."

Bayu mengambil satu butir telur ayam rebus dari mangkuk dan mengupas kulitnya dengan gerakan cepat.

Ia memakan telur itu dalam dua gigitan besar untuk segera mengisi perutnya yang kosong.

"Ayo cepat berkemas, Nona Detektif. Hari ini kita akan masuk ke dalam kandang ular berbisa yang sebenarnya," ajak Bayu berdiri.

Anya mengangguk mantap tanpa menunjukkan raut ketakutan sedikit pun di wajahnya.

"Itu baru semangat yang aku suka, mari kita tunjukkan pada mereka letak kekuatan ilmu pengetahuan dan deduksi," balas Anya bersemangat.

Bayu mengamankan kunci loker dan nota alamat usang itu ke dalam saku dalam jaket tebalnya.

Ia juga menyelipkan pisau belati lempar tadi ke balik sabuk celananya untuk berjaga-jaga jika terjadi pertarungan jarak dekat.

Mereka berdua berjalan keluar dari rumah tua itu dan mengunci pintu kayunya rapat-rapat.

Matahari siang terasa semakin terik menyengat, seolah menantang langkah berani mereka menuju marabahaya.

Perjalanan menuju kawasan industri di pinggiran kota memakan waktu hampir dua jam menggunakan bus angkutan umum.

Sepanjang perjalanan yang terguncang-guncang, Bayu tidak banyak bicara dan hanya menatap kosong ke luar jendela kaca bus.

Pikirannya terus berputar keras memikirkan cara mengalahkan musuh yang bisa memanipulasi ruang dengan sisa energi yang sangat minim ini.

"Manipulasi waktu lambat melawan manipulasi ruang instan, ini benar-benar tidak masuk akal," batin Bayu merasa sedikit pesimis.

Bus angkutan itu perlahan berhenti di halte tua yang penuh coretan vandalisme.

Tempat itu berada tepat di depan gerbang kawasan industri terbengkalai yang sangat kotor.

Ciiit. Suara rem angin bus terdengar nyaring saat pintu besi terbuka mempersilakan mereka berdua turun.

"Kita sudah sampai di zona perang, Bayu," bisik Anya sambil merapatkan jaketnya dari hembusan angin debu pabrik.

Bayu mengangguk pelan dan mulai melangkahkan kakinya perlahan memasuki kawasan gudang yang terlihat suram dan menakutkan itu.

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!