Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Mami Renata menyambut besan dengan hangat di kediaman megah miliknya. Dua wanita itu pun saling memperkenalkan diri. Mami Renata dan Ibu Mega rupanya sama-sama berasal dari Yogyakarta. Hanya bedanya mami Renata mengikuti suaminya tinggal di Jakarta.
Kecuali Langit, pria itu hanya tersenyum kepada ibu Mega tapi terkesan dipaksakan. Dingin kepada Bintang dan Bulan.
Melihat hal itu kecanggungan di wajah Mega semakin terlihat. Kakak Bulan jelas tidak menyukai Bintang.
Semua itu terbaca oleh Bulan, lalu izin kepada Bintang jika malam ini akan menginap di rumah ini dan berbicara kepada kakaknya.
"Aku juga ikut menginap ya," Bintang pun ingin berbicara kepada Langit secara baik-baik.
"Jangan sekarang," Bulan menolak tegas, minta Bintang untuk bersabar karena Langit biasanya tidak semudah itu luluh. Bulan sendiri yang akan berbicara pelan-pelan.
"Silakan duduk, Jeng," pinta Renata, menghentikan perdebatan Bintang dan Bulan.
"Terima kasih..." Mega pun akhirnya duduk, tapi merasa ciut berhadapan dengan Renata. Tidak lama kemudian, minuman dan kudapan diletakkan oleh bibi di atas meja.
Denting halus cangkir porselen yang bersentuhan dengan tatakannya menambah susana ramai. Namun, Ibu Mega yang duduk di tepi sofa beludru, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan untuk menyembunyikan getar canggung yang tidak bisa ia bendung.
Di hadapannya, Mami Renata duduk anggun dengan gestur yang tetap lugas dan penuh wibawa sebagai seorang rektor. Selama mengajak bicara kesopanan tetap terjaga, menerimanya dengan baik meski status Bintang yang sudah mempunyai istri selain Rembulan. Itulah yang membuat tembok sungkan yang teramat tebal di dada Ibu Mega.
Sebagai seorang ibu, ada rasa tidak percaya diri yang teramat sangat. Tetapi juga rasa bersyukur karena Bintang mempunyai mertua dan istri yang luar biasa seperti Renata dan Bulan, membuat hati Mega yang awalnya minta Bintang untuk bercerai seolah luruh. Berganti dengan doa. Semoga rumah tangga Bintang dan Bulan pun langgeng.
"Jeng Renata... kedatangan saya kesini selain menyambung silaturahmi juga ingin meminta maaf, karena kehadiran Bintang dalam hidup Bulan justru membawa rumit. Kami sadar betul posisi Bintang sudah punya istri, dan kami tahu diri. Semua keputusan saya serahkan kepada Jeng Renata."
Mami Renata kaget lalu meletakkan cangkir tehnya. Ia memperhatikan sosok wanita di hadapannya, seorang ibu yang jujur, tulus, dan dengan lapang dada menurunkan harga dirinya demi sang anak. Mami Renata menghela napas halus.
"Ibu Mega, tolong jangan berkata seperti itu," ucap mami Renata dengan nada lembut tapi tegas.
"Sebagai orang tua, saya hanya bisa mendukung anak-anak. Bulan dan Bintang sudah sama-sama dewasa, mereka sudah memilih jalan ini, jika ada masalah biar mereka juga yang menyelesaikan sendiri," mami Renata menatap Bintang dan Bulan bergantian, urusan rumah tangga anak-anaknya ia tidak akan ikut campur.
Ibu Mega mendongak, netranya berkaca-kaca menatap ketulusan di mata Mami Renata. Senyum tipis akhirnya terukir di bibirnya, perlahan mengikis rasa canggung yang semula menghimpit dadanya.
Di kursi yang lain, Langit hanya membisu, hatinya masih tidak ikhlas adiknya menjadi istri kedua. Saat makan malam berlangsung pun, Langit tidak bergabung memilih menyendiri di kamar. Bukan tidak sopan, tapi hatinya seolah malas berdamai dengan Bintang.
Jam 8 malam saat semua pulang, Bulan tidak ikut hanya mengantar sampai halaman.
"Mama nginep di rumah Mbah Putri ya?" Tanya Talita, sebenarnya ia ingin ikut mama Bulan, tapi hatinya mulai bingung menentukan antara Bulan dan bunda Mentari
"Iya, sayang... sampai besok ya..." Bulan mencium pipi Talita.
"Besok pagi aku jemput ya, Bull," ucap Bintang, di dalam tadi mereka sepakat ingin melihat rumah yang baru Bintang beli. Lagi pula kendaraan Bulan ia tinggal di rumah Bintang.
Bulan hanya mengangguk memandangi mereka hingga kendaraan menjauh dari halaman. Lalu balik ke dalam ingin segera menemui Langit.
"Aku ke kamar Mas Langit dulu ya, Mih," pamit Bulan sambil menghabiskan minuman.
"Iya, Mas kamu itu kalau sudah marah, heh! Mami bingung ngadepinnya," Mami geleng-geleng kepala, sebenarnya malu kepada Mega karena Langit angkuh seperti tadi.
"Aku mau coba bicara sama Dia, Mih," pungkas Bulan memberanikan diri mengetuk kamar Langit. Namun, karena tidak ada jawaban, ia masuk. Sepi di dalam kamar, bahkan tempat tidur pun masih rapi. Bulan tahu di mana Langit biasa menyendiri, lalu membuka pintu balkon.
"Bagaimana kabar keponakan aku, Mas?" Tanya Bulan, tapi tidak ada jawaban.
"Seharusnya Mbak Arumi dan anak-anak diajak kemari, aku kan kangen," lanjut Bulan. Lagi-lagi, Langit tanpa bergerak dari posisinya yang berdiri membelakanginya, menatap gelapnya malam dengan bahu kaku dan rahang mengatup rapat.
Bulan melangkah lalu berdiri di samping kakaknya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meraih jemari Langit yang menatap kosong ke arah kebun yang gelap. Langit sempat ingin menarik tangannya, tapi Bulan menahan lebih erat.
"Jangan begitu dong Mas, masa seorang dokter memukul orang sampai bonyok begitu," Sindir Bulan, Langit ternyata juga seorang dokter dan bertugas di Yogyakarta.
"Kamu membela pria hidung belang itu?!" Dengus Langit menoleh adiknya dengan tatapan dingin.
"Bukankah Mas Langit pernah menasehati adikmu ini? Dokter itu bukan hanya mengobati luka luar, tapi juga luka batin. Mas Langit lupa ya? Lagian, Bintang bukan pria hidung belang."
"Bela saja terus!" Langit memotong tajam, lalu menyentak kakinya masuk ke kamar. Bulan mengejar, tapi langkah Langit yang panjang itu sudah tidak terlihat di sana.
Malam itu, Bulan masuk ke kamar sendiri, ia masih memikirkan sang kakak. Segitu kecewanya Langit, Bulan meremas rambutnya sendiri, pernikahan ini bukan hanya menyakiti perasaannya tapi juga banyak orang.
Saat pagi hari, Bulan menemui sang kakak yang duduk di teras rumah, jemarinya sibuk mengetik keyboard handphone entah menulis apa.
"Sampai kapan Mas mau diamin Bulan seperti ini? Tolong, dengar adikmu sebentar saja," Bulan duduk di sebelah Langit.
Langit masih bergeming, menatap lurus ke layar hp tanpa niat menoleh.
"Bulan tahu Mas kecewa, karena keputusan aku yang salah," kata Bulan dengan mata berkaca-kaca. "Tapi sejak kecil, siapa yang selalu pegang tangan Bulan saat Bulan takut? Siapa yang selalu berdiri paling depan waktu Bulan jatuh? Mas Langit. Bukan orang lain," Bulan menggenggam tangan kakaknya.
Air mata Bulan akhirnya menetes, membasahi punggung tangan Langit.
"Bulan tidak pernah berniat merusak hidup Bulan sendiri kok Mas, apalagi buat keluarga malu dan kecewa. Tapi Bulan cuma butuh restu dan perlindungan dari kakak kandung Bulan sendiri. Kalau Mas Langit ikut membuang Bulan, terus ke mana lagi Bulan harus mengadu?"
Isakan kecil Bulan dan kehangatan air matanya yang jatuh di kulit Langit perlahan merobohkan dinding pertahanan sang kakak. Langit menghela napas panjang dan berat, sebelum akhirnya menoleh dan menatap adiknya. Bulan sudah sangat tertekan, alangkah sadisnya jika ia menambah lagi. Langit mengangkat tangannya hendak mengusap pundak Bulan, tapi menurunkan kembali saat mobil masuk ke halaman.
...~Bersambung~...
sebentar lagi kamu pasti mendekam di penjara rasain
aduhhh entahlah hy emak yg tau