Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama Menuju Lembaran Baru
Pintu kaca Pengadilan Agama bergeser terbuka, menyambut Amanda dan Arya dengan terpaan angin siang yang berhembus hangat. Langkah kaki Amanda terasa jauh lebih ringan dari biasanya, seolah beban seberat tonase gunung yang menindih pundaknya bertahun-tahun melayang terbang begitu saja.
Di area parkir yang mulai tenang, Arya berhenti melangkah. Ia berbalik, menatap wanita di hadapannya dengan pendar mata yang begitu teduh dan dipenuhi rasa lega yang tak kalah besarnya.
"Kamu sudah lega?" tanya Arya lembut, menyelipkan kedua tangannya di saku celana bahan resminya.
Amanda menghentikan langkahnya, menyapu pandangannya ke arah langit biru cerah yang membentang luas di atas kota. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara kebebasan yang telah lama tak ia rasakan, lalu menghembuskannya perlahan.
Sebuah senyuman paling tulus dan paling cerah terukir di wajahnya.
"Sangat lega, Arya," jawab Amanda mantap. Suaranya jernih, tanpa ada lagi getaran keraguan atau kesedihan. "Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir... aku merasa benar-benar bernapas."
Arya terkekeh pelan, rasa bangga membuncah di dadanya melihat ketegaran Amanda yang kembali utuh. "Sikapmu di dalam tadi benar-benar luar biasa. Kamu menutup lembaran itu dengan sangat elegan."
Amanda menatap Arya dengan pendar mata yang dipenuhi rasa terima kasih yang tak terhingga. "Semua ini berkat kamu dan Ibu, Arya. Kalau bukan karena kalian yang memegang tanganku saat aku hancur, aku tidak akan pernah berdiri setegar ini hari ini."
"Kita lakukan ini sama-sama, Amanda," bisik Arya hangat. Pria itu membukakan pintu mobil untuk Amanda dengan gestur hormat yang selalu berhasil membuat hati Amanda tersentuh. "Nah, sekarang... bagaimana kalau kita rayakan kebebasanmu dan kemenangan pertama kita ini?"
Mobil hitam milik Arya melaju perlahan menyusuri jalanan kota. Di dalam kabin yang tenang, suasana terasa jauh lebih santai. Amanda menyandarkan punggungnya di jok mobil, menatap keluar jendela dengan tatapan penuh kepastian.
"Pertama-tama, aku ingin mengurus penjualan rumah itu agar bebanku semakin ringan," tutur Amanda, memecah keheningan di dalam mobil. Ia lalu menoleh ke arah Arya yang fokus menyetir. "Kamu punya teman yang ingin membeli rumah?"
Arya mengangguk pelan, matanya tetap memperhatikan jalanan di depan namun senyum tipis terukir di bibirnya.
"Kebetulan sekali," jawab Arya tenang. "Ada kawan lama dari zaman kuliah yang sekarang bekerja sebagai agen properti independen, dan beberapa klien bisnisku juga sedang mencari unit rumah di daerah situ. Lokasi rumah itu sangat strategis, jadi aku yakin tidak akan butuh waktu lama untuk menemukan pembeli yang cocok."
Amanda menghela napas lega. "Terima kasih banyak, Arya. Aku tidak mau mematok harga yang aneh-aneh, yang penting prosesnya cepat dan bersih, supaya aku bisa benar-benar memutus semua ikatan dengan masa lalu itu."
"Tenang saja, biarkan aku yang mengurus penilai harga pasarannya besok," tanggap Arya penuh kepastian. "Nanti kawan propertiku yang akan menangani pemasaran dan urusan administrasinya. Kamu cukup fokus menata pikiran dan menyiapkan langkah selanjutnya."
"Lalu... setelah rumah itu terjual, apa rencana pertamamu, Amanda?" tanya Arya penasaran, melirik sekilas ke arahnya.
Amanda tersenyum manis, sebuah senyuman jernih yang memancarkan harapan baru. "Membeli rumah kecil yang hangat untuk diriku sendiri, dan mungkin... mulai membuka usaha impianku yang dulu sempat tertunda."