Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Hari Untukmu
Piring kami sudah kosong.
Aku masih memandangi meja. Tak menyangka telur tahu goreng dan sambal ulek buatanku bisa habis secepat itu di tangan CEO yang biasa sarapan di hotel bintang lima.
"Isyana."
Aku mendongak. Brayen sudah berdiri, membereskan piringnya sendiri ke wastafel. Sikap yang tidak pernah aku bayangkan dari seorang Brayen Lucian Alkantara.
"Kamu mandi dan bersiap-siap ya," katanya sambil mencuci tangan. Punggungnya yang bidang itu terlihat begitu gagah bahkan hanya dengan kaos hitam polos.
Aku bingung. "Bersiap kemana, Mas?"
Dia menoleh, tersenyum tipis. Senyum yang pagi ini sudah dua kali ia berikan padaku.
"Aku bawa kamu ke suatu tempat," jawabnya. "Kebetulan aku kosongkan jadwal 3 hari ke depan."
_Deg!_
Jantungku langsung berdegup tidak karuan.
Tiga hari? Dikosongkan?
Untuk aku?
"Benarkah dia ingin mengenal ku lebih dalam lagi?" batinku berbisik. Pertanyaan itu melintas begitu saja.
Rasa apa ini? Mengapa tiba-tiba hangat dan nyaman sekali hati ku? Bahagia seketika menyebar dari dada sampai ujung jari. Padahal ini pernikahan kontrak. Satu tahun. Seharusnya tidak boleh ada rasa.
Tapi mengapa dadaku sesak bukan karena asma, melainkan karena debar?
"Aku tunggu di ruang tengah. Pakai baju yang nyaman ya, Nyonya Alkantara," katanya lagi sebelum ia naik ke atas.
Nyonya Alkantara lagi. Panggilan itu membuat kakiku lemas.
Aku berlari kecil ke walk-in closet. Aku memilih dress terusan putih gading berlengan pendek dengan rok mengembang sampai lutut. Sederhana, nyaman, dan masih ada labelnya. Aku mengikat rambut panjangku menjadi kuncir kuda rendah. Wajahku tanpa make up, hanya lip balm.
Saat aku turun, Brayen sudah menunggu. Ia sudah berganti dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, celana jeans hitam, dan sepatu sneakers putih. Tidak ada jas mahal. Tidak ada jam seharga rumah. Dia terlihat seperti mahasiswa akhir, bukan CEO.
Dia menatapku dari bawah sampai atas. Matanya berhenti lama di wajahku.
"Cantik," katanya pelan, jujur. Satu kata itu saja membuat seluruh wajahku panas seperti kepiting rebus.
Mobil sport hitamnya melaju meninggalkan area SCBD yang dingin, menuju ke pinggiran Jakarta. Aku kira kami akan ke restoran mahal atau galeri seni.
Ternyata...
"Mas... ini... taman bermain?" tanyaku tak percaya saat gerbang besar dengan tulisan warna-warni menyambut kami.
Taman bermain keluarga. Bukan wahana mewah. Ada balon, ada es krim, ada suara anak-anak tertawa. Aroma popcorn dan kebahagiaan.
Brayen mematikan mesin. Ia menatapku.
"Aneh ya? CEO ngajak istrinya ke taman bermain?" tanyanya, seolah bisa membaca pikiranku.
Aku menggeleng cepat. "Enggak! Aku... aku suka! Aku belum pernah kesini sejak SD!"
Itu jujur. Dulu ibu tidak punya uang untuk tiket masuk.
Brayen tersenyum puas. "Bagus. Hari ini kamu harus coba semua yang kamu mau. Anggap aja kita bolos dari dunia."
Kami masuk. Tidak ada yang mengenali Brayen tanpa jas nya. Kami hanya pasangan biasa.
Tanganku tanpa sadar ia genggam agar tidak terpisah di kerumunan. Tangan besarnya yang hangat menggenggam tanganku yang kecil dengan erat. Aku tidak menolak. Aku justru menggenggam balik.
Wahana pertama: komidi putar. Aku tertawa seperti anak kecil. Brayen merekamku dengan HP nya. Katanya untuk arsip pribadi.
Lalu wahana itu terlihat. Tinggi, meliuk, suara jeritannya terdengar sampai bawah.
Rolling coaster.
Kakiku langsung gemetar.
"Mas, aku... aku takut ketinggian," bisikku lirih, menarik ujung baju Brayen.
Brayen menatap roller coaster itu, lalu menatapku.
"Ada aku," katanya pelan. Hanya dua kata. "Kalau takut, pegang aku yang erat. Jangan pegang besi nya."
Aku mengangguk. Entah kenapa, dua kata itu lebih menenangkan dari janji apapun.
Petugas mempersilakan kami duduk. Aku di sisi dalam, Brayen di sisi luar. Sabuk pengaman terkunci.
Saat kereta mulai bergerak naik pelan, jantungku mulai berdegup kencang. Semakin tinggi, pemandangan Jakarta terlihat. Tanganku yang dingin langsung mencari tangan Brayen.
Aku menggenggamnya erat. Sangat erat.
Brayen membalas genggamanku. Jari-jarinya yang panjang mengunci jari-jariku. Ia menoleh, berbisik di telingaku di tengah angin.
"Tarik nafas, Isyana. Lihat aku aja."
Aku menoleh. Wajahnya begitu dekat. Mata tajamnya menatapku dalam.
Lalu... kereta terjun bebas!
"AAAAAA!!!" Aku menjerit sekeras-kerasnya. Bukan karena takut lagi, tapi karena adrenalin. Aku memejamkan mata dan menggenggam tangan Brayen seperti nyawa taruhannya. Aku bisa merasakan tawa Brayen yang lepas di sampingku. Tawa pertama yang benar-benar lepas tanpa beban yang pernah aku dengar darinya.
Turun, naik, berputar. Dunia berjungkir balik. Tapi tangan itu tidak pernah lepas.
Saat kereta berhenti, kakiku masih gemetar. Aku tertawa dan hampir menangis bersamaan.
"Gimana?" tanya Brayen, nafasnya juga sedikit terengah.
"Gila! Mau lagi!" kataku tanpa sadar.
Brayen tertawa terbahak. "Dasar Nyonya Alkantara tukang bohong, tadi katanya takut!"
Kami turun. Aku masih sempoyongan karena pusing. Taman bermain ini ramai. Anak-anak berlarian dengan balon.
Aku melihat wahana rumah kaca dan taman bunga di ujung sana. Aku berlari kecil kegirangan ke arah sana, ingin melihat bunganya.
"Mas! Lihat! Bunganya cantik banget! Kayak di drakor!"
Aku berlari terlalu semangat. Lantai setelah hujan pagi tadi agak licin. Sandalku yang baru selip.
"Isyana awas!"
Tubuhku oleng ke belakang. Aku hampir jatuh.
Dalam sepersekian detik, sebuah lengan yang kuat melingkar di pinggangku. Reflek.
Brayen menangkapku.
Aku jatuh... tepat di pelukannya.
Waktu seolah berhenti.
Wajahku mendongak, wajahnya menunduk. Jarak kami hanya beberapa senti. Napas kami memburu bersamaan, masih sisa dari roller coaster tadi. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang kencang di dada bidangnya yang menempel di dadaku.
Tangannya masih erat di pinggangku. Tanganku tanpa sadar mencengkeram kemeja putihnya.
Matanya turun. Menatap bibirku yang sedikit terbuka karena kaget.
Aku menatap bibirnya juga.
Hanya satu gerakan lagi. Hanya satu senti lagi, kami akan...
_Deg! Deg! Deg!_
Suara jantungku begitu keras, aku yakin dia mendengarnya.
Brayen menahan napas. Rahangnya mengeras. Aku melihat pergulatan di matanya. Ia ingat janjinya. Tidak akan menyentuh tanpa izin.
Perlahan, ia justru mengencangkan pelukannya, menahan agar aku tidak benar-benar jatuh, tapi ia memalingkan wajahnya sedikit, menghindari bibirku.
Hampir. Kami hampir melakukan ciuman pertama yang tidak disengaja.
Ia membantu ku berdiri tegak. Tapi tangannya tidak langsung lepas dari pinggangku.
"Kamu ceroboh banget, Nyonya Alkantara," bisiknya, suaranya serak dan dalam. Nafasnya masih berat. "Kalau tidak ada aku gimana?"
Aku tidak bisa menjawab. Wajahku merah padam. Bibirku masih bergetar.
"Aku... aku... makasih Mas," bisikku akhirnya, menunduk.
Brayen mengangkat daguku pelan dengan jarinya, memaksaku menatapnya lagi.
"Jangan bilang makasih," katanya. "Bilang... pegangin aku terus ya Mas."
Aku membulatkan mata. Kata-kata itu...
Tanpa sadar aku mengangguk. "Pegangin aku terus ya Mas..."
Brayen tersenyum. Senyum paling tulus hari ini. Lalu ia menggandeng tanganku lagi, lebih erat dari sebelumnya, dan kami berjalan di tengah taman bunga itu, dengan debaran yang belum juga hilang.
Hari pertama dari tiga hari itu, baru saja dimulai. Dan aku sudah tahu, aku dalam bahaya.
Bahaya jatuh cinta pada suami kontrakku sendiri.
---Bersambung---