NovelToon NovelToon
Kaisar Kematian Mo Xie

Kaisar Kematian Mo Xie

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.

Namun, ia tidak memilih mati.

Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.

Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.

Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.

Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.

Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.

Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Takdir yang Dirajut Ulang

Di Era Akhir Kekacauan, Qi spiritual langit dan bumi semakin menipis. Keabadian menjadi kemewahan yang harus dibayar dengan darah.

Para penguasa aliran lurus di Surga Sembilan Lapis masih mengenakan jubah kebajikan dan berbicara tentang Dao serta takdir. Namun di balik semua itu, mereka saling memangsa demi merebut kesempatan menuju keabadian.

Di zaman seperti ini, bakat bawaan bukanlah berkah.

Tanpa kekuatan untuk melindunginya, bakat hanya akan menjadi alasan bagi seseorang untuk diburu.

Mo Xie pernah menjadi salah satu dari mereka.

Sejak lahir, ia memiliki Tulang Dao Bawaan yang memancarkan cahaya keemasan murni. Karena bakat tersebut, ia diangkat sebagai Putra Suci Istana Dao Surgawi.

Selama lima belas tahun, Mo Xie dibesarkan dengan penuh kasih oleh Ketua Tertinggi. Ia diajari kultivasi, dipuja oleh para murid, dan dianggap sebagai harapan terbesar sekte.

Semua itu ternyata hanyalah kebohongan.

Pada malam penyelarasan bintang, sang Ketua membius Mo Xie dan merantainya di atas altar suci.

Dengan tangannya sendiri, ia membelah punggung murid yang selama ini dianggapnya seperti anak.

Tulang Dao Bawaan dicabut paksa dari tubuh Mo Xie dalam keadaan hidup.

Jeritannya menggema di seluruh altar, tetapi tidak seorang pun datang untuk menolong.

Tulang suci itu kemudian ditanamkan ke tubuh putra kandung sang Ketua yang cacat.

Mo Xie tidak dibunuh.

Baginya, kematian justru dianggap terlalu murah.

Tubuhnya yang telah kehilangan Tulang Dao dan kehancuran fondasi kultivasinya, ia dilemparkan dari Surga Sembilan Lapis menuju tempat yang bahkan ditakuti para dewa.

Jurang Sembilan Kegelapan.

Tempat itu merupakan makam purba bagi naga sejati dan dewa iblis yang telah mati. Jasad-jasad mereka membusuk dalam lautan Racun Yin. Bahkan makhluk dengan kultivasi tinggi tidak akan mampu bertahan lama di sana.

Namun justru di dasar jurang itulah takdir Mo Xie berubah.

Rasa sakit akibat punggung yang terkoyak dan tulang yang dicabut hidup-hidup hampir membuat jiwanya runtuh.

Mo Xie terbaring menelungkup di atas lumpur hitam.

Bau darah purba bercampur Racun Yin memenuhi udara. Kabut beracun terus mengikis kulitnya sedikit demi sedikit.

Luka menganga membentang dari tengkuk hingga tulang ekornya. Darah yang keluar telah menghitam.

Dahulu, Mo Xie berada di puncak Pembentukan Inti. Ia hanya selangkah lagi menuju Jiwa Baru Lahir. Dengan satu ayunan pedang, ia mampu membelah sungai dan menembus awan.

Sekarang, Dantiannya hancur.

Meridiannya terputus.

Tubuhnya tidak lebih dari daging yang menunggu dimangsa binatang Yin.

Suara Ketua kembali bergema dalam Lautan Kesadarannya.

“Kematianmu akan menjadi fondasi bagi jalan keabadian Dao kita. Relakan dirimu demi jalan lurus.”

Mo Xie mengepalkan tangannya.

Langit dan bumi telah meninggalkannya.

Aliran lurus telah mencabik tubuhnya.

Jika kematian adalah satu-satunya jalan yang tersisa, ia menolak menerimanya.

Ia tidak ingin mati.

Setidaknya, tidak sebelum membalas semuanya.

Jemari kirinya bergerak perlahan di atas lumpur. Tanpa sengaja, ia menyentuh sesuatu yang keras dan dingin.

Mo Xie memaksa matanya terbuka.

Di balik lumpur beracun, tampak sebuah lempengan tulang raksasa. Ukurannya sebesar bukit kecil. Di permukaannya terukir aksara kuno yang memancarkan cahaya ungu redup.

Niat membunuh yang mengerikan merembes dari dalamnya.

Seketika, seberkas Qi hitam melesat dari prasasti dan menembus Titik di antara kedua alisnya.

Informasi kuno membanjiri pikirannya.

Sebuah nama yang telah lama terhapus dari sejarah Surga Sembilan Lapis muncul dalam benaknya.

Seni Penempaan Tulang Surgawi.

Napas Mo Xie tertahan.

Ini bukan teknik kultivasi biasa.

Seni tersebut merupakan warisan terlarang dari jalur iblis. Bahkan hukum langit menolaknya.

Prinsipnya sederhana.

Tulang manusia terlalu lemah untuk mencapai keabadian.

Karena itu, tulang fana harus dibuang dan digantikan dengan kerangka makhluk yang jauh lebih kuat.

Naga sejati.

Iblis kuno.

Bahkan jasad dewa kuno.

Dengan seni ini, seorang kultivator menempa tubuhnya sendiri menggunakan tulang makhluk lain.

Harganya adalah rasa sakit yang tak terbayangkan.

Sedikit saja gagal, tubuh akan hancur dan jiwa akan musnah.

Tidak ada kultivator waras yang berani mencobanya. Namun Mo Xie sudah kehilangan segalanya.

Apa yang tersisa darinya hanyalah kebencian.

Kebencian yang bahkan mampu membakar langit.

Ia menoleh ke samping.

Beberapa langkah darinya tergeletak bangkai Iblis Harimau Kegelapan. Dagingnya telah membusuk, tetapi tulang kaki depannya masih memancarkan Qi Yin yang pekat.

Mo Xie menatap tulang itu cukup lama.

Lalu ia bergerak.

Ia menyeret tubuhnya melewati lumpur.

Setiap gerakan membuat luka di punggungnya bergesekan dengan tanah dan racun. Pandangannya beberapa kali menghitam karena rasa sakit.

Namun ia terus merangkak.

Setelah hampir setengah jam, tangannya akhirnya mencengkeram bangkai Harimau Kegelapan.

Dengan gigi terkatup rapat, Mo Xie mematahkan tulang lengan bawah makhluk itu.

Tulang hitam tersebut berat dan kasar. Aura pembantaian yang buas masih tersisa di dalamnya.

Mo Xie menatap lengan kirinya sendiri.

Lengan manusia yang lemah. Lengan yang telah memar dan hampir mati akibat Racun Yin.

Ia mengangkat tangan kanannya. Kukunya menancap ke kulit lengannya sendiri.

Lalu ia merobeknya. Darah mengalir deras.

Mo Xie tidak berteriak. Ia hanya mengertakkan gigi hingga terdengar suara retakan kecil.

Dengan tangan gemetar, ia mengorek dagingnya sendiri dan menemukan tulang manusia yang telah retak akibat benturan saat jatuh.

Ia mencengkeram tulang itu. Kemudian menariknya keluar.

Tulang fana yang berlumuran darah jatuh ke lumpur.

Lengan kirinya kini hanya menyisakan daging yang terkoyak.

Mo Xie hampir kehilangan kesadaran.

Namun ia tetap menggenggam tulang Iblis Harimau Kegelapan.

Ia mengaktifkan teknik pertama Seni Penempaan Tulang Surgawi.

Tulang hitam itu ditancapkannya langsung ke luka yang menganga.

Dalam sekejap, rasa sakit meledak di seluruh tubuhnya.

Qi Yin dari tulang iblis bertabrakan dengan sisa tenaga hidup di dalam tubuhnya. Panas dan dingin bercampur menjadi satu, seolah api neraka dan es abadi membakar tubuhnya bersamaan.

Dagingnya menolak tulang asing itu.

Otot-ototnya bergetar keras.

Jika kehendaknya sedikit saja goyah, tulang itu akan ditolak dan tubuhnya akan hancur.

Mo Xie mengerahkan sisa Qi dari Dantian yang retak.

Qi lurus yang tersisa diubah menjadi Qi kematian. Ia memaksanya mengikuti jalur Seni Penempaan Tulang Surgawi.

“Tunduk... padaku!”

Suaranya serak.

Bukan lagi suara seorang Putra Suci. Lebih mirip geraman binatang buas dari dasar kegelapan.

Qi hitam kemerahan mengalir melalui lengannya seperti benang.

Benang Qi itu menjahit urat yang putus, membungkus tulang iblis, lalu memaksanya menyatu dengan daging dan meridian.

Tulang Harimau Kegelapan mulai berakar.

Sumsum iblis meresap ke dalam tubuhnya.

Dalam sekejap, aura hitam meledak dari lengan kiri Mo Xie dan menyapu lumpur di sekitarnya.

Daging yang terkoyak mulai tumbuh kembali. Namun lengan itu tidak lagi seperti lengan manusia.

Kulitnya berubah menjadi hitam pekat dengan kilau seperti logam.

Ototnya mengeras.

Kelima kukunya memanjang menjadi cakar hitam tajam seperti obsidian.

Mo Xie mengangkat lengannya perlahan. Ia mengepalkan tangannya.

Boom!

Udara di sekitarnya bergetar.

Ia telah mencapai ambang Kerangka Besi Hitam Kegelapan.

Untuk pertama kalinya sejak dibuang ke jurang, Mo Xie merasakan kekuatan mengalir kembali ke tubuhnya.

Namun sebelum ia sempat menikmati perubahan itu, suara geraman terdengar dari balik kabut.

Bau darah segar telah menarik pemangsa.

Seekor Serigala bermata merah muncul dari balik bebatuan.

Tubuhnya sebesar kerbau. Bisa hijau menetes dari taringnya dan mendesis ketika menyentuh lumpur.

Binatang Yin tingkat rendah itu menerjang. Sasarannya adalah leher Mo Xie.

Mo Xie tidak bergerak. Bahkan matanya tidak berkedip.

Saat taring serigala hanya berjarak sejengkal dari lehernya, lengan kiri Mo Xie bergerak.

Cepat seperti kilat.

Tinju bercakar obsidian menghantam kepala Serigala itu.

Bang!

Tengkorak binatang itu hancur seketika.

Tubuhnya terlempar belasan langkah sebelum menghantam batu dan jatuh tanpa nyawa.

Mo Xie berdiri perlahan.

Tubuhnya masih gemetar. Tanpa tulang punggung, ia hampir tidak mampu menjaga keseimbangan. Luka di punggungnya pun masih meneteskan darah.

Namun untuk pertama kalinya, senyum muncul di wajahnya.

Ia merasakan kekuatan yang berbeda.

Aliran lurus mengandalkan Qi spiritual dan hukum Dao.

Tetapi Seni Penempaan Tulang Surgawi tidak meminta izin kepada langit.

Ia merebut kekuatan dari kematian.

Ia merampas tulang makhluk yang lebih kuat dan menjadikannya bagian dari tubuhnya sendiri.

Mo Xie mendongak.

Tatapannya menembus kabut gelap yang menyelimuti Sembilan Kegelapan.

Jauh di atas sana, di balik lapisan langit yang tak terhitung, berdiri Istana Dao Surgawi.

Tempat semua penderitaannya bermula.

Sudut bibirnya terangkat, dan Darah masih mengalir dari wajahnya.

Lalu ia tertawa. Awalnya pelan. Kemudian semakin keras.

Tawanya menggema di dasar jurang dan terdengar seperti suara iblis yang baru saja terbangun.

“Bersabarlah, Ketua.” Mo Xie menatap langit. “Aku akan kembali.”

Ia mengepalkan tangan kirinya.

Cakar obsidian berkilat dalam kegelapan.

“Ketika saatnya tiba, nyawamu tidak akan cukup untuk menebus semuanya.” Senyumnya semakin dingin. “Aku akan mencabut tulang-tulang istanamu satu per satu.”

“Lalu kujadikan semuanya singgasana untukku.”

Tawa Mo Xie kembali menggema.

Di dasar Jurang Sembilan Kegelapan, takdirnya tidak lagi ditulis oleh bintang.

Takdirnya akan ditempa dengan darah, tulang, dan kematian.

Hari itu, seorang Putra Suci telah mati.

Dan dari jasadnya, sesuatu yang jauh lebih mengerikan mulai bangkit.

1
Adi Rbg
bagus alur ceritanya tidak berbelit-belit!
Celestial Quill: Jangan lupa baca PERJALANAN DEWA ALKEMIS DI ALAM PRIMORDIAL juga ya, cerita ini ada hubungan dengan mo Xie yang sudah masuk ke alam primordial. 👍
total 2 replies
Ihwan12
Bagus
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: mampir KA
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!