NovelToon NovelToon
Mertua Pilih Kasih

Mertua Pilih Kasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:611
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.

Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.

Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa nasi

Maya terbangun saat jarum jam menunjuk angka tiga sore. Tubuhnya terasa sedikit lebih segar, meski denyut tipis di kepalanya belum sepenuhnya hilang. Ia bergegas ke kamar mandi untuk bersuci, lalu menunaikan shalat Zuhur yang tertinggal dengan penuh penyesalan.

Namun, baru saja Maya selesai mengusap wajah usai mengucapkan salam kedua, gedoran keras kembali menghantam pintu kamarnya.

"Maya! Cepat buka pintunya!" jerit Bu Rika dari luar.

Dengan gerakan malas dan raut wajah tanpa beban, Maya berjalan membuka selot pintu.

"Kenapa, Bu? Maya baru selesai sholat," tanya Maya pelan.

Mata Bu Rika menyapu isi kamar, lalu menatap tajam pendingin ruangan yang menyala. "Enak betul kamu ya, santai-santai di kamar! Nyalain AC lagi! Biaya listrik mahal, tahu?!"

Maya menghela napas pendek. "Iya, Bu. Ngapain manggil Maya?"

"Cepat sana angkat jemuran! Sudah keburu jadi kerupuk di luar!" perintah Bu Rika seraya bersedekap.

Dada Maya berdesir. Rasa muak yang menumpuk membuat lidahnya tak bisa lagi ditahan. Untuk pertama kalinya, Maya menyahut dengan kalimat lebih panjang dari biasanya.

"Ya Allah, Bu... Perihal angkat jemuran saja nunggu Maya?"

Bu Rika melotot tak percaya mendengar balasan menantunya. "Berani ya kamu sekararang, Di luar panas! Ogah banget Ibu angkat jemuran! Cepat sana!" bentaknya tak mau kalah.

Tanpa mendebat lebih jauh, Maya bergegas turun. Saat melewati ruang tamu, matanya menangkap pemandangan yang menyedot rasa sabarnya: Santi dan Masur sedang santai menonton televisi sambil mengunyah kuaci. Kulit-kulit kuaci itu dibiarkan berhamburan begitu saja di atas lantai marmer yang tadi pagi susah payah Maya pel.

Maya memilih berlalu begitu saja tanpa menegur, melangkah ke halaman belakang untuk mengangkat tumpukan jemuran.

Usai merapikan dan melipat baju-baju penghuni rumah, Maya melangkah ke dapur. Perutnya sudah keroncongan parah, meminta diisi setelah setengah hari tak tersentuh makanan. Denyut di kepalanya pun mulai bertabuh kembali.

Namun, saat Maya membuka rice cooker, wadahnya sudah kosong melompong.

"Mau makan ya, Mbak?" tanya Rara yang tiba-tiba muncul, bersandar di ambang pintu dapur.

Maya menoleh dengan kening berkerut. "Bukannya Mbak masak banyak pagi tadi ya, Ra? Kok sudah habis saja?"

Rara menyunggingkan senyum sinis. "Kalau mau makan ya masak dong, Mbak. Enak saja pengin dilayani," cetusnya santai sambil meneguk air putih dingin dari botol.

Maya tak menyahut lagi. Ia meredam emosinya, memilih mengabaikan adik iparnya. Maya mengambil wadah beras, mencucinya, lalu menekan tombol masak pada rice cooker. Sambil menunggu nasi matang, ia mulai memotong sayuran dan meracik bumbu untuk membersihkan ikan yang ia beli tadi pagi.

Namun, saat hendak membuang tangkai cabai ke tempat sampah bawah bak cuci piring, langkah Maya terhenti seketika.

Di dalam tong sampah yang terikat plastik transparan itu, Maya melihat gundukan nasi putih sisa tadi siang. Nasi itu masih sangat bagus, bersih, dan jumlahnya sangat cukup untuk makan satu orang.

Jemari Maya seketika meremas gagang pisau dapur erat-erat. Matanya memanas menatap nasi tersebut.

Mereka sengaja membuang nasi itu ke tempat sampah. Hanya demi satu alasan picik, agar Maya tidak bisa makan dan terpaksa harus memasak lagi tanpa sempat beristirahat.

Kejam. Sangat kejam.

Maya menggemertakkan giginya, menahan gemuruh amarah yang membakar dadanya. Ia tidak membuang energi untuk berteriak. Sebagai gantinya, Maya mengalihkan seluruh emosinya pada racikan bumbu. Ia menumis bumbu halus, memasukkan santan, dan mengolah ikan segar itu menjadi gulai ikan dengan kuah kuning pekat yang melimpah.

Tak butuh waktu lama, aroma gulai yang gurih, pedas, dan kaya rempah menguar tajam, memenuhi seluruh sudut rumah megah itu.

Aroma lezat itu rupanya memancing hidung Bu Rika. Langkah kaki wanita tua itu tergesa-gesa masuk ke area dapur. Namun bukannya memuji, wajah Bu Rika langsung ditekuk saat melihat wajan besar di atas kompor.

"Maya! Kamu ini apa-apaan, sih?!" omel Bu Rika lagi, suaranya melengking memenuhi dapur. "Masak gulai ikan pakai santan kental begini! Boros bahan makanan sekali kamu jadi orang! Kamu pikir beli bumbu sama ikan ini pakai daun?!"

Maya menghentikan adukannya pelan. Ia membalikkan badan, menatap mertuanya lurus-lurus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!