AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 AKAD KUA RESMI DI JOMBANG - AKHIRNYA JADI ISTRI SAH
Jumat jam 7 pagi, kontrakan cat hijau nomor 4 yang 400 ribu sebulan itu rame.
Bukan rame ibu-ibu kontrakan sebelah yang bisik-bisik lagi. Tapi rame keluarga Wonorejo yang datang naik 2 angkot carteran Pak Karim.
Bu Minah datang bawa rantang besar isi opor ayam kampung, Pak Karim pakai baju batik paling bagus yang biasanya dipakai ke masjid Idul Fitri, Mbah Sarti pakai kebaya coklat yang sama 2 hari lalu waktu datang naik angkot bawa ayam goreng dan amplop mas kawin 100 ribu.
Dan Rendo... Rendo juga ikut.
Rendo yang 4 hari lalu dobrak pagar bambu rumah bocor lempar baju bayi biru 35 ribu, yang cemburu bilang "Kamu masih milikku", sekarang pakai kemeja putih bersih, celana hitam, rambut gondrongnya sudah dipotong pendek rapi seperti tentara.
Aku kaget lihat Rendo. Perutku yang sekarang 4 bulan 4 minggu, 3 hari lagi 5 bulan, langsung mules lihat Rendo.
"Rendo ngapain ikut kesini?" bisikku ke Arga yang lagi pasang peci hitam.
Arga yang hari ini pakai baju koko putih bersih, bukan kaos oblong hitam kuli bangunan, juga kaget.
"Pak, kenapa Rendo ikut?" tanya Arga ke Pak Karim.
Pak Karim tarik Rendo ke samping kontrakan, bisik-bisik.
"Rendo ikut karena Bapak paksa, Ga. Rendo harus jadi saksi kalau hari ini Kirana nikah KUA resmi sama kamu, bukan nikah siri kertas HVS lagi. Biar Rendo lihat sendiri, anak yang di perut Kirana itu sudah sah jadi anak kamu di mata negara, bukan anak haram lagi. Biar Rendo berhenti ganggu."
Aku gendong Salsa yang pakai baju bunga pink paling bagus, Salsa yang ternyata anak kandung Arga dan Mira, cucu kandung Mbah Sarti.
Jam 8 pagi kami berangkat ke KUA Jombang kota jalan kaki. Jarak dari kontrakan ke KUA cuma 15 menit. Rombongan 6 orang: aku perut buncit 4 bulan 4 minggu, Salsa 2 tahun, Arga peci hitam, Mbah Sarti kebaya coklat tongkat bambu, Pak Karim batik, Bu Minah rantang opor, dan Rendo kemeja putih di belakang paling jauh.
Di sepanjang jalan 15 menit itu, ibu-ibu kontrakan sebelah yang kemarin lapor Pak Lurah kontrakan karena aku hamil tanpa buku nikah, sekarang lihat rombongan kami dan diam. Tidak bisik-bisik lagi. Karena hari ini aku mau punya buku nikah KUA hijau.
Sampai di KUA Jombang jam 8.30 pagi. KUA cat putih, ada tulisan besar KANTOR URUSAN AGAMA. Di dalam ada Pak Penghulu umur 50 pakai baju coklat, bawa buku besar.
"Yang mau nikah siapa? Kirana dan Arga ya? Yang hamil 4 bulan 4 minggu ya? Sudah USG perempuan ya?" tanya Pak Penghulu sambil lihat berkas.
Aku angguk, malu. Pertama kalinya ngaku hamil duluan di depan penghulu resmi.
Pak Penghulu buka berkas: KTP aku dan Arga, surat pengantar RT Wonorejo dari Pak RT Pak Slamet yang diam-diam sudah bikin karena kasihan aku diasingkan 4 bulan di rumah bocor, surat kesehatan dari Puskesmas Sumberejo yang bilang aku hamil 4 bulan 4 minggu sehat, dan foto USG 16 weeks 2 days baby girl yang tadinya ditempel di dinding kardus kontrakan.
"Walinya siapa?" tanya Pak Penghulu.
Mbah Sarti maju pelan pakai tongkat bambu.
"Saya Mbah Sarti, Mbahnya Kirana. Saya walinya. Bapaknya Kirana sudah meninggal 10 tahun lalu, ibunya juga sudah meninggal waktu Kirana umur 5 tahun. Saya yang rawat Kirana dari kecil di Wonorejo."
Pak Penghulu angguk.
"Mas kawinnya berapa?"
Arga lihat aku, aku lihat amplop coklat 100 ribu yang dikembalikan Mbah Sarti 2 hari lalu. Amplop yang dulu jadi bahan gosip Bu Tati.
"Mas kawin 100 ribu, Pak, dan seperangkat alat sholat," kata Arga pelan.
Rendo yang di belakang langsung tunduk. 100 ribu itu jumlah yang sama dengan harga baju bayi biru 35 ribu yang dia lempar 4 hari lalu.
Jam 9 pagi akad dimulai.
Aku duduk di depan Pak Penghulu, pakai kerudung coklat pemberian Bu Minah, daster bunga biru paling bagus, perut buncit 4 bulan 4 minggu. Salsa duduk di pangkuan Bu Minah.
Mbah Sarti duduk di sebelah Pak Penghulu sebagai wali. Tangannya yang kasar karena tungku kayu seumur hidup gemetar pegang mic.
Arga duduk di depan Mbah Sarti, pakai peci hitam, baju koko putih.
"Arga bin Karim, saya nikahkan cucu saya Kirana binti alm. Slamet dengan mas kawin 100 ribu dan seperangkat alat sholat dibayar tunai," kata Mbah Sarti, suara bergetar, pertama kalinya jadi wali nikah setelah 70 tahun hidup.
Arga jawab, "Saya terima nikahnya Kirana binti alm. Slamet dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Sah.
Untuk pertama kalinya setelah 4 bulan diasingkan karena hamil duluan, setelah 6 hari jadi istri siri kertas HVS tipis, setelah diusir dari warung Bu Lasmi, tidur di rumah bocor Mbah Wiryo lantai tanah, dobrak pagar sama Rendo, pindah ke kontrakan kota 400 ribu diusir lagi sama Pak Lurah kontrakan, hari ini Jumat jam 9 pagi aku sah jadi istri KUA.
Buku nikah hijau 2 buku diberikan Pak Penghulu. Satu buat aku, satu buat Arga. Ada foto kami berdua, ada stempel KUA Jombang, ada tanda tangan Mbah Sarti sebagai wali.
Aku pegang buku nikah hijau itu, nangis keras. Salsa yang lihat aku nangis ikut nangis, peluk kaki ku.
Mbah Sarti yang lihat aku nangis pegang buku nikah hijau, juga nangis. Mbah Sarti yang paling tua, paling ditakuti, paling gengsi, nangis di KUA Jombang.
"Kirana, maafkan Mbah ya Nduk, Mbah sudah asingkan kamu 4 bulan di rumah bocor karena hamil duluan. Mbah kira kamu bikin malu keluarga. Ternyata yang bikin malu itu Rendo yang tidak mau tanggung jawab," kata Mbah Sarti sambil peluk aku, perut buncit ku kejepit.
Rendo yang dari tadi di belakang, maju pelan.
"Kirana, Arga, maafkan aku ya. Aku yang hamilin kamu, aku yang bilang belum tentu anakku, aku yang kabur ke Kalimantan, aku yang dobrak pagar bambu rumah bocor kamu, aku yang lempar baju bayi biru 35 ribu itu dengan cara kasar. Sekarang kamu sudah sah jadi istri Arga secara KUA, anak di perutmu sudah sah jadi anak Arga di mata negara. Aku ikhlas, aku tidak akan ganggu lagi."
Rendo kasih amplop putih. Isinya uang 500 ribu.
"Ini buat beli susu buat anak perempuanmu, Kir. Buat ganti baju bayi biru 35 ribu yang aku lempar kemarin. Maafkan aku."
Aku terima amplop itu, tapi tidak buka. Aku kasih ke Arga.
Jam 10 pagi kami keluar dari KUA Jombang. Rombongan 6 orang balik ke kontrakan cat hijau jalan kaki 15 menit. Di tangan aku buku nikah hijau, di tangan Arga buku nikah hijau, di gendongan Bu Minah Salsa, di tangan Pak Karim rantang opor ayam kosong, di tangan Mbah Sarti tongkat bambu, di tangan Rendo tidak ada apa-apa tapi wajahnya lega.
Sampai di kontrakan, ibu-ibu kontrakan sebelah yang kemarin lapor Pak Lurah, sekarang datang bawa kue lapis.
"Mbak Kirana, selamat ya sudah nikah KUA, Mbak. Tadi lihat rombongan ke KUA, kami kira ada apa. Ternyata nikah resmi. Maaf ya Mbak kemarin kami lapor Pak Lurah."
Aku angguk, terima kue lapis.
Malam jam 8, hujan turun deras lagi. Genteng kontrakan tidak bocor. Kami makan malam bertujuh di dalam kontrakan petak 400 ribu yang sempit: aku, Salsa, Arga, Mbah Sarti, Pak Karim, Bu Minah, dan Rendo yang untuk pertama kalinya makan bareng setelah 4 bulan.
Lauk opor ayam kampung Bu Minah, telur dadar 1 butir dibagi tujuh, nasi banyak.
Salsa makan lahap di pangkuan Mbah Sarti. Mbah Sarti suapin Salsa sambil bilang "Cucu buyut, cucu buyut."
Perutku 4 bulan 4 minggu aku elus. Foto USG anak perempuan di dinding kardus masih ditempel, sekarang di sampingnya ada buku nikah hijau.
Jam 9 malam, Pak Karim, Bu Minah, Mbah Sarti, dan Rendo pulang ke Wonorejo naik angkot terakhir jam 9.30. Kontrakan cat hijau tinggal bertiga lagi: aku, Salsa, dan Arga yang sekarang sudah sah jadi suami KUA, bukan suami siri kertas HVS lagi.
Tapi syarat kedua masih berlaku: tidur pisah kasur. Aku dan Salsa di kasur tipis, Arga di lantai tikar pandan jarak 1 meter. Meskipun sudah buku nikah hijau, aku masih mau jaga kehormatan sampai anak perempuan lahir selamat, tidak pendarahan seperti Mira.
Belum selesai diasingkan sepenuhnya, masih di kontrakan kota 400 ribu sebulan, tapi sekarang sudah punya buku nikah hijau.
Hamil 4 bulan 4 minggu, bawa Salsa anak kandung suami sah, bawa anak perempuan di perut yang sekarang punya akte nanti karena ibunya sudah nikah KUA, dan bawa buku nikah hijau di bawah bantal.
Dan malam ini untuk pertama kalinya dalam 4 bulan, aku tidur sebagai istri sah KUA, bukan perawan hamil haram yang diasingkan.
Dan itu cukup buat malam ini.
---