Xun JeHa, seorang anak yg lahir dengan kondisi tubuh cacat, jantungnya mengalami kebocoran menjadikan tubuhnya mudah lelah, serta kualitas tulang yg rendah membuat dirinya sama sekali tidak mempunyai harapan menjadi seorang pendekar.
Namun suatu kejadian telah merubah itu semua, merombak kehidupannya dan membuatnya menjadi pendekar tanpa tanding.
Sanggupkah pemuda berwajah rupawan itu memikul tanggung jawab dengan kekuatan yang dia miliki..??
Update setiap senin-jum'at.
sabtu-minggu libur (family time)
©by RubahPerak77
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RubahPerak77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan Terlarang I
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah 10 tahun Xun JeHa berlatih dibawah bimbingan guru Fei, disaat usianya menapak 18 tahun, dirinya sudah menyempurnakan ke 4 fondasi nya, menguasai semua jurus yang ada di kitab Matahari, Kitab pedang tanpa bayangan dan kitab Naga langit, serta mempunyai sekitar lima ribu lingkaran tenaga dalam.
Kemampuan fisik yang prima serta kualitas tulang yang dimiliki JeHa saat ini sudah berada di tingkatan Naga besi,membuat nya makin percaya diri sanggup menembus pendekar suci dalam waktu dekat.
Sementara itu diwaktu yang sama di lain tempat, keadaan kekaisaran Song sedang kacau. Penyebabnya antara lain adalah semakin merajalela nya para kelompok perampok, memburuknya kerjasama antara kekaisaran Song dan Wei yang berimbas pada ketegangan di perbatasan kedua kekaisaran serta kabar tentang Aliansi sekte aliran sesat yang semakin kuat dan brutal, mereka saat ini bahkan sudah mulai menghancurkan sekte-sekte kecil dan menengah aliran putih serta netral.
Aliansi aliran putih sendiri sebenarnya juga tidak tinggal diam, namun gejolak yang terjadi di dalam tubuh aliansi menyebabkan perpecahan tanpa mereka sadari. Penyebab ketidak solid an mereka adalah perebutan posisi ketua aliansi yang baru. Menggantikan Zhang Wuji yang menarik diri dari dunia persilatan.
Zhang Wuji adalah biksu senior dan sekaligus Ketua Sekte Lonceng kebenaran yang mempunyai julukan Buddha Timur, salah satu dari keempat Raja Penguasa Mata Angin.
Para Ketua sekte besar aliran putih dan netral masing-masing memiliki jagoan mereka sendiri. dengan alasan ingin menjaga martabat serta nama baik sekte, mereka sampai meng kesampingkan masalah utama.
Ditengah kekacauan tersebut, mulai bermunculan pemuda pemudi jenius yang kelak akan menjadi pendekar hebat, mereka adalah :
Sie Fan dan Dian Wei dari sekte lonceng kebenaran.
Xiahou Dun dan Xiahou Yuan si gadis kembar dari sekte lembah perawan.
Jia Xu, Guo Jin, dan Wang Yi dari sekte seribu tombak.
Guan Yu dari sekte elang putih.
Oey yong dari sekte pulau persik.
Yan Guo dari sekte pedang pinus.
Para pendekar muda berbakat ini menjadi kebanggan sekte nya masing-masing. Dan engan kucuran sumber daya yang melimpah, tak heran mereka sanggup menembus tingkatan pendekar raja di usia muda.
"JeHa, sebelum dirimu melakukan latihan untuk menjadi pendekar suci, jelajahilah dulu Hutan Terlarang yang ada di tengah tengah pulau ini. Tugasmu adalah mengumpulkan 10 permata siluman seribu tahun, juga jangan lupa bawakan sumber daya serta aneka macam tumbuhan yang berguna untuk pembuatan pil". Maksud Fei Hung sebenarnya adalah supaya JeHa mendapatkan pengalaman bertarung di situasi yang mempertaruhkan nyawa, serta untuk memperdalam penguasaan setiap jurus dan teknik yang ia pelajari. Untuk menunjang tugasnya, Fei Hung memberikan sebuah cincin kepada JeHa.
"Itu adalah Cincin Semesta, kamu bisa menyimpan apapun di dalam sana, selama itu tidak bernyawa. Kamu cukup meneteskan darahmu ke cincin tersebut untuk membuat kontrak"
Fei Hung menyerahkan sebuah cincin hitam dengan hiasan naga serta dua kristal hijau kecil.
JeHa segera melukai jarinya dan meneteskan darah ke cincin semesta, darah itu langsung meresap ke dalam. JeHa mencoba mengalirkan sedikit tenaga dalam lalu mencoba menghilangkan daun di tangan nya. Ajaib, daun tersebut seperti tersedot masuk ke dimensi lain, JeHa pun berkonsentrasi untuk mengeluarkan daun itu kembali.
JeHa kemudian pamit ke Fei Hung untuk bersiap siap. Di dalam kamar, JeHa segera memasukan segala barang keperluannya ke cincin semesta, hingga pandangannya tertuju pada sebuah pedang. Pedang itu adalah hadiah dari guru nya, karena dirinya berhasil menyempurnakan ke empat fondasinya. Pedang tersebut mempunyai fisik seperti layaknya pedang pada umumnya, dengan gagang dan batang pedang berwarna hijau sedangkan bilahnya ber ukir kan sebuah naga, dan dinamakan Pedang giok bambu. Pedang tersebut merupakan salah satu pusaka bumi.
Setelah memasukan semua barangnya termasuk pedang giok bambu, JeHa segera menemui gurunya.
"Guru, murid siap berangkat" JeHa menunduk dan memberi hormat kepada Fei Hung.
"JeHa...bawalah ini, didalamnya ada beberapa pil, lalu pakai gelang ini, bisikan namaku 3 kali disaat keadaan darurat, aku akan segera datang ke tempatmu. Bawa juga kitab ini, pelajari diwaktu senggang". Terlihat Fei Hung menyerahkan beberapa benda kepada JeHa. JeHa segera memakai gelang giok berwarna biru tersebut dan menyimpan yang lain di cincin semesta.
Perjalanan menuju hutan terlarang membutuhkan waktu setengah hari, dengan menggunakanTeknik Naga, Langkah Bayangan Naga, sebuah jurus meringankan tubuh dari kitab naga langit, JeHa bisa bergerak dengan sangat cepat.
Sebelum melangkah memasuki hutan terlarang, JeHa memfokuskan pikirannya dan mengedarkan kekuatan spiritualnya untuk mendeteksi ancaman. JeHa berjalan dengan santai namun tetap memasang kewaspadaan tinggi, hutan tersebut mengeluarkan aura yang sangat menyeramkan. Membuat bulu kuduk berdiri.
belum lama dirinya memasuki hutan terlarang, inti matahari di dalam dada JeHa segera bergerak gelisah saat menyadari bahaya mendekat dengan cepat.
JeHa menghindar di detik-detik terakhir sebelum kibasan ekor makhluk itu menghancurkan tempat dimana JeHa tadi berada. Saat ini dihadapannya telah terlihat seekor siluman ular kobra berkepala dua.
Siluman ular tersebut berumur sekitar 500 tahun, siluman yang mempunyai tinggi kurang lebih 15 meter itu mulai menyerang JeHa dengan buas.
JeHa memilih bertahan dan tidak langsung menyerang dengan tujuan menguji reflek serta insting bertarung nya. Meskipun dirinya sudah menguasai banyak teknik serta jurus-jurus hebat namun pengalaman bertarungnya tergolong minim, selama ini JeHa hanya berlatih tanding dengan guru nya.