Ketika Jiang Chen terbangun di dunia kultivasi, ia mendapati dirinya mewarisi takhta Ketua Sekte Pedang Bintang—sebuah sekte yang dulunya agung namun kini berada di ambang kehancuran absolut. Pilar utama sekte, sang guru, telah tewas terbunuh. Para tetua berkhianat dan membawa lari seluruh harta benda, sementara musuh bebuyutan telah mendobrak gerbang depan untuk merampas wilayah mereka.
Dengan tingkat kultivasi dasar yang sangat lemah dan hanya ditemani oleh satu adik seperguruan yang masih setia bertahan, ajal seolah sudah menanti Jiang Chen di depan mata.
Namun, di saat maut dan keputusasaan memuncak, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di benaknya: [Sistem Pembangunan Sekte Abadi berhasil diikat!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Batu Asahan dan Darah di Halaman Sekte
Tiga sosok berpakaian hitam melompati belasan anak tangga terakhir Puncak Bintang Jatuh dengan mudah. Mereka berdiri di depan gerbang batu raksasa bertuliskan "Sekte Pedang Bintang" yang sebagian sisinya sudah ditumbuhi lumut liar.
Pemimpin kelompok itu, pria bermata sipit dengan golok besar di bahunya, mendengus meremehkan.
"Tidak ada formasi pelindung yang aktif, tidak ada murid yang berjaga. Tempat ini bahkan lebih sepi dari kuburan," cibir sang Kapten. Dia memberi isyarat kepada dua bawahannya. "Masuk. Cari mayatnya di sekitar sini. Bocah cacat itu pasti sudah mati kehabisan darah sebelum bisa merangkak lebih jauh."
Kedua bawahan itu mengangguk sambil tertawa sinis. Namun, baru saja mereka melangkahkan kaki melewati ambang gerbang batu, suara decit pintu kayu yang dibuka perlahan menghentikan langkah mereka.
Dari arah Aula Leluhur, seorang remaja laki-laki berjalan keluar dengan langkah mantap. Dia mengenakan jubah putih kebesaran—jelas itu adalah pakaian ganti yang diberikan secara asal, namun entah mengapa terlihat pas di tubuhnya. Rambut panjangnya diikat ke belakang, memperlihatkan wajah yang bersih, meski masih sedikit pucat.
Langkah kaki remaja itu begitu ringan, seolah ia menyatu dengan hembusan angin. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah pedang besi berkarat.
Mata ketiga pembunuh Klan Lin membelalak lebar. Mulut mereka terbuka hingga nyaris menyentuh tanah.
"T-Tuan Muda Lin Mo?!" salah satu bawahan berseru kaget, menggosok matanya seolah melihat hantu di siang bolong. "B-Bagaimana mungkin kau masih hidup? Dan... kau berdiri?!"
Kapten pembunuh itu mengerutkan kening dalam-dalam. Instingnya sebagai petarung yang sering berada di ambang hidup dan mati tiba-tiba berteriak memperingatkannya. Remaja di depannya ini memang Lin Mo, tetapi ada sesuatu yang salah. Sangat salah!
Lin Mo yang mereka tahu telah dihancurkan meridian dan dantiannya oleh Tetua Klan. Dia seharusnya menjadi seonggok daging lumpuh yang menunggu ajal. Namun kini, tidak hanya Lin Mo berdiri tegak, matanya juga memancarkan niat membunuh yang begitu tajam hingga membuat kulit sang Kapten merinding.
"Terkejut melihatku masih bernapas, Anjing Klan Lin?" Suara Lin Mo terdengar dingin, menggemakan kebencian yang mendalam.
"Jangan gertak aku, sampah!" Sang Kapten menepis firasat buruknya dan berteriak marah. "Kau pasti meminum pil perangsang potensi rahasia untuk bisa berdiri sebentar! Dantianmu sudah hancur lebur! Maju, kalian berdua! Cincang dia dan bawa kepalanya padaku!"
"Baik, Kapten!"
Kedua bawahan itu menghunuskan pedang panjang mereka, energi spiritual Pemadatan Qi Tingkat 3 meledak dari tubuh masing-masing. Mereka menerjang maju dari sisi kiri dan kanan, berniat menjepit Lin Mo dalam satu serangan mematikan.
Di dalam Aula Leluhur, Jiang Chen duduk dengan tenang sambil menyesap teh yang baru saja ia seduh. Pandangannya menembus pintu yang terbuka, mengamati murid pertamanya dengan saksama.
"Tunjukkan padaku, seberapa tajam Tubuh Pedang Kuno milikmu," batin Jiang Chen.
Di luar, Lin Mo tidak mundur selangkah pun. Menghadapi dua bilah pedang yang melesat ke arah tenggorokannya, bibirnya hanya melengkung membentuk senyum haus darah.
WUUUSH!
Seketika, energi spiritual dari Pemadatan Qi Tingkat 5 meledak dari tubuh Lin Mo! Energi qi berwarna perak kebiruan—hasil dari Seni Bintang Nirwana—mengalir liar ke dalam pedang berkarat di tangannya.
Karat pada pedang itu seketika terkelupas, digantikan oleh lapisan cahaya qi yang menyilaukan. Tubuh Pedang Kuno di dalam diri Lin Mo membuat energi qi-nya memiliki ketajaman absolut, mengubah pedang rongsokan menjadi senjata pematikan.
"Tingkat 5 Pemadatan Qi?! T-Tidak mungkin!"
Kedua bawahan itu berteriak ngeri saat merasakan tekanan qi yang jauh melampaui mereka. Namun, mereka sudah berada di udara, tidak ada ruang untuk menarik serangan.
Lin Mo mengambil satu langkah ke depan dan mengayunkan pedangnya secara horizontal.
SRAATT!
Sebuah kilatan cahaya perak berbentuk bulan sabit menyapu udara. Tidak ada suara benturan senjata logam. Pedang qi Lin Mo memotong pedang baja kedua pembunuh itu seolah mengiris tahu lembek, terus melaju tanpa hambatan... dan melewati leher mereka berdua.
Bruk. Bruk.
Dua kepala terlepas dari lehernya, jatuh menggelinding di atas ubin halaman, menyusul tubuh tanpa kepala yang ambruk dengan darah menyembur layaknya air mancur.
Hanya satu tebasan!
Halaman Puncak Bintang Jatuh kembali sunyi senyap, hanya diselingi suara angin musim gugur.
Kapten pembunuh itu mundur terhuyung-huyung, wajahnya sepucat kertas. Matanya menatap ngeri pada genangan darah di bawah kaki Lin Mo.
"Pemadatan Qi Tingkat 5... Qi yang setajam pedang... Monster! Kau monster!" Suaranya bergetar hebat. Kesenjangan ini terlalu tidak masuk akal. Bahkan sebelum dikhianati, Lin Mo hanyalah di Tingkat 4. Bagaimana meridian yang hancur bisa pulih dan menjadi lebih kuat dalam semalam?!
"Apakah sekte ini... apakah ada kultivator agung di belakangmu?!" Sang Kapten akhirnya menyadari kebodohannya. Tempat ini bukanlah sekte rongsokan, ini adalah sarang naga yang tertidur!
"Mati tidak butuh banyak bicara," ucap Lin Mo dingin.
Kapten pembunuh itu mengertakkan giginya. "Jangan sombong, iblis kecil! Aku berada di Pemadatan Qi Tingkat 7! Mari kita lihat apakah kau bisa menahan teknik rahasiaku!"
BOOM!
Pria itu membakar esensi darahnya sendiri. Otot-ototnya membengkak, dan qi merah darah meluap dari golok besarnya. Dengan raungan seperti binatang buas yang tersudut, ia melompat setinggi tiga meter dan menebaskan goloknya ke arah kepala Lin Mo, membawa kekuatan yang mampu membelah batu besar menjadi debu.
Lin Mo mengangkat kepalanya, menatap golok yang turun dengan kecepatan tinggi itu. Seni Bintang Nirwana di dalam tubuhnya berputar hingga batas maksimal. Ia tidak menghindar, melainkan menusukkan pedang berkaratnya ke atas, menyongsong serangan musuh!
TRANGGG! KRAAAK!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga bergema. Kapten pembunuh itu melebarkan matanya saat melihat golok besar miliknya—senjata tingkat fana tingkat atas—retak seperti kaca sebelum hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan pedang berkarat Lin Mo.
Cahaya perak dari pedang Lin Mo tidak berhenti di sana. Pedang itu terus melaju ke atas, menembus dada sang Kapten dan keluar dari punggungnya.
Darah segar menetes dari ujung pedang. Tubuh Kapten pembunuh itu tergantung di ujung bilah, matanya menatap kosong ke wajah Lin Mo yang sedingin es.
"Kau... tidak akan... bisa... lari dari... Klan Lin..." gumam pria itu dengan sisa napas terakhirnya.
Lin Mo menarik pedangnya dengan kasar. Tubuh tak bernyawa itu jatuh ke tanah dengan bunyi debuk yang keras.
"Aku tidak akan lari," bisik Lin Mo pada mayat di depannya. "Suatu hari nanti, aku akan menginjakkan kakiku di Kota Daun Musim Gugur dan menghapus Klan Lin dari peta."
[DING!]
[Murid Tuan Rumah telah mengeksekusi penyusup!]
[Mendapatkan Hadiah Penyelesaian Tambahan: 50 Poin Sekte.]
Di dalam Aula Leluhur, Jiang Chen meletakkan cangkir tehnya. Ia tersenyum puas.
"Bakat bertarung yang luar biasa. Dia bahkan tidak memiliki teknik bela diri apa pun, hanya mengandalkan insting dan ketajaman Tubuh Pedang Kuno untuk membunuh lawan yang dua tingkat di atasnya."
Tepat pada saat itu, dari arah timur sekte, Su Yue berlari-lari kecil dengan wajah memerah karena terlalu bersemangat. Tangannya memeluk tiga buah gulungan bambu kuno.
"Ketua Sekte! Ini keajaiban! Paviliun Kitab Suci kita—"
Su Yue tiba-tiba berhenti. Matanya tertuju pada tiga mayat tanpa kepala dan dada berlubang yang tergeletak di halaman, serta Lin Mo yang berdiri di tengah genangan darah sambil memegang pedang berkaratnya yang lama.
"K-Kalian..." Su Yue menelan ludah. "Apa yang terjadi saat aku pergi?!"
Jiang Chen berjalan keluar dari aula, tangannya tetap berada di belakang punggung, memancarkan aura seorang bijak yang berada di atas segalanya.
"Hanya membersihkan debu di depan pintu rumah kita, Su Yue," kata Jiang Chen dengan tenang. Ia melirik gulungan di tangan gadis itu. "Aku anggap kau sudah menemukan teknik yang cocok di Paviliun?"
"Ah! I-Iya, Ketua Sekte!" Su Yue segera menunduk, mengulurkan gulungan itu. "Ada ratusan teknik tingkat Bumi di sana! Guru tidak pernah memberitahuku bahwa sekte kita menyembunyikan kekayaan sebesar ini!"
"Sekte Pedang Bintang memiliki dasar warisan yang setinggi surga," ujar Jiang Chen santai, berbohong tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. "Guru kita hanya menyembunyikannya untuk menguji kesetiaan para tetua dan murid. Sekarang setelah hama-hama itu pergi, saatnya sekte kita kembali bersinar."
Jiang Chen lalu menatap Lin Mo yang tengah bersujud memberi hormat.
"Bagus sekali, Lin Mo. Kau lulus ujian pertamamu. Namun, sebuah sekte butuh lebih dari sekadar dua murid dan tumpukan teknik untuk menjadi nomor satu."
Mata Jiang Chen menyipit, menatap hamparan dunia di bawah Puncak Bintang Jatuh.
"Bersiaplah. Besok, kita akan turun gunung menuju Kota Awan Mengambang. Saatnya Sekte Pedang Bintang menunjukkan taringnya pada dunia luar."