NovelToon NovelToon
PLAYING WITH FIRE

PLAYING WITH FIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:55.8k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.

Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.

Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Pintu lift VVIP tertutup rapat, memutus pandangan dari koridor rumah sakit. Hanya dalam hitungan detik setelah ruang sempit itu bergerak turun, Alessio tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Vanessa dan mendorong tubuh anggun wanita itu hingga tersudut ke dinding lift.

Sebelum Vanessa sempat memprotes, Alessio menunduk dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Vanessa. Sebuah ciuman menuntut, panas, dan sarat akan dominasi yang secara tiba-tiba mencuri seluruh napas Vanessa.

Vanessa terbelalak. Rasa terkejut bercampur emosi membuatnya berusaha melawan. Jemari lentiknya menekan dada tegap Alessio, mendorong pria itu dengan sekuat tenaga.

Namun, tenaga Alessio jauh lebih besar. Cengkeraman tangannya di pinggang Vanessa justru makin mengencang, mengunci tubuh wanita itu tanpa memberi celah sedikit pun untuk bergerak.

Ting!

Suara denting lift menandakan mereka telah sampai di lantai dasar. Pintu besi berkilau itu perlahan terbuka.

Seketika itu pula Alessio melepaskan pagutannya. Ia merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut, berbalik memunggungi Vanessa, lalu melangkah keluar dari lift dengan santai, berakting seolah-olah tidak ada hal gila yang baru saja terjadi di dalam sana.

Vanessa berdiri membeku di sudut lift. Dadanya naik turun memburu, bibirnya terasa panas dan sedikit bengkak. Ia menatap punggung tegap Alessio yang makin menjauh dengan pandangan tak percaya.

Langkah Alessio terhenti di tengah lobi. Pria itu berbalik, menyadari wanita di belakangnya belum juga bergerak.

"Sampai kapan kau mau berdiri di dalam sana, Vanessa?" tegur Alessio datar, menaikkan sebelah alisnya.

"Keluar sekarang. Banyak mata yang sedang melihat. Nanti, mereka mengira kau sedang kesurupan hantu lift."

Vanessa tersentak kaget dari lamunannya. Dengan wajah memerah dan tatapan menajam penuh kejengkelan, ia melangkah keluar dari lift dengan hentakan kaki yang kasar.

Saat Vanessa berjalan melintasinya, Alessio terkekeh kecil lalu mengulurkan tangan untuk merangkul pinggang mulus Vanessa secara posesif.

Plak!

Vanessa menepis tangan tegap itu dengan sangat kasar hingga menimbulkan suara tepukan nyaring di lobi.

"Jangan pernah sentuh aku lagi!" ancam Vanessa dengan suara berdesis rendah namun sarat akan bahaya.

"Sekali lagi kau berani melakukan hal lancang seperti tadi, aku bersumpah akan membunuhmu, Alessio!"

Bukannya takut, Alessio justru mengulas senyum miring yang teramat menawan. Pria itu memiringkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata Vanessa yang menyala-nyala.

"Mati di tangan wanita secantik kamu?" bisik Alessio santai, ia mendekatkan wajahnya sedikit ke wajah Vanessa.

"Terdengar seperti kematian yang sangat terhormat. Aku tidak keberatan sama sekali."

Vanessa terpaku. Wajahnya seketika terasa panas membakar, salah tingkah oleh jawaban tak terduga oleh pria di hadapannya.

Ia mengepalkan tangannya, membuang muka ke arah lain untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Gila! Kau benar-benar sudah gila!" gumam Vanessa gusar, lalu mempercepat langkah kakinya meninggalkan Alessio yang terkekeh puas di belakangnya.

******

Suasana di ruang kerja pribadi Arthur Carlton di kediaman utama terasa begitu dingin dan menakutkan.

Keheningan yang menekan menyelimuti ruangan bernuansa kayu mahoni tersebut.

Arthur duduk di kursi kebesarannya dengan wajah yang makin menua dan kusam akibat beban emosi.

Di hadapannya, Jordan berdiri menunduk kaku. Seluruh keangkuhan Tuan Muda Carlton itu luntur, berganti dengan rasa takut yang amat besar saat menatap ayahnya.

"Gara-gara kebodohanmu membawa wanita murahan itu ke rumah..." suara Arthur terdengar berat dan sarat akan kekecewaan, "...kita harus kehilangan seluruh hak pengelolaan atas rumah sakit milik mendiang ibunya."

Jordan terperanjat, kepalanya mendongak seketika dengan mata membelalak.

"Apa?! Ayah! Jangan bercanda! Ayah benar-benar menyerahkan rumah sakit itu pada Alessio?!"

"Lalu aku harus bagaimana?!" bentak Arthur seraya memukul permukaan meja kerja dengan keras.

"Dia tahu soal kepemilikan 30 persen saham itu! Dia bahkan tahu rencana rahasia kita untuk mengalihkan sahamnya padamu! Jika aku tidak menyerahkannya, dia akan membongkar seluruh bobrok keluarga ini ke publik!"

"Tapi, Ayah! Tidak bisa begitu!" protes Jordan histeris.

"Rumah sakit itu adalah fondasi keuangan dan pengaruh kita! Jika Alessio memegangnya, nanti saat aku resmi menjadi kepala keluarga, aku tidak akan punya kekuatan besar untuk mengontrol perusahaan dan seluruh bisnis keluarga lainnya! Alessio akan dengan mudah menginjak-injakku!"

"Semuanya sudah tidak bisa ditarik lagi, Jordan!" potong Arthur lelah. Ia memejamkan mata erat-erat.

"Keterlibatan Alessio sudah terlalu jauh. Sekarang, hal paling aman yang harus kau lakukan adalah fokus pada rencanamu sendiri. Nikahi Vanessa sesuai rencana awal kita. Saat ini, hanya Vanessa yang bisa membantumu! Jika menikah dengannya, maka posisi mu sebagai pewaris utama akan tetap aman."

Jordan mengepalkan tinjunya rapat-rapat. Dengan dada yang bergemuruh berat, pria itu akhirnya mengangguk pelan.

"Baik, Ayah... aku mengerti."

*****

Beberapa hari kemudian.

Jordan melangkah masuk ke dalam area parkir privat gedung perusahaannya. Wajahnya masih menyipit muram memikirkan kehilangan aset besar rumah sakit keluarga Carlton. Namun, baru beberapa langkah dari mobilnya, sebuah bayangan tubuh muncul dari balik pilar beton dan langsung berlutut di hadapannya.

"Jordan! Jordan, tolong dengarkan aku!"

Jordan terperanjat mundur. Yessika berdiri menyergapnya dengan penampilan yang teramat kacau. Wajahnya pucat tanpa riasan, matanya sembap, dan rambutnya terurai berantakan.

"Mau apa lagi kau kemari?!" bentak Jordan dingin, matanya menatap Yessika dengan rasa jijik yang meluap.

"Pergi dari sini sebelum aku menyuruh pengawal melemparmu ke jalanan!"

"Jordan, aku mohon! Maafkan aku!" Yessika merangkak mendekat, berusaha menggapai ujung celana Jordan sambil menangis histeris.

"Aku sangat mencintaimu, Jordan! Tolong jangan buang aku!"

"Cinta?!" Jordan terkekeh sinis, menepis tangan Yessika dengan ujung sepatunya.

"Cinta dengan cara masuk ke kamar saudaraku memakai lingerie transparan? Kau membuatku jadi bahan tertawaan, Yessika! Aku sudah membela mu mati-matian tapi ternyata kau malah membohongi aku. Enyah kau!"

Yessika menggelengkan kepala dengan cepat, matanya memancarkan keputusasaan yang luar biasa.

"Tidak! Kau salah paham, Jordan! Semua yang kulakukan malam itu... itu semua demi kamu!"

Langkah Jordan terhenti. Pria itu menaikkan sebelah alisnya, menatap Yessika dengan tatapan seolah wanita itu baru saja kehilangan akal sehatnya.

"Demi aku? Kau pikir aku bodoh?"

"Demi Tuhan, Jordan!" jerit Yessika, meyakinkan dengan suara gemetar.

"Aku sengaja menggoda Alessio malam itu! Aku berniat menjeratnya dengan pesonaku agar dia berlutut padaku. Jika dia sudah berada di bawah kendaliku, aku bisa merebut seluruh aset warisan yang ada di tangannya dan menyerahkan semuanya padamu!"

Jordan terdiam sejenak, namun sejurus kemudian ia terkekeh hambar penuh rasa muak.

"Alasan yang sangat murahan. Lagipula, untuk apa kau repot-repot, hah? Alessio itu pria miskin yang baru pulang dari luar negeri! Dia tidak punya aset apa pun!"

"Dia punya, Jordan! Dia punya!" potong Yessika cepat, matanya berbinar panik.

"Aku mendengarnya sendiri! Sebelum malam itu, aku tak sengaja mendengar percakapan rahasia antara Alessio dan Pak Ben! Mereka berbicara tentang beberapa aset rahasia warisan milik ibunya yang disimpan rapat secara terpisah! Aku ingin mengambil dokumen aset itu untukmu, Jordan!"

Kata-kata Yessika bagai petir yang menyambar benak Jordan. Matanya melebar sempurna, rasa terkejut yang amat sangat menguasai dadanya.

"Pak Ben?" gumam Jordan dengan suara tertahan, tenggorokannya mendadak terasa kering. "Jadi... Pak Ben selama ini berada di pihak Alessio? Kepala pelayan senior kepercayaan Ayah itu... berdiri di belakangnya?"

Jordan mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku jarinya memutih. Pantas saja. Pantas saja Alessio bisa mengetahui seluruh detail rahasia tentang saham warisan ibunya dan rencana pengalihan hak milik yang ditahan oleh ayahnya selama ini.

Ternyata, ada pengkhianat di lingkaran dalam keluarga Carlton.

1
Umi Zein
hadeu Jor elu tuh mau mnta maaf mau ngemis sma Vanesa knpa malah jdi elu yg Emosi karna Vanesa udh cinta sm Ale2 😏😏😏

wong edan 🤣🤣🤣🤣
Umi Zein
semoga segera dapet debay biar joran pancingan gak ngusik2 Vanesa lagi😍😍
ryuka
waaahh bener2 cati mati nih si jordan 🤭🤭🤭🤭
Sari Nilam
jordan 2 halu tingkat dewa ...
Turi77 Turi77
matur nuhun thor,sehat "terus 🫰🥰
Umi Zein
mimpi di siang bolong, bangun Woiii...
halu lu joran pancing🤣🤣🤣🤣Vanesa jijik kali sma elu
idiiiih ke PeDean Lu najiss 😏😏😏
Umi Zein
gak tau aja nih duo makhluk cecunguk, klo Ale2 udh kenal Vanesa bertahun2 lalu 😏🤣🤣
dewi rofiqoh
Jordan... Jordan jangan mimpi ya bisa balik sama vanesa!
ryuka
streess nih si kordan 🫠🫠🫠
rurry Irianty
emg g beres otak anak haram ini,g ngerti apa Vanessa jijik liat mukamu
dewi rofiqoh
Lanjuut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
nah kn benar dugaan sya ,,
Nikolai kokop yg dlu nyelametin Alessio waktu d luar negeri ,,
Muft Smoker
jgn2 pimpinan taiga ,, yg nyelametin Alessio Dan yg mendidik Alessio d luar negeri🤔🤔🤔
Muft Smoker
KEJUTAAAAAAN ,, 😏😏😏🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳
Muft Smoker
yx ,, yx ,, berencana boleh2 aj Jordan ,,
tp semua keputusan ,, d ACC apa gx tu semua tergantung tangan Tuhan ,, Dan tangan kak author tentu ny ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Umi Zein
good job Ale2 penjarah terlalu nyaman, buat tikus2 haus harta dan kekuasaan. buang semua sampah2 dari lingkungan hidup mu binasakan ✊🏻✊🏻👍🏻😍
Umi Zein
itu si Ale2 kyanya pemimpin TAIGA😍
Umi Zein
belum tau aja niih bapak durjana, kecerdasan dan kehebatan anak yg di buang sia2😏😏🤣
Umi Zein
tadi aja sebelum Hans dteng pada congkak sombong, skrng malu gak punya harga diri dan kehormatan kan lu di depan para pengusaha elite. makan tuh kesombongan keserakahan yg elu mau ambil paksa 😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!