NovelToon NovelToon
Arsitek Memori

Arsitek Memori

Status: tamat
Genre:Misteri / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Wildyan NA

Di kota Neo-Veridia, ingatan bisa diperjualbelikan. Rian, seorang penata memori, menemukan kristal ingatan terlarang yang memperlihatkan dirinya di masa depan—atau masa lalu yang telah dihapus dari otaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wildyan NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

halaman pertama babak baru

Satu bulan telah berlalu sejak malam runtuhnya *Sub-Level 0*.

Kota Neo-Veridia berada dalam gelombang perubahan yang sesungguhnya. Penangkapan Ketua Varro dan pembersihan faksi rahasia di dalam Dewan Pemulihan Sipil memicu reformasi total. Untuk pertama kalinya, kepemimpinan kota diserahkan sepenuhnya kepada dewan perwakilan rakyat lintas distrik. Puluhan warga yang sempat menjadi korban uji coba *Oblivion Prime* telah pulih sepenuhnya, kembali berkumpul bersama keluarga mereka dengan kesadaran yang utuh.

Di Distrik 4, suara ketukan palu dan aroma cat kayu kembali meramaikan sudut jalan tua. Kedai memori yang dahulu hancur kini telah berdiri kembali. Bangunannya diperbaiki dengan bantuan warga sekitar yang bergotong royong sebagai bentuk rasa terima kasih atas kebebasan yang kini mereka nikmati.

Sinar matahari pagi yang hangat menembus jendela kaca kedai yang baru dipasang. Udara di dalam ruangan itu terasa begitu damai, menyiarkan aroma khas kopi Arabika yang baru diseduh dan wangi roti panggang.

Rian berdiri di balik konter kayu yang dipoles halus. Pria itu mengenakan celemek kain sederhana over kemeja putihnya. Tidak ada lagi pusing mendadak, tidak ada lagi gema suara asing di kepalanya, dan tidak ada lagi bayang-bayang kelam yang menghantui jiwanya. Penghancuran total jaringan *Oblivion Prime* benar-benar telah memutus sisa-sisa trauma biologisnya. Bagi dirinya yang sekarang, dunia ini sederhana, indah, dan penuh warna.

Dentang lonceng pintu depan berbunyi nyaring dan ramah.

Rian memutar tubuhnya seraya tersenyum lebar. "Selamat pagi! Selamat datang di—"

Maya melangkah masuk sambil membawa sekantong bunga liar segar yang baru diunduh dari taman kota Distrik Bawah. Wajahnya berseri-seri, memancarkan kedamaian yang belum pernah terpancar selama bertahun-tahun ia memimpin perjuangan perlawanan.

"Selamat pagi, Penjaga Kedai," sapa Maya hangat, meletakkan kantong bunga itu di atas meja dekat jendela. "Udaranya sangat segar hari ini. Kau sudah siap untuk menyeduh cangkir pertama?"

Rian terkekeh pelan, menuangkan secangkir kopi hangat ke dalam cangkir keramik putih dan mendorongnya perlahan ke arah Maya. "Kopi pertama selalu milikmu, Maya. Itu aturan tak tertulis di tempat ini."

Maya duduk di kursi kayu favoritnya, menyentuh cangkir hangat itu dengan kedua tangannya. Matanya menatap Rian yang kini sibuk menata vas bunga di atas meja utama. Ada rasa keharuman yang mendalam di dada Maya setiap kali melihat ketenangan di mata pria itu.

Amnesia Rian mungkin tidak pernah kembali, tetapi Maya menyadari satu hal yang jauh lebih penting: Rian tidak perlu menjadi orang yang dulu untuk bisa dicintai dan dihargai. Pria di depannya adalah Rian yang baru—seorang pria yang memilih kebaikan, kehangatan, dan ketulusan setiap harinya.

Lonceng pintu kembali berdentang. Kali ini, Evan melangkah masuk dengan senyum lebar, membawa sebuah papan kayu berukir yang baru saja selesai dibuatnya.

"Papan namanya sudah jadi!" seru Evan bangga, menunjukkan ukiran di papan kayu tersebut kepada Maya dan Rian.

Di papan kayu itu, terukir indah nama baru kedai mereka: **Kedai Awal Baru**.

"Sempurna," gumam Maya pelan, matanya sedikit berkaca-kaca.

Rian membantu Evan menggantungkan papan nama itu di atas pintu depan. Saat berdiri di ambang pintu, Rian menatap ke arah jalanan Distrik 4. Warga lalu lalang dengan tawa jujur, anak-anak berlarian mengejar burung di alun-alun, dan sinar fajar menyinari kota Neo-Veridia yang kini bangkit dari abu masa lalu.

Maya melangkah mendekati Rian, berdiri di sampingnya dan menggenggam tangannya erat-erat. Rian membalas genggaman itu dengan hangat, menoleh pada Maya seraya menyunggingkan senyum paling tulus yang pernah ia miliki.

"Bagaimana menurutmu, Maya?" tanya Rian pelan, menatap langit biru yang cerah di atas mereka. "Apakah cerita kita akan indah mulai sekarang?"

Maya menggenggam tangan Rian semakin erat, merasakan kehangatan yang kini permanen di antara mereka.

"Bukan hanya indah, Rian," jawab Maya lembut. "Ini adalah cerita yang sepenuhnya milik kita... dan kita baru saja berada di halaman pertama."

1
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!