Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Ruangan 101 seketika diliputi keheningan yang teramat pekat. Suasana di dalam kamar yang pengap itu terasa makin membeku, memenjarakan napas siapa saja yang ada di dalamnya.
"A-apa yang kau bilang... Brayen???"
Dengan cepat dan raut wajah dipenuhi kepanikan, Brayen menjawab, "Aku sudah menjelaskan padamu kalau aku berada di penjara, Bonna! Mungkin kau mendengar kabar kalau aku ditangkap dari teman-temanku setelah kau memutuskan hubungan kita secara sepihak malam itu. Tapi kenyataannya... aku sudah mendekam di balik jeruji besi beberapa hari sebelum peristiwa malam itu terjadi!"
Brayen menelan ludahnya yang pahit, matanya menatap Bonna dengan pijar keputusasaan. "Yang menemanimu malam itu... yang menghabiskan malam denganmu dan dengan bodohnya menyebut nama Laura... itu bukan aku, Bonna! Melainkan kembaranku, Brian!"
DEG.
La Bonna meremas kain selimut yang menutupi tubuh telanjangnya hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin menetes di pelipisnya.
"Brian?" bisik Bonna, suaranya tercekat di tenggorokan. "Saudaramu...?"
Setitik air mata bening tiba-tiba menetes perlahan, melintasi pipinya yang pucat dan jatuh membasahi selimut.
Haruskah La Bonna merasa bersyukur sekarang setelah mendengar fakta terlarang ini?
Bersyukur karena fakta bahwa bukanlah Brayen—pria yang dicintainya dulu—yang tega mendesahkan nama adiknya sendiri saat sedang menidurinya?
Atau... haruskah La Bonna menertawakan ketololan dirinya sendiri? Menertawai betapa bodohnya ia karena selama berbulan-bulan telah dipermainkan, ditipu, dan digilir secara halus oleh Brian dan Brayen tanpa ia sadari sedikit pun?
Penjelasan jujur dari mulut Brayen sama sekali tidak membuat perasaan Bonna menjadi lebih baik.
Tidak ada kelegaan, tidak ada rasa senang. La Bonna justru merasa dirinya semakin teramat menyedihkan. Ia merasa dirinya tak ubahnya sebuah lelucon tak berharga yang selalu saja dijahili dan dipermainkan oleh orang-orang di sekitarnya. Seolah-olah perasaan dan harga dirinya sebagai seorang wanita sama sekali tidak memiliki arti apa pun bagi mereka.
Bonna mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata Brayen dengan tatapan bergetar yang sarat akan amarah yang membara.
"Jadi... selama ini kau punya saudara kembar?" tanya La Bonna dengan suaranya yang semakin serak dan parau. "Kau tidak pernah memberitahuku sepatah kata pun... dan selama dua tahun kita berpacaran, kau diam-diam bertukar peran dengan saudara kembarmu? Bergantian meniduriku tanpa pernah aku ketahui?!"
Bonna yakin betul, Brayen dapat merasakan kobaran amarah dan keheningan yang mematikan dalam setiap patah kata yang keluar dari mulutnya.
Di hadapannya, Brayen perlahan-lahan menganggukkan kepalanya pelan. Sebuah pengakuan bisu yang menegaskan semua dugaan mengerikan itu.
Rasa mual yang amat sangat mendadak menyeruak menembus dada hingga ke kerongkongan Bonna. Membayangkan bagaimana Brayen dan Brian saling melempar senyum gila, menertawakan ketidakpahamannya, dan saling menepuk bahu usai bertukar peran meniduri tubuhnya... rasanya teramat menjijikkan!
"KELUAR!!!" jerit Bonna tiba-tiba. Suaranya melengking tajam memecah keheningan kamar. "Kubilang keluar dari sini, brengsek! Bajingan! KELUAR!!!"
Aura keputusasaan Bonna berubah menjadi kebrutalan emosional. "Kau pantas membusuk ke neraka, Brayen! Aku membencimu, sialan! Aku sangat membencimu!"
Terkejut oleh amukan histeris wanita itu, Brayen dengan cepat terbangun dari posisi simpuhnya di lantai. Namun bukannya melangkah keluar mengikuti perintah Bonna, pria itu justru masih sempat-sempatnya bertanya dengan raut cemas, "Tapi, Bonna... kau belum memberitahuku kenapa kau bisa berada di tempat ini?!"
"Kau tidak perlu tahu, brengsek!" sembur Bonna, dadanya kempas-kempis menahan sesak. "Tapi aku ingatkan sekali lagi padamu... hubungan kita sudah benar-benar berakhir sejak lama! Aku membencimu, bajingan! Kau jauh lebih iblis daripada Nolan! Sekarang pergi dari sini! Pergi! Aku benci melihat wajah jahanammu itu!"
Namun, bukannya mundur, Brayen justru mengambil satu langkah maju mendekati kasur, berusaha meraih tangan Bonna. "Bonna, listened to me! Kau harus memberitahuku kenapa kau bisa berada di sini dengan keadaan terborgol seperti ini! Dengan begitu aku bisa membantumu untuk—"
"KUBILANG KELUAR!!!"
Teriakan La Bonna menggema lantang, menyerap seluruh sisa energi terakhir yang dimilikinya. Napasnya terengah-engah hebat, pergelangan tangannya yang terikat borgol terhentak kasar hingga meneteskan darah segar dari bekas luka yang terkelupas.
Teriakan penuh keputusasaan itu akhirnya berhasil memukul mundur langkah Brayen. Pria itu terpaku, menatap Bonna yang bersandar lemas di kepala ranjang dengan linangan air mata amarah.
Menyadari tak ada lagi ruang untuk bicara, Brayen akhirnya menggerakkan tumitnya, berbalik dengan raut wajah terpukul, dan melangkah keluar dari kamar 101 diikuti oleh Brian yang menyeringai tipis, serta Lucifer dan Alena yang dengan sigap menutup kembali pintu kayu tebal tersebut.
BRAK.
Pintu kamar 101 tertutup rapat. Keheningan kembali melahap ruangan tersebut.
Di dalam keheningan yang mencekam itu, La Bonna menarik kedua lututnya ke dada semampunya di batas panjang rantai borgol. Ia membenamkan wajahnya di antara lipatan paha, membungkus tubuh polosnya dengan selimut yang berantakan.
Isakan tangisnya meluncur tanpa tahanan lagi—sebuah tangisan yang bukan lahir dari rasa takut pada Nolan, melainkan dari hancurnya pondasi sisa-sisa harga diri dan kenangan masa lalunya.
Iblis... mereka semua adalah iblis, batin Bonna meraung di dalam dada.
Sementara itu, di lorong luar kamar 101, atmosfer terasa tak kalah dinginnya.
Brayen berdiri menyandar di dinding granit, mengusap wajahnya kasar. Matanya yang tajam kini bergulir menatap ke arah saudaranya, Brian, yang berdiri santai seraya melipat kedua tangan di dada.
"Kau membodohiku malam itu, Brian," desis Brayen, nadanya teramat dingin dan dipenuhi ancaman yang tersembunyi. "Kau bilang kau hanya berkunjung ke rumahnya untuk mengantarkan pesan bahwa aku ditangkap polisi. Tapi kau malah menidurinya dan menyebut nama adiknya?"
Brian terkekeh pelan, sama sekali tidak merasa terancam oleh aura membunuh kembarannya sendiri. "Oh, ayolah, Brayen. Kau yang terlalu naif. Wanita itu begitu menggoda di atas ranjang, dan kau menyimpan 'makanan enak' seperti itu sendirian selama dua tahun tanpa mau berbagi dengan saudara kembarmu sendiri? Rasa bersalahmu yang konyol itulah yang membuatmu tertangkap malam itu."
"Tutup mulutmu!" geram Brayen, cengkeramannya pada jaket Brian mengencang seketika.
"Cukup!" sela Lucifer dengan nada tegas dan berwibawa, melangkah menengahi dua saudara kembar yang siap bertumpah darah di lorong tersebut. "Kalian berdua berada di bawah naungan Tuan Nolan sekarang. Jangan membuat keributan konyol di depan kamar tawanannya. Jika Tuan Nolan mendengar perselisihan ini, kalian berdua tahu apa konsekuensinya."
Alena, yang berdiri di samping Lucifer, menatap Brian dan Brayen dengan pandangan jijik yang tak ditutup-tutupi. "Kalian berdua benar-benar menjijikkan," cetus Alena dingin sebelum memutar badannya dan berjalan pergi meninggalkan mereka.
Lucifer menatap Brayen sejenak. "Aku sarankan kau fokus pada imbalan yang ditawarkan Tuan Nolan tadi pagi. Jangan mencampuri urusan La Bonna lagi. Tuan Nolan telah mengklaim wanita itu sebagai barang pribadinya. Kau tahu betul apa yang terjadi pada siapa saja yang mencoba menyentuh atau mengambil barang milik Tuan Nolan."
Kalimat peringatan dari Lucifer itu menggantung berat di udara. Brayen mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih, namun ia tidak bisa membantah. Di Velvet Noir ini, aturan Nolan adalah hukum tertinggi yang tidak bisa diganggu gugat.