Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.
Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.
Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.
Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 : Saudara Kembar
Di ruang bawah tanah pabrik kayu tua. Perintah sang pemimpin Black Eagle menyebar dengan cepat. Beberapa monitor besar menyala bersamaan. Pada setiap layar muncul simbol elang hitam dengan angka Romawi XIII.
Seorang wanita berambut pendek berdiri di depan layar sambil menyilangkan tangan.
"Target sudah dipastikan?"
Pria bertopeng mengangguk. "Sudah seratus persen."
"Kalau begitu... aku yang akan membawanya pulang."
Pria bertopeng menoleh. "Tidak."
Wanita itu mengernyit. "Kenapa?"
"Masih terlalu cepat."
"Tapi dia mulai mengingat masa lalunya."
"Itulah alasannya."
Pria bertopeng berjalan perlahan menuju jendela sempit yang menghadap pegunungan. "Biarkan ingatannya kembali sedikit demi sedikit. Semakin banyak yang ia ingat... semakin mudah kita menghancurkan harapannya."
Senyum dingin muncul di balik topeng elang itu. "Kali ini, keluarga Bellini akan benar-benar berakhir."
Sementara itu...
Konvoi keluarga Moretti akhirnya memasuki wilayah Kota Zurich. Aurora tampak jauh lebih tenang setelah terbangun, meski pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan.
Ia menatap keluar jendela, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu. "Ternyata... sudah sore."
Leonardo tersenyum. "Hari ini terasa sangat panjang."
Aurora mengangguk pelan. "Iya."
Adrian yang sejak tadi memperhatikan keadaan sekitar akhirnya berbicara melalui alat komunikasi. "Johan."
"Ya, Don."
"Ada laporan dari Jordi?"
"Belum. Tapi alat pelacak sudah berhasil dipasang pada salah satu SUV target."
"Bagus."
"Itu berarti kita bisa mengetahui setiap pergerakan mereka."
Adrian mengangguk pelan. "Itu lebih berharga daripada menangkap enam orang tadi."
Tak lama kemudian...
Gerbang besi Mansion Moretti perlahan terbuka. Konvoi kendaraan masuk satu per satu. Begitu mobil berhenti di halaman utama, beberapa pelayan telah berdiri rapi menyambut mereka.
Aurora turun perlahan, ia mendongak memandang langit senja yang mulai berubah jingga. Entah mengapa... perasaannya sedikit lebih ringan dibanding pagi tadi.
"Aurora." Leonardo menghampirinya. "Istirahatlah malam ini."
Aurora tersenyum. "Baik."
"Kau sudah menerima terlalu banyak kejutan dalam satu hari."
Aurora mengangguk. "Aku juga ingin menenangkan pikiranku."
Leonardo mengusap pelan bahu gadis itu sebelum masuk ke dalam mansion.
Di sisi lain...
Adrian tidak ikut masuk, ia tetap berdiri di halaman sambil menunggu Johan. Beberapa detik kemudian, Johan datang membawa sebuah map hitam.
"Don."
"Ada perkembangan?"
Johan menyerahkan map tersebut. "Kami berhasil mendapatkan data lama tentang keluarga Bellini."
Adrian langsung membukanya. Di dalam terdapat foto-foto bangunan, silsilah keluarga, dan beberapa artikel koran lama. Namun, satu lembar dokumen membuat tatapannya berubah tajam.
"Apa ini?"
Johan ikut melihat. "Itu daftar anggota keluarga Bellini."
Adrian membaca perlahan. Lord Alessandro Bellini, Lady Elena Bellini. Lalu... di bagian paling bawah tertulis dua nama. Aurora Bellini dan... Aurelia Bellini. Usia lahir keduanya sama, tanggal lahir pun sama.
Johan menelan ludah. "Berarti..."
Adrian menutup map itu perlahan. "Mereka kembar."
Johan membelalakkan mata. "Nona Aurora memiliki saudara kembar."
Tatapan Adrian berubah semakin serius. Kalau begitu, semua dugaan mereka benar. Dua liontin, dua bayi, dan dua orang yang diselamatkan pada malam pembantaian. Namun kini muncul pertanyaan yang jauh lebih besar. Di mana Aurelia Bellini berada?
Sementara itu...
Aurora baru saja memasuki kamarnya. Ia meletakkan kotak kayu, surat, dan liontin bunga lily di atas meja dekat jendela. Ia duduk perlahan di tepi ranjang. Tanpa sadar, ia mengambil kembali surat yang belum sempat dibukanya. Jemarinya mengusap tulisan yang mulai pudar.
"Untuk Aurora... bukalah saat kau tidak lagi sendirian."
Aurora tersenyum tipis. "Kurasa..."
Ia memandang ke arah jendela, mengingat Leonardo, Pastor Markus, dan Adrian. "Aku memang tidak sendirian lagi." Namun ia tetap meletakkan surat itu kembali. "Tapi bukan sekarang. Aku akan membukanya... setelah menemukanmu."
Aurora menggenggam liontin bunga lily di dadanya. "Aurelia... aku tidak tahu siapa dirimu. Tapi kalau kau benar-benar ada..." Air mata hangat kembali mengalir di pipinya. "Aku akan menemukanmu."
Di tempat yang sangat jauh, pada malam yang sama. Seorang gadis muda berambut hitam panjang berdiri di balkon sebuah bangunan megah di tepi Danau Jenewa.
Di lehernya tergantung sebuah liontin bunga lily yang berkilau diterpa cahaya bulan. Entah mengapa, dadanya tiba-tiba terasa sesak.
Ia tanpa sadar menggenggam liontin itu. "Kenapa..." bisiknya pelan. "Aku merasa seseorang sedang memanggil namaku?"
Di belakangnya, seorang wanita berpakaian hitam melangkah mendekat. "Nona Aurelia."
Gadis itu menoleh.
"Tuan sudah menunggu Anda."
Aurelia mengangguk pelan. "Baik."
***
Malam menyelimuti Kota Zurich. Langit dipenuhi awan tipis yang menutupi cahaya bulan. Di dalam Mansion Moretti, suasana tampak tenang. Namun di balik ketenangan itu, setiap orang sibuk mempersiapkan sesuatu.
Di ruang kerja Don Moretti...
Adrian berdiri di depan jendela besar sambil memandang taman yang diterangi lampu-lampu temaram. Map hitam tentang keluarga Bellini masih terbuka di atas meja.
Johan masuk tanpa suara. "Don."
"Bagaimana hasil pelacakan?"
Johan menyerahkan tablet. "Titik GPS masih aktif."
Adrian melihat layar. Titik merah yang dipasang pada SUV Black Eagle tidak lagi berada di pabrik kayu tua.
"Mereka bergerak?"
"Iya."
"Ke arah mana?"
Johan memperbesar peta digital. "Mereka tidak menuju markas lain."
"Lalu?"
"Mereka berputar-putar."
Adrian menyipitkan mata. "Seolah sedang memastikan tidak ada yang mengikuti."
Johan mengangguk. "Hampir tiga jam mereka hanya berputar di jalan pegunungan."
Adrian menatap layar beberapa detik. "Mereka tahu."
Johan mengangkat kepala. "Maksud Don?"
"Mereka belum menemukan alat pelacaknya. Mereka hanya sedang menguji apakah ada seseorang yang membuntuti mereka."
Johan langsung memahami. "Berarti Jordi..."
"Perintahkan dia menjaga jarak lebih jauh."
"Baik."
Johan segera menghubungi Jordi.
***
Di tepi Danau Jenewa...
Bangunan megah bergaya klasik berdiri menghadap permukaan danau yang tenang. Di balkon lantai dua, Aurelia masih memandang air danau. Perasaan aneh itu belum juga menghilang. Dadanya terasa sesak. Seolah ada bagian dari dirinya yang selama ini hilang.
"Nona." Wanita berpakaian hitam kembali muncul. "Tuan sudah menunggu."
Aurelia mengangguk. Ia mengikuti wanita itu memasuki lorong panjang yang dipenuhi lukisan-lukisan tua. Sesampainya di ruang kerja... seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun sedang duduk di balik meja kayu besar.
Rambutnya mulai memutih. Tatapannya tajam, namun penuh wibawa. "Aurelia."
Gadis itu sedikit membungkuk. "Paman."
Pria itu tersenyum tipis. "Duduklah."
Aurelia menurut. "Ada sesuatu yang ingin Paman bicarakan?"
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru menggeser sebuah map ke hadapan Aurelia. "Bukalah."
Aurelia membuka map tersebut. Isinya beberapa foto hasil pengintaian. Begitu melihat foto pertama... jantungnya seperti berhenti berdetak. Seorang gadis muda sedang berdiri di depan gereja tua. Wajahnya... sangat mirip dengannya.
Aurelia membelalakkan mata. "Itu..."
Pria itu mengangguk pelan. "Namanya Aurora."
Ruangan mendadak sunyi.
Aurelia menatap foto itu berkali-kali. Mustahil... tidak mungkin ada dua orang yang begitu mirip.
"Siapa dia?"
Pria itu menghela napas panjang. "Seseorang yang selama ini tidak pernah boleh kau ketahui."
Aurelia perlahan mengangkat kepalanya. "Kenapa wajah kami sama?"
Pria itu menatapnya lama. "Karena... kalian dilahirkan pada hari yang sama."
Napas Aurelia tercekat.
"Dan..." Pria itu menutup mata sesaat. "Dia adalah saudara kembarmu."