PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Malam semakin larut.
Di ruang bawah tanah yang lembap itu, suasana terasa mencekam.
Mahendra masih memegang buku hitam tersebut. Tatapannya tidak pernah lepas dari setiap halaman yang berisi catatan-catatan aneh.
Ergan berdiri di sampingnya.
"Tuan... ada sesuatu lagi."
Mahendra menoleh.
"Apa?"
Ergan menunjuk sebuah lemari besi kecil yang tersembunyi di balik rak kayu.
"Tadi tertutup debu. Sepertinya sengaja disamarkan."
Mahendra mendekatinya.
Pintu besi itu sudah berkarat, tetapi masih terkunci rapat.
"Singkir."
Salah satu anak buah Ergan maju membawa alat pembuka.
Butuh beberapa menit.
"Krek..."
Kunci akhirnya berhasil dipatahkan.
Saat pintu terbuka...
Semua orang terdiam.
Di dalamnya tersusun rapi puluhan map berwarna cokelat.
Setiap map diberi kode.
Subjek A.
Subjek B.
Subjek C.
Subjek D.
Dan...
Subjek E.
Jantung Eiri berdetak semakin cepat.
"Itu..."
Mahendra mengambil map bertuliskan Subjek E.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia membuka halaman pertama.
Di sana terdapat foto Eiri saat masih berusia sekitar enam tahun.
Di bawah foto itu tertulis:
Nama: Eiri.
Usia saat perekrutan: 6 tahun.
Status: Berhasil.
Kemampuan observasi: Sangat tinggi.
Kecerdasan: Di atas rata-rata.
Layak dijadikan Subjek E.
"Nggak mungkin..."
Suara Eiri bergetar.
"Aku... tidak pernah mengikuti penelitian apa pun."
Mahendra membalik halaman berikutnya.
Terdapat hasil pemeriksaan kesehatan.
Tes psikologi.
Tes memori.
Hingga grafik perkembangan otak.
Semuanya lengkap.
Seolah seseorang telah mengawasi kehidupan Eiri sejak kecil.
"Astaga..."
Ergan ikut terkejut.
"Tuan... ini bukan penelitian biasa."
Mahendra mengangguk pelan.
"Ini eksperimen manusia."
Kalimat itu membuat bulu kuduk semua orang meremang.
Eiri mundur beberapa langkah.
Dadanya terasa sesak.
"Ayah..."
"Ibu..."
"Apakah mereka mengetahui semua ini?"
Belum sempat siapa pun menjawab...
Brak!
Suara benda jatuh terdengar dari lorong.
Semua orang langsung menoleh.
"Siapa di sana?!"
Ergan mengangkat pistolnya.
Beberapa anak buah segera menyebar.
Langkah kaki terdengar semakin menjauh.
"Kejar!"
Empat orang langsung berlari.
Namun beberapa detik kemudian...
"Mereka kabur!"
Mahendra mengepalkan tangan.
"Berarti tempat ini masih diawasi."
Ia kembali melihat isi map.
Di halaman terakhir terselip secarik kertas.
Hanya ada satu kalimat.
"Jika mereka menemukan berkas ini, berarti tahap pertama telah selesai."
Mahendra langsung berdiri.
"Ini jebakan."
"Semua ini memang sengaja ditinggalkan."
Ergan mengangguk.
"Victor ingin kita menemukan semua ini."
"Tapi kenapa?"
Mahendra menatap lurus ke depan.
"Karena dia ingin mengarahkan kita ke sesuatu."
"Tapi bukan ke tujuan sebenarnya."
Tiba-tiba...
Salah seorang anggota tim kembali berlari.
"Tuan!"
"Ada ruangan lain!"
"Apa?"
"Di balik dinding sebelah timur."
Mahendra segera mengikuti mereka.
Salah satu bagian tembok ternyata berlubang akibat ledakan.
Di baliknya terdapat lorong sempit.
Lorong itu jauh lebih gelap.
Lampunya sudah mati.
Ergan mengambil senter.
Mereka berjalan perlahan.
Semakin masuk...
Udara menjadi semakin dingin.
Hingga akhirnya lorong itu berakhir pada sebuah ruangan bundar.
Di tengah ruangan terdapat kursi besi dengan sabuk pengikat.
Di sekelilingnya berdiri berbagai mesin tua.
Beberapa tabung kaca masih berisi cairan berwarna kebiruan.
Eiri langsung memegang kepalanya.
"Ah..."
Mahendra menoleh cepat.
"Eiri?"
"Aku..."
"Aku seperti..."
Kilasan-kilasan gambar tiba-tiba muncul di benaknya.
Seorang anak perempuan menangis.
Suara mesin.
Lampu yang sangat terang.
Seseorang berkata,
"Tenangkan Subjek E."
"Suntikkan dosis berikutnya."
Eiri memejamkan mata.
"Nggak..."
"Berhenti..."
Mahendra langsung memegang bahunya.
"Eiri!"
Napas Eiri memburu.
"Aku... pernah di sini..."
Semua orang membeku.
Mahendra menatap ruangan itu dengan wajah tegang.
"Jadi..."
"Ingatanmu mulai kembali."
Air mata mengalir dari mata Eiri.
"Aku belum ingat semuanya..."
"Tapi suara itu..."
"Aku pernah mendengarnya."
Ergan segera memeriksa mesin-mesin tua tersebut.
"Tuan."
"Lihat ini."
Di salah satu monitor usang masih tertempel sebuah kartu identitas.
Mahendra mengambilnya.
Tertulis jelas:
Proyek EDEN
Penanggung Jawab: Dr. Adrian Hanzel
Mahendra membeku.
"Hanzel..."
"Nama belakang yang sama dengan Victor."
Ergan mengangguk pelan.
"Berarti..."
"Victor memiliki hubungan langsung dengan proyek ini."
Mahendra mengepalkan kartu itu.
"Kalau begitu..."
"Victor bukan dalang utamanya."
"Dia hanya pewaris dari proyek mengerikan ini."
Tiba-tiba...
Bunyi bip... bip... bip...
Terdengar dari salah satu mesin tua.
Lampu merah berkedip.
Ergan langsung menoleh.
"Waspada!"
Layar monitor yang mati selama bertahun-tahun tiba-tiba menyala sendiri.
Perlahan muncul sebuah rekaman video lama.
Wajah seorang pria paruh baya memenuhi layar.
Ia mengenakan jas laboratorium putih.
Pria itu menatap kamera dengan ekspresi serius.
"Jika kalian sedang melihat rekaman ini..."
"Berarti Proyek EDEN telah gagal disembunyikan."
Mahendra, Eiri, dan seluruh orang di ruangan itu menahan napas.
Karena mereka sadar...
Untuk pertama kalinya...
Mereka akan mendengar pengakuan langsung dari orang yang berada di balik eksperimen mengerikan tersebut.
Ruangan itu sunyi.
Hanya suara mesin tua yang terus berdengung pelan.
Semua mata tertuju pada layar monitor yang berkedip.
Pria berjas putih itu menarik napas panjang sebelum mulai berbicara.
"Aku adalah Dr. Adrian Hanzel."
"Ketua Proyek EDEN."
"Jika rekaman ini diputar, kemungkinan besar aku sudah tidak berada di dunia ini."
Mahendra mengepalkan tangannya.
Eiri menatap layar tanpa berkedip.
"Aku membuat rekaman ini bukan untuk membela diriku."
"Tetapi agar seseorang menghentikan kesalahan yang telah kami lakukan."
Dr. Adrian menundukkan kepala.
"Proyek EDEN dimulai dua puluh tahun yang lalu."
"Tujuannya bukan menciptakan senjata."
"Melainkan menyembuhkan trauma dan menghapus ingatan yang menyakitkan."
Eiri mengerutkan dahi.
"Menghapus... ingatan?"
"Tetapi..."
"Pendanaan yang sangat besar mengubah segalanya."
"Waktu itu, seseorang datang menawarkan dana tanpa batas."
"Sebagai gantinya..."
"Mereka meminta penelitian ini dijadikan alat untuk mengendalikan manusia."
Mahendra langsung bertanya pada layar, meski tahu itu hanya rekaman.
"Siapa orang itu?"
Seolah tak mendengar, rekaman terus berlanjut.
"Aku menolak."
"Namun para ilmuwan lain menerimanya."
"Sejak saat itu proyek ini berubah menjadi mimpi buruk."
Dr. Adrian menatap kamera dengan mata merah.
"Puluhan anak dijadikan subjek."
"Sebagian besar tidak selamat."
Ruangan kembali hening.
Ergan menundukkan kepala.
Beberapa anak buahnya saling berpandangan dengan wajah pucat.
"Tidak..."
Eiri berbisik lirih.
"Mustahil..."
"Subjek A."
"Gagal."
"Subjek B."
"Gagal."
"Subjek C."
"Meninggal."
"Subjek D."
"Hilang."
"Dan..."
"Subjek E."
Dr. Adrian berhenti sejenak.
"Wanita kecil itu berhasil bertahan."
Air mata mulai mengalir di pipi Eiri.
"Dia memiliki daya tahan yang luar biasa."
"Tetapi sebagai efek samping..."
"Ingatannya dapat diubah dengan obat tertentu."
Mahendra menoleh ke arah Eiri.
Tatapan mereka bertemu.
Kini semua potongan teka-teki mulai tersusun.
Kehilangan ingatan Eiri bukanlah kebetulan.
Melainkan kelemahan yang telah ditanamkan sejak kecil.
Dr. Adrian kembali berbicara.
"Aku menyesal."
"Karena tidak mampu menghentikan semuanya."
"Tetapi..."
"Masih ada satu orang."
"Orang itu mengetahui seluruh data asli Proyek EDEN."
"Namanya..."
Tiba-tiba...
Layar dipenuhi gangguan.
"Grrr..."
Suara bising memenuhi ruangan.
"Siapa?!"
Ergan langsung menoleh ke arah komputer tua.
Monitor berkedip-kedip.
Nama yang hampir muncul menghilang begitu saja.
Beberapa detik kemudian...
Layar berubah menjadi hitam.
"Listriknya diputus!"
teriak salah satu anggota tim.
Mahendra segera berlari menuju panel listrik.
Namun semuanya sudah hangus.
"Seseorang meretas sistem ini dari luar," ujar Ergan sambil memeriksa kabel-kabel yang baru saja terbakar.
Mahendra mengepalkan tangan.
"Mereka sengaja menghentikan rekaman itu."
Tiba-tiba...
Sebuah suara tepuk tangan bergema dari lorong gelap.
"Hebat."
"Kalian berhasil sampai sejauh ini."
Semua orang spontan mengarahkan senjata ke arah suara itu.
Seorang pria bertubuh tinggi keluar dari balik bayangan.
Ia mengenakan jas hitam panjang.
Topi fedora menutupi sebagian wajahnya.
Di bibirnya tersungging senyum tipis.
"Sayang sekali."
"Kalian selalu terlambat."
Ergan mempersempit tatapannya.
"Siapa kau?"
Pria itu melepas topinya perlahan.
Eiri membelalakkan mata.
"Aku..."
"Aku pernah melihat wajah itu..."
Mahendra berdiri di depan Eiri, melindunginya.
"Siapa namamu?"
Pria itu tersenyum.
"Kalian boleh memanggilku..."
"Orion."
"Aku hanya utusan."
"Tetapi seseorang memintaku menyampaikan pesan."
Mahendra menatap tajam.
"Pesan dari Victor?"
Orion tertawa pelan.
"Victor?"
"Dia bahkan bukan orang yang paling berbahaya."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.
Orion memasukkan tangan ke dalam sakunya, lalu melemparkan sebuah amplop ke lantai.
"Ini hadiah kecil."
"Untuk Subjek E."
Setelah itu...
Lampu di lorong tiba-tiba padam.
"Kejar dia!"
teriak Ergan.
Anak buahnya langsung berlari.
Namun ketika lampu darurat kembali menyala beberapa detik kemudian...
Orion telah menghilang tanpa jejak.
Yang tersisa hanyalah amplop putih di lantai.
Mahendra mengambilnya perlahan.
Di bagian depan amplop hanya tertulis satu kalimat.
"Kebenaran tentang keluarga Eiri dimulai dari Pulau Arkan."
Mahendra dan Eiri saling berpandangan.
Mereka sadar...
Perjalanan mereka belum mendekati akhir.
Justru sebuah nama baru telah membuka pintu menuju rahasia yang jauh lebih besar.
Bersambung ke BAB 25