NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Bab 33: Diana di culik

Beberapa hari berlalu, dan kabar buruk yang sempat menyebar luas perlahan mulai meredup.

Artikel-artikel tidak lagi muncul di koran, pesan-pesan teror dari nomor tak dikenal pun berhenti datang begitu saja.

Seolah-olah badai yang sempat mengancam itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

"Belum tidur, sayang?" Tanya Arga, ketika dia baru saja masuk setelah menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja.

Diana yang masih terjaga, dia selalu mengecek ponselnya setiap saat, melihat apakah masih ada teror atau berita tentang mereka.

Tetapi semuanya hilang, entah kemana...

"Belum, Mas. Aku masih belum ngantuk" Ujarnya sambil tersenyum, lalu meletakkan ponselnya.

Arga mendekat, lalu naik ke ranjang. Memeluk istrinya erat, membawanya ke dadanya yang bidang.

"Udah malam, ayo tidur!" Ajak Arga

Di dalam dekapan hangat sang suami, Diana merasa hangat, dia memejamkan matanya dan bersiap bermimpi indah.

"Selamat malam, Istriku!"

Begitu pun Arga, setelah seharian bekerja, tubuhnya membutuhkan istirahat. Dia lekas memejamkan mata dan menyusul istrinya ke dalam mimpi.

Di kediaman keluarga Wijaya, suasana kembali terasa tenang.

Diana sempat merasa gelisah dan sering terbangun di malam hari, tapi kini ia bisa bernapas lega kembali.

Namun, ketenangan itu hanyalah kedok semata.

Di balik layar, Wulan justru semakin gelisah dan merasa tidak sabar.

Ia melihat bahwa gosip dan fitnah yang ia sebarkan tidak cukup kuat untuk memisahkan Arga dan Diana.

Bahkan sebaliknya, pasangan itu justru terlihat semakin harmonis. Rasa cemburu dan dendam di hatinya membesar hingga tak terbendung.

Ia merasa cara halus sudah tidak mempan — saatnya ia bertindak lebih nekad lagi.

“Kalau dia tidak mau pergi dengan sendirinya, maka aku yang akan membuatnya menghilang dari kehidupan Arga selamanya,” gumam Wulan dengan tatapan tajam, matanya menyala penuh keinginan kebencian.

...----------------...

Siang itu, sinar matahari bersinar terang, menerangi taman belakang rumah yang rindang.

Diana duduk santai di bawah pohon mangga yang besar, menikmati angin sepoi-sepoi. sambil memegang segelas jus buah segar.

"Ahh... Segarnya !" Diana menyeruput jus buah naga dengan nikmat

Wajahnya terlihat lebih segar dan rileks, bebas dari beban pikiran yang sempat membebani.

Belum lama ia duduk, terdengar langkah kaki mendekat.

Nyonya Amara berjalan perlahan dengan tongkat penyangga, diikuti oleh Bi Mari yang selalu setia berada di dekatnya.

Diana segera berdiri dan menyambutnya dengan senyum lembut.

“Ibu, kenapa kesini? Ibu gak istirahat di kamar? Matahari lagi panas banget,” sapa Diana sambil menarikkan kursi agar mertuanya bisa duduk dengan nyaman.

Nyonya Amara tersenyum, lalu mengusap lembut lengan Diana. “nggak apa-apa, Nak. Justru ibu ingin menghirup udara segar. Di kamar terus bosan. Kamu sendiri, duduk sendirian, nggak bosan?”

Diana menggeleng pelan, namun jujur saja ada sedikit rasa jenuh di hatinya. “Aku gak mau buat Mas Arga khawatir, Bu. Tapi emang belakangan ini rasanya agak membosankan. Sejak ada masalah kemarin, aku jarang keluar rumah. Mas Arga gak izinin, katanya takut aku kenapa-napa.”

Mendengar itu, Nyonya Amara mengangguk mengerti. “Sebenarnya, besok, ibu berencana pulang. Sudah lama ibu tinggal di sini, dan ibu sudah merindukan suasana rumah,”

Mata Diana terbelalak mendengarnya.

Ia segera memegang tangan ibu mertuanya dengan wajah khawatir.

“Pulang? Ibu, kenapa buru-buru? Tinggal saja di sini. Rumah ini juga rumah Ibu. Aku senang ada ibu di sini. Jangan pergi ya, Bu?”

Namun Nyonya Amara hanya tersenyum lembut sambil menggeleng.

“Ibu tau. Tapi ibu sudah tua. rasanya lebih tenang dan nyaman di rumah yang sudah aku tempati puluhan tahun itu. Jangan khawatir, ibu akan sering berkunjung ke sini. Lagipula, Arga dan kamu juga punya kehidupan sendiri, tidak perlu terus-terusan menjaga orang tua ini.”

Melihat ketegasan di wajah mertuanya, Diana tahu ia tidak bisa membujuknya lagi. “Kalau begitu, aku tidak bisa melarang. Tapi Ibu harus jaga kesehatan, kalau ada apa-apa segera hubungi aku atau Mas Arga.”

“Pasti. Dan sebelum aku pulang, gimana kalau hari ini kita pergi berbelanja? Ibu akan menemanimu berkeliling sebentar, sekalian melepas penat,” usul Nyonya Amara tiba-tiba.

Wajah Diana seketika berseri-seri. “Benarkah, Bu? Apa ibu gak capek?" Tanya Diana pelan

"Nggak " Ujar ibu mertuanya dengan senyum

"Tapi aku harus izin dulu sama Mas Arga, takutnya dia gak ngizinin aku keluar rumah.”

“Iya, itu harus. hubungi dia sekarang. Ibu yakin dia tidak akan melarang, apalagi kalau ibu juga Ikut,” kata Nyonya Amara meyakinkan.

"Iya, Bu!"

Diana segera mengambil ponselnya dan menelepon Arga yang sedang bekerja di kantor.

Tuuuttt... tutt....

Setelah beberapa detik, panggilan tersambung.

Suara Arga terdengar jelas dan lembut dari seberang telepon.

“Halo, Sayang. Ada apa?”

“Mas, Ibu ngajak aku pergi belanja. Bolehkan aku ikut? Aku udah lama nggak keluar rumah,” tanya Diana dengan nada memohon.

Arga terdiam sejenak, memikirkan keamanan istrinya mengingat kejadian beberapa hari lalu.

Namun mendengar ibunya juga ikut serta, ia merasa sedikit lebih tenang.

“Boleh, Sayang. Tapi ingat, jangan jauh-jauh dari Ibu. Bawa juga Pak Heru dan Pak Broto untuk menjaga kalian berdua. Jangan pergi ke tempat yang sepi, dan kalau ada apa-apa segera hubungi aku, mengerti?”

“Siap, Mas! Terima kasih banyak,” jawab Diana gembira, lalu mengakhiri telepon dengan senyum lebar.

Tak lama kemudian, mobil keluarga yang dikemudikan Pak Heru sudah siap di halaman.

Pak Broto duduk di kursi depan samping sopir, sementara Diana dan Nyonya Amara duduk nyaman di dalam kabin. Mobil pun melaju meninggalkan kediaman Wijaya menuju pusat kota.

Namun, kepergian mereka tidak luput dari pengawasan.

Tidak jauh dari gerbang rumah, sebuah mobil buta warna yang terparkir diam tiba-tiba menyalakan mesin.

Orang di dalamnya segera menghubungi atasan mereka.

“Lapor Nyonya! Nyonya Amara dan Nyonya Diana baru saja keluar rumah. Mereka bersama dua orang pengawal,” ujar suara pria itu melalui telepon.

Mendengar kabar itu, senyum kemenangan mengembang di wajah Wulan. Matanya berbinar penuh antisipasi. Akhirnya kesempatan yang ia tunggu-tunggu telah tiba.

“Bagus! Terus ikuti mereka dari jarak jauh, jangan sampai ketahuan. Segera kabari aku jika mereka sudah sampai di tempat tujuan. Dan siapkan orang-orangku untuk bertindak begitu waktu dan tempatnya tepat,” perintah Wulan dengan nada dingin dan penuh keyakinan.

“Siap, Nyonya!”

Wulan segera menekan nomor telepon lain, menghubungi sekelompok orang yang sudah ia bayar.

“Dengarkan baik-baik. Tugas kalian adalah menangkap wanita bernama Diana, istri Arga Wijaya. Aku sudah mengirim fotonya. Lakukan dengan hati-hati, jangan sampai ada saksi atau keributan. Bawa dia ke tempat yang sudah aku tentukan. Ingat, jangan sampai dia terluka parah, tapi pastikan dia tidak bisa melawan. Kalau berhasil, kalian akan dapat imbalan yang jauh lebih besar dari yang sudah disepakati.”

Panggilan terputus dan Wulan menyeringai kejam.

"Aku sudah menunggu Arga begitu lama. Bahkan ketika kakakku masih bersama nya, aku selalu sabar menunggu! tapi tiba-tiba kau datang! Aku bisa melakukan apapun untuk mencapai tujuan ku, " Ujar Wulan dengan tawa jahatnya.

Di sisi lain, mobil yang membawa Diana dan Nyonya Amara telah tiba di salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan paling ramai di kota.

Suasana di dalamnya sangat sibuk, penuh pengunjung yang berjalan mondar-mandir.

"Diana, ayo kita lihat ke sana!"

Nyonya Amara merangkul lengan menantunya, berjalan menuju toko baju wanita.

Diana hanya mengikuti dengan senang hati.

"Kamu coba yang ini!"

Sebuah gaun panjang mencapai mata kaki, tanpa lengan dan terdapat belahan di kaki sampai paha, begitu indah.

Nyonya Diana menyuruh menantu nya untuk mencoba, dan Diana segera pergi ke ruang ganti.

Dress itu begitu cocok di tubuh Diana yang putih bersih,

Dengan perasaan senang, nyonya Diana bertepuk tangan dan segera memilih dress yang lain,

"Aku mau yang ini, ini, ini, yang ini juga, dan yang itu !" Nyonya Amara menunjuk banyak baju khusus untuk menantunya.

"Bu, bajuku sudah banyak, nanti gak muat di lemari, Mas Arga juga hampir tiap hari beliin aku baju" Ujar Diana pelan.

Memang kenyataannya begitu, lemari nya sudah penuh dengan berbagai macam baju, dari yang santai sampai yang formal, semuanya ada. Bukan baju biasa, semuanya dari brand-brand ternama.

"Ya gapapa, nanti kita beli lemari baru, gampang kan? Ingat Diana, Arga bekerja setiap hari, jika uangnya tidak kita habiskan, nanti dia jadi pemalas karena uangnya masih utuh" Ujar Nyonya Amara dengan santainya

Diana pasrah, dan mengikuti kemauan ibu mertuanya.

Dari toko baju, mereka kembali berjalan menuju toko sepatu, lalu toko baju dinas malam. Nyonya Diana bahkan membeli banyak lingerie seksi sambil menggoda Diana.

"Kamu harus menggunakan ini setiap malam, Diana! Ibu juga ingin segera menggendong cucu baru!" Ujarnya semangat membuat Diana malu, dan pipinya memerah karena ada banyak orang yang mendengar ocehan ibu mertuanya.

"Ibuuuu..."

Setelah berjalan-jalan sebentar dan melihat-lihat barang, Diana merasa perutnya sedikit tidak nyaman.

Ia menoleh ke arah mertuanya.

“Bu, Aku mau ke toilet dulu, sudah tidak tahan lagi,” ujarnya.

Nyonya Amara yang sedang memegang menu segera mengangguk, "Ya, Hati-hati!"

Mereka sedang berada di restoran.

Pak Broto yang berada di belakang mereka segera melangkah maju. “Nyonya, saya ikut untuk menjaga anda .”

Namun Diana menggeleng sambil tersenyum malu. “Tidak usah, Pak Broto. Di sini kan ramai, aman kok. Aku cuma sebentar. Tunggu saja di sini”

“Tapi Nyonya, Tuan Arga berpesan agar saya selalu berada di dekat Anda,” jawab Pak Broto dengan tegas.

Mendengar penuturan pengawal itu, Diana akhirnya mengangguk pasrah. “Baiklah, tapi cukup sampai di depan saja, jangan masuk ke dalam.”

Pak Broto mengangguk mengerti.

Sesampainya di area toilet wanita, Diana berhenti dan menoleh ke arah Pak Broto. “Sudah sampai, Pak. tunggu di luar saja, saya masuk dulu.”

Pak Broto mengangguk patuh, lalu berdiri menjaga di depan pintu masuk toilet.

Sementara itu, orang suruhan Wulan yang sudah mengikuti mereka sejak tadi terus mengawasi dari kejauhan sambil memberikan kode kepada rekan-rekannya yang sudah bersembunyi di tempat yang tidak mencolok.

Beberapa menit berlalu, namun Diana belum juga keluar.

Pak Broto mulai merasa gelisah, namun ia tetap berdiri setia menjaga.

Hingga tiba-tiba, perutnya terasa melilit hebat.

Keinginan untuk buang air kecil datang secara tiba-tiba dan sangat kuat, mungkin karena ia terlalu banyak minum air putih selama perjalanan.

Pak Broto mengerutkan dahi, wajahnya terlihat bingung dan gelisah.

“Bagaimana ini? Nyonya belum juga keluar, tapi aku sudah tidak tahan lagi. Kalau aku pergi sebentar saja, tidak apa-apa, kan?” gumamnya sambil mondar-mandir di depan pintu, sesekali melirik ke dalam sambil menahan rasa sakit.

Namun, tatapan aneh mulai ia terima dari para wanita yang ingin masuk ke toilet. Mereka menatapnya curiga, mengira pria paruh baya itu sedang mengintip atau berniat buruk. Ada yang bahkan mulai berbisik-bisik dan menunjuk ke arahnya.

Merasa malu dan semakin tidak tahan, Pak Broto akhirnya mengambil keputusan.

“Aku pergi sebentar saja ke toilet pria, pasti tidak lebih dari dua menit. Tidak akan ada apa-apa di tempat seramai ini,” pikirnya. Ia pun bergegas pergi dengan langkah tergesa-gesa.

Begitu Pak Broto menghilang dari pandangan, orang-orang suruhan Wulan segera bergerak cepat.

Mereka menunggu hingga semua wanita yang ada di dalam toilet selesai dan keluar, sehingga hanya tersisa Diana yang sedang mencuci tangan di dalam.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, dua pria bertubuh besar dan mengenakan topi yang menutupi sebagian wajah melangkah masuk dengan tenang.

"Hei..."

Begitu melihat Diana yang terkejut melihat kehadiran mereka, mereka segera bertindak.

Salah satu pria itu langsung menutup mulut dan hidung Diana dengan kain yang sudah dibasahi cairan obat bius yang kuat.

"Siapa kalian! Tolong....."

Diana terkejut dan segera memberontak sekuat tenaga.

Ia berusaha mendorong tubuh pria itu, menendang, dan mencoba berteriak meminta tolong, namun suaranya teredam.

"Tolong...... Pak Broto......tolong...."

Aroma obat yang menyengat itu terhirup masuk ke paru-parunya.

Kepalanya terasa berputar, pandangannya mulai kabur, dan tenaganya perlahan-lahan menguap habis.

"To - long.."

Dalam hitungan detik, kesadarannya hilang sepenuhnya dan tubuhnya terkulai lemas di genggaman mereka.

Dengan gerakan cepat, mereka membungkus tubuh Diana dengan selimut tebal agar tidak terlihat jelas, lalu mengangkatnya keluar seolah-olah membawa orang yang sedang sakit pingsan.

Tidak ada yang curiga karena semua terjadi begitu cepat dan tenang.

Mereka segera membawa Diana masuk ke dalam mobil gelap yang sudah menunggu di tempat parkir yang agak sepi.

Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, keluar dari area pusat kota, dan menuju jalanan yang semakin sepi dan jauh dari keramaian.

Setelah berkendara berjam-jam melewati jalan berkelok dan menanjak, mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan tua yang terlihat terbengkalai, terletak di puncak bukit yang dikelilingi oleh hutan lebat dan rindang.

Jaraknya sangat jauh dari pemukiman warga, tempat yang sangat terpencil dan sulit dijangkau.

Pintu bangunan tua itu terbuka lebar, dan Wulan sudah berdiri menunggu di ambang pintu dengan senyum sinis penuh kemenangan.

"Akhirnya" Ujar Wulan bahagia

Ia melihat tubuh Diana yang masih pingsan dibawa masuk ke dalam ruangan yang gelap dan lembap, lalu diikatkan di atas kursi kayu yang kokoh.

Begitu orang-orang itu pergi meninggalkan mereka berdua, Wulan mendekat perlahan, menatap wajah pucat Diana dengan tatapan penuh kebencian dan rasa puas.

Ia menyentuh pipi Diana dengan ujung jarinya secara kasar, membuat Diana mulai bergerak perlahan saat kesadarannya perlahan kembali.

Saat mata Diana terbuka perlahan, ia merasa kepalanya terasa sangat berat dan berdenyut nyeri.

"Si - siapa - ?"

Pandangannya masih kabur, namun perlahan ia mulai melihat sosok yang berdiri di depannya.

Begitu ia mengenali wajah Wulan, matanya membelalak kaget dan ketakutan.

Ia mencoba bergerak, namun menyadari kedua tangan dan kakinya terikat kuat sehingga tidak bisa bergerak sedikit pun.

“Kamu… Wulan? Di mana ini? Apa yang kamu lakukan?” tanya Diana dengan suara parau, berusaha menahan rasa takut yang meluap-luap.

Wulan tertawa keras, suara itu menggema di dalam ruangan kosong yang sunyi itu. Ia melangkah mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Diana.

“Selamat datang di rumah barumu, Diana. Ini tempat yang sempurna untukmu — jauh dari keramaian, jauh dari Arga. Di sini, tidak ada yang akan mendengar teriakanmu, dan tidak ada yang akan menemukanmu selamanya,” ujar Wulan dengan nada dingin dan penuh ancaman.

Diana menatapnya dengan tatapan marah namun tetap berusaha tegar. “Kamu gila! Lepaskan aku sekarang juga! Kalau Mas Arga tahu, dia tidak akan memaafkanmu, Wulan!”

Mendengar nama Arga disebut, senyum Wulan langsung menghilang, digantikan oleh tatapan tajam yang membara.

Ia mencengkeram rahang Diana dengan kasar hingga membuat Diana meringis kesakitan.

“Diam! Jangan pernah menyebut namanya lagi di depanku! Arga adalah milikku, dan kamu telah merebutnya dariku! Sekarang, kamu akan merasakan apa rasanya merebut sesuatu yang bukan hakmu. Di sini, kamu akan merenung selamanya sampai aku merasa puas, atau sampai kamu lenyap begitu saja tanpa ada yang tahu keberadaanmu!”

Di tempat yang sunyi, dingin, dan terpencil itu, Diana menyadari bahwa ia terjebak dalam perangkap Wulan.

Mas... Tolong aku ...

Ia tidak tahu harus berbuat apa, hanya bisa berdoa dalam hati agar Arga segera menyadari keberadaannya yang hilang dan segera datang.

Sementara itu, kembali di pusat perbelanjaan, Pak Broto baru saja kembali dari toilet dan terkejut bukan main saat melihat pintu toilet kosong dan Diana tidak kunjung keluar.

Ia segera masuk ke dalam untuk memeriksa setiap bilik, namun tidak menemukan siapa pun.

Rasa panik segera menyelimuti hatinya.

Ia berlari kembali menemui Nyonya Amara dengan wajah pucat pasi.

“Nyonya tua ! Nyonya Diana… dia hilang! Dia tidak ada di dalam toilet!” teriaknya dengan suara gemetar, membuat jantung Nyonya Amara seakan berhenti berdetak.

"APA ! CELAKA KAMU BROTO!" Teriak nyonya Amara panik, Arga pasti akan menghukum Broto karena lalai

"Maafkan saya Nyonya, saya siap menerima hukuman!" Pak Broto menjatuhkan bobot tubuhnya dan bersujud di bawah, membuat orang-orang melihat nya heran.

Tetapi dia tidak peduli, dia sadar, dia salah.

"Simpan Maafmu untuk Arga nanti!"

Nyonya Amara segera melaporkan kejadian itu ke pihak keamanan dan menghubungi Arga.

"APA !" Suara Arga menggelegar di sebrang sana, dia yang sedang rapat spontan berteriak membuat orang-orang yang ada di sana ketakutan.

Radit yang mengerti langsung segera membubarkan rapat.

Begitu mendengar kabar bahwa istrinya hilang secara tiba-tiba, darah Arga terasa mendidih.

Ia berdiri dari kursinya dengan wajah yang memerah karena marah dan rasa khawatir yang luar biasa.

Ia sudah tahu pasti siapa dalang di balik semua ini.

“Wulan… jika sampai terjadi apa-apa pada Diana, aku tidak akan membiarkan mu hidup!” gumam Arga dengan suara rendah namun penuh amarah,

"Radit, segera kirim detektif sebanyak banyaknya untuk mencari istriku, dan suruh tim IT untuk mencari jejak nya"

"Baik, Tuan!"

1
Arum Dyah
msh lanjut gk nih??
dyah EkaPratiwi
ayo berobat tuan arga
sunaryati jarum
Baru mampir
Dunia_halusinasi: Hai Kakak, terimakasih karena sudah berkenan untuk membaca karyaku🙏 semoga suka😊
total 1 replies
Arum Dyah
gk akan ada rencana ganti panggilan kah kak?? 🤣🤣🙏🙏
Dunia_halusinasi: hai kakak, maaf nih 🙏ganti panggilan yang mana kak, bisa kasih tau aku 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!