NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Bab 31: Topeng yang Mulai Terbuka

Seminggu setelah pesta pernikahan Gilang dan Clara, suasana di kediaman utama keluarga Wijaya kembali terasa tenang.

Tetapi, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Kehadiran Wulan yang baru saja kembali dari luar kota,

perlahan mulai mengubah suasana, seolah-olah ia sengaja ingin memastikan keberadaannya tidak dilupakan oleh siapa pun, terutama oleh Arga.

"Mas, apa dulu Mbak Wulan tinggal di sini?" Tanya Diana penasaran

"Nggak, cuma dulu memang dia dering menginap, dia sangat dekat dengan kakaknya" Jawab Arga.

"Tapi kenapa, sejak dia kembali dari luar kota, dia selalu berkunjung ke sini, tapi tidak pernah mengunjungi keponakannya?" Diana sedikit kesal.

Bukankah seharusnya, Gilang yang sering di kunjungi oleh Wulan, bukan Arga.

Arga menghela nafasnya dan membuangnya perlahan, melihat wajah Diana yang cemberut seperti itu, terlihat semakin menggemaskan di mata Arga.

"Sebenarnya, Sarah dan Wulan itu saudara tiri, tapi Sarah sangat menyayangi nya. Dan kenapa Wulan tidak pernah mengunjungi Gilang? Karena mereka tidak terlalu dekat, sejak kecil gilang selalu menghindar dari Wulan, aku juga tidak tau kenapa?"

Diana mendengus sebal mendengar nya...

Sejak hari itu, Wulan sering datang berkunjung ke rumah besar itu.

Alasannya selalu sama:

rindu pada kenangan mendiang kakaknya, ingin menengok Nyonya Amara, atau sekadar ingin memastikan kondisi keluarga tetap baik-baik saja.

Setiap kali datang, ia selalu membawa berbagai macam buah tangan, kue buatan sendiri, atau barang-barang yang diklaimnya disukai oleh Arga sejak lama.

Sikapnya terlihat sangat sopan, ramah, dan perhatian—sehingga bagi orang luar, ia hanyalah adik ipar yang setia dan dekat dengan keluarga.

Tetapi, Diana yang sudah mulai waspada sejak malam itu, perlahan mulai menangkap keanehan di balik keramahan Wulan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi itu, matahari bersinar terang menyinari halaman rumah yang luas.

Diana sedang duduk di ruang tamu sambil membaca buku,

Tiba-tiba, suara mobil mewah berhenti di depan pintu utama, dan tak lama kemudian, Wulan masuk dengan senyum lebar yang terlihat sempurna.

"Dia lagi!" Gumam Diana sambil mencebikkan bibirnya geram,

Mertuanya yang melihat itu hanya tertawa kecil, merasa lucu dengan tingkah nya

Wulan semakin mendekat...

“Selamat pagi, Bude Amara!” serunya dengan nada riang, lalu matanya beralih pada Diana, senyumnya sedikit menipis namun tetap terlihat ramah. “Dan selamat pagi juga, Mbak Diana.”

"Pagi!" Diana menjawab dengan enggan.

“Pagi, Wulan. Kamu datang lagi?” sapa Nyonya Amara, nada bicaranya ramah namun tidak terlalu antusias.

Sejak awal, wanita tua itu memiliki firasat yang kurang baik terhadap kehadiran Wulan, meski ia belum bisa menunjukkannya secara terang-terangan.

“Tentu saja, Bude. Kan sudah lama aku tidak tinggal di sini. Rasanya seperti ada yang kurang jika tidak sering berkunjung,” jawab Wulan sambil meletakkan tasnya,

"Dia pikir ini taman wisata, yang bisa dia kunjungi kapan saja " Dumel Diana

Nyonya Amara hanya geleng-geleng kepala dan tertawa kecil mendengar penuturan menantunya itu

Wulan melangkah mendekati Arga yang baru saja turun dari tangga.

Tanpa ragu, ia meraih lengan Arga seolah sudah menjadi kebiasaan lama.

"Arga, lihat ini. Aku membawa kopi yang enak. Katanya rasanya lebih nikmat dari yang biasa kamu minum. Aku sudah menyimpannya di dapur, nanti kamu coba yah.”

Arga sedikit terkejut dengan sentuhan yang terlalu akrab itu, namun karena menganggapnya sebagai kebiasaan lama,

ia hanya melepaskan lengannya perlahan dengan sopan.

“Terima kasih, Wulan. Tidak perlu repot. Aku sudah biasa dengan apa yang ada di rumah ini.”

“Tapi ini spesial untukmu. Aku membelinya sendiri. Pasti kamu suka,” ujar Wulan,

matanya menatap Arga dengan pandangan yang terlalu lama dan terlalu dalam, seolah ingin mengatakan sesuatu yang tidak terucap.

Apa dia tidak melihat aku ada di sini, beraninya mendekati suamiku!

Diana yang melihat dari kejauhan merasa ada yang mengganjal di hatinya.

Ia menutup bukunya perlahan, lalu berdiri dan berjalan mendekat dengan langkah tenang.

Begitu tiba di samping Arga, ia dengan cepat melingkarkan tangannya di lengan suaminya, menempelkan tubuhnya dengan lembut dan mesra.

“Terima kasih atas perhatiannya, Mbak Wulan. Tapi Mas Arga sudah ada kopi kesukaannya yang selalu aku siapkan setiap pagi. Kalau Mbak ingin mencicipinya juga, silakan, nanti aku suruh pelayan menyajikannya,” kata Diana dengan nada ramah namun mengandung batas yang jelas.

"Benar kan, Mas" Ujar Diana gemas pada suaminya

Arga tertawa dan menganggukkan kepalanya.

Sepertinya, istri ku sedang cemburu...

Wulan menoleh, senyumnya terasa dipaksakan.

Ia menatap tangan Diana yang melingkar di lengan Arga,

lalu mengangkat wajahnya dengan pandangan yang sedikit tajam sebelum kembali menyembunyikannya.

“Tidak apa-apa, Mbak. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Arga saja. Lagipula, aku sudah mengenalnya jauh lebih lama, jadi aku lebih tahu apa yang dia sukai dan tidak sukai.”

Kalimat itu terdengar sederhana, namun maknanya sangat menusuk. Seolah ingin mengatakan bahwa Diana hanyalah orang baru yang belum mengenal Arga sebaik dirinya.

Arga segera menyadari nada tersirat itu. Ia meremas tangan Diana yang ada di lengannya, lalu menatap Wulan dengan tatapan yang lebih serius.

“Terima kasih, Wulan. Tapi sekarang Diana yang mengatur kebutuhanku, dan apa yang dia berikan sudah lebih dari cukup. Kita ini keluarga, jadi tidak perlu membedakan siapa yang lebih tahu atau tidak.”

Mendengar jawaban tegas Arga, raut wajah Wulan sedikit berubah.

Namun, ia segera menutupinya dengan tawa ringan. “Ya, tentu saja. Aku hanya bercanda saja, jangan terlalu dipikirkan.”

Namun, sejak saat itu, sikap Wulan semakin terlihat berlebihan.

Setiap kali ada kesempatan, ia selalu berusaha mendekati Arga, berbicara tentang masa lalu, mengenang kejadian saat mendiang Sarah masih hidup, seolah ingin mengingatkan Arga akan kenangan lama dan posisinya sebagai bagian dari keluarga yang tidak tergantikan.

......................

Suatu sore, ketika Arga sedang bekerja di ruang kerjanya, Wulan datang tanpa meminta izin terlebih dahulu. Ia membawa secangkir teh dan beberapa kue, lalu masuk dengan tenang seolah itu adalah haknya.

“Arga, kamu pasti lelah bekerja seharian. Minum dulu, ini buatanku sendiri, sama persis seperti yang biasa dibuat Kak Sarah dulu,” ujarnya sambil meletakkan nampan di atas meja, lalu duduk di kursi depan meja kerja Arga tanpa diminta.

Arga mengangkat wajahnya dari berkas-berkas yang sedang dibacanya, merasa sedikit terganggu namun tetap berusaha bersikap sopan.

“Terima kasih, Wulan. Tapi lain kali, tolong ketuk pintu dulu sebelum masuk. Aku tidak suka di ganggu, kecuali oleh istriku !”

Wulan hanya tersenyum tidak peduli.

“Ah, kita kan sudah lama saling mengenal. Tidak perlu formalitas seperti itu, kan? Dulu saat Kak Sarah masih ada, aku sering masuk ke sini kapanpun tanpa mengetuk pintu. Kamu tidak pernah keberatan.”

“Dulu memang berbeda, tapi sekarang situasinya sudah berubah. Rumah ini sudah memiliki nyonya baru, dan ada aturan yang harus dihormati,” jawab Arga dengan nada tegas, memberi isyarat agar Wulan mengerti batasannya.

Namun, Wulan seolah tidak mendengar. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di samping kursi Arga, lalu mengulurkan tangannya seolah ingin merapikan kerah kemeja Arga yang sedikit berantakan.

“Tapi perasaanku tidak berubah, Arga. Bagiku, kamu tetap seperti kakak ipar yang paling aku hormati dan sayangi. Bahkan, mungkin lebih dari itu…”

Kalimat terakhir diucapkan dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik, namun cukup jelas terdengar oleh Arga.

Tangannya yang hendak menyentuh kerah Arga ditahan seketika oleh tangan Arga yang menangkapnya dengan cepat.

“Wulan, sadar posisimu. Aku adalah suami Diana, dan kamu adalah adik mendiang istriku. Jangan pernah mengucapkan atau melakukan hal yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Itu tidak baik untuk kita semua,” tegur Arga dengan nada tegas namun tetap berusaha menghormati hubungan mereka.

Wulan menatap tangan Arga yang memegang pergelangan tangannya, lalu mengangkat wajahnya dengan pandangan yang berubah drastis.

Senyumnya menghilang, digantikan oleh tatapan yang penuh hasrat dan rasa tidak rela yang selama ini ia pendam.

“Kenapa, Arga? Kenapa kamu harus menerima wanita muda itu? Apa dia lebih baik dari Kak Sarah? Atau lebih baik dariku?

Aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun! Selama ini aku tidak mau menikah dengan siapa pun, karena aku tahu suatu saat nanti kamu akan melihatku juga,” ujarnya dengan suara yang mulai meninggi, melepaskan semua topeng yang selama ini ia pakai.

Arga tertegun, matanya membulat tak percaya mendengar pengakuan itu.

Selama ini ia menganggap Wulan hanya menganggapnya sebagai kakak ipar, namun ternyata wanita itu menyimpan perasaan yang jauh lebih dalam dan salah arah selama bertahun-tahun.

“Kamu… apa yang kamu katakan itu tidak masuk akal, Wulan! Sarah adalah kakakmu sendiri, dan aku adalah suaminya.

Setelah dia tiada, aku hanya menganggapmu sebagai adik. Tidak ada perasaan lain, dan tidak akan pernah ada. Sekarang aku sudah memiliki Diana, dan aku sangat mencintainya. Jangan hancurkan hubungan kita hanya karena perasaan yang salah itu,” jawab Arga dengan nada keras namun tetap tenang.

Namun, kenyataan itu justru membuat Wulan semakin marah dan kesal.

Ia menarik tangannya dengan kasar, lalu menatap Arga dengan pandangan penuh kebencian.

“Tidak! Dia tidak pantas untukmu! Dia hanya wanita muda yang mengejar harta dan kedudukanmu saja! Lihat saja nanti, dia akan meninggalkanmu setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan!

Sedangkan aku… aku bersedia menemanimu selama sisa hidupmu, dengan tulus tanpa pamrih!” bentaknya, suaranya menggema di dalam ruangan kerja yang luas itu.

Belum sempat Arga menjawab, pintu ruangan terbuka perlahan.

Diana berdiri di ambang pintu, tangannya memegang nampan berisi air minum yang baru saja ia siapkan.

Mendengar semua perkataan Wulan, tubuhnya terasa kaku, namun ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

Ia melangkah masuk dengan kepala terangkat tinggi, menatap Wulan dengan tatapan yang tenang namun berwibawa.

“Maaf mengganggu percakapan kalian. Tapi, aku sudah terlanjur mendengar semuanya,” ujar Diana dengan suara yang jelas dan mantap.

Ia meletakkan nampan di meja, lalu berdiri di samping Arga, merangkul lengannya seolah memberi dukungan sekaligus menegaskan posisinya.

Wulan menoleh, wajahnya memerah karena malu dan marah. Ia menatap Diana dengan pandangan tajam.

“Kamu menguping pembicaraan orang lain? Lihat, sifatmu memang licik dan suka mengintip!”

“Tidak, Mbak Wulan. Aku datang membawa minum untuk Mas Arga, dan kebetulan mendengar semuanya. Tapi tidak masalah, karena sebenarnya lebih baik semuanya dibicarakan secara terbuka,” jawab Diana tidak gentar.

“Mbak bilang aku hanya mengejar harta dan kedudukan? Biarkan waktu yang membuktikannya.

Tapi satu hal yang pasti, cinta yang aku berikan pada Mas Arga tulus, dan aku tidak pernah menyembunyikan niat apa pun. Berbeda dengan Mbak, yang selama ini menyembunyikan perasaan dan niat tersembunyi di balik topeng keramahan.”

“Kamu tidak tahu apa-apa! Kamu hanya wanita asing yang datang merebut tempat yang seharusnya milikku!” teriak Wulan, emosinya sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

Arga segera berdiri, melangkah sedikit ke depan untuk melindungi Diana di belakangnya.

“Cukup, Wulan! Jangan bicara sembarangan. Tempat di hatiku tidak pernah ada untukmu, jadi tidak ada yang direbut.

Diana adalah istriku, satu-satunya wanita yang aku cintai sekarang.

Mulai hari ini, jika kamu masih menganggapku sebagai keluarga, hargai keputusanku dan hargai Diana. Jika tidak, maka lebih baik kita menjaga jarak agar tidak ada pertengkaran yang tidak perlu.”

Kalimat Arga terasa seperti pukulan keras bagi Wulan.

Ia menyadari bahwa rencananya selama ini terbongkar, dan Arga sudah menolak perasaannya secara tegas.

Namun, rasa sakit dan kecewa itu justru berubah menjadi kebencian yang membara.

Ia menatap Diana dengan pandangan yang seolah ingin membakarnya hidup-hidup.

“Baiklah… Kalau begitu, kita lihat saja nanti. Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang bersama dia, Arga.

Dan kamu juga, Diana… Jangan merasa sudah menang dulu. Kita baru saja mulai,” ujarnya dengan nada dingin dan penuh ancaman, lalu berbalik berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat dan tergesa-gesa, membanting pintu hingga membuat dinding seolah bergetar.

Suasana di ruangan itu kembali sunyi. Arga menoleh ke arah Diana, wajahnya terlihat khawatir dan merasa bersalah. Ia memegang kedua bahu istrinya dengan lembut.

“Maafkan aku, Sayang. Aku tidak menyangka dia menyimpan perasaan seperti itu selama ini. Kamu tidak takut, kan?” tanyanya dengan nada lembut.

Diana menggeleng, lalu tersenyum tipis sambil memegang tangan suaminya.

“Aku tidak takut, Mas. Selama kita saling percaya dan mencintai, tidak ada yang perlu ditakutkan. Ini hanya ujian kecil bagi kita. Sekarang kita sudah tahu niat aslinya, jadi kita bisa lebih waspada.”

Arga menarik Diana masuk ke dalam pelukannya, merasa sangat bersyukur memiliki istri yang tegar dan bijaksana.

“Kamu benar. Kita akan selalu bersama-sama. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, percayalah.”

Namun, di luar rumah besar itu,

Wulan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, wajahnya terlihat penuh amarah dan dendam.

Dalam hatinya, ia bersumpah tidak akan membiarkan Diana bahagia begitu saja.

Ia akan mencari cara apa pun untuk merusak keharmonisan rumah tangga mereka, dan mengambil kembali apa yang ia anggap sebagai miliknya.

1
Arum Dyah
gk akan ada rencana ganti panggilan kah kak?? 🤣🤣🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!