Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Dewa
Panji agak tegang ketika Dewa menemuinya di ruangannya.
"Bagaimana?" tanya Dewa langsung. Hasil tes dna sudah dia dapatkan. Tidak terlalu mengejutkan karena dia dan Malik sudah menduganya.
Panji melonggarkan dasinya seakan simpulnya mence-kik lehernya, membuatnya sulit bernafas.
"Kenapa Kian menginginkan Wanda. Kalian tau sesuatu?" tuduhnya berusaha tetap tenang walau jantungnya mulai berdebar kencang.
"Tau apa?"
Kata kata Dewa seakan mengejek nya walaupun wajah di depannya tidak ada penampakan begitu.
"Sesuatu yang sangat penting, mungkin." Saat ini Panji merasa sangat takut kalo Dewa sudah mengetahui rahasianya seperti dugaan Mirelin.
Dewa tersenyum, masih tetap tenang.
"Rahasiamu tetap aman."
DEG DEG
Panji tercekat. Tatapnya tajam menyapu wajah Dewa.
"Aku terus terang saja, ya." Dewa balas menatap tajam wajah Panji, bahkan mungkin lebih tajam membuat jantung rekan bisnisnya seperti akan direng-gut lepas dari tempatnya.
"Kian tertarik dengan asisten putramu yang sangat cekatan. Sebagai orang tuanya, aku tentu menyelidikinya. Siapa dia dan juga orang tuanya. Yang mengagetkan ternyata papanya adalah kamu."
Panji tertegun. Dia seolah dilempar ke dunia paling sepi yang belum pernah dia datangi.
Secepat ini rahasianya terbongkar.
"Aku tidak akan menghakimi masa lalumu, karena itu bukan urusanku. Aku hanya bersimpati setelah mendengar cerita Kian yang merasa kasian dengan Wanda."
Dewa menarik nafas dalam dalam sementara wajah Panji makin pucat.
"Aku yakin putramu belum tau kalo yang dianggapnya pembantu itu saudaranya. Aku ngga akan ikut campur dengan konflik keluarga kalian. Tapi kalo kamu mengijinkan Wanda ikut bersamaku, rahasia ini akan aman dari Aditama."
Sesaat Panji merasa oksigen sudah hilang dari ruangan ini. Ada yang mencengkeram kuat dadanya.
Hening. Dewa seakan memberikan waktu agar Panji menyerap dan mencerna kata katanya yang menurutnya sangat panjang.
"Bagaimana? Bisa Wanda ikut denganku? Neneknya kalo mau bisa pergi bersama Wanda," desak Dewa setelah ngga ada kalimat yamg keluar dari mulut Panji yang masih menatapnya, kali ini dengan wajah seperti kalah dari tender besar.
Terdengar helaan nafas panjang Panji.
"Aku harus merundingkan lagi dengan istriku." Panji tetap tidak yakin istrinya setuju. Karena istrinya pasti tidak ingin melihat Wanda mendapat kehidupan layak yang semestinya sudah didapatkan dari suaminya.
"Aku tidak bisa menunggu lama. Maklum, setiap Kian menginginkan sesuatu, aku selalu mengabulkannya dengan cepat."
Panji merasa ucapan itu seperti ancaman yang tersirat.
Hening. Panji mengumpulkan nafasnya perlahan lahan. Juga kekuatannya untuk menentang Dewa.
"Secepatnya akan aku kabari." Dia sudah masuk ke dalam perangkap Dewa.
Dewa mengangguk sebelum berjalan pergi meninggalkan ruangan Panji yang wajahnya masih diliputi ketegangan.
*
*
*
"Abis ketemu Kian?" sinis Aditama ketika Wanda sudah datang dengan dua kantong plastik minumannya.
Mahesa mengambil dua kantong plastik yang cukup besar dan pasti berat itu dari kedua tangan Wanda, dalam hati dia merasa kasian. Tapi tidak bisa membantah.
"Ya." Wanda mengaku jujur.
"Apa, sih, yang dilihat Kian dari kamu," bentaknya sinis. Dia kemudian meneguk cepat tehnya tanpa sedotan. Perasaan marah membuat kerongkongannya tambah kering.
Wanda ngga menggubris. Dia berjalan agak menjauh dan duduk sambil menunduk. Perasaan sedihnya masih menggumpal sampai sekarang. Kata kata Nyonya Mirelin sangat menusuk hatinya.
Papa dan mamanya sudah tiada tapi masih saja dijelek jelekkan.
"Tuan muda, kok, sukanya sama pembantu," sinis Aditama lagi.
"Kasih aja ke Kian. Biar dia ngga cari masalah dengan lo," usul Bayu. Sudah beberapa kali pertengkaran mereka dipicu oleh Wanda, yang berakhir menjadi pembersih kamar mandi sekolah.
Biasanya mereka meributkan lahan kantin, balap motor di luaran atau ketemu di club.
Aditama melotot marah.
"Enak saja. Dia bisa nyari pembantu lain." Menyadari Kian tertarik dengan Wanda membuatnya senang. Cowo tenang itu bisa terusik juga melihat kekasarannya pada Wanda. Biasanya Alen dan Denish yang sumbu meledak.
Kian adalah saingannya di balap motor. Beberapa kali dia dan timnya kalah melawan Kian cs. Selain itu mereka juga bersaing soal nilai mapel. Dia dan teman temannya sesekali bisa mengimbangi Kian cs.
Dia bisa melewati Kian dengan kerja keras, tapi dengan Wanda dia tidak perlu itu. Dia sudah menang mudah dari Kian.
Bayu menghela nafas panjang dengan kekeraskepalaan Aditama. Mereka pasti akan lebih sering berantem lagi dan berakhir menjadi pembersih kamar mandi mungkin sepanjang tahun.
Uughhh, keluhnya dalam hati sambil melirik Mahesa yang fokus dengan minumannya.
Mereka sebentar lagi akan pulang, menunggu Pak Aji dan teman temannya membersihkan kamar mandi. Mereka berjaga jaga di luar agar dikira Bu Elia, mereka sedang bekerja bergantian.
Ngga disangka Kian cs juga mengambil langkah yang sama. Mereka sama sama mempekerjakan Pak Aji cs. Cara pikir otak mereka bisa klop juga, padahal selalu bertentangan dan tidak pernah sepahaman.
Ngga lama kemudian tugas mereka selesai dan es teh mereka juga habis. Mereka kemudian berjalan ke arah parkiran. Ternyata di parkiran sudah ada Kian cs.
Kian sempat melirik bawaan Wanda dan menghela nafas panjang. Seingatnya, sejak kelas satu SMA, si lemah ini tidak pernah membawa tasnya.
"Apa lo lihat lihat?!" sentak Aditama yang rupanya melihat arah tatapan Kian pada Wanda.
Kian hanya menyeringai tapi mendidihkan darah Aditama.
"Wanda, nanti kalo udah sama Kian, kamu ngga akan bawa bawa sampah orang ini," celutuk Alen di samping motor balapnya.
Langkah Aditama terhenti dan wajahnya mulai meradang. Wanda meneruskan langkahnya ke arah mobil agar bisa meletakkan beban tas Aditama. Akhir akhir ini bahunya sering pegal pegal dan mulai muncul lebam yang hilangnya bisa semingguan.
"Laki naeknya mobil.....? Motor, dong," ejek Denish kemudian tertawa bersama Alen, Zio dan Gio.
"Mau lo apa?!" bentak Aditama.
"Tama, sudahlah. Ini masih di sekolah," bisik Mahesa mengingatkan. Ancaman Bu Elia tentang hukuman mereka yang akan ditambah sampai satu bulan mengiang lagi di telinganya.
"Ngga apa. Nanti kita tinggal bayar Pak Aji. Aku yang tanggung semua," sentak Aditama ngga takut. Uangnya banyak.
"Bukan begitu." Mahesa sulit menjelaskan di tengah emosi Aditama yang sudah meledak. Karena dia merasa hukuman ini agak aneh. Dia takut hanya pancingan. Tapi nanti kalo mereka berantem lagi, hukumannya pasti ngga akan semudah ini.
"Sabar, Tama. Kita cegat di luar aja," usul Bayu ikutan panas.
"Loh, marah, ya. Kesinggung," ejek Gio menimpali.
Dylan menarik Gio agar ikut dengannya menjauh. Gio menurut tapi masih dengan tawa bergelaknya.
"Di luar kalo berani," tantang Mahesa.
"Boleh," sambut Alen yang sudah nangkring di atas motornya.
"Oke!" balas Bayu.
"Kita tunggu di luar," sahut Gio. Dia paling suka kalo adu fisik.
Saking marahnya Alen menyuruh Pak Supri keluar. Tapi saat Wanda mau keluar, terdengar suara bentakan Alen.
"Lo biang masalah tetap di sini!"
Dengan gemetar Wanda tidak jadi membuka pintu mobil.