Nasya Andira, sejak kecelakaan yang membuat kedua orang tua nya meninggal. Nasya terpaksa harus hidup seorang diri, beruntung ia bertemu dengan Olin. Wanita paruh baya yang begitu baik hati dan memberikannya pekerjaan.
Berawal menjadi seorang pelayan di sebuah warung makan mie milik Olin. Nasya memilih untuk pergi ke Jakarta mengadu nasib agar bisa berkuliah dengan bekerja di rumah menantu Olin untuk menjaga kedua cucunya.
Adnan Bimantara, seorang laki laki dewasa. Berstatus dia dengan dua anak. Menerima Nasya bekerja dengan nya karena sudah lelah mengurus kedua anaknya yang begitu nakal dan sering membuat ulah. Adnan berharap bahwa setelah mempekerjakan Nasya, maka pekerjaan nya mengurus kedua anaknya akan berkurang. Namun, nyatanya kini malah dirinya merasa memiliki tiga orang anak.
Bagaimana kisah Nasya menghadapi dua tuyul yang selalu membuat ulah untuk para pekerja nya. Berhasilkah Nasya membuat dua anak itu takluk padanya? Atau malah sang duda yang akan takluk padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cantik
...~Happy Reading~...
Entah sudah berapa lama, Ryan dan Ryana menatap aneh kepada Nasya. Bukan aneh, mungkin lebih tepat nya bingung. Karena tak hanya pak duda saja yang pangling dengan penampilan baru Nasya, melainkan kedua tuyul nya pun ikut heran dan kagum terhadap Nasya.
“Ryan, kenapa lihatin kakak kaya gitu terus sih,” kata Nasya malu sendiri di tatap oleh bocah umur tujuh tahun.
“Kakak cantik!” kata Ryan polos dan masih menatap pada Nasya tanpa berkedip.
“Daddy, apakah nanti Ryana juga bisa cantik kaya kakak Nasya?” tanya Ryana dengan polos nya langsung mendongak ke arah sang ayah.
“Ryana jauh lebih cantik, Sayang.” Kata Nasya tak enak hati sendiri, ketika membuat Ryana kembali iri padanya.
Karena kini Nasya tak hanya pakaian nya yang berubah, melainkan Bara juga merias wajah nya agar terlihat semakin hidup dan tidak pucat. Biasanya, Nasya hanya mengenakan Sunscreen yang ia beli seharga di bawah lima puluh ribu serta Lipgloss saja. Namun, tadi Bara memberikan nya memberikan nya beberapa make up dan mengajari nya sehingga membuat wajah nya terlihat lebih fresh dan cantik tentu nya.
“Benarkah?” tanya Ryana menatap Nasya begitu lekat, “Tapi bibir Ryana gak ada merah merah begitu!” imbuh nya dan kini gadis kecil itu terlihat memberengut kesal.
Padahal, Nasya hanya mengenakan liptint yang berwarna orange sedikit pink. Namun, Ryana menyebutnya tetap saja merah.
Dan kini, nasya terlihat begitu kebingungan untuk menjawab bagaimana mengatakan kepada ryana. Tidak mungkin ia memberikan Ryana lipstik juga kan? Batin Nasya bingung. Karena kalau Nasya mengatakan bahwa dirinya memakai lipstik, pasti Ryana juga akan meminta nya.
“Ryana, kamu masih kecil!” jawab Ryan dengan ketus.
“Kakak Nasya juga masih kecil kok!” saut Ryana tak terima, “Buktinya kak Nasya masih sekolah! Berarti kan masih kecil juga!”
Dan benar saja bukan perkiraan Nasya. Ia sudah tahu kemana alur tujuan dari perkataan Ryana.
“Ryana, nanti kapan kapan kita ajak Dady untuk pergi ke tempat om Bara atau tante Barbie. Di sana Ryana bisa minta biar bibir nya di merah merahin juga,” kata Nasya mencari aman, “Karena kakak juga gak tau kenapa bibir kakak jadi begini,” imbuh nya seraya menyentuh bibir nya dengan jari.
Sementara itu, Adnan yang sejak tadi diam mendengarkan perdebatan ketiga bocah di depan nya hanya bisa menghela nafas dalam. Terlebih ketika ia melihat Nasya menggigit bibir dan menyentuh bibir nya dengan jari, entah mengapa tiba tiba ia merasa begitu haus, hingga membuat nya harus menelan saliva berulang kali.
“Ehemmm!” Adnan berdehem untuk mengurangi rasa gugup nya yang datang dengan tiba tiba entah darimana.
“Kita pulang sekarang, karena Daddy sebentar lagi harus kembali ke kantor.” Imbuh Adnan langsung masuk ke dalam mobil.
“Ryana di depan sama Daddy! Aku mau di belakang sama kak Nasya!” kata Ryan langsung menggandeng tangan Nasya dan mengajak nya duduk di belakang.
“Ih, kok Ryana di depan. Ryan aja yang di depan!” kata Ryana yang juga sudah terbiasa duduk di belakang.
“Gak mau! Pokoknya, kamu di depan!” ucap Ryan tak perduli.
“Kalian berdua di belakang, biar kak Nasya yang di depan!” saut Adnan dari dalam mobil.
“Kakak di depan—“ ujar Ryana mempersilahkan Nasya, namun dengan cepat tangan Nasya di tahan oleh Ryan.
“Kamu buruan masuk!” kata Ryan dan segera mendorong tubuh Ryana agar masuk ke dalam mobil depan, setelah itu dirinya segera masuk di pintu belakang bersama Nasya.
“Ryan, kamu nyebelin!” seru Ryana tak punya pilihan lain selain duduk di depan.
“Biarin!” balas Ryan tak perduli.
...~To be continue ........
cerita tidak ber-liku2....