NovelToon NovelToon
Dendam Manis Di Cawan Hitam

Dendam Manis Di Cawan Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:170
Nilai: 5
Nama Author: Neef

Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
​Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bau Amis dan Kebohongan

*"Jika kau ingin bertahan di puncak Oakhaven, Marie, kau harus belajar bahwa kebenaran hanyalah komoditas yang bisa diperjualbelikan. Sama seperti Nectar, kebenaran yang murni hanya akan membunuhmu. Jadi, belajarlah untuk berbohong dengan elegan."*

Julius melangkah menjauh, meninggalkan jejak sepatu botnya yang masih bersih meski baru saja melintasi genangan darah. Aku berdiri terpaku di tengah kehancuran kamar itu, napasku memburu. Kata-katanya bukan sekadar peringatan; itu adalah pengakuan bahwa di dunia ini, kejujuran adalah kelemahan yang fatal.

Aku menatap tanganku sendiri yang gemetar. Sensasi bisikan dari kontrak darah tadi masih terasa seperti sisa sengatan listrik di otakku. *Jiwamu bukan milik dunia ini.* Kalimat itu menghantui. Aku harus memastikan bahwa tidak ada satu pun orang di Oakhaven yang menyadari siapa aku sebenarnya. Aku bukan Marie Vance yang lemah. Aku adalah senjata yang sedang disamarkan.

Malam itu, aku tidak tidur. Sisa waktu kugunakan untuk memeriksa ingatan Marie yang tertinggal di otak ini. Aku harus mengenali wajah-wajah para bangsawan yang membuangnya, mempelajari peta distrik Oakhaven, dan memahami silsilah keluarga Vance yang rumit. Julius adalah sepupu ayah Marie, yang berarti dia adalah satu-satunya orang yang memiliki otoritas untuk memanggilku "keluarga". Namun, bagi Julius, aku hanyalah pion yang ia selamatkan dari rumah bordil untuk tujuan yang jauh lebih ambisius.

Pagi harinya, Oakhaven tidak menyambutku dengan sinar matahari, melainkan dengan kabut tebal yang berbau sulfur dan uap air. Julius muncul di depan pintuku tepat saat jam lonceng di alun-alun kota berdentang tujuh kali. Dia mengenakan jubah beludru hitam dengan bordir perak yang tampak mencekam. Di belakangnya, dua pelayan dengan mata yang tertutup kain hitam membawakan gaun sutra berwarna biru safir—warna yang melambangkan status bangsawan Vance yang sebenarnya.

*"Pakai ini,"* perintahnya tanpa menoleh. *"Pesta dansa malam ini adalah tempat di mana kita akan mengumumkan kembalinya Marie Vance ke lingkaran sosial. Jika kau tampak seperti wanita penghibur yang baru saja aku kutip dari selokan, aku akan memastikan kau tidak akan pernah keluar dari kamar itu lagi."*

Aku mengambil gaun itu. Bahannya terasa dingin di kulitku, kontras dengan bekas luka dan memar yang menutupi tubuh Marie. Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tatapan datar. Julius menatapku sejenak, alisnya terangkat—mungkin heran karena aku tidak gemetar atau memohon belas kasihan seperti yang diharapkan dari Marie yang asli.

*"Kenapa kau diam saja?"* tanyanya, suaranya sedikit meninggi dengan nada yang menuntut.

*"Aku sedang berpikir, Julius,"* jawabku tenang, sambil mulai membuka kancing bajuku yang lusuh dengan tangan yang stabil. *"Jika aku harus menjadi istrimu untuk urusan bisnis, maka aku perlu tahu apa yang kau harapkan dari pesta itu. Apakah aku harus menjadi pajangan cantik yang bisu, atau seseorang yang harus mengumpulkan informasi tentang siapa yang berkhianat pada Syndicate Black Cup?"*

Julius terdiam. Aku melihat keterkejutan sesaat di matanya. Dia mungkin mengharapkan gadis yang ketakutan, bukan seseorang yang bertanya tentang strategi intelijen. Dia menyeringai, sebuah seringai yang sangat tipis dan berbahaya.

*"Kau lebih cerdas dari yang terlihat, Marie. Itu menarik,"* sahutnya pelan. *"Di pesta itu, cari pria bernama Lord Valerius. Dia adalah pemasok Nectar yang selama ini bermain di belakang punggungku. Cari tahu di mana dia menyimpan dokumen pengiriman ilegalnya. Jika kau berhasil, aku akan memberimu satu akses ke perpustakaan rahasia Vance. Di sana, kau akan menemukan semua jawaban tentang mengapa ayahmu dibuang dan siapa yang sebenarnya membunuhnya."*

Jantungku berdegup kencang. *Ayah.* Itu adalah kunci untuk dendamku. Jika aku bisa mendapatkan akses ke perpustakaan itu, aku bisa mengungkap siapa yang menjebak ayah Marie.

*"Aku akan melakukannya,"* jawabku mantap.

Malam pun tiba. Oakhaven berubah menjadi kota cahaya neon yang memabukkan. *Grand Ballroom* milik keluarga Vance di puncak bukit Oakhaven adalah perpaduan antara kemewahan aristokrat dan kekejaman mafia. Lantai marmer yang berkilau, lampu gantung kristal yang membiaskan cahaya ungu, dan aroma Nectar yang dicampur dengan wine mahal memenuhi udara.

Aku berjalan masuk dengan lengan yang tersampir di lengan Julius. Gaun biru safir itu membalut tubuhku dengan sempurna, namun aku merasa seperti sedang mengenakan seragam perang. Di sekitar kami, orang-orang berpakaian mewah dengan topeng-topeng perak yang menutupi wajah mereka—sebuah tradisi bagi mereka yang ingin melakukan transaksi rahasia tanpa harus teridentifikasi secara publik.

*"Ingat, Marie,"* bisik Julius tepat di telingaku, tangannya yang dingin meremas pinggangku dengan posesif. *"Di sini, setiap senyuman adalah tipu daya, dan setiap sapaan bisa menjadi ancaman kematian. Jangan pernah lepaskan sarung tanganmu; di dalamnya ada belati perak yang telah aku siapkan. Jika keadaan memburuk, gunakan itu."*

Aku mengangguk kecil. Aku mulai memindai ruangan. *Intel 101: Identifikasi pintu keluar, posisi pengawal, dan titik buta kamera pengawas magis.*

Tiba-tiba, mata kami tertuju pada seorang pria dengan topeng emas yang berdiri di balkon. Lord Valerius. Dia tampak sedang tertawa dengan seorang wanita yang sangat familiar—wanita yang beberapa jam lalu mencoba membakarku hidup-hidup. Elara.

*"Itu dia,"* gumam Julius.

*"Biarkan aku yang menanganinya,"* kataku, melepaskan lenganku dari Julius.

*"Kau yakin?"*

*"Aku adalah istrimu, bukan? Dan seorang istri harus tahu bagaimana caranya merayu musuh suaminya,"* jawabku sinis.

Aku berjalan menjauh dari Julius, melangkah masuk ke dalam kerumunan. Hatiku berdegup kencang, bukan karena gugup, tapi karena adrenalin. Ini adalah misi pertama. Aku mendekati bar minuman, memesan segelas Nectar murni yang diencerkan, dan mulai memutar gelas itu, memperhatikan gerak-gerik Lord Valerius dari pantulan kaca kristal.

Saat Valerius berpisah dari Elara, aku mengambil langkah. Aku sengaja menabrakkan bahuku ke bahunya dengan gaya yang anggun.

*"Maafkan saya, Lord Valerius. Saya tidak menyangka ada pria setampan Anda yang berdiri di tempat sesepi ini,"* kataku dengan nada menggoda yang paling natural.

Valerius berbalik, matanya yang rakus memindai tubuhku. Dia tidak mengenali siapa aku di balik topeng ini. *"Sepertinya aku belum pernah melihatmu di lingkaran Vance, Nona cantik. Siapa namamu?"*

*"Marie,"* jawabku, membuat suaraku terdengar lembut. *"Marie Vance. Keponakan sepupu Julius."*

Wajah Valerius berubah pucat seketika saat mendengar nama itu. Dia mencoba mundur, namun aku menahan lengannya dengan lembut.

*"Mengapa terburu-buru, Lord? Saya dengar Anda memiliki urusan yang sangat... memikat... dengan pasokan Nectar dari gudang utara,"* bisikku, memastikan tidak ada seorang pun di dekat kami.

Valerius menyipitkan mata. *"Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan, gadis kecil."*

*"Oh, tapi aku tahu,"* kataku, senyumku perlahan berubah menjadi seringai dingin yang tidak lagi terlihat seperti Marie yang lembut. *"Aku tahu kau tidak bekerja sendiri. Dan jika kau tidak memberitahuku di mana dokumen pengiriman itu, Julius akan tahu bahwa kau bukan hanya sekadar rekan bisnis yang nakal, tapi juga seorang pengkhianat yang telah menjual rahasia keluarga."*

Valerius tampak gemetar. Dia melirik ke arah Julius yang sedang mengawasi kami dari jauh. Dia tahu bahwa di dunia ini, berurusan dengan Julius Vance adalah tiket menuju kematian yang paling menyakitkan.

*"Dokumen itu..."* dia berbisik, suaranya parau. *"Itu ada di dalam peti terkunci di ruangan pribadi di bawah gedung ini. Kodenya adalah tanggal kematian ayahmu, 04-09."*

Tiba-tiba, lampu di ruangan itu mati total. Kegelapan menyelimuti ballroom. Jeritan terdengar dari segala arah. *Sesuatu terjadi!*

Sebuah ledakan terjadi tepat di tengah lantai dansa. Bau mesiu dan asap magis membubung tinggi. Aku merasakan tangan seseorang menarik lenganku dengan kasar. Itu bukan tangan Julius. Tangan itu kasar, dingin, dan memiliki bau tembaga yang amis.

*"Lepaskan aku!"* teriakku, mencoba melepaskan diri.

Namun, orang itu malah membawaku semakin dalam ke arah gudang penyimpanan bawah tanah. Saat cahaya darurat berwarna merah menyala, aku melihat siapa yang menarikku. Itu bukan orang asing. Itu adalah salah satu pelayan yang melayani Julius tadi pagi—pelayan yang matanya ditutupi kain.

Dia menatapku dengan wajah yang kini terbuka, dan aku hampir menjerit. Matanya... dia tidak punya mata. Hanya lubang hitam yang berdarah.

*"Kau tidak seharusnya berada di sini, Marie,"* bisiknya dengan suara yang terdengar seperti ribuan jiwa yang menjerit bersamaan. *"Kontrak itu... dia tidak hanya mengikatmu pada Julius. Dia mengikatmu pada Cawan Hitam itu sendiri. Dan sekarang, cawan itu... dia lapar."*

Dia melepaskanku dan menghilang ke dalam kegelapan. Aku terengah-engah, sendirian di lorong bawah tanah yang dingin. Tiba-tiba, dinding-dinding di lorong itu mulai merembeskan cairan berwarna hitam—Nectar murni yang kental.

Cairan itu mulai membentuk sosok manusia, sosok yang menyerupai ayahku.

*"Marie..."* sosok itu berbisik, suaranya memenuhi seluruh lorong. *"Lari... Julius tidak menyelamatkanmu... dia memberimu makan pada monster yang menghancurkanku..."*

Aku mundur, namun langkahku terhenti karena lantai di bawahku tiba-tiba runtuh. Aku jatuh ke dalam kegelapan yang tak berujung, dan saat aku terjatuh, aku melihat Julius berdiri di atas sana, menatap ke bawah dengan senyum yang sangat puas. Dia tahu. Dia tahu semuanya.

*Apakah dia sengaja menjebakku?*

Saat aku jatuh semakin dalam, aku melihat bayangan hitam yang sangat besar bergerak di dasar lubang itu, menunggu untuk menelan tubuhku.

1
Abe shaikha
Aku suka yang FL nya kuat begini, semangat thor nulisnya😍
Abe shaikha
Seru Thor... 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!