NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.

Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.

Misinya satu: BALAS DENDAM.

Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.

Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?

[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutang dan Perjanjian

"Aku udah bilang jangan berani usik bocah aset itu sampai dia cukup umur. Kenapa kalian malah berlaku seenaknya?" tanya Hardi dengan suara berat dan mata nyalang menatap Susi.

"I-iya Pap Mami khilaf. Da-dari pada itu, Mami lagi kepepet bayar hutang judi kemarin pas kumpulan Nyonya-nyonya," gagap Susi memberanikan diri.

"Apa?" tanya Hardi dengan suara merendah.

Prang!

Susi mencicit ketakutan saat Hardi tiba-tiba melempar hiasan dari keramik ke dinding hingga terpental dan pecah seketika.

"Apa? Apa maksud kamu!" teriak Hardi murka.

"Brengsek! Memang wanita itu manusia beban yang gak berguna!" rutuknya kesal.

"Pah, tenang dulu ... Aku sudah memikirkan jalan keluarnya, ya? Jangan marah. Tolong, aku gak akan minta Papah menanggungnya kok," bujuk Susi penuh muslihat.

"Aku cuma bilang Papi aja khawatir ada yang datang atau telpon tiba-tiba ke Papi, tenang ya," lirihnya memelas.

Meski wajahnya terlihat gelisah dan ketakutan melihat Hardi yang begitu marah, namun Susi tetap mencoba tenang seolah ia memegang keuntungan.

"Apa! Tenang apa! Kamu gak tahu kalau saham perusahaan anjlok? Bisnis jadi kacau gara-gara si Garda sialan itu menguasai hampir semua jenis usaha di pasar gelap. Semua klien dan mitra jadi berpaling ke manusia licik itu! Terus sekarang apa? Utang judi? Bahkan pada si Garda itu? Dasar jalang!" maki Hardi sambil terus mengobrak-abrik meja dan hiasan dinding.

"Pah, kan kita masih punya satu lagi. Ya? Warisan milik Zara masih belum ditandatangani, kan? Kita suruh saja dia segera menandatanganinya—"

Plak!

Satu tamparan mendarat di pipi Susi, seketika wanita itu terjatuh tersungkur.

"Hah ... Memang semua wanita itu bodoh ya," gumam Hardi sembari melipat lengan bajunya lalu duduk bersila di atas sofa tepat di depan Susi. Ia lalu meraih tas laptopnya dan mengeluarkan selembar berkas dari dalamnya.

"Semua aset dan warisan yang perlu ditandatangani Zara sudah dipakai untuk menutupi kerugian perusahaan. Kamu pikir seberapa berani berurusan dengan orang bernama Garda itu? Kalau gak cukup kuat menghadapi risikonya, lebih baik gak melakukannya sama sekali," ucap Hardi datar, namun setiap kata yang diucapkannya membuat Susi merinding ketakutan.

"Apa! Kenapa kamu seenaknya menggunakan uang itu sendiri! Kamu malah menyalahkan aku, padahal kamu sendiri juga nggak becus mengurus apa pun!" pekik Susi dengan wajah basah oleh air mata.

"Berisik! Kamu pikir gara-gara siapa Garda sialan itu mengincar perusahaan? Kalau kamu gak berjudi dengan memakai nama istri pemilik perusahaan, orang itu nggak akan datang dan membuat kekacauan! Bodoh!" bentak Hardi sembari berdiri, lalu mendekat dan menekan kening Susi dengan ujung jarinya.

"Aku gak peduli, gak mau tahu, dan gak mau terlibat. Pokoknya, selesaikan utang judimu sendiri. Aku sudah cukup kerepotan memulihkan kepercayaan mitra dan menstabilkan pendapatan perusahaan, paham?" tegas Hardi.

"Kalau sampai nggak selesai dalam waktu seminggu, habis urusanmu!" ancam Hardi sembari beranjak pergi.

Susi menatap kosong ke arah pintu tempat Hardi pergi. Wajahnya mengernyit, giginya gemeretak menahan amarah, sementara air matanya terus mengalir deras.

"Brengsek! Brengsek! Dasar bajingan!" makinya dalam hati.

"Bibi! Bibi!" teriak Susi tanpa beranjak dari tempatnya.

Sontak seorang wanita datang tergopoh-gopoh sambil memegang sapu ijuk.

"I-ya Nyonya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita paruh baya itu sambil melihat sekeliling.

"Di mana dia?" bentak Susi.

"Iya? Siapa Nyonya?" tanya wanita itu lagi.

"Siapa lagi! Orang yang bekerja di rumah ini! Si Zara!" teriak Susi lagi dengan suara melengking.

"I-itu, maaf Nyonya," jawab wanita itu gugup sambil memutar-mutar gagang sapu di tangannya.

"Panggil dia ke sini sekarang juga!" perintah Susi.

"Nona Zara nggak ada di kamarnya, sudah sejak pagi tadi," jawab wanita itu ragu-ragu.

"Apa?" tanya Susi terkejut.

Saking terkejutnya, ia sampai ternganga cukup lama.

"Gak mungkin. Anak sial itu gak akan pergi ke mana-mana," ucap Susi dengan rasa percaya diri yang masih tersisa.

Susi pun bangkit, lalu dengan langkah tergesa ia mencari Zara ke seluruh penjuru rumah. Namun benar apa yang dikatakan pembantunya, Zara memang tidak ada di mana pun.

"Argh! Zara!" teriak Susi kesal.

Saat Susi berteriak dan mengamuk, Reno pun datang menghampiri.

"Ya ampun! Mami! Mami kenapa?" seru Reno panik, lalu segera turun dari tangga mendekati ibunya.

"Mami kenapa?" tanyanya lagi sambil memegang bahu Susi.

"Mami nangis?" tanya Reno semakin bingung melihat keadaan ibunya.

"Di mana Zara?" tanya Susi sambil menatap tajam wajah putranya.

"Apa maksud Mami?" jawab Reno semakin nggak mengerti.

"Di mana anak kurang ajar itu! Di mana Zara!" teriak Susi mengamuk.

"A-apa maksud Mami? Zara ... hilang?" tanya Reno, kini ikut merasa cemas.

Menyadari bahwa keduanya baru saja kehilangan jejak Zara, mereka pun saling menatap dengan perasaan bingung dan takut. Namun kepanikan itu belum sempat mereda, tiba-tiba asisten rumah tangga yang lain datang menghampiri.

"Maaf Nyonya, Tuan Muda, ada tamu yang ingin bertemu," ucapnya dengan nada gugup, seolah terpaksa menyampaikan kabar itu.

Deg!

"Dia datang," gumam Susi, wajahnya terlihat semakin pucat.

"Siapa, Mam? Siapa yang datang?" tanya Reno ikut terkejut.

Namun Susi nggak menjawab, ia langsung melepaskan tangan Reno yang memegang tangannya.

"Diam. Masuk ke kamarmu," perintah Susi tanpa mau dibantah.

Susi berjalan terhuyung-huyung, namun saat mendekati pintu depan, ia segera memperbaiki penampilannya dan mengusap sisa air mata di wajahnya.

Ceklek!

Pintu terbuka, dan tampaklah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, mengenakan jas rapi dengan perawakan tegap dan berwibawa berdiri di balik bingkai pintu.

“Selamat siang Nyonya Susi,” seringai pria itu.

"Eh?"

1
jamescortis
semangat thor 🔥🔥
Key Kastara: Trimakasih kakak 🔥✨
total 1 replies
Musea
wihh semangat yaa dari sesama author
Key Kastara: Trimakasih kakak siap 🤗✨
total 1 replies
Wawan
Salam kenal buat Zara ✍️
Key Kastara: Salam kenal kakak 🤗✨
total 1 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Aku mau kopi tubruk sama 76🚬🗿👍🏻
Key Kastara: Otewe, dimana 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!