NovelToon NovelToon
Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.

​Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.

Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Penolakan di awal

Radit melangkah memasuki kawasan elite di pusat kota, tempat di mana ia dibesarkan dengan segala kemewahan. Langkah kakinya membawa tubuh tegap itu berderap masuk ke dalam sebuah mansion yang begitu besar dan megah. Itu adalah rumahnya, kediaman utama keluarga Laksmana.

​Disaat Radit baru melangkah masuk melewati pintu ganda, ia langsung disambut oleh ibunya yang tampak panik. Ibunya setengah berlari mendatangi dirinya dan langsung memeluknya dengan sangat erat, seolah takut putranya akan menghilang lagi.

​"Anakku! Syukurlah kau selamat! Ibu tidak bisa tidur semalaman memikirkanmu! Bagaimana keadaanmu? Apa ada bagian yang sakit?" tanya ibunya bertubi-tubi dengan suara bergetar.

​Radit menghela napas pendek sembari menepuk bahu sang ibu perlahan. "Ibu, tenanglah. Aku baik-baik saja."

​Ibunya perlahan melepaskan pelukan, lalu memegang kedua lengan anaknya untuk memeriksa seluruh tubuh anaknya dari atas hingga ke bawah. Detik itu juga, matanya membelalak kaget mendapati bekas noda darah yang mengering di seragam hijau militer milik Radit.

​"Astaga, darah ini! Pelayan, panggil dokter pribadi keluarga kita ke sini sekarang juga!" teriak ibunya histeris ke arah koridor rumah.

​"Baik, Nyonya Besar," sahut seorang pelayan paruh baya yang langsung menunduk dan pergi dari ruang utama dengan tergesa-gesa.

​Radit memegang tangan ibunya untuk menghentikan kepanikan itu. "Ibu, dengarkan aku. Aku benar-benar baik-baik saja. Luka ini sudah dibersihkan semalam, sebentar lagi juga akan sembuh dan—"

​"Radit, aku buatkan bubur potongan jahe dan potongan kecil udang kesukaanmu di sini. Aku tahu kau pasti sangat lapar setelah semalaman tersesat," potong sebuah suara lembut yang mendadak muncul dari arah belakang.

​Seorang gadis dengan dress selutut berwarna merah menyala berjalan keluar dari dapur bersih. Tangannya membawa semangkuk bubur hangat yang masih mengepulkan asap tipis.

​Radit menatap datar gadis itu, kedua alisnya bertaut rapat. "Sella? Kenapa kau ada di rumahku?"

​Sella mengulas senyum manis yang tampak dibuat-buat. "Tentu saja aku harus ada di sini, Radit. Begitu mendengar kabar burung kalau pasukanmu kehilangan kontak di perbatasan, aku langsung membatalkan semua acaraku hanya untuk datang ke sini."

​"Benar, Radit. Dia sangat mengkhawatirkanmu sejak berita dirimu hilang di perbatasan menyebar," sambung ibunya dengan nada memuji yang kentara. "Sella langsung datang untuk menemani Ibu yang sedang panik. Beruntung ada dia yang menenangkan Ibu."

​Radit memutar bola matanya malas. Tanpa memedulikan bubur udang ataupun kehadiran gadis bergaun merah itu, ia melewati mereka begitu saja. Dengan langkah dingin, ia berjalan menuju kamar pribadi miliknya yang berada di lantai dua.

​Namun saat membuka pintu kamar, Radit mendapati kamarnya sudah berubah terlalu rapi dengan tatanan yang asing. Ia melihat kamarnya begitu rapi dan ia merasa begitu kesal jika ada orang asing yang berani memegang atau memindahkan barang miliknya tanpa seizinnya.

​Saat Radit berbalik dengan tatapan tajam, ia mendapati Sella sudah berdiri di ambang pintu kamarnya dengan senyum bangga yang merekah.

​"Aku yang merapikan semua barang-barangmu, Radit," ujar Sella dengan nada manja. "Kemarin kamar ini agak berdebu karena kau tinggal berpatroli, jadi aku berinisiatif untuk—"

​"Siapa yang memberi izin kau masuk dan menyentuh barang-barang di kamarku, Sella?" potong Radit, suaranya rendah namun terdengar sangat dingin dan menusuk.

​Senyum di wajah Sella seketika membeku. "Aku... aku hanya ingin berniat baik membantu, Radit. Lagipula kita kan—"

​"Keluar," desis Radit tanpa ekspresi, matanya menatap lurus ke arah Sella dengan aura mengintimidasi. "Dan jangan pernah berani menapakkan kakimu atau menyentuh apa pun di ruangan ini lagi tanpa izin tertulis dariku."

​Sella terenyak di tempatnya berdiri, wajahnya memerah menahan malu sekaligus syok karena kebaikannya dibalas dengan bentakan sedingin es. Tanpa berkata-kata lagi, ia mundur teratur dari ambang pintu.

Menahan kejengkelannya, Radit langsung berbalik melangkah cepat menuju meja kerjanya. Tak lama kemudian, Radit kembali keluar dari kamar. Kali ini, ia membawa beberapa dokumen penting di tangannya.

​Melihat Radit kembali turun dengan berkas-berkas penting tersebut, Nyonya Laksmana langsung menghadang langkah putranya tepat di ujung tangga bawah. Wajah anggun wanita paruh baya itu tampak menegang penuh selidik.

​"Mau ke mana lagi kau membawa berkas-berkas penting itu, Radit? Kau baru saja pulang, seragammu bahkan belum diganti!" tanya ibunya dengan nada menginterogasi.

​"Aku harus kembali ke desa perbatasan secepatnya, Ibu," jawab Radit tenang namun tegas.

​Sella ikut melangkah mendekat, matanya melirik curiga pada map dokumen di tangan Radit. "Radit, untuk apa kau membawa dokumen pribadi sedini hari? Apa ada misi rahasia dari markas?"

​"Bukan misi militer," jawab Radit seraya menatap lurus ke arah ibunya. "Aku mengambil berkas-berkas ini untuk keperluan administrasi pernikahan. Aku akan menikahi seorang gadis desa. Gadis yang sudah bertaruh nyawa menyelamatkanku di hutan."

​"APA?!" Pekik ibunya, suaranya naik beberapa oktav. Wajah Nyonya Laksmana seketika merah padam akibat amarah yang mendadak meledak. "Pernikahan? Kau pasti sudah kehilangan akal sehatmu di dalam hutan itu, Radit Laksmana!"

​"Radit, tolong katakan padaku kalau ini semua hanya lelucon," sela Sella dengan bibir bergetar, wajahnya mendadak pias. "Kau ingin menikahi gadis kampung yang baru kau temui semalam? Lalu bagaimana dengan komitmen keluarga kita?"

​Radit mengabaikan Sella dan tetap menatap ibunya. "Aku serius, Ibu. Aku datang ke sini hanya untuk mengambil dokumenku, bukan untuk berdiskusi."

​Nyonya Laksmana tertawa hambar, matanya berkilat penuh kemarahan yang mendalam. "Tidak! Ibu tidak akan pernah sudi memberikan izin! Pernikahan ini tidak boleh terjadi! Kau adalah seorang perwira militer berpangkat tinggi, masa depanmu sangat cerah, dan kau mau menghancurkannya hanya demi seorang gadis miskin dari kampung terpencil?"

​"Ini bukan tentang status sosial, Ibu. Ini tentang sebuah tanggung jawab," sahut Radit, suaranya mulai meninggi, menahan emosi.

​"Tanggung jawab apa?!" bentak ibunya, dadanya naik turun mengatur napas yang memburu. "Keluarga Laksmana adalah lingkaran elite di kota ini! Kolega ayahmu, para jenderal, dan semua pengusaha terpandang tahu siapa kita! Bagaimana bisa Ibu memperkenalkan seorang gadis desa yang tidak punya latar belakang, tidak berpendidikan, dan tidak tahu tata krama sebagai menantu sah di rumah megah ini? Di mana kau mau menaruh muka Ibu dan Ayahmu?!"

​Sella sengaja memanas-manasi situasi, ia memegang lengan Nyonya Laksmana dengan raut wajah sedih. "Benar, Radit. Pikirkan reputasi keluargamu. Pernikahan di kalangan militer itu bukan hal sepele. Apa kata dunia nanti kalau tahu seorang perwira menikahi perempuan yang tidak jelas asal-usulnya?"

​Radit menepis pandangan Sella dengan tatapan yang sangat mengintimidasi, membuat Sella spontan mundur selangkah. Radit lalu kembali menghadap ibunya dengan sikap sempurna khas militer yang tidak bisa diganggu gugat.

​"Gadis desa yang Ibu sebut tidak jelas itu sudah membiarkan dirinya basah kuyup diterjang badai ekstrem demi mencari obat herbal agar putramu ini tidak mati kehabisan darah!" tekan Radit dengan urat-urat leher yang menegang. "Dan akibat bermalam bersamaku di gubuk untuk merawatku, kehormatannya dihujat oleh warga satu kampung. Bahkan ibu tirinya sendiri tega menjualnya kepada tua bangka mesum karena menganggapnya sudah tidak suci lagi!"

​"Itu urusan dia, bukan urusanmu!" seru ibunya, mengibaskan tangan dengan sangat angkuh. "Ibu tidak peduli jika dia menjual dirinya atau tidak! Yang jelas, perempuan seperti itu tidak pantas menginjakkan kaki di rumah ini!"

​"Dia menjadi seperti itu karena menyelamatkan nyawaku, Ibu! Sebagai seorang perwira dan laki-laki, aku wajib bertanggung jawab penuh atas harga dirinya!" balas Radit lantang, suaranya menggelegar memenuhi ruang utama.

​Nyonya Laksmana melangkah maju, menunjuk dada Radit dengan jari yang gemetar karena murka yang luar biasa. "Jika kau nekat melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah ini untuk menikahi gadis kampung itu, maka bersiaplah untuk kehilangan segalanya! Ibu akan pastikan namamu dicoret dari hak waris keluarga Laksmana, dan jangan pernah berharap Ayahmu akan membantumu di kesatuan militer lagi!"

​Radit menatap ibunya dengan senyum tipis yang sarat akan kekecewaan. Ancaman harta dan takhta sama sekali tidak bisa menggoyahkan prinsip hidupnya.

​"Jika itu adalah harga yang harus kubayar untuk sebuah kehormatan dan balas budi, maka silakan lakukan, Ibu," jawab Radit dengan nada suara yang teramat dingin namun mantap.

​Tanpa menunggu balasan lagi, Radit memutar tubuhnya dengan cepat. Dengan langkah lebar penuh keyakinan, ia berjalan melewati ruang tamu megah itu, mengabaikan teriakan ibunya yang terus memanggil namanya. Pintu depan mansion mewah itu tertutup dengan bunyi berdebam keras yang sangat nyaring, menandakan sang perwira telah resmi memilih jalannya sendiri.

​Di dalam rumah yang kini sunyi mencengkam, Nyonya Laksmana tampak lemas memegangi dadanya yang sesak akibat amarah, sebelum akhirnya dipapah oleh beberapa pelayan menuju sofa.

​Sementara itu, Sella masih berdiri terpaku di dekat tangga. Kedua tangan Sella mengepal sangat kuat hingga kuku-kukunya meremukkan kain dress merah mahalnya. Mata Sella yang semula memancarkan kesedihan, kini berubah total menjadi sangat tajam dan dipenuhi kedengkian mendalam saat menatap ke arah pintu tempat Radit baru saja pergi.

"​Gadis kampung sialan," batin Sella berbisik kejam. Sebuah seringai tipis dan dingin muncul di sudut bibirnya. Di dalam kepala cantiknya, sebuah intrik licik yang mengerikan mulai tersusun rapi. Ia tidak akan membiarkan posisinya sebagai nyonya masa depan di rumah megah itu direbut begitu saja oleh seorang gadis miskin dari perbatasan. Jika Radit tidak bisa ia miliki dengan cara baik-baik, maka ia akan memastikan gadis desa itu hancur sebelum sempat menginjakkan kaki di kota ini.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
aduh maaf banget di bab kali ini banyak typo bertebaran 😭🙏
Ris Ris.25
Semangat ya Thor🙏
Ris Ris.25
Semangat thor🙏🙏
Ris Ris.25
mana nih kelanjutannya?🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: Oke ditunggu ya kak😊
total 1 replies
Ris Ris.25
Bagus sekali Thor... semangat! 🙏
Sri Sulastri
mana lanjutannya min 🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: huhu makasih ya kak sudah nungguin.. setiap Hari update 1 kali sehari ya biar sehat 🤣🤭 setiap jam 9
total 1 replies
Wawan
Salam kenal Vina ✍️💪
Putri Ayu/PqxxyZ: Hai kakk.. salam kenal kembali..
total 1 replies
Mustafa
Keren
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo kita lihat bersama PERWIRA GANTENG DAN BAIK
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!