NovelToon NovelToon
Kamu Satu Dari Sejuta

Kamu Satu Dari Sejuta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.

Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Keputusan

Bab 4 - Keputusan

Sementara itu, di dalam kamar tamu, Raisa masih duduk bersandar di kepala ranjang. Ia menatap nampan berisi makanan dan obat yang diletakkan di meja samping tempat tidur. Pikirannya masih bingung, antara merasa asing berada di rumah orang lain dan juga sedikit terkejut melihat sikap Senopati yang meski terlihat dingin, tetap memastikan keadaannya.

Dengan tenaga yang masih terbatas, ia mencoba meraih sendok dan memakan bubur itu sedikit demi sedikit. Rasanya hangat dan terasa pas di lidah, perlahan mengurangi rasa perih di tenggorokan akibat demam. Setelah menghabiskannya, ia meminum obat yang tersedia, lalu kembali berbaring sambil memandangi langit-langit kamar yang mewah namun terasa sunyi.

Di ruang kerjanya yang berada di lantai dua, Senopati berdiri di dekat jendela sambil memegang segelas air putih. Ia baru saja mendengar laporan singkat dari Radit tentang telepon ayah Raisa. Bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang tak terartikan.

"Besok dia akan dijemput... artinya aku hanya perlu menahan diri satu malam saja lagi," gumamnya pelan pada dirinya sendiri. Namun entah kenapa, hatinya terasa sedikit lebih tenang mengetahui wanita itu sudah sadar dan mulai makan.

Senopati kembali duduk di kursi kerjanya, mencoba melanjutkan berkas yang tertunda, tapi matanya sering kali melayang menuju arah pintu kamar tamu di lantai bawah. Entah mengapa ia merasa sulit untuk benar-benar memusatkan perhatiannya malam ini.

Jam menunjukkan pukul tiga, Senopati beranjak dari kursi kerjanya, ia berniat masuk kedalam kamarnya. Saat masuk kedalam kamarnya Senopati melepaskan kemeja hitam-nya lalu masuk kedalam kamar mandi ia berniat mandi air hangat sebelum beristirahat.

Selesai mandi Senopati mengenakan baju kaos over size dan celana panjang berwarna hitam. Malam ini tubuhnya benar-benar kelelahan, tak lama setelah berbaring di atas ranjang berukuran king size miliknya ia tertidur karena kelelahan.

Keesokan paginya saat keluar kamar Senopati mendengar suara-suara dari lantai bawah ruang tamu. Ia berjalan perlahan menuruni anak tangga satu persatu dan menyadari kedatangan keluarga Raisa.

"Kenapa kalian datang kemari?" Senopati berjalan melewati kedua orang tua Raisa lalu duduk di sofa single. "Katakan niat kalian, hingga datang jauh-jauh kerumah saya." Lanjutnya menatap serius kearah Ardi dan Marla.

"Tentu saja kami kemari untuk menjemput anak sialan itu." Marla tak menyebut nama Raisa, ia berbicara seakan-akan putri tirinya itu adalah anak yang membawah kesialan baginya. Bagaimana tidak, pagi-pagi sekali suaminya itu membangunkannya dan mengajaknya datang kerumah Senopati walau ia sudah menolak berulang kali.

"Diam...?" Marla berlonjak kaget ketika Senopati tiba-tiba meneriakinya. "Wanita yang kau sebut sialan itu adalah calon istriku, yang artinya dia akan menjadi nyonya besar di keluarga ini." Siapa sangka pria yang terlihat penuh ketenangan itu tiba-tiba berteriak membentak Marla.

Tanpa mereka sadari kalau Raisa dari arah kamar tamu membuka pintu kamarnya sedikit untuk mengintip dan mendengar semua percakapan dari ruang tamu.

Raisa tertegun di balik pintu. Ia tak menyangka akan mendengar kalimat itu keluar dari mulut Senopati, pria yang sejak awal bertemu terasa jauh, dingin, dan seolah tak mau berurusan dengannya. Dan itu adalah pria yang sama telah membelanya di hadapan Ardi dan Marla.

Di ruang tamu, Marla terkejut bukan main. Wajahnya memucat seketika, lalu berubah merah karena marah sekaligus malu dibentak di hadapan suaminya sendiri. Ardi, ayah Raisa, hanya diam terpaku, tak berani bersuara lebih lanjut karena tahu kalau yang di katakan oleh istrinya tadi benar-benar salah, ia bahkan akan memarahi istrinya akan tetapi Senopati yang lebih dulu angkat bicara. Ia tahu siapa Senopati bukan orang sembarangan yang bisa dipermainkan atau dilawan seenaknya.

“Meskipun Raisa calon istri mu Tuan, tapi dia adalah putri kami?” suara Marla terdengar sangat kesal karena di perlakukan seperti itu apalagi di bentak, matanya melotot tak percaya. “Tuan pasti telah di butahkan oleh wanita sialan itu dalam satu malam, iya kan? ”

“Cukup.” Potong Senopati dengan nada rendah namun penuh penekanan yang menusuk. Tatapannya tajam, membuat siapa pun yang melihatnya merasa seolah tertekan beban berat. “Mulailah bicara dengan sopan jika ingin tetap berada di dalam rumah ini. Raisa akan tetap tinggal di sini. Aku yang memutuskan, bukan kalian.”

Ardi akhirnya berani angkat suara, nada bicara berhati-hati. “Tuan Senopati… kami datang hanya karena khawatir.Kami juga berniat menjemputnya pulang kerumah kami, Raisa masih calon istri Anda, dia belum menjadi istri Tuan. Itu artinya kami sebagai orang tua masih berharap membawanya pulang!" Ardi mencoba menjelaskan panjang kali lebar, Raisa adalah putri kandungnya, ia berhak membawanya. Itulah yang di pikirkan Ardi.

Senopati tak langsung menjawab. Pandangannya bergerak sekilas ke arah lorong tempat kamar tamu berada, seolah ia sudah sadar keberadaan Raisa yang mengintip. Sesaat kemudian, ia kembali menatap kedua orang itu dengan tenang namun tegas.

“Alasannya bukan urusan kalian. Mulai hari ini, Raisa adalah tanggung jawabku. Kalian boleh pulang sekarang. Jangan datang lagi kecuali dipanggil.”

Selesai bicara, Senopati berdiri dan melangkah perlahan menuju lorong itu. Ia berhenti tepat di depan pintu kamar tamu yang masih terbuka sedikit, lalu mengetuknya lembut.

“Kau sudah bangun? Ayo keluar. Kita bicarakan semuanya secara langsung.”

Raisa terkejut tertangkap basah, wajahnya memerah. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan membuka pintu lebar-lebar dan melangkah keluar. Di belakangnya, ia masih bisa merasakan tatapan tajam Marla dan pandangan bingung ayahnya. Namun ia sendiri bingun harus berkata apa, lidahnya seketika merasa keluh berhadapan langsung dengan Senopati.

"Tuan Senopati, lebih baik saya ikut pulang dengan papa saya, bagaimanapun kita belum menikah." Raisa hanya mencoba membela Ardi di hadapan Senopati dan yang lainnya.

"Kamu benar Raisa, sudah seharusnya kamu pulang bareng papa dan mama." Ardi tersenyum lembut sambil menyentuh kedua bahu Raisa.

"Cihh... Kamu suka kan kalau kami di bentak seperti ini?" Marla lagi-lagi berbicara jutek kepada Raisa. Baginya Raisa adalah pengganggu dalam kehidupannya dan keluarganya.

"Mah cukup, Raisa itu putri kandung ku, tolong hargai Papa?"

"Sepertinya kalian lupa? Bukankah kalian yang menyerahkan putri kalian sebagai pengganti utang-utang kalian, bukankah kita juga sudah mendatangani surat resminya kemarin?" Tenang, itulah yang terlihat, tapi siapa sangka kalau Senopati terlihat akan membunuh di mata Radit sang asisten.

"Tapi Tuan, kalian kan belum menikah?"

"Anda memang benar. Tapi apakah Anda, bisa menghentikan saya?"

Sekali lagi Senopati berbicara seakan-akan keputusannya mutlak atas dirinya. Baginya keputusan yang ia ambil tidak bisa di bantah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!