Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kamar Mandi Hanya Satu dan Teror Ibu Mertua
Kehidupan pernikahan palsu antara dua orang yang sudah saling tahu borok masing-masing kembali diuji di hari Senin pagi. Masalah terbesar dari rumah kontrakan murah pilihan orang tua mereka ini sebenarnya sederhana: kamar mandinya cuma ada satu, letaknya di dekat dapur luar, dan ukurannya pun tidak seberapa.
"Arga! Buruan napa! Gue udah telat nih mau bimbingan skripsi sama Dosen killer! Lo bertapa di dalem atau lagi benerin pipa sih?!" Kinar menggedor pintu kamar mandi tripleks itu dengan brutal. Dia sudah rapi memakai kemeja flanel kotak-kotak dan celana jins, siap tempur ke kampus dengan tas ransel yang sudah nangkring di pundaknya.
"Bentar, Nar! Perut gue mules banget, sumpah! Ini semua gara-gara lo yang kemarin malam maruk ngajakin beli seblak ceker level lima belas!" sahut Arga dari dalam, disusul suara guyuran air gayung yang kedengaran tidak sabaran.
"Heh, salah lo sendiri kenapa ikutan makan dua mangkok! Lagian cowok macam apa lo, makan cabai segitu aja langsung mulas berhari-hari! Siniin gak sabun cuci mukanya, gue mau numpang cuci muka di wastafel dapur aja daripada muka gue minyakan pas ketemu dosen!" cerocos Kinar sambil terus menendang bagian bawah pintu.
"Sabar, Kinar! Gak usah pakai nendang-nendang pintu juga! Kalau ini pintu jebol, lo mau tanggung jawab ganti pakai uang jajan lo?!"
Cklek. Pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Arga keluar dengan kepulan asap uap air, dan sialnya, dia cuma pakai handuk putih yang melilit pinggangnya dari pusar ke bawah. Air sisa mandi masih menetes di dada bidangnya, memperlihatkan rambut-rambut basah yang acak-acakan.
Kinar otomatis langsung berteriak kaget dan menutup matanya pakai kedua telapak tangan. Tapi, dasar Kinar, dia sengaja menyisakan celah sedikit di antara jari-jarinya buat mengintip diam-diam. "Astagfirullah! Heh, kutu kupret! Kenapa gak pakai baju dulu sih sebelum keluar?! Mata suci gue ternoda demi apa pun!"
"Alah, sok suci lo, Nar. Biasanya juga lo sering liat gue cuma pakai celana kolor pas kita berenang di sungai waktu kecil," balas Arga santai sambil menggosok rambutnya pakai handuk kecil. "Lagian ini kan rumah gue juga, bebas dong gue mau—"
DOR! DOR! DOR!
Pintu depan kontrakan tiba-tiba digedor dengan kekuatan penuh. Suara ketukan beruntun itu terdengar begitu berwibawa dan penuh tekanan, hingga membuat adu mulut antara Arga dan Kinar langsung terhenti seketika. Mereka berdua membeku di tempat seperti patung lilin.
"Arga! Kinar! Ini Ibu, Nak! Ibu bawain rantang lauk ayam kampung buat kalian sarapan!"
Mendengar suara Ibu Arga—alias ibu mertua dadakan Kinar—kedua manusia itu langsung didera kepanikan masal. Jantung mereka rasanya mau copot. Masalah utamanya adalah, mereka baru ingat kalau bantal, guling, dan kasur lantai milik Arga masih tergelar rapi di depan TV ruang tengah karena cowok itu semalam ketiduran pas main game. Jika Ibu Arga masuk dan melihat ada kasur lantai terbentang di sana, rahasia kalau mereka tidur terpisah kamar pasti akan langsung terbongkar saat itu juga!
"Arga! Rapiin kasur lantai lo! Buruan!" bisik Kinar dengan wajah pucat dan suara yang gemetar menahan panik.
"Gue cuma pakai handuk begini, Kinar! Malu lah kalau Ibu liat gue belum berpakaian! Lo aja yang tendang kasurnya ke dalem kamar kosong belakang!" Arga gak kalah panik, dia langsung melompat pontang-panting masuk ke kamarnya sendiri untuk memakai baju.
"Sialan lo, malah kabur!" Kinar mengumpat pelan. Dengan gerakan secepat kilat seperti agen rahasia, dia menggulung kasur lantai Arga, melempar bantalnya asal ke bawah kolong sofa, lalu dengan napas yang terengah-engah dan rambut agak berantakan, dia berlari membuka pintu depan sambil memasang senyum paling menawan sewajah-wajah.
"Eh... Ibu... Silakan masuk, Bu. Selamat pagi," sapa Kinar dengan nada suara yang agak bergetar akibat olahraga jantung dadakan.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/