Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.
Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.
Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.
Melainkan kesepakatan.
Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.
Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.
Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.
Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?
Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianat di Antara Mereka
Dentuman ledakan masih menggema di seluruh pabrik.
Debu memenuhi udara.
Pecahan beton berjatuhan dari langit-langit.
Semua orang langsung bersiaga.
Pasukan Gagak membentuk formasi melindungi Surya dan Aruna, sementara anak buah Jonathan secara refleks mengangkat senjata.
Namun Jonathan mengangkat tangannya.
"Turunkan senjata."
Anak buahnya saling berpandangan.
"Tuan?"
"Aku bilang turunkan."
Perintah itu membuat mereka perlahan menurunkan senjata.
Jonathan menatap Surya.
"Aku memang musuhmu."
"Tapi ledakan itu bukan perintahku."
Surya menatap lurus ke matanya.
Selama puluhan tahun ia mengenal Jonathan.
Ia bisa membedakan kapan pria itu berbohong dan kapan ia berkata jujur.
Dan kali ini...
Jonathan tidak sedang berbohong.
"Itu berarti..."
Mahendra menggenggam pistolnya lebih erat.
"...ada kelompok lain."
Elias menggeleng pelan.
"Bukan kelompok."
"Melainkan seseorang."
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
"Seseorang yang mengenal semua jalur rahasia."
"Dan hanya ada sedikit orang yang memiliki pengetahuan itu."
Arga tiba-tiba berbicara.
"Empat orang."
Surya mengangguk.
"Benar."
"Aku."
"Elias."
"Jonathan."
Kemudian ia berhenti.
Wajahnya berubah muram.
"Dan satu orang lagi."
Aruna merasakan firasat buruk.
"Siapa?"
Belum sempat Surya menjawab, suara tembakan kembali terdengar dari lorong bawah tanah.
Dor!
Dor!
Dor!
Lalu disusul suara teriakan.
Seorang anggota Pasukan Gagak terseret keluar dari lorong.
Tubuhnya penuh luka.
Ia terengah-engah.
"Tuan..."
"Dia..."
"Dia datang..."
Surya berlutut di sampingnya.
"Siapa?"
Prajurit itu memegang lengan Surya dengan gemetar.
"Lambang..."
"Lambang Serigala Putih..."
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia pingsan.
Ruangan kembali sunyi.
"Lambang Serigala Putih?"
ulang Ratih.
Jonathan langsung memucat.
"Tidak mungkin."
Mahendra menoleh.
"Kau mengenalnya?"
Jonathan menarik napas panjang.
"Dulu..."
"...itu adalah pasukan elit organisasi."
"Tapi bukankah mereka sudah dibubarkan?"
tanya Adrian.
Jonathan tertawa hambar.
"Dibubarkan?"
"Mereka tidak pernah dibubarkan."
"Mereka menghilang."
Surya memejamkan mata.
"Dan hanya satu orang yang bisa memimpin mereka."
Aruna menggenggam liontin pemberian Elias.
"Kakek..."
"Siapa orang itu?"
Surya membuka matanya perlahan.
"Wira."
Nama itu terdengar asing.
Namun reaksi Jonathan berbeda.
Pria itu tampak benar-benar terkejut.
"Wira Santoso?"
Surya mengangguk.
"Ya."
Jonathan menggeleng keras.
"Tidak mungkin."
"Aku melihat sendiri dia tertembak."
"Elias juga melihatnya."
Elias mengembuskan napas panjang.
"Benar."
"Kami semua melihatnya."
"Lalu bagaimana dia bisa hidup?"
Tidak ada yang menjawab.
Karena mereka semua sedang memikirkan kemungkinan yang sama.
Jika Wira benar-benar hidup...
Berarti selama dua puluh lima tahun terakhir...
Ia bersembunyi.
Menunggu.
Menyusun rencana.
Dan malam ini...
Ia akhirnya bergerak.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari lorong bawah tanah.
Tidak tergesa-gesa.
Sangat tenang.
Tok.
Tok.
Tok.
Semua senjata langsung diarahkan ke arah lorong.
Sesosok pria muncul dari balik debu.
Usianya sekitar enam puluh tahun.
Tubuhnya masih tegap.
Di pipi kirinya terdapat bekas luka panjang.
Di dada kirinya terpasang lambang seekor serigala putih dari logam.
Ia berhenti beberapa meter dari mereka.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Lalu tersenyum.
"Akhirnya..."
katanya pelan.
"...semua orang berkumpul."
Surya berdiri perlahan.
"Wira."
Pria itu mengangguk.
"Sudah lama, Ketua."
Jonathan mengepalkan rahangnya.
"Kau masih hidup."
Wira menoleh kepadanya.
"Lama tidak bertemu."
"Sahabat."
Jonathan tertawa pahit.
"Hari ini rupanya semua orang mati kembali hidup."
Wira ikut tersenyum.
"Mungkin."
"Tapi ada yang lebih menarik."
Tatapannya berhenti pada Aruna.
"Alya benar-benar mirip ibunya."
Aruna membeku.
Pria itu mengenal ibunya.
"Saya kenal Ibumu sejak dia masih kecil."
kata Wira lembut.
"Saya bahkan mengajarinya bermain catur."
Air mata Aruna kembali memenuhi matanya.
Semakin banyak orang yang mengenal Alya bermunculan.
Namun semuanya baru muncul setelah ibunya tiada.
"Kenapa kalian semua baru datang sekarang?"
tanyanya lirih.
"Di mana kalian ketika Ibu dibunuh?"
Kalimat itu menghantam semua orang.
Surya menundukkan kepala.
Elias memejamkan mata.
Bahkan Wira menghela napas panjang.
"Kami terlambat."
katanya jujur.
"Itu kesalahan terbesar kami."
"Tidak."
Aruna menggeleng sambil menangis.
"Itu bukan kesalahan."
"Itu kegagalan."
Ruangan kembali sunyi.
Tak seorang pun mampu membantahnya.
Karena Aruna benar.
Mereka gagal melindungi Alya.
Dan kini gadis itu yang harus menanggung semua akibatnya.
Wira melangkah mendekat.
Kemudian mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah tua.
"Ini juga titipan Alya."
katanya.
Aruna menerimanya dengan tangan gemetar.
Di bagian depan amplop hanya tertulis satu kalimat.
"Buka hanya jika Wira datang sendiri."
Aruna menatap Wira.
Pria itu mengangguk pelan.
"Sudah waktunya."
Perlahan Aruna membuka amplop tersebut.
Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.
Namun bukan surat.
Melainkan...
Peta.
Peta menuju sebuah pulau kecil di tengah laut.
Di sudut bawah peta tertulis sebuah kalimat yang membuat seluruh tubuh Surya membeku.
"Jawaban terakhir ada di Pulau Arunika."
Elias langsung membelalak.
"Itu mustahil..."
Mahendra menatap peta itu dengan wajah pucat.
Jonathan bahkan tanpa sadar melangkah mendekat.
Karena mereka semua tahu satu hal.
Pulau Arunika telah dinyatakan tenggelam lebih dari dua puluh tahun yang lalu.
Kalau begitu...
Peta itu menunjukkan jalan menuju tempat apa?
Bersambung...