NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18

***

Pintu kayu jati tebal yang memisahkan kamar perawatan dengan ruang tamu utama ndalem baru saja tertutup rapat. Nayanika ditinggalkan sendirian dalam keheningan yang menyesakkan, ditemani bunyi konstan dari tetesan cairan infus. Di atas kasur, dada gadis itu naik-turun dengan tidak teratur. Otaknya yang biasa bekerja cepat kini serasa macet total, dipaksa menerima rentetan kenyataan fiksi yang menghantamnya bertubi-tubi.

Istri sah? Pemilik tanah pesantren? Cucu kandung kiai besar?

Naya menatap kosong ke arah map dokumen hitam yang ditinggalkan Gus Zayyan di tepi ranjang. Dengan tangan yang bergetar hebat, ia meraih lembaran kertas bermeterai itu. Goresan pulpen hitam milik papanya terpampang nyata di sana. Itu bukan mimpi, bukan pula lelucon garing dari Gus Kaku untuk menakut-nakutinya.

"Papa... apa-apaan sih?" bisik Naya lirih, air matanya menetes pelan membasahi ujung jemarinya yang lecet.

Rasa penasaran yang membuncah mendadak mengalahkan rasa ngilu di sekujur tubuh Naya. Dari balik dinding jati, suara benturan keras kembali terdengar, disusul oleh isak tangis yang tertahan. Naya tidak bisa hanya diam menjadi objek yang disembunyikan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menurunkan kedua kakinya ke ubin dingin, mencengkeram tiang infus besi sebagai pegangan, lalu melangkah tertatih-tatih mendekati pintu jati.

Ia menempelkan telinganya pada celah kecil pintu kayu yang sedikit renggang, menahan napasnya dalam-dalam demi mendengarkan badai yang sedang mengamuk di luar sana.

Di ruang tamu utama ndalem, suasana terasa begitu mencekam. Mbah Yai Usman duduk di kursi kebesaran dengan wajah sedingin es, sementara Bu Nyai Halimah mendampingi di sebelahnya dengan mata yang sembap. Di tengah ruangan, Ustadzah Maryam bersimpuh di lantai bersama Fida yang sudah menangis sesenggukan hingga tubuhnya berguncang hebat.

Beberapa ustadz pengurus inti pondok juga telah berkumpul, menciptakan atmosfer sidang formal yang teramat berat.

"Abah... demi Allah, saya tidak bermaksud menyiksa Nayanika," ratap Ustadzah Maryam dengan suara serak, mencoba mencari celah pembelaan diri. "Saya hanya menegakkan kedisiplinan! Anak itu... anak itu sangat pembangkang dan tidak tahu adab! Saya hanya ingin melatih mentalnya agar pantas menjadi santri Al-Falah!"

"Melatih mental dengan cara membiarkannya kelaparan dan menjemurnya di bawah terik matahari sampai kritis, Ustadzah Maryam?!" suara Bu Nyai Halimah memotong tajam, sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Itu bukan mendidik, itu kezaliman!"

Maryam menghapus air matanya kasar, egonya sebagai pengajar senior mendadak bangkit untuk membela diri. lIa menoleh ke arah salah satu ustadz sepuh yang duduk di jajaran pengurus.

"Ustadz Mansur, tolong bicaralah sesuatu!" pinta Maryam memohon. "Paman saya, Kiai Ahmad dari pesantren timur, adalah orang yang ikut merumuskan kurikulum di pondok ini! Abah Usman, mohon pertimbangkan nama paman saya! Jika saya dipecat secara sepihak seperti ini, bagaimana hubungan baik antar-pesantren kita? Paman saya pasti akan sangat kecewa!"

Ustadzah Maryam mencoba membawa-bawa nama besar paman seniornya, berharap ancaman politis itu bisa membuat Mbah Yai Usman melunakkan hukumannya. lIa mengira, posisinya masih aman selama jaringan keluarga pengurus lama melindunginya.

Namun, sebelum Ustadz Mansur sempat mengeluarkan suara, Gus Zayyan melangkah maju membelah ruangan. Langkah kakinya terdengar mantap, memancarkan aura intimidasi yang pekat. Sebagai seorang CEO perusahaan besar sekaligus suami sah yang hatinya tengah terbakar amarah, gaya tenangnya justru terasa begitu mematikan.

"Jangan membawa-bawa nama Kiai Ahmad untuk menutupi busuknya akhlak Anda, Ustadzah Maryam," potong Gus Zayyan, suaranya bariton, rendah, namun sanggup membungkam seluruh ruangan seketika.

Zayyan melempar sebuah gawai ke atas meja kayu dengan sentakan pelan. lIa menekan tombol play.

“Yakin, Ustadzah. Tadi malam saya sengaja menyuruh Mega buat ngecek ke dapur umum jam satu malam, dan si anak kota itu masih megang sikat sambil nangis-nangis. Sukses besar deh rencana kita di kantin kemarin siang...”

Suara rekaman persekongkolan antara Fida dan Maryam di selasar masjid subuh tadi menggema jernih di seluruh penjuru ruang tamu. Wajah Maryam yang tadinya memerah penuh pembelaan, seketika berubah pucat pasi bak mayat. Fida yang bersimpuh di sebelahnya langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, ketakutan setengah mati.

"Itu... itu..." Maryam terbata-bata, lidahnya mendadak kelu.

"Anda bicara soal adab dan kedisiplinan?" Zayyan tersenyum sinis, sebuah seringai dingin yang tidak pernah ia tunjukkan di depan santri umum. "Tindakan Anda memfitnah seorang santri baru, bersekongkol demi ego pribadi, dan menyiksa fisik secara sengaja... apakah itu yang diajarkan oleh paman Anda?"

Zayyan melangkah satu langkah lebih dekat, menatap Maryam dari balik lensa kacamatanya dengan sorot mata menghujam.

"Dan satu hal lagi yang harus Anda dan seluruh pengurus di sini ketahui," Zayyan meraih berkas sertifikat tanah yang dibawa dari dalam, lalu mengempaskannya tepat di depan lutut Ustadzah Maryam. "Lihat nama yang tertera di surat kepemilikan mutlak itu!"

Maryam dengan tangan gemetar membuka lembar berkas tersebut. Matanya membelalak lebar, nyaris melompat keluar dari kelopaknya demi membaca nama: Nayanika Pangestu.

"Santri baru yang Anda sebut 'anak liar tidak tahu adab' dan Anda jemur di halaman pesantren sampai hampir merenggut nyawanya itu... adalah pemilik sah dari tanah yang sedang Anda pijaki saat ini!" cecar Zayyan, suaranya meninggi, sarat akan otoritas yang mutlak. "Seluruh area Al-Falah, mulai dari gerbang depan hingga masjid tempat Anda bersujud, adalah milik mutlak atas nama Nayanika secara hukum negara! Jika pihak keluarganya menuntut atas apa yang terjadi hari ini, pesantren ini bisa ditutup dan disita dalam waktu semalam!"

DEG!

Seluruh ustadz pengurus inti langsung terkesiap, saling berpandangan dengan wajah syok yang luar biasa. Ustadz Mansur yang tadinya berniat membela Maryam langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Mereka semua menyadari bahwa mereka baru saja bermain api dengan orang yang salah.

Maryam lunglai di atas ubin, tubuhnya lemas seketika. lIa menatap Fida yang juga sudah pucat pasi. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa santri buangan kota yang mereka tindas secara murah adalah pemilik singgasana tertinggi di pesantren ini.

Mbah Yai Usman berdiri dari kursi kebesarannya, memukul tongkat kayunya ke lantai dengan dentuman yang memekakkan telinga. BRAK!

"Cukup!" murka Mbah Yai Usman menggelegar, memotong seluruh sisa harapan kubu antagonis. "Pesantren Al-Falah didirikan untuk menegakkan syariat dan akhlak mulia, bukan menjadi wadah bagi pengajar yang memelihara dendam dan kesombongan! Hubungan baik dengan Kiai Ahmad tidak akan bisa menebus kezaliman yang telah Anda perbuat, Maryam!"

Mbah Yai Usman menatap tajam ke arah dua wanita yang bersimpuh di bawahnya.

"Ustadzah Maryam, mulai detik ini juga, Anda saya pecat secara tidak hormat dari seluruh jajaran kepengurusan dan tenaga pengajar Pondok Pesantren Al-Falah! Silakan kemasi barang-barang Anda dan tinggalkan bumi Al-Falah sebelum matahari tenggelam sore ini!" titah Mbah Yai Usman tanpa kompromi.

"Abah... tolong kasihanilah saya, Abah..." ratap Maryam histeris, bersujud di ubin sambil menangis sekencang-kencangnya, namun Bu Nyai Halimah sengaja memalingkan wajah enggan melihatnya.

"Dan untuk kamu, Fida," pandangan Mbah Yai beralih pada santri senior yang sudah gemetar hebat. "Tindakanmu memfitnah dan menghasut pengajar adalah pelanggaran berat. Kamu dijatuhi takzir pengusiran! Kamu dikeluarkan dari pondok ini, dan pengurus akan menghubungi orang tuamu untuk menjemputmu hari ini juga!"

"Mbah Yai... maafkan Fida, Mbah Yai... Fida khilaf..." tangis Fida pecah, penyesalan terdalam kini menghantamnya, namun segalanya sudah terlambat. Hukum pesantren telah diketuk secara mutlak.

Di tengah tangisan histeris Maryam dan Fida, salah satu ustadz senior mencoba menyela dengan ragu. "Mohon maaf, Gus Zayyan... jika Maryam dipecat dan Fida diusir secara mendadak seperti ini, bagaimana kita menjelaskan alasan resminya kepada santri lain agar tidak menimbulkan desas-desus liar di luar?"

Gus Zayyan membalikkan badannya menghadap dewan pengurus. Tatapan matanya yang tajam tidak melunak sedikit pun. lIa menarik napas panjang, lalu mengucapkan sebuah kalimat deklarasi yang begitu lantang, tegas, dan mutlak, hingga suaranya menembus celah pintu kamar perawatan tempat Naya sedang menguping.

"Katakan kepada mereka bahwa mereka telah mengusik orang yang salah," ujar Gus Zayyan dengan nada penuh penekanan yang tak tergoyahkan.

"Nayanika bukan sekadar santri baru. Dia adalah istri saya, dunia dan akhirat saya. Pernikahan kami sudah sah secara agama. Jadi, saya tegaskan kepada seluruh pengurus dan siapa pun di pondok ini... siapa pun yang berani menyentuh seujung rambutnya untuk menyakitinya, maka dia sedang berurusan langsung dengan saya, Zayyan!"

BLARRR!

Di balik pintu jati, jantung Nayanika serasa berhenti berdetak mendengar kalimat deklarasi blak-blakan dari Gus Zayyan. Kedua tangannya yang mencengkeram tiang infus bergetar hebat. Dadanya berdegup maraton, memompa darah dengan begitu cepat hingga memicu rasa hangat yang asing di sekujur tubuhnya.

Kalimat "Dia adalah istri saya, dunia dan akhirat saya" terus bergaung berulang kali di dalam kepala Naya seperti kaset rusak.

Gadis kota yang egois, pemberontak, dan keras kepala itu kini tertegun dalam keheningan. Selama hidupnya di Jakarta, tidak pernah ada seorang pria pun yang pasang badan melindunginya dengan begitu lantang dan berwibawa di depan forum besar—bahkan papanya sendiri pun selalu menyelesaikannya dengan uang atau kemarahan. Namun pria kaku yang selama satu minggu ini ia ejek sebagai "om-om kanebo kering", justru berdiri tegak sebagai tameng mutlak untuk melindunginya dari kehancuran.

Konflik batin baru mendadak meledak di dalam dada Naya. Haruskah ia tetap membenci takdir perjodohan sepihak yang menjebaknya ini, ataukah dinding batu di hatinya perlahan-lahan mulai runtuh, luluh pada wibawa sang Gus CEO yang teramat protektif itu?

Tepat saat Naya sedang tenggelam dalam pergolakan batinnya, pegangan tangannya pada tiang infus melonggar akibat rasa pening yang kembali menyerang kepalanya. Tiang besi itu bergeser, menciptakan suara decitan keras di atas ubin kamar.

KREEEKK!

Di ruang tengah, kalimat tegas Gus Zayyan mendadak terhenti. Sepasang mata elang milik Zayyan langsung menoleh tajam ke arah pintu kamar perawatan yang sedikit bergerak. Pria itu menyadari ada seseorang yang sedang menguping pembicaraannya dari balik pintu.

BERSAMBUNG

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!