NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Sesampainya di rumah, Adera langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuknya. Namun, meskipun badannya sudah berbaring tenang, pikirannya justru terus berputar kencang tak henti-hentinya.

Bayangan kejadian di dalam lift tadi terus bermunculan. Wajah tampan Damar, tatapan tajamnya, suara beratnya, hingga aroma parfum yang begitu maskulin dan menenangkan... semuanya terpatri kuat di ingatannya.

"Duhh.... mana ganteng banget lagi sumpah..." gumam Adera pelan sambil menekan bantal ke wajahnya, mencoba menahan senyum bodoh yang ingin merekah.

Sebenarnya, di lubuk hati yang terdalam, Adera mengakui bahwa dia cukup terpikat dan terpesona melihat sosok Damar secara langsung. Pria itu bukan hanya tampan, tapi juga memiliki wibawa dan ketegasan yang membuat siapa saja takjub.

TAPI...

Adera segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menyadarkan diri dari lamunan.

"Gak boleh! Adera jangan goblok lagi!" tegurnya pada diri sendiri. "Kemarin aja udah cukup menderita karena mengejar cowok dingin, pokoknya harus jadi wanita yang mahal! Anggun! Jangan gampang kepincut kayak anak kecil!"

Adera menarik napas panjang, mencoba memasang mode dingin dan cuek.

"Untuk saat ini, fokus sama diri sendiri dulu lah! Biar dia yang ngejar! Hmph!" tekadnya bulat.

Beberapa hari berlalu dengan sangat cepat. Adera kini benar-benar sibuk mempersiapkan hari bahagianya. Dia tidak punya waktu lagi untuk melamun, karena ada momen paling membanggakan yang sedang dia tunggu yaitu Acara Wisuda!

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Adera dan Nindy berhasil menyelesaikan studi mereka dengan sangat gemilang!

Bukan hanya lulus biasa, Adera bahkan berhasil menyabet predikat sebagai Wisudawati dengan Nilai Tertinggi.

Sungguh pencapaian yang luar biasa. Bayangkan saja, meskipun dulu dia hampir setiap hari bolak-balik ke rumah sakit bukan untuk kontrol, tapi semata-mata hanya ingin bertemu dan melihat Dokter Ezra yang dia idamkan, hal itu sama sekali tidak membuatnya menelantarkan kuliahnya.

Adera adalah bukti nyata bahwa dia adalah salah satu mahasiswa tercerdas dan paling pintar di angkatannya. Otaknya encer, cepat menangkap materi, dan selalu konsisten. Sayangnya... kepintaran itu seolah hilang total jika sudah menyangkut urusan percintaan. Dia bisa sangat cerdas dalam logika, tapi bisa jadi sangat bodoh dan buta jika urusannya sudah menyangkut hati dan perasaan, terutama saat kemarin tergila-gila pada Ezra.

"Deraaa!! Lihat nih foto kita! Keren banget gak sih?!" teriak Nindy heboh sambil memamerkan gaun wisuda mereka yang anggun.

Adera tersenyum lebar, membetulkan topi wisudanya yang sedikit miring.

"Lumayanlah, akhirnya kelar juga Nin. Capeknya terbayar semua," ucap Adera haru.

"Eh gimana nih jadi sama Dokter Damar itu kan, eh maksutnya Direktur Damar " celetuk Nindy menyenggol bahu temannya. "Siapa sangka calon istrinya itu bukan cuma cewek manja, tapi cewek jenius juara umum lagi! Hahaha! padahal dulu sibuk ngejar si Dokter Ezra tapi nilainya tetap jaya!"

Adera mendengus tapi wajahnya tersenyum bangga.

"Udah ah, jangan bahas masa lalu terus. Hari ini hari kita! Kita hebat, Nin! Kita berhasil!" seru Adera semangat.

Suasana acara wisuda sudah mulai sepi. Para tamu undangan satu per satu mulai berpamitan dan meninggalkan area kampus. Adera berjalan berdampingan dengan kedua orang tuanya serta Denial, wajah mereka semua dipenuhi senyum kebanggaan yang tak terhingga.

"Yuk, kita pulang ya Nak. Mama mau istirahat sebentar, nanti kita makan malam bersama," ajak Mamanya lembut.

"Iya, Ma," jawab Adera manis.

Namun, baru saja mereka melangkah menuju tempat parkir...

Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tidak jauh dari mereka. Pintu mobil terbuka, dan turunlah sosok pria tinggi nan tampan yang sangat familiar.

Dia mengenakan setelan jas biru tua yang sangat rapi dan gagah, membuat penampilannya terlihat sangat memukau dan berbeda dari saat di rumah sakit. Di tangannya, dia membawa buket bunga besar yang sangat indah dan wangi, serta sebuah kotak hadiah kecil yang terlihat mewah dan elegan.

Itu Damar.

Adera terpaku seketika. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Jantungnya kembali berdegup kencang tak karuan melihat pria itu datang menghampirinya dengan aura yang begitu memancarkan ketampanan dan wibawa.

Damar berjalan mendekat dengan langkah tegap dan mantap. Dia berhenti tepat di hadapan Adera, lalu menatap gadis itu dengan senyum tipis yang sangat menawan dan menenangkan.

"Selamat atas kelulusannya, Adera," ucap Damar pelan namun terdengar sangat jelas dan tulus. "Dan selamat juga karena berhasil menjadi wisudawati dengan nilai terbaik. Kamu hebat."

Damar pun hendak menyerahkan buket bunga dan kotak hadiah itu ke tangan Adera.

Melihat adegan manis itu, Denial langsung tersenyum licik dan penuh rencana. Dia segera menarik lengan Adera agar mendekat ke arah Damar.

"Terimalah niat baik dari Dokter Damar, Adera," kata Denial sambil menyenggol bahu adiknya pelan, memberi kode agar jangan bersikap jutek.

Kemudian Denial berbalik menghadap kedua orang tuanya.

"Pa, Ma, kita pergi aja yuk dari sini," ajak Denial terburu-buru.

"Lho? Kok kalian mau pergi? Terus aku gimana?" tanya Adera panik, tangannya terkepal kuat, matanya memohon agar jangan ditinggalkan sendirian.

"Tenang aja, kan ada Dokter Damar. Nanti biar Dokter Damar yang antar pulang atau kalian bisa jalan-jalan sebentar," jawab Denial santai sambil mengedipkan mata ke arah Damar penuh arti. "Lagipula kan kalian harus lebih sering ngobrol dan saling mengenal? Mumpung lagi santai gini."

"Kakak ini apaan sih!!" batin Adera panik setengah mati sambil melotot ke arah kakaknya, meminta pertolongan tapi justru ditanggapi dengan senyum jahil dan penuh kemenangan.

"Senang-senang ya kalian berdua!" teriak Denial sambil melambaikan tangan, lalu dia buru-buru masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Adera sendirian bersama Damar.

Kini tinggalah mereka berdua di sana. Angin sore berhembus pelan membelai rambut Adera, membuat suasana terasa begitu romantis, hening, dan penuh getaran cinta.

Adera menunduk malu memegang buket bunga di dadanya erat-erat, pipinya memerah padam bak kepiting rebus, sementara Damar menatapnya dengan tatapan lembut dan penuh arti, seolah tak ingin melepaskan pandangan sedetik pun dari wajah gadis yang akan menjadi miliknya itu.

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!