NovelToon NovelToon
PORTER: System Override

PORTER: System Override

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kebangkitan pecundang / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:665
Nilai: 5
Nama Author: VANDEMIC

Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?

Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.

Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.

Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.

Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Sabotase 90 Detik

Pukul 02:15 dini hari. Hujan badai telah reda, menyisakan genangan air kotor yang berbau logam dan limbah kimia di halaman 'Gudang Logistik Utama Sektor 4'. Cahaya neon dari papan nama gudang berkedip tidak stabil, menciptakan irama cahaya yang pucat dan menyakitkan mata.

Bagi orang awam, bangunan di hadapan Arka adalah benteng yang tak tertembus. Dinding bajanya dilapisi Mana-Barrier kelas menengah yang mendengung rendah, getarannya terasa hingga ke rongga dada Arka. Empat penjaga bertaraf C-Rank berpatroli dengan pola silang, langkah sepatu bot mereka berat menghantam beton, ritmenya diawasi oleh kamera termal yang mampu mendeteksi suhu tubuh hingga di balik tembok.

Arka berdiri di balik tumpukan kontainer rongsokan yang berkarat, berjarak lima puluh meter dari gerbang utama. Bau karat besi tua yang lembap menyengat hidungnya. Jemarinya yang kasar dengan lincah mengetik di atas layar gawai yang telah ia modifikasi—kabel-kabel kecil terurai keluar dari sasisnya, terhubung ke interface manual.

Di matanya, realitas fisik bangunan itu memudar. Garis-garis biru cyan memproyeksikan arsitektur gudang di retinanya, mengelupas lapis demi lapis struktur bajanya. Topografi ruang, rute patroli, hingga titik buta sensor termal terpampang dengan presisi tinggi.

Neural Feedback menyerang. Arka mendesis, rasa panas menjalar dari pangkal lehernya, naik ke pelipis seperti tusukan jarum panas. Otaknya dipaksa memproses data mentah dalam hitungan mikrodetik. Rasa amis darah mulai memenuhi rongga mulutnya—pertanda sistem sarafnya mulai mencapai batas toleransi.

"Tiga titik buta pada rotasi sensor utara," gumam Arka. Suaranya parau, tenggorokannya kering. "Siklus pembaruan server utama adalah sembilan puluh detik. Jika aku memutus node lokalnya sekarang, sistem pusat tidak akan mendeteksi anomali hingga pembaruan berikutnya."

Di bahu Arka, Kala meregangkan tubuh. Mata ketiga kucing hitam itu membuka perlahan, memancarkan aura merah gelap yang seolah menyerap cahaya di sekitarnya. Udara di sekitar mereka mendadak membeku, embun yang jatuh dari terpal membeku menjadi kristal es kecil.

"Kau terlalu banyak berpikir, Manusia," suara Kala mendengung berat di kepalanya, seperti gesekan beludru di atas amplas. "Kenapa tidak biarkan aku merobek tenggorokan keempat penjaga itu? Aku bisa menelan jeritan mereka sebelum menyentuh udara."

"Karena membunuh mereka akan meninggalkan jejak energi sihirmu," jawab Arka, menahan denyut di kepalanya. "Kita sedang melakukan operasi bisnis, Kala. Bukan pembantaian. Bersiaplah."

Arka menekan tombol Enter di gawainya.

[Sistem: Injeksi Protokol Selesai. Pengalihan Umpan Balik Sensor Dimulai.]

Di dalam ruang kontrol gudang, layar monitor kamera pengawas berkedip statis selama sepersekian milidetik. Bagi penjaga di sana, hanya gangguan transmisi biasa. Namun, di balik itu, loop rekaman yang telah dimanipulasi oleh Logistics Grid kini berjalan.

Waktu Arka dimulai. Sembilan puluh detik.

Arka melesat. Langkahnya ringan, menghindari genangan air agar tidak menciptakan suara. Saat mendekati pintu samping, Kala melompat turun. Entitas itu menyelinap melewati celah ventilasi, bergerak patah-patah seperti pita kaset yang rusak. Atmosfer udara di lorong itu mendadak turun drastis, menciptakan ketegangan yang membuat bulu kuduk berdiri.

Dua penjaga di dekat pintu samping terdiam. Mereka menggosok lengan mereka yang tiba-tiba merinding hebat. Rasa takut yang purba dan tidak logis mencengkeram tengkuk mereka, memaksa fokus mereka beralih dari pintu.

Enam puluh detik tersisa.

Arka masuk ke jantung gudang. Rak-rak menjulang setinggi sepuluh meter, menyimpan peti senjata dan material konstruksi. Bau ozon dan pelumas mesin pekat di udara. Di hadapannya, lemari pendingin berlapis kaca tebal menyimpan barisan botol ramuan tempur kelas tinggi.

Kotak suplai untuk Skuad Elit Kapten Yudha berada di sana. Kotak baja perak dengan segel biometrik.

Arka tidak meretas segelnya; dia memotong akses logistiknya. Ia menempelkan telapak tangan kanannya ke permukaan logam yang sedingin es.

[Sistem: Mengakses Proksi Spasial. Target: 250 Botol 'High-Grade Mana Elixir' & 100 'Phoenix Salve'.] [Peringatan: Pemindahan materi fisik membutuhkan katalis pertukaran massa yang setara.]

"Tukar dengan suplai air mentah dari hilir," perintah Arka dalam hati.

Udara di sekitar kotak itu berdistorsi. Ruang dimensi yang terbuka dalam skala mikro menyedot ratusan botol ramuan berpendar biru dan merah itu menjadi partikel cahaya, memindahkannya ke dalam inventaris pribadi Arka. Sebagai gantinya, botol-botol itu kini terisi air sungai yang keruh.

Segel tetap utuh. Berat tetap sama. Tidak ada alarm.

Tiga puluh detik tersisa.

Langkah kaki sepatu bot berat menggema. Kepala keamanan sedang melakukan inspeksi acak.

"Mereka datang, Manusia," desis Kala yang bertengger di atas rak, kabut hitam di sekelilingnya bergejolak.

Arka menatap persentase transfer di retinanya: 95%. Dia tidak melepaskan tangannya. Wajahnya tetap tenang meski di dalam kepalanya, Neural Feedback terasa seperti bor yang menghujam pelipisnya. Senter termal mulai menyapu lorong, mendekat.

98%... 99%... 100%.

[Transfer Selesai. Kepadatan Massa Stabil.]

Cahaya senter menyapu kotak baja. Namun, tempat itu kosong. Arka telah melebur ke dalam pilar bayangan yang ditarik paksa oleh Kala, menghilang tepat satu detik sebelum kamera pengawas kembali online dan tersinkronisasi dengan server utama.

Sembilan puluh detik yang mengubah segalanya.

Fajar menyingsing dengan warna langit kelabu di Sektor 4-B. Suara deru mesin mobil lapis baja memecah keheningan kamp. Kapten Yudha, Hunter Rank-A yang angkuh, turun dari mobil bersama Skuad Elitnya. Armor mereka berkilauan, pedang mereka berpendar sihir murni. Kamera jurnalis menangkap setiap detik keberangkatan mereka.

"Pastikan semua logistik dimuat dengan hati-hati!" teriak Yudha, suaranya sombong dan menggema. "Jika ada satu goresan saja di botol ramuanku, aku akan memotong gaji kalian selama setahun!"

Dari kejauhan, di antara barisan Porter yang kusam dan kurang tidur, Arka menatap konvoi itu. Ia mengusap tangan kanannya yang masih mati rasa akibat efek transfer spasial.

"Mereka berangkat, Bos," bisik Bram di sebelahnya, mata pria raksasa itu menatap tajam ke arah truk. "Kau yakin ini berhasil? Jika mereka sadar obat itu palsu sebelum masuk ke ruang Bos Monster..."

Arka berbalik, melangkah kembali ke barak kotornya. Sebuah senyum tipis, begitu tipis namun tajam, terukir di wajahnya.

"Mereka adalah elit, Bram. Kesombongan mereka adalah kunci utama. Mereka tidak akan pernah memeriksa isi kotak itu sampai mereka benar-benar berada di ambang kematian."

Malam ini, monster di dalam Dungeon akan berpesta, dan Vanguard Guild akan membayar utang darah mereka dengan harga yang tidak ternilai.

***

**[AUTHOR NOTE]**Kotak Pandora sudah terbuka! Arka membuktikan bahwa tanpa otot pun, dia bisa melumpuhkan Hunter kelas A hanya dengan bermain di area logistik. Sekarang, konvoi Kapten Yudha meluncur menuju maut dengan ransum air keruh di tangan mereka.

Bagaimana menurut kalian nasib Skuad Elit tersebut saat mereka sadar obat mereka hanyalah air sungai di tengah dungeon nanti? Tulis teori dan tebakan kalian di kolom komentar!

Jangan lupa dukung cerita ini agar Arka bisa terus bertahan hidup di Distrik Teluk Hitam!

1
Hunter S
keren bangetttt aku bakal baca terus
Hunter S
Berat sekali untuk arka, mungkin banyak kejutan setelah nya
Hunter S
Sebagai penyuka genre system dan MC pintar, ini novel sangat keren di plot dan karakter yang lokal, please mangatoon jadikan ini karya ekslusif, karena di platform yang genre boys tab sangat sedikit
VANDEMIC: Dukung terus novel ini dengan membaca dan masukan kedalam rak buku
total 1 replies
Hunter S
aku pengen skuad elit ngerasain akibat nya❌
Hunter S
lanjut 😍
Roses
sumpah ini cerita nya bikin deg degan banget, keren.
Roses
kejam banget sih ini 😭
VANDEMIC: 😈
Terimakasih atas dukungannya nanti kan setiap perjalanan arka yang lebih berdarah-darah.

vandemic-
total 1 replies
Roses
Arka😭
Roses
kalau aku jadi arka aku bakalan hopeless banget😭
Roses
kasian arka 🙂‍↕️
Roses
Ditunggu lanjutannya abangku
Roses
Paraah kece
Roses
Lanjutkan thoorr kereen💪
Roses
Ketika scroll tidak sengaja lihat cover yang mengintimidasi 😱 langsung aja gasskeen karena jarang banget novel yang dari segi plot cerita nya bagus gini jadi makin penasaran.
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼
VANDEMIC: Terimakasih atas dukungannya kak, pastikan masuk rak buku dan jadi novel favoritmu!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!