"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kolaps
Plakkkk... .
Tamparan keras itu mendarat di pipi Alina, memaksa perempuan itu menghentikan kalimatnya. Panas dan kebas menjalar seketika.
Alina terenyak, sudut bibirnya terasa perih dan mulai mengeluarkan sedikit darah.
Sejenak keheningan di antara mereka terasa mencekam.
Mengapa rasanya sesakit ini?
Bukan pipinya, melainkan hatinya yang hancur karena ketidakpercayaan.
Dalam keputusasaan yang mendalam, Alina berlutut tepat di bawah kaki Leon.
"Ku mohon... ku mohon bantu aku sekali ini saja. Setelah itu aku akan pergi. Pergi sejauh mungkin sampai kamu tidak akan bisa menemukanku." Hampir hampir Alina menyerah saat laki-laki itu bahkan tak bergeming sedikitpun.
"Tolong mas... Kasihan Marsha. Dia tidak bersalah. Aku... Ini semua salahku. Aku yang salah sejak awal. Seharusnya aku tidak pernah bermimpi bisa menikah denganmu. Seharusnya aku tidak memaksakan segalanya. " Isak menderas.
"Aku. Aku yang salah karena aku tidak bisa menjadi ibu yang baik. Aku- hanya aku yang bersalah disini."
Alih-alih prihatin. Laki-laki itu justru menatapnya dengan jijik. "Sebegitu rendahnya kah dirimu saat ini. Hingga mengemis pada seseorang yang sudah kamu tinggalkan?"
Alina mengangguk dengan isak yang semakin luruh. "Iya. Anggap saja seperti itu. Aku memang rendahan dan tidak punya malu. Itukan yang ingin kamu dengar, mas?" Perih. Sakit sekali rasanya.
"Cukup, Alina!"
"Ahhh ya, satu lagi." Alina tertawa getir di tengah isak tangisnya. "Aku juga gila uang, aku bahkan rela merendahkan diriku pada pria manapun demi uang. Bukankah aku sangat murahan, mas?"
"Cukup! Keluar sekarang!!!!" Sentak Leon penuh amarah.
"Tidak.Bukankah aku belum melayanimu?" Alina menggeleng histeris. "Aku- aku bisa memuaaskanmu. Aku akan menuruti semua yang kamu inginkan, mas.... ."
Dengan tangan gemetar, Alina hendak melepas bajunya. Baru dua kancing terlepas, Leon menahannya. Membuat Alina mendongak. Menatap pada wajah nyalang penuh amarah itu dengan tatapan penuh putus asa.
"Kenapa? Bukankah ini yang kamu inginkan, mas?"
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Leon menarik paksa Alina hingga perempuan itu berdiri.
"Mas, tunggu. Dengarkan aku." Pinta Alina.
Tidak.
Ia tidak bisa kembali sebelum laki-laki itu menyanggupi permintaannya.
Sedang Leon, laki-laki itu bahkan tidak perduli dengan rintihan Alina yang menyayat. Ia buka pintu itu lebar-lebar dan mendorong tubuh itu keluar tanpa belas kasihan.
Membuat Alina yang tak siap itu seketika tersungkur.
"Ahhhh... ."
Pekik kesakitan itu pun membuat Max keluar dengan wajah panik.
"Nona, anda baik-baik saja?"
Max cukup terkejut melihat bagaimana keadaan Alina saat itu. Apalagi dengan bekas tamparan yang mulai membiru di sudut bibir itu.
Max mengulurkan tangan hendak membantu Alina berdiri, namun perempuan itu menolaknya dengan halus. Sembari menahan sakit, Alina memaksakan diri untuk bangkit.
Dengan mengukir senyum getir, Alina menggeleng pelan. "Saya tidak apa-apa, Tuan. Terima kasih sebelumnya."
Jelas Alina berbohong. Jika boleh jujur, kondisinya saat ini sedang sangat tidak baik-baik saja. Pipinya terasa kebas, pun dengan perutnya yang kini tiba-tiba terasa melilit.
Hingga dering ponsel itu mengalihkan perhatian Alina. Itu panggilan dari perawat putrinya.
"Hallo, sus."
"Bu, Marsha kolaps!."
☆☆☆☆☆☆
Annyeong
Terimakasih karena masih stay disini ya
Terus dukung othor ya
Dan, jangan lupa komen. Othor suka loh kalau kalian banyak banyak komen, hehehe
Happy reading semua
Abis ini update lagi, hehehe
Saranghaja
tapi tunggu up nya harus bersabar