Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Tak Mau Kalah
“Nggak usah dipertergas,” sergah Mawar tajam. “Aku telepon kamu itu, mau minta tolong carikan aku rumah layak. Kamu kan sales perumahan. Masa iya nggak bisa bantu aku cari rumah.”
“Oke wait,” suara Cindy terdengar seperti menahan tawa. Diselingi suara berisik ketikan key-board. “Ada rumah, tapi lokasi di Permata Selatan. Jauh dari pusat kota. Harganya nggak sampai satu milyar. Ini pemiliknya nggak sanggup bayar cicilan. Rencana mau oper kredit. Kalau kamu mau, aku bisa sambungkan ke pemilik lama.”
“Bolehlah. Kamu kirim saja nomor-nya. Nanti aku hubungi dia.”
Bip. Mawar langsung memutus sambungan secara sepihak. Wajahnya seketika pias, dilingkupi rasa syok yang teramat sangat sekaligus cemburu yang membakar dada dewasanya. "Satya? Sepupu Bagas? Jadi pria jelek pacar Melati itu ..," bisiknya dengan napas yang mendadak memburu.
Rasa ingin tahu yang luar biasa membuat Mawar bergegas membuka aplikasi media sosial. Ia mulai mencari akun lama milik Bagas Utama. Berselancar mundur, melakukan scroll jauh ke unggahan sepuluh tahun tahun lalu. Masa perkiraan, sebelum tragedi kebakaran.
Jemarinya gemetar hebat saat matanya menangkap sebuah foto keluarga besar Utama Group di sebuah pesta mewah. Di sana, tertulis tag nama Bram Satya Utama, yang disematkan Bagas.
Mawar memperbesar foto tersebut. Pola wajah pria di foto itu terasa tidak asing.
“Astaga, kalau nggak kena api. Wajah Bram Satya ini … bahkan lebih ganteng dari Bagas, sial,” umpatnya, sambil terus mengamati dua sosok remaja yang berfoto bersama.
Di caption, tertulis foto diambil sebelum kebakaran, yang menewaskan keluarga Arif Utama. Tuan Arif dan Nyonya Dianita, meninggal di tempat. Sementara Bram Satya Utama, sempat diselamatkan. Namun, meninggal sebulan setelah kejadian.
Mawar tercengang.
Usai mencari berita terlampir, di tautan laman milik Bagas.
“Jangan-jangan … Bram Satya sengaja dibuat mati. Demi keluarga Heru Utama, bisa menguasai harta kakaknya.”
Batin Mawar mulai menyambung benang merah dari teka-teki keluarga Utama. Tentang wajah Satya yang cacat akibat luka bakar. Latar belakangnya yang masuk ke panti asuhan hingga bertemu Melati. Sampai sikap Bagas yang mendadak royal demi mencari keberadaan tentang Melati.
Semuanya mendadak menjadi benderang di otaknya.
"Kalau benar Satya adalah Bram Utama, sepupu Bagas yang dikira sudah mati ..," gumam Mawar dengan tatapan mata yang berkilat penuh kebencian dan iri hati.
"Maka si buta sialan itu ... Melati ... dia calon istri pemuda kaya di kota ini? Tidak! Ini tidak boleh terjadi!” Mawar beranjak, menatap wajahnya di panggilan cermin. “Gara-gara Melati, aku kehilangan mahkota. Aku tak akan membiarkan dia bahagia. Dia harus merasakan hal yang sama. Lihat saja nanti.”
Hati Mawar yang sudah dipenuhi rasa iri yang pekat tidak mampu terbendung lagi.
Kenyataan takdirnya, terlalu menyakitkan.
Tanpa membuang waktu, ia segera mencari kontak Juragan Herwanto dan melakukan panggilan cepat.
"Halo, Cantik? Tumben meneleponku? Kangen dengan malam kita?" sahut suara serak Herwanto di ujung telepon, memancing drama asmara gelap yang menjijikkan.
"Jangan banyak bacot, Herwanto!" gertak Mawar, suaranya meninggi penuh penekanan. "Aku mau tanya, apa anak buahmu sudah menelusuri alamat kos Melati yang aku berikan kemarin?"
"Belum, Mai. Anak buahku sedang sibuk mengurus proyek. Lagi pula, untuk apa pula aku mengejar gadis cacat itu? Aku sudah tak menginginkannya … setelah merasakan tubuhmu.”
Jawaban dari Herwanto membuat Mawar geram luar biasa. Ia menghentakkan kakinya ke lantai. Menyusun kalimat untuk bisa memanipulasi sang lintah darat.
“Karena kamu belum pernah merasakan tubuh Melati?” Mawar berusaha menahan suaranya, agar terdengar tenang. “Melati itu cantik lho.” Ia mencoba mempengaruhi. “Kata Ibu, bukannya Juragan pernah suka sama Lestari, ibunya Melati? Mana tahu nggak jodoh sama ibunya. Jadi jodoh sama anaknya.”
Di seberang telepon, pancingan Mawar mulai bekerja. Napas Herwanto terdengar memberat, ego dewasanya mulai terpengaruh oleh bayang-bayang masa lalu, saat ia mengejar Lestari kembali terlintas. "Kamu benar. Toh dia buta. Akan sangat mudah aku untuk menjebaknya.”
"Tentu saja! Dia jauh lebih memikat daripada aku, dan dia milikmu kalau kamu bergerak cepat sebelum hari minggu!" hasut Mawar, menyeringai puas saat menyadari jejaka tua itu mulai terperangkap dalam rencananya.
“Minggu?”
“Ya. Minggu besok, Melati akan tunangan sama si buruk rupa. Lihatlah, bahkan Juragan lebih baik dari calonnya,” sumbar Mawar, terus mempengaruhi. “Meski tua, tapi kan juragan tidak cacat muka?”
"Ya jelas. Oke. Aku setuju. Aku akan kerahkan seluruh anak buahku malam ini juga. Melati harus menjadi milikku," putus Herwanto dengan nada penuh gairah kotor.
Usai dialog penuh konspirasi jahat itu, Mawar menutup teleponnya dengan senyuman kemenangan yang mengerikan.
Ia melemparkan gawainya ke atas kasur lalu berdiri di depan cermin, mematut dirinya yang kini dipenuhi aura hitam kebencian. Tak sabar menyaksikan drama pertumpahan air mata yang akan menghancurkan hari bahagia sepupunya.
“Nggak dapat Bagas. Tak apa. Aku harus mendapatkan Bram Satya.” Mawar menyeringai penuh rencana. “Wajah buruk rupa itu … aku rasa bisa diperbaiki.” Ia melempar tubuhnya di atas ranjang. “Melati, kamu nggak akan bisa mengalahkanku. Lihat saja nanti.”
Getar ponsel membuyarkan semuanya. Mawar meraih gawainya. Membaca pesan Cindy. Tersenyum, karena satu keinginannya akhirnya bisa terwujud.
---
Keesokan paginya, Mawar mengajak Turi menemui Cindy yang kebetulan adalah tetangga rumah lama. Di ujung jalan masuk, pemukiman padat rumah lama mereka.
Cindy sudah menunggu, di dalam mobil kecil miliknya. Sesuai janji yang diminta Mawar semalam.
“Pagi, Cindy! Aduh, kuncinya mana? Ibu sudah nggak sabar mau lihat calon istana baru kami!” seru Turi begitu memegang pintu mobil, matanya melotot penuh binar keserakahan.
“Sabar, Bu Turi. Masuk dulu,” balas Cindy, tersenyum canggung menatap penampilan Turi yang mendadak penuh perhiasan mencolok.
Tanpa membuang waktu, Turi membusungkan dada. Melangkah anggun yang dibuat-buat sembari berkoar pada tetangga yang melintas. “Dengar ya, semuanya! Mulai hari ini, kami bakal pindah ke lingkungan cluster elite! Anakku Mawar ini calon nyonya kaya raya, sanggup beli rumah miliaran tunai! Kalian yang suka meremehkan kami, siap-siap saja. Khususnya yang suka menyebar gosip tentangku. Aku bisa runtut! Uang mungil kalian, nggak bakal bisa melawan uang milyaran anakku!”
Bisikkan mulai terdengar. Bahkan satu orang tetangga langsung berkoar. “Lha kami ngomong apa adanya, lho. Itu juga karena kalian yang sering jahat sama anak Lestari.”
“Benar itu. Lagi pula, bukan cuma anakmu yang dapat calon kaya. Kata si Cindy, calon Melati juga tajir,” timpal yang lain.
“Ho-oh. Melati jelas. Cowoknya pernah terlihat. Lha si Mawar, kapan dia terlihat menggandeng laki? Kecuali Herwanto yang bolak-balik ke rumah kalian. Itu juga buat nagih utang kan?”
“Eh kamu ngatain saya lagi ya?” Turi menunjuk, merangsek bersiap maju.
Namun, Mawar cepat menepuk bahu ibunya pelan, menyeringai sombong. “Sudah, Bu, tidak usah melayani orang miskin. Ayo naik.”