Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Matahari sore itu menyusup melalui celah jendela ruang tengah markas Muslimah Till Jannah. Suasana sibuk luar biasa. Kurang lebih lima puluh anggota komunitas tersebut bahu-membahu menyusun paket sembako ke dalam kardus-kardus besar. Suara lakban yang ditarik nyaring, tawa kecil para muslimah yang saling menggoda, dan aroma kopi yang diseduh menciptakan atmosfer yang sebenarnya cukup hangat.
Namun, di salah satu sudut ruangan, Wulan masih tampak seperti sebuah pulau terpencil di tengah samudra keramaian. Meski tangannya lincah memasukkan liter demi liter beras ke dalam plastik, pikirannya kerap terbang jauh.
Hasna menghampiri Wulan yang sedang melamun. Ia membawa sebuah kotak kecil yang masih terbungkus plastik rapi.
"Ini buat kamu, Wulan," ujar Hasna lembut sambil meletakkan kotak itu di pangkuan Wulan.
Wulan terhenyak. Ia menatap kotak itu dengan dahi berkerut. "Kak, ini...?"
"Ponsel. Selama ini kamu tidak punya alat komunikasi, kan? Pakailah. Jika kamu sedang keluar atau butuh bantuan mendesak, kamu bisa langsung menghubungi kami," jawab Hasna dengan senyum yang terpancar dari binar matanya. "Aku lihat belakangan ini ada setitik ceria di wajahmu, meski gurat kesedihan itu... masih ada, Wulan. Sekarang, kamu boleh cerita jika sudah siap."
Wulan memegang kotak ponsel itu dengan tangan gemetar. "Aku... masa laluku... aku takut Kakak kecewa," bisiknya ragu.
Hasna duduk di sampingnya, melipat tangan di pangkuan. "Tidak apa-apa kalau kamu belum ingin bercerita. Atau kamu malu? Tidak usah malu, Wulan. Semua yang ada di sini punya masa lalu yang kelam. Ada mantan wanita malam yang bertaubat, ada mantan pecandu narkoba, ada yang depresi berat karena ditinggalkan pacarnya... sama seperti aku juga."
Wulan mendongak, matanya membulat. "Memangnya Kak Hasna kenapa?"
Hasna menarik napas panjang, seolah sedang mengambil kekuatan dari udara yang ia hirup. "Aku dulu hampir gila, Wulan. Aku sempat depresi, bahkan mau bunuh diri di atas jembatan. Seseorang menolongku tepat saat aku hendak melompat. Keluarganya sangat baik, terutama Uminya. Yang menolongku itu seorang ustadz."
Wulan menyimak dengan dada sesak. Ia tidak menyangka wanita setegar Hasna pernah berada di titik serendah itu. "Kenapa Kak Hasna sampai setragis itu?"
"Suamiku dulu seorang polisi," suara Hasna mendatar, namun ada getaran kemarahan yang tertahan. "Dia melakukan KDRT, tukang selingkuh, dan belakangan aku tahu dia polisi korup. Puncaknya, dia membawa perempuan mabuk ke rumah dan hendak dirudapaksa. Aku mencegahnya, tapi dia justru kalap. Dia menendang perutku yang sedang hamil... aku keguguran di rumah sakit."
Wulan menutup mulutnya dengan tangan, air matanya mulai menggenang.
"Yang lebih miris," lanjut Hasna, "aku difitnah bekerja sama melarikan pengedar narkoba. Aku ditangkap dan dipenjara. Dia menjengukku di sel dengan wajah puas, padahal di depan rekan-rekan polisinya dia berpura-pura sedih. Lelaki biadab seperti dia memang susah matinya."
"Lalu... pengedar narkoba itu?" tanya Wulan parau.
"Pengedar yang dimaksud suamiku itu adalah Ratih. Padahal dia hanya korban yang dijebak. Sekarang Ratih ada di sini, bersama kita. Keluarganya sangat berterima kasih sampai sekarang mereka jadi donatur tetap di komunitas ini."
"Bagaimana Kak Hasna bisa melewati semuanya?"
Hasna tersenyum kecil. "Ustadz yang menolongku itu selalu memberi motivasi. Dia membantuku mengajar teman-teman di sini hingga kami bisa mandiri. Dia cukup kondang di media sosial, ustadz yang lagi viral di kalangan ibu-ibu pengajian karena selain ganteng, ceramahnya sangat enak didengar. Kamu mungkin juga kenal dia."
"Siapa namanya, Kak?" tanya Wulan penasaran.
"Ustadz Fatih. Pasti kamu tahu, kan?"
***Deg.***
Dunia seolah berhenti berdetak bagi Wulan. Hatinya yang tadi dipenuhi rasa empati, tiba-tiba disulut rasa panas yang membakar. Nama itu. Nama yang ingin ia kubur dalam-dalam, kini muncul dari mulut orang yang paling ia hormati saat ini.
“Ustadz Fatih... ustadz kondang... banyak penggemar,” batin Wulan dengan rasa cemburu yang menusuk-nusuk. “Pantas saja dia begitu mudah mengusirku. Dia punya segalanya. Dia tinggal pilih perempuan mana pun yang dia mau. Sementara aku? Aku hanya beban yang mencoreng namanya.”
Wulan memalingkan wajah, menyembunyikan genangan air mata yang kini terasa pahit. Ia merasa semakin kecil, semakin tidak berharga di hadapan sosok "Abbas" yang kini sudah menjadi ustadz besar bagi dunia.
### **Harapan di Balik Pintu Pesantren**
Di tempat lain, suasana di kediaman Abi Ahmad mulai sedikit mencair. Lukman datang bertamu bersama Nadia. Fatih menyambut mereka dengan wajah yang sedikit lebih segar, meski berat badannya turun drastis.
"Tih, Mbak Hasna bilang besok mereka mau mengadakan baksos besar di pinggiran kota," ujar Lukman sambil duduk di kursi kayu ruang tamu. "Kita bisa manfaatkan momen itu untuk mencari Bella. Siapa tahu ada orang di sana yang melihat atau mengenalinya."
Fatih menatap Lukman, lalu beralih pada Nadia. Ada rasa canggung yang tersisa, mengingat Nadia dulu sempat menjadi sumber kesalahpahaman antara dirinya dan Lukman.
Nadia, yang sudah lebih dewasa dalam bersikap, segera membuka suara. "Maafkan saya, Bang Fatih. Saya minta maaf atas bicara saya tempo hari tentang Mbak Bella. Saya baru tahu bahwa semua itu adalah fitnah keji dari Iptu Deni."
Nadia menatap Fatih dengan tulus. "Perjuangkan cinta Abang kalau Abang memang mencintainya. Jangan menyerah hanya karena rasa bersalah. Saya akan bantu Abang besok."
Mendengar dukungan dari Nadia, semangat Fatih yang sempat padam kini perlahan berkobar kembali. Ia merasa memiliki kekuatan tambahan.
"Terima kasih, Nad... Man... Aku memang pengecut kemarin, tapi aku tidak mau menjadi pengecut seumur hidupku dengan membiarkan istriku terlunta-lunta," ujar Fatih dengan suara yang mulai bertenaga.
Tiba-tiba, Zahra muncul dari balik pintu dengan wajah yang diusahakan tetap tegas meski matanya sembab. "Aku ikut, Bang! Aku mau cari Mbak Bella. Aku kangen diajak masak bareng sama dia."
Fatih tersenyum tipis menatap adiknya. "Iya, Zahra. Kita cari Mbak Bella sama-sama."
### **Persiapan Terakhir**
Malam itu, di markas Muslimah Till Jannah, Wulan memegang ponsel barunya. Ia hanya menyimpan satu nomor: Kak Hasna. Ia tidak berani menyimpan nomor lain, apalagi mencoba mencari nama "Ustadz Fatih" di mesin pencarian. Ia takut hatinya akan semakin hancur melihat wajah pria itu di layar.
Ia kembali bercermin, menyesuaikan cadar putihnya.
“Besok adalah hari besar,” pikir Wulan. “Kak Hasna bilang akan ada polisi yang menjaga keamanan. Aku harus berhati-hati. Jangan sampai mereka mengenaliku.”
Wulan tidak tahu bahwa polisi yang diminta Hasna untuk berjaga adalah tim di bawah pimpinan AKBP Ridwan. Dan ia juga tidak tahu bahwa di antara kerumunan baksos besok, ada seorang pria yang sedang bertarung dengan rasa bersalahnya, membawa sekeping foto pernikahan yang sudah lecek oleh air mata, mencari seorang wanita bernama Bella yang sebenarnya adalah pemilik nama Wulan.
Malam itu, Fatih bersujud lama di atas sajadahnya. "Ya Allah, jika besok adalah waktu yang Engkau janjikan, pertemukanlah aku dengannya. Izinkan lidah ini memohon ampun sebelum semuanya terlambat."
Sementara di sudut kota yang lain, Lukman kembali meraba saku celananya. Surat itu masih di sana. Ia berjanji pada dirinya sendiri: jika besok Fatih tidak berhasil menemukan Bella, ia akan menyerahkan surat itu. Ia tidak peduli jika Fatih akan membencinya, asalkan kebenaran tentang Wulan tidak terkubur selamanya.
Persiapan baksos telah usai. Logistik telah siap. Dan takdir, dengan segala kerumitannya, sedang menenun benang-benang pertemuan di pinggiran kota esok hari. Antara benci, cemburu, rindu, dan rahasia sepuluh tahun yang lalu, semuanya akan bermuara di satu titik yang sama.