Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 39: Jing Hao
Sebuah rombongan besar tentu membutuhkan satu pemimpin tunggal yang tegas dan berwibawa. Setelah musyawarah para tetua, Sekte Pedang akhirnya menetapkan Jing Hao, murid terkemuka dari Gunung Lu, sebagai pemimpin utama seluruh perwakilan sekte.
“Perlu diingat baik-baik: ini adalah keputusan resmi Sekte Pedang. Siapa pun yang membangkang atau tidak mematuhi perintah akan dikenakan hukuman berat,” tegas Tetua Jing Dan dengan suara yang bergema di seluruh lapangan. “Sementara itu, pemimpin dari masing-masing gunung lainnya akan bertindak sebagai wakil, bertugas mengurus, membimbing, dan menjaga murid dari wilayahnya masing-masing.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan peringatan itu meresap ke dalam hati setiap orang, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius. “Satu hal lagi yang tidak boleh kalian lupakan: di luar sana, kalian bukan hanya berhadapan dengan sesama murid Sekte Pedang, melainkan juga perwakilan dari berbagai sekte lain. Di wilayah Sekte Pedang, kita melarang keras pembunuhan sesama murid, dan aturan itu tetap berlaku selama kita berangkat dan pulang bersama. Namun begitu kalian melangkah masuk ke dalam Alam Mistis, situasinya akan sangat berbeda. Tidak ada lagi aturan sekte yang mengikat di sana. Oleh karena itu, kewajiban terbesar kalian adalah saling melindungi—terutama sesama murid Sekte Pedang, tanpa memandang dari gunung mana kalian berasal.”
Tetua Jing Dan menatap mereka satu per satu. “Apakah kalian semua sudah paham?”
“Ya, Tetua!” jawab ratusan murid bersamaan dengan suara bulat dan mantap.
“Baiklah. Jing Hao, maju ke depan,” panggilnya.
Dari barisan tengah melangkah maju seorang pemuda tegap berusia sekitar dua puluh lima tahun. Wajahnya tenang, matanya tajam namun tidak sombong, dan aura kekuatan yang memancar darinya menunjukkan bahwa ia telah mencapai puncak tingkat Raja Awal. Ia berjalan tegak hingga berdiri di samping Tetua Jing Dan, lalu membungkuk hormat ke arah semua murid.
“Sekarang aku yang akan memimpin perjalanan ini,” ucap Jing Hao dengan suara yang jelas dan berwibawa. “Ayo kita berangkat. Aku akan mengawal kalian sepanjang jalan.”
Ia menoleh kembali ke arah para murid. “Ingatlah: begitu tiba di lokasi, di dalam Alam Mistis, Jing Hao adalah pemimpin utama, dan kalian wajib mendengarkan arahannya. Selain itu, kalian juga harus tetap menghormati pemimpin dan wakil dari gunung lain. Ini bukan ajang persaingan antar-gunung di dalam Sekte Pedang, melainkan persaingan antar-sekte di seluruh benua. Jangan hanya sekte kelas atas yang akan hadir; sekte kelas dua dan tiga pun turut serta. Meskipun kemampuan mereka rata-rata di bawah kita, jangan pernah meremehkan mereka. Selalu ada gunung yang lebih tinggi dari gunung yang kita daki hari ini. Ingatlah hal itu, dan mari kita berangkat.”
Setelah perintah itu disampaikan, Tetua Jing Dan memimpin rombongan menuju sebuah tempat pendaratan tersembunyi di sisi lain Gunung Utama. Di sana terparkir sebuah kapal udara raksasa berwarna biru tua dengan lambang pedang emas di lambungnya—kapal terbang resmi milik Sekte Pedang. Alat transportasi ini sangat jarang digunakan, hanya dikeluarkan pada momen-momen krusial seperti perjalanan jauh dengan jumlah penumpang banyak atau tugas yang sangat mendesak.
Tujuan perjalanan mereka adalah wilayah paling terpencil di ujung daratan Kerajaan Jiang, jauh dari perbatasan dua kerajaan besar lainnya yang menjadi saingan. Lokasi yang tersembunyi inilah yang membuat keberadaan Alam Mistis belum diketahui oleh kekuatan asing, sehingga mencegah terjadinya pertumpahan darah yang jauh lebih besar jika mereka ikut campur tangan.
Satu per satu murid naik ke atas dek kapal udara. Suasana terasa hangat; mereka saling menyapa, tersenyum, dan banyak yang segera berkumpul dengan teman dari gunung yang sama. Jing Hao sendiri segera berjalan menuju kelompok Gunung Hu, di mana Pah Long berdiri tegak di depan Lu Si, Bu Yue, Luo Jin, dan Riu Han.
“Salam hormat, Senior Pah Long,” ucap Jing Hao sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan dada dengan sikap sangat sopan.
Pah Long tersenyum ramah dan membalas salamnya. “Jangan sungkan, Junior Jing. Anggap saja kita sebagai saudara.”
Jing Hao tersenyum kembali dengan tulus. “Dalam perjalanan ini, aku sangat berharap Senior bisa membantuku. Di antara semua pemimpin gunung, Senior adalah yang paling kuat.”
Ucapan itu bukanlah sekadar basa-basi kerendahan hati, melainkan sebuah kenyataan yang diakui semua orang. Memang benar para pemimpin gunung semuanya berada di ranah tingkat Raja, namun tingkatan ini dibagi lagi menjadi tiga fase: Awal, Tengah, dan Akhir. Sebagian besar pemimpin lain masih berada di fase Awal atau Tengah, sedangkan Pah Long telah menapaki puncak tingkat Raja fase Akhir—satu-satunya orang yang paling dekat dengan ambang pintu menuju tingkat Kaisar. Selisih fase ini menciptakan perbedaan kekuatan yang sangat besar, meskipun berada di ranah yang sama.
“Junior Jing, kita adalah rekan seperjuangan,” jawab Pah Long lembut namun tegas. “Lupakan perbedaan gunung kita untuk saat ini. Kita adalah satu kesatuan utuh dari Sekte Pedang, jadi jangan sungkan untuk saling membantu.”
“Terima kasih, Senior Pah,” ucap Jing Hao dengan wajah lega. “Benar sekali. Sekte Pedang adalah tempat yang paling menjunjung tinggi persaudaraan. Persaingan sehat antar-gunung memang wajar, tapi di luar sana kita bukanlah saingan. Aku berharap semua murid bisa menyingkirkan ego masing-masing demi kebaikan bersama.”
Sambil berbicara, matanya menyapu ke arah murid-murid lain yang sedang berkumpul di dek. Perlahan suasana menjadi lebih akrab; mereka mulai saling berkenalan, berbagi pengalaman, dan menghilangkan kecanggungan sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan yang disediakan. Setiap rombongan dari satu gunung mendapatkan satu ruangan khusus yang nyaman untuk beristirahat selama perjalanan.
Tak lama kemudian, Lu Si bertanya dengan nada serius: “Senior Pah Long, menurut pendapatmu, seberapa berbahaya misi ini sebenarnya?”
Pah Long mengangguk pelan, lalu menatap mereka berempat dengan tatapan penuh perhatian. “Dari penjelasan Tetua Jing Dan tadi, sudah jelas bahwa tempat ini adalah peninggalan kuno yang dilindungi formasi dahsyat. Itu berarti bahaya di dalamnya tidak hanya datang dari orang lain, tapi juga dari tempat itu sendiri. Itulah sebabnya aku menyarankan kalian untuk tidak membuat masalah dengan siapa pun dari Sekte Pedang. Kekuatan kita harus utuh saat tiba di sana.”
Mereka semua mengangguk paham. Meskipun belum terlalu akrab dengan murid dari gunung lain, mereka sadar bahwa satu nama besar Sekte Pedang melindungi mereka semua. Sekte ini dikenal di seluruh benua bukan hanya karena kekuatan pedangnya, melainkan juga karena kebajikan, keadilan, dan persaudaraan yang teguh.
Tak lama kemudian, kapal udara mulai bergetar pelan. Mesin kuno diaktifkan, dan perlahan pesawat raksasa itu terangkat tinggi ke angkasa, melesat menuju ujung daratan yang jauh. Meskipun terbang dengan kecepatan yang terlihat stabil dan tenang, kecepatan aslinya jauh melampaui kuda pacu yang berlari kencang sekalipun. Di balik jendela kapal, awan putih melesat mundur, membawa mereka menuju rahasia terbesar zaman kuno yang telah menunggu ribuan tahun.
Lanjut Up Thor 💪💪