Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 33
Pagi masih diselimuti mendung ketika sebuah mobil berwarna hitam berhenti di halaman rumah Adista.
Maya segera turun sambil membawa tas kerjanya. Wajahnya dipenuhi rasa cemas sejak menerima telepon dari Adista semalam. Selama hampir tiga tahun bekerja sebagai asisten pribadi, baru kali ini ia mendengar suara atasannya benar-benar dipenuhi ketakutan.
Bel rumah berbunyi.
Ting... tong...
Tak lama kemudian, pintu dibuka oleh Bik Sumi.
"Silakan masuk, Mbak Maya," ucap Bik Sumi pelan.
Maya mengangguk sopan. Begitu melangkah masuk, ia langsung merasakan sesuatu yang aneh.
Rumah itu sangat sunyi.
Terlalu sunyi.
Padahal rumah sebesar itu biasanya selalu terdengar suara pendingin ruangan, televisi, atau langkah kaki para penghuni.
Kini tidak ada apa-apa.
Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan.
Tok...
Tok...
Tok...
"Bu Adista di mana?" tanya Maya.
"Di ruang tengah."
Maya berjalan mengikuti Bik Sumi.
Di ruang tengah, Adista sedang duduk di sofa sambil memeluk lututnya sendiri. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan terlihat jelas bahwa ia belum tidur semalaman.
"Bu..."
Maya menghampiri.
"Apa sebenarnya yang terjadi?"
Adista mengangkat wajah perlahan.
Melihat Maya datang, matanya langsung berkaca-kaca.
"Maya..."
Suaranya terdengar sangat lemah.
"Saya sudah tidak kuat lagi."
Maya duduk di sampingnya.
"Tenang dulu, Bu. Ceritakan pelan-pelan."
Adista menarik napas panjang.
Ia mulai bercerita.
Tentang kejadian demi kejadian yang terjadi sejak beberapa waktu terakhir.
Tentang suara tangisan perempuan yang sering terdengar di malam hari.
Tentang bayangan yang beberapa kali muncul di dalam rumah.
Tentang kematian Ronald yang tidak masuk akal.
Disusul Bram yang meninggal dengan cara mengerikan.
Maya mendengarkan tanpa menyela.
Semakin lama, wajahnya semakin serius.
Ia masih mencoba mencari penjelasan yang masuk akal.
Namun ketika Adista mengatakan bahwa semua teror itu seolah berasal dari sebuah lukisan tua di ruang tengah, Maya tanpa sadar mengalihkan pandangannya.
Lukisan itu tergantung di dinding.
Seorang perempuan berambut panjang mengenakan gaun putih.
Wajahnya cantik, tetapi sorot matanya dipenuhi kesedihan.
"Lukisan itu?" tanya Maya.
Adista mengangguk pelan.
"Sejak lukisan itu ada di rumah ini... semuanya berubah."
Maya bangkit dari duduknya.
Ia berjalan perlahan mendekati lukisan.
"Bu..."
"Boleh saya melihatnya lebih dekat?"
Adista langsung berdiri.
"Maya, jangan terlalu dekat."
"Kenapa?"
"Saya juga tidak tahu..."
"Tapi setiap kali saya mendekatinya..."
Adista menghentikan ucapannya.
Kenangan-kenangan buruk kembali memenuhi pikirannya.
Maya tersenyum tipis.
"Tenang saja, Bu."
"Mungkin ini hanya perasaan Ibu karena terlalu banyak tekanan."
Ia berdiri tepat di depan lukisan.
Diperhatikannya setiap sapuan kuas pada kanvas tua itu.
"Lukisan ini memang tua."
"Tapi tidak ada yang aneh."
Baru saja kalimat itu selesai...
Udara di ruang tengah mendadak berubah dingin.
Pendingin ruangan mati dengan sendirinya.
Lampu di langit-langit berkedip pelan.
Tik...
Tik...
Tik...
Maya mengernyit.
"Kenapa lampunya?"
Belum ada yang sempat menjawab.
"Heee..."
Terdengar suara embusan napas panjang.
Sangat pelan.
Seolah ada seseorang yang sedang berdiri tepat di belakang Maya.
Maya perlahan menoleh.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun bulu kuduknya mulai berdiri.
"Bu..."
"Saya seperti mendengar..."
Kalimatnya terputus.
Adista memandang Maya dengan wajah pucat.
"Maya..."
"Jangan bergerak."
Maya membeku.
"Kenapa?"
Adista menelan ludah.
"Di belakangmu..."
Perlahan Maya membalikkan tubuhnya.
Tidak ada siapa pun.
Ia mengembuskan napas lega.
"Mungkin Ibu hanya—"
Tap...
Sesuatu menetes mengenai tangan Maya.
Ia spontan melihat telapak tangannya.
Cairan merah.
Masih hangat.
Maya mengangkat kepalanya.
Matanya langsung membelalak.
Dari kedua mata perempuan di dalam lukisan...
Darah sedang mengalir perlahan.
Setetes demi setetes.
Maya mundur tanpa sadar.
"Bu..."
"Saya... saya melihatnya."
Suara Maya berubah gemetar.
"Itu darah..."
Adista hanya mampu mengangguk.
"Itulah yang saya lihat selama ini."
Air mata darah terus mengalir.
Lalu menetes ke lantai.
Tap...
Tap...
Tap...
Mereka bertiga hanya mampu memandang tanpa berkedip.
Perlahan darah itu bergerak sendiri.
Membentuk sebuah kalimat.
PERGI...
Maya menutup mulutnya.
Darah itu belum berhenti bergerak.
Huruf berikutnya muncul.
...SEBELUM TERLAMBAT.
Suasana menjadi semakin mencekam.
Tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari lantai atas.
Brak!
Seperti lemari besar baru saja roboh.
Bik Sumi menjerit.
"Itu dari atas!"
Maya langsung menoleh.
"Saya lihat."
"Jangan!" teriak Adista.
Namun Maya sudah berlari menuju tangga.
Dengan cepat ia menaiki anak tangga satu demi satu.
Lorong lantai atas tampak kosong.
Semua pintu kamar tertutup.
Suara benturan tadi menghilang begitu saja.
Maya berjalan perlahan.
Matanya menyapu setiap sudut lorong.
Sunyi.
Sangat sunyi.
Saat melewati bekas kamar Bram...
Ia melihat pintunya sedikit terbuka.
Padahal menurut Adista, kamar itu selalu dikunci sejak Bram meninggal.
Maya mendorong pintu perlahan.
Creeeek...
Ruangan itu gelap.
Tirai jendelanya bergoyang pelan meski semua jendela tertutup.
"Mungkin hanya..."
Belum selesai ia berbicara.
Terdengar suara seseorang berbisik.
Pelan sekali.
Seolah tepat di samping telinganya.
"...tolong..."
Maya langsung menoleh.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Napasnya mulai memburu.
Ia hendak keluar dari kamar.
Namun pintu mendadak tertutup sendiri.
Brak!
Maya tersentak.
Ia segera mencoba membuka gagangnya.
Tidak bisa.
Pintu seperti ditahan dari luar.
"Bu Adista!"
"Tolong!"
Di luar kamar, Adista dan Bik Sumi yang baru sampai di lantai atas langsung panik mendengar teriakan Maya.
"Maya!"
Adista mencoba membuka pintu.
Tetap tidak bisa.
"Pegang kuat!" teriak Adista.
Mereka berdua mendorong pintu sekuat tenaga.
Sementara di dalam kamar...
Maya mundur perlahan.
Di cermin tua yang berada di sudut ruangan...
Bayangannya tidak lagi sendirian.
Di belakang bayangan Maya...
Berdiri seorang perempuan berambut panjang.
Wajahnya tertutup rambut hitam yang basah.
Gaun putihnya dipenuhi bercak merah.
Perempuan itu berdiri sangat dekat.
Sangat dekat hingga rambutnya hampir menyentuh bahu Maya.
Tubuh Maya membeku.
Ia tidak berani menoleh.
Karena ia tahu...
Apa yang dilihatnya bukan hanya pantulan.
Perempuan itu...
Benar-benar berdiri di belakangnya.
Dengan tangan gemetar, Maya mengangkat pandangannya sedikit.
Rambut perempuan itu perlahan bergeser tertiup angin yang entah datang dari mana.
Sepasang mata yang merah menyala mulai terlihat.
Lalu bibir pucatnya bergerak sangat pelan.
"Dia..."
Suara itu serak.
Penuh kebencian.
"...harus membayar."
Brak!
Pintu kamar akhirnya terbuka.
Adista dan Bik Sumi masuk dengan napas terengah-engah.
Namun perempuan itu sudah menghilang.
Maya terduduk di lantai.
Wajahnya basah oleh air mata.
Tangannya masih gemetar hebat.
"Aku melihatnya..."
bisiknya lirih.
"Aku benar-benar melihatnya..."
Ruangan kembali sunyi.
Kini tidak ada lagi keraguan di hati Maya.
Apa yang selama ini diceritakan Adista bukanlah khayalan.
Ada sesuatu di rumah itu.
Sesuatu yang selama ini mengawasi mereka dari balik lukisan tua.
Dan kini...
Makhluk itu telah memperlihatkan dirinya kepada Maya.
krn dosa lama kai skrg menempuh apa yg kau tabur
tp.setidaknjya klo berani mengakui dn bertibat akan lenih enteng tp ini tak ada niat ya sudah lah
apakah dgn riyan juga ya
nahhh ini jadi misteri
weehhh kira2 apa ya
aduh entah lah
aduh kira2 kmn lagi akan melangkah
knp.sih susah sekali nyebut namanya hadeh
tp setifak nya g ada yg mati dlu deh kasihan jiwa adista terguncang hebat dgn kejadian kematian yg tak wajar
waduh gmn dong
yg pasti kukisan nya g minta tumbal lagi