NovelToon NovelToon
Komandan Galak Itu, Suamiku

Komandan Galak Itu, Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Dokter
Popularitas:121.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"

Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.

Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

Begitu deru mobil Sakti perlahan menjauh dan hilang dari pendengaran, Rahma buru-buru menutup pintu ruang tamu dengan rapat, menguncinya berlapis-lapis. Dengan jantung yang masih bertalu hebat, ia bergegas melangkah lebar menuju kamar utamanya.

Sambil mendudukkan diri di tepi ranjang, Rahma mulai memikirkan kejutan seperti apa yang akan suaminya berikan besok pagi saat pria itu pulang. Otaknya kini sudah berkelana memikirkan hal yang macam-macam.

"Duh, Kak Sakti kalau sudah pasang seringai licik begitu biasanya tidak pernah main-main. Aku harus punya strategi yang lebih jitu besok pagi sebelum dia bergerak memberikan kejutan yang menakutkan itu!" gumam Rahma gelisah.

Gara-gara terngiang-ngiang ucapan ancaman suaminya, Rahma dilanda insomnia akut. Ia bolak-balik mengubah posisi tidurnya, namun matanya tetap saja terjaga. Akhirnya, dengan sisa-sisa tenaga, ia berupaya menutup kedua matanya secara paksa dan menarik selimut hingga sebatas dada agar bisa segera tertidur.

Sementara itu, di dalam mobil dinasnya, Sakti terpaksa mengenakan masker kain hitam yang menutupi setengah wajahnya. Ia benar-benar tidak mau orang lain di markas melihat kondisi bibirnya yang memerah bengkak dan terluka akibat ulah Rahma tadi. Rencananya, setibanya di markas nanti, ia akan langsung meminta bantuan medis kepada Mayor Adnan untuk mengobati sudut bibirnya yang robek itu.

Begitu mobilnya memasuki gerbang Markas Siliwangi, penampilan aneh dari sang Komandan yang mendadak memakai masker di malam hari langsung menjadi buah bibir tersembunyi di kalangan prajurit jaga. Mereka dirundung pertanyaan besar mengapa sang Kapten berpenampilan seganjil itu, ditambah lagi kenyataan bahwa jadwal cuti menikahnya sebenarnya baru habis dua hari lagi.

Di pos belakang markas, dua prajurit tampak sedang berjaga sambil mengobrol santai untuk mengusir kantuk.

"Dang, kira-kira komandan galak kita itu kenapa ya? Bukannya menikmati malam pengantin sama istri, begadang sampai pagi sambil melakukan enak-enak, ini malah datang ke markas dan rela dimakan nyamuk ganas!" kelakar Praka Ginting alias Ucok dengan logat bataknya yang kental.

Dadang yang mendengar hal itu hanya bisa menghela napas panjang sambil membetulkan posisi tali senjatanya.

"Kalau aku sih entah kenapa merasa aura hari ini tidak enak, Cok. Kenapa juga kita tugas malam ini jadi satu shift dengan pak komandan?"

Ucok langsung merangkul bahu sahabatnya itu sambil tertawa cekikikan. "Bah, kau kenapa, Dang? Kau kan tahu kalau komandan kita yang galak itu auranya dari dulu memang sudah tidak enak!"

Tanpa mereka sadari, obrolan seru itu terdengar dengan sangat jelas oleh Sakti yang kebetulan sedang berpatroli ke area belakang. Suasana hati Sakti yang sudah carut-marut sejak dari rumah dinas kini semakin terbakar. Apalagi, ia langsung teringat kalau kedua bawahan di depannya ini pernah menertawakannya dan berani mengatainya di depan Kolonel Yusuf saat kunjungan ke asrama waktu lalu. Dendam kesumat atas tingkah laku anak buahnya ini seketika menjadi sasaran empuk bagi Sakti untuk melampiaskan kekesalannya malam ini.

"Praka Ginting, Pratu Dadang... Kalian keliling lapangan 20 putaran, sekarang!" seru Sakti dengan suaranya yang lantang, tiba-tiba muncul dari balik kegelapan.

Ucok dan Dadang yang kedapatan sedang asyik menggosipkan komandan mereka langsung melompat kaget. Jantung mereka nyaris copot melihat sosok bermasker itu sudah berdiri tegak dengan mata elangnya yang menatap tajam. Tanpa pikir panjang, mereka langsung memposisikan tubuh tegap.

"Siap komandan, perintah kami laksanakan!" jawab Ucok dan Dadang secara bersamaan, lalu langsung berlari terbirit-birit menuju lapangan utama sebelum sang Singa menambah hukumannya.

Sambil mulai berlari, Dadang kembali ngedumel pelan kepada Ucok, "Tuh kan, apa aku bilang! Perasaanku sedari tadi memang sudah tidak enak!" Ucok hanya bisa mendengus pasrah menerima hukuman di tengah malam buta itu.

Melihat kedua anak buahnya sudah berlari memutari lapangan, Sakti tersenyum puas di balik maskernya. Setidaknya rasa dongkolnya sedikit tersalurkan. Ia kemudian bergegas membalikkan tubuhnya, melangkah cepat menuju ruang kerja Mayor Adnan yang ia ketahui memang memiliki jadwal piket malam ini.

Namun, di tengah langkah kakinya yang lebar menyusuri koridor, pikiran Sakti kembali melenceng.

'Dan memang seharusnya malam ini aku dan Rahma di rumah... Aish! Kenapa otakku jadi konslet seperti ini sih? Kenapa juga bayangan dia memakai daster Hello Kitty tadi selalu terlintas begitu saja di kepalaku?!' batin Sakti frustrasi.

Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, lalu semakin mempercepat langkah kakinya menuju ruangan Mayor Adnan demi menyelamatkan kewarasannya malam ini.

Sakti melangkah masuk ke dalam ruang medis dengan gerakan yang begitu senyap. Di dalam ruangan bernuansa putih itu, tampak Mayor Adnan sedang duduk manis di kursi kerjanya. Dokter militer itu terlihat begitu fokus memandangi layar ponselnya dengan senyuman yang merekah lebar, sampai-sampai tidak menyadari kedatangan sang Kapten.

Sakti melongokkan kepalanya dari arah belakang tubuh Adnan. Secara tidak sengaja, sepasang mata tajamnya menangkap foto seorang wanita berparas tegas namun sangat cantik di layar ponsel tersebut. Sakti langsung mengenali wajah itu, dimana wanita di dalam foto itu adalah orang yang sama dengan yang ia lihat di taman tadi siang. Profesor Asha.

"Yaelah, sepertinya malam ini ada yang masih kangen nih!" cetus Sakti sengaja menggoda dengan nada menyindir.

Mayor Adnan terkejut setengah mati. Ia hampir saja menjatuhkan ponselnya begitu mendengar suara berat yang sudah sangat familiar di telinganya itu.

"Sakti! Kau itu mengagetkan aku saja!" omel sang Mayor sembari buru-buru mematikan layar ponsel dan memasukkannya ke dalam saku jas putih dokternya dengan salah tingkah.

"Yaelah, biasa saja kali ekspresimu itu, Mayor. Bagaimana tadi kencan dengan profesor cantik di kampus?" goda Sakti lagi, menaik-turunkan alisnya yang langsung sukses membuat wajah Adnan merona tersipu malu.

"Sudahlah, tidak usah kau bahas masalah tadi. Yang jelas, aku sudah selangkah lebih maju dari sebelumnya," jawab Adnan mencoba mengalihkan pembicaraan sambil berdehem kaku. Ia lalu mengerutkan keningnya, menatap penampilan tamunya dari atas ke bawah. "Eh, ngomong-ngomong, kenapa kau menemui ku di sini malam-malam begini, Kapten?"

Sakti hanya bisa menghembuskan napas panjang, bersedekap dada tanpa suara.

"Kau kenapa, Komandan? Eh, tumben sekali kau memakai masker begitu? Harusnya kau itu memakai syal untuk menutupi lehermu yang penuh dengan tanda cinta dari istrimu!" goda Adnan lagi, menepuk bahu Sakti sambil terkekeh jahil.

Lagi-lagi Sakti hanya bisa menghela napas pasrah. Tanpa berkata-kata, jemarinya bergerak menurunkan masker kain hitam yang menutupi setengah wajahnya.

Keheningan sedetik.

"Bwahaha! Ha... Ha... Ha!"

Seketika itu juga, tawa Mayor Adnan pecah membahana di dalam ruang medis. Ia tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi perutnya yang kram melihat kondisi bibirnya Sakti yang kemerahan, sedikit bengkak, dan lecet di sudutnya.

"Kau disengat tawon cantik ya, Sakti?! Beuh... sampai bengkak dan merah merona begitu! Istrimu ternyata ganas juga ya kalau di rumah!" ledek sang Mayor tiada henti, air matanya bahkan sampai keluar karena menahan tawa.

"Ish! Sudah diam kau, Mayor menyebalkan!" dengus Sakti kesal, wajahnya yang sudah merah bertambah padam karena dongkol ditertawakan habis-habisan.

"Iya, iya, maaf... Maaf sudah membuatmu kesal," ujar Adnan sambil mencoba meredakan tawanya, meski bahunya masih sedikit berguncang. Ia berdiri dan berjalan menuju lemari medis, mengambil sebuah salep kecil di dalam kotak obat. "Sini, duduk. Biar aku obati lukamu."

Sakti duduk di kursi pasien dengan patuh. Sambil membiarkan Adnan mengoleskan salep dengan perlahan pada sudut bibirnya yang perih, suasana hati Sakti perlahan melunak.

"Sebenarnya... bagaimana hubunganmu dengan Rahma, Sakti? Kenapa bisa sampai luka-luka begini?" tanya Adnan, kini dalam mode dokter yang penuh perhatian.

Sakti terdiam sejenak sebelum akhirnya menghembuskan napas berat. Ia memutuskan untuk menumpahkan segala keluh kesah dan kerumitan pikirannya malam ini. Sakti menceritakan semuanya tentang bagaimana perasaannya yang kini benar-benar telah terkena senjata makan tuan. Ia yang dulu bersumpah tidak akan sudi menyukai Rahma, kini justru jatuh hati setengah mati pada istrinya itu. Namun sialnya, di saat ia mulai mencintai Rahma, sang istri justru sama sekali tidak percaya dan malah terus-menerus membahas soal Dinda, mantan kekasihnya di masa lalu.

Mayor Adnan mendengarkan curhatan itu dengan raut wajah yang berubah serius. Setelah selesai mengoleskan salep, ia menepuk bahu sahabatnya itu dengan pelan.

"Sebaiknya kau jangan terlalu terburu-buru, Sakti. Wanita itu, apalagi seusia Rahma yang masih sangat muda, butuh waktu dan kepastian untuk bisa memahami perasaan kita," ujar Adnan menasihati secara bijak.

"Lalu aku harus bagaimana? Dia menutup diri setiap kali aku membahas perasaan," keluh Sakti frustrasi.

"Saran dariku, sebaiknya kau jelaskan semuanya secara baik-baik kepada istrimu. Tegaskan bahwa kau sudah bisa melupakan masa lalu mu sepenuhnya, dan kini hanya ada nama Rahma di hatimu. Buat pernyataan cinta yang resmi. Yakinkan dia soal perasaanmu dalam suasana yang romantis, bukan sambil marah-marah atau memaksanya seperti tadi siang," lanjut Adnan dengan senyuman penuh arti.

Sakti tertegun. Ia terdiam selama beberapa saat, mencerna dengan saksama setiap untaian kalimat nasihat dari sang Mayor. Ide tentang membuat suasana romantis demi meyakinkan Rahma perlahan mulai menyusun rencana baru di kepalanya.

Sakti mendongak, lalu sebuah senyuman lebar perlahan terukir di wajah tegasnya. "Sepertinya saran darimu bagus juga, Mayor! Terima kasih."

Bersambung...

1
Teh Yen
ah syukurlah masalahnya sudah selesai yah
Teh Yen
skak matt wanita ular kisahmu.berakhir d sini 😏
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak 🤣
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
semua masalah yang terjadi diantara Rahma, Sakti,Dinda dan Yuda semua nya sudah selesai
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, sudah terungkap dalang kasus Dinda 😄🙏
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
Ilfa Yarni
syukurlah masalah ya udah bisa diatasi aku degil degan jg lho bacanya apakah mereka berhasil atau ga
depoll_poll aje 😉😉😉
jd penasaran ini,,
kira2 siapa kah ya orang nya..
lanjutkan donk Thor
Ariany Sudjana
padahal tunggu sampai si pelacur murahan itu menyebut nama petinggi, baru ditangkap Yuda, jadi lebih seru ceritanya. kalau begini, bisa berkelit si pelacur murahan itu
depoll_poll aje 😉😉😉
good job kalian..
is the best deh friend yg ini.. hihihihihi
terus gali terus biar terbongkar
depoll_poll aje 😉😉😉
parah s ini sumpah..
yg kemaren ketemu sama s dinda s yuda apa bukan si?
aku lupa othorrr.. heheheh
ttp tenang dlm menjalankan misi ini ya sakti..
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masih menjadi misteri kak, aku tidak menyebutkan siapa pria yang telah bertemu dengan Dinda, kita tunggu di Bab berikutnya ya 😉
total 1 replies
depoll_poll aje 😉😉😉
Alhamdulillah
Untungnya Rahma sudah tidak salah paham kembali..
semangat n semoga rencana kalian berhasil n ttp hati-hati n waspada
Ilfa Yarni
wah akhirnya jketemulah prajurit yg sekongkol dgn dinda
Teh Yen
wah beneran Yuda ini mah yg kerja smaa sama c wanita ular Dinda itu yah
Teh Yen
nah loh terlalu kentara yah ketawanya c Yuda jd bikin sakti curiga
Teh Yen
xixiiii mayor andnan udh dapet lampu hijau tuh dari prof asha asyik gas yah mayor tp nanti kl urusna sakti udh selesai bisa kan nunggu sebentar aj gt hehe
Teh Yen
nah kan benar ada saksinya itu mayor Adnan yah ,, lain klau kalua ada Msalah tanyain suamimu dulu jangan langsung percaya yah rahma
Teh Yen
siapa itu jangan bilang itu c dinda ,,, aduh Rahma harusnya kamu cek dulu kebenaran foto itu jangan terbawa emosi main pergi begitu saja hadeuh
Teh Yen
jangan percaya sama foto itu rahma setidaknya tanyakan dulu pada sakti kebenarannya yah
Teh Yen
aduuh mulutmu sakti tolong kondisikan pak komandan kalau sampe rmh rahma masih marah sudah d pastikan engg ada jatah malam ini wkwkwkk
Teh Yen
kamu harus percaya suamimu rahma jangan biarkan siapapun memisahkan kalian sekalipun itu mantan nya suamimu
Teh Yen
jawab dong sakti jangan diam.saja seperti mengiyakan kata kata Dinda apalg Rahma dari jauh sedang memperhatikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!